Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Agustus 2011

Mengolah Singkong Menjadi Tepung Mocaf

Judul : Mengolah Singkong Menjadi Tepung Mocaf
          Bisnis Produk Alternatif Pengganti Terigu
Pengarang : Emil Salim
Kategori : Pertanian Populer
Halaman/Ukuran : x+118 hlm, 14 x 21 cm
ISBN : 978-979-29-2484-8
Penerbit :  Lily Publisher (2011)
Harga : Rp. 44.000,- (Belum diskon)


Mie, Roti, Biskuit hanyalah beberapa produk yang menggunakan bahan baku tepung terigu. Seiring perkembangan industri makanan berbahan baku tepung terigu di Indonesia, maka permintaan bahan baku tepung terigu ikut meningkat. Kebutuhan untuk konsumen rumah tangga juga tidak kalah banyak.

Sayangnya Indonesia bukanlah penghasil komoditas gandum-bahan baku tepung terigu hal ini terkait dengan iklim Indonesia yang kurang mendukung untuk pertanian gandum. Sehingga sebagian besar kebutuhan dalam negeri masih didominasi oleh produk terigu impor. Hingga saat ini, harga tepung terigu di pasaran juga masih tergolong cukup tinggi.

Untuk mengantisipasi krisis terigu dalam negeri, perlu adaya upaya mencari solusi alternatif untuk memenuhi permintaan produk tepung terigu yang terus meningkat, salah satunya adalah menciptakan produk substitusi.

Hal ini bisa dilakukan dengan mengolah singkong menjadi tepung mocaf. Tepung mocaf dapat dijadikan produk alternatif pengganti tepung terigu. Di Indonesia produksi singkong sebagai bahan bakunya cukup tersedia. Sehingga tidak bergantung dengan impor. Di buku ini juga disertai dengan resep olahan yang telah diuji coba dengan menggunakan tepung mocaf.



Selasa, 09 Agustus 2011

Sukses Anak Jalanan Pertama yang Menjadi Presiden Direktur

Judul : Sukses Anak Jalanan Pertama yang Menjadi Presiden Direktur
Pengarang : SISWADI dan ARI WULANDARI
Kategori : Motivasi
Halaman/Ukuran : 176 hlm, 14 x 21 cm
ISBN : 978-979-29-2471-8
Penerbit : Andi (2011)
Harga : Rp. 35.000,- (Belum diskon)


Berisi tentang kisah nyata perjalanan hidup seorang anak jalanan hingga akhirnya dia menjadi seorang presiden direktur pertama dari sebuah lembaga pendidikan bimbingan belajar yang menitikberatkan pada sisi sosial bagi kalangan menengah kebawah.

Pahit. Getir. Luka. Perih. Miris. Terhina. Teraniaya. Tanpa harapan.
Segala kata yang menyakitkan, mungkin tak cukup untuk melukiskan penderitaan saya. Jangankan sekolah, untuk makan dan bertahan hidup pun harus berjuang dalam keperihan. Sudah sering saya harus rela menerima caci maki yang luar biasa kasar. Tidak terhitung, perlakuan-perlakuan yang tidak manusiawi. Demi sesuap nasi, sering saya harus menerima pekerjaan yang kelewat berat untuk anak-anak. Masih banyak lagi hal suram buram yang saya alami sepanjang saya menggelandang di jalanan. Di jalanan yang berlaku bukanlah hukum masyarakat yang penuh aturan dan tatakrama, tetapi hukum rimba yang mengandalkan kekuatan fisik. Siapa yang kuat, dialah yang menang. Saat itu saya hanya berusaha untuk menjadi orang kuat versi saya demi mempertahankan hidup di jalanan. Pekat dan suramnya kehidupan, sering pula membuat saya ingin mengakhiri hidup dengan bunuh diri.

Seperti sebuah lentera yang saya tidak mengerti dari mana datangnya, adalah pemikiran sederhana dan lugu yang saya miliki. Saya tidak pernah berpikir banyak tentang halangan dan rintangan tersebut. Keinginan saya hanya satu, bisa makan demi mempertahankan kehidupan saya agar terus berjalan. Saya tidak mau mati konyol. Saya harus survive, saya harus kuat.

Kini, semua halangan, rintangan, penderitaan, kesakitan, kepedihan, luka, air mata, pengorbanan, semuanya telah berubah menjadi lautan hikmah. Dulu, dengan segala kepahitan yang saya alami sebagai anak jalanan, saya hanya merasakan betapa pedihnya hidup dalam kondisi yang memprihatinkan. Betapa tidak menyenangkannya menjadi anak jalanan. Salah satu kategori ‘orang-orang buangan’ yang tidak memiliki harapan dan masa depan.

Mudah-mudahan dengan membaca kisah hidup saya, semakin banyak orang yang mau mengubah hidupnya menuju kesuksesan dan kebahagiaan. Sesungguhnya, kesuksesan dan kebahagiaan tergantung pada diri kita masing-masing. Tidak tergantung pada orang lain. Apapun latar belakang kita, sukses adalah hak kita.

---------------------------------------------------------------------------------------------
“Spektakuler...! Dahsyat...! Mantab...! Luar Biasa...! Pertama di Indonesia: Presiden Direktur dari anak jalanan. Bukti dari kekuatan impian, doa, kerja keras, dan kerja cerdas ada di depan mata kita. Kalau Siswadi saja bisa, maka saya, anda, dan kita semua PASTI BISA!” ---Ari Wibowo, Direktur Franchise LPBB Solusi