Tampilkan postingan dengan label Satwa Burung (Aves). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Satwa Burung (Aves). Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 September 2011

Rumah Bagi Burung Cikalang Christmas


Cikalang Christmas (Fregeta andrewsi), salah satu burung laut paling langka di dunia telah menemukan 'tempar tinggal' kedua di Teluk Jakarta. Hidup di antara perangkap ikan dan sampah yang mengambang di salah satu perairan tersibuk di Indonesia mungkin bukan rumah yang ideal untuk setiap burung. Tetapi Cikalang Christmas tampaknya menyukai keadaan tersebut. Ratusan burung jenis ini sering berkumpul di sekitar Pulau Rambut, kurang lebih 4 km lepas pantai dari Jakarta.
Clkalang Christmas merupakan burung laut dengan ciri warna bulu hitam, bentuk besar, dan ekor bercabang panjang. Kini burung tersebut berada dalam bahaya kepunahan. Hanya sekitar 3.000-4.000 individu burung yang masih hidup di dunia. Burung yang dikenal sebagai Cikalang di Indonesia ini berkembang biak di Pulau Christmas (Australia), sekitar 300 km.selatan bagian Jawa Barat.
Burung yang berkembang biak di Pulau Christmas ini tampaknya lebih suka mencari makanan di perairan Indonesia, khususnya Selat Sunda dan Teluk Jakarta. Teluk Jakarta dan Sunda Selat merupakan habitat penting untuk Burung Cikalang Christmas. Namun, hampir tidak ada yang mengetahui tentang risiko hidup di situ. Yaitu bahwa daerah yang mereka sukai itu tidak memiliki perlindungan hukum setara dengan cagar alam. lni dapat menyebabkan terjadinya perburuan, polusi, dan kemungkinan terjebak dalam perangkap ikan yang tersebar di beberapa bagian dari Teluk Jakarta.
Adanya kemungkinan risiko-risiko tersebut selanjutnya akan dicari dan dinilai dalam sebuah kegiatan baru yang dipimpin oleh LSM lokal Burung Laut Indonesia (Seabirds Indonesia), sebagai bagian dari 'Survey Burung Laut Indonesia' (Indonesia Seabirds Survey -ISSUE). Mulai Juli 2011 hingga Juli 2012, tim akan memantau kehadiran Burung Cikalang Christmas, menilai ancaman terhadap burung-burung, dan memasukkan langkah-langkah untuk melindungi mereka.
"Antara 10-20 persen dari populasi Burung Cikalang Christmas di dunia secara teratur hadir di Teluk Jakarta. Sebelumnya hampir tidak ada yang mengetahui tentang burung ini serta risiko yang tengah mereka hadapi. Kegiatan ini akan menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai ancaman mereka dan mencoba bekerja untuk meningkatkan perlindungan untuk burung-burung ini," ujar Man Febrianto, pemimpin kegiatan survei dalam siaran persnya, Rabu (10/8/2011).
Fransisca Noni, salah satu anggota tim, menyatakan perlunya partisipasi masyarakat dalam menjaga keberlanjutan hidup Cikalang. "Seharusnya kita menyadari bahwa salah satu burung laut terlangka di dunia hidup di Jakarta. Dan sepatutnya kita bangga akan hal ini. Sayangnya sampai sekarang kita belum melakukan apa-apa untuk melindungi burung ini," tegasnya,
Tim akan bekerjasama dengan warga lokal, termasuk nelayan, pemilik perangkap ikan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat, manajemen pelabuhan, dan operator kapal untuk menggambarkan rincian ancaman terhadap burung-burung dl Teluk Jakarta. Tim juga akan berkolaborasi dengan kelompok-kelompok yang juga merniliki misi untuk meningkatkan konservasi Burung Cikalang Christmas di Teluk Jakarta, relawan, dan organisasi Non Pemerintah lokal (LSM), serta klub pengamat burung kampus untuk membantu dan belajar tentang konservasi burung laut. 


Minggu, 11 September 2011

Burung Betina Pilih Mates untuk Kepribadian mereka




ScienceDaily (24 Agustus 2011) – Perjalanan burung betina memilih pasangan dengan kepribadian yang sama, terlepas dari penampilan burung jantan dan aset lainnya, menurut penelitian burung baru yang dipimpin oleh University of Exeter. Ini adalah studi pertama yang menunjukkan bahwa perilaku non-seksual atau kepribadian kedua pasangan mempengaruhi pilihan mitra non-manusia.
Penelitian ini difokuskan pada populasi lebih dari 150 kutilang zebra. Tim peneliti menilai burung jantan dan betina secara terpisah untuk ciri-ciri kepribadian melalui serangkaian tes perilaku. Secara khusus, mereka mengukur tingkat perilaku melalui eksplorasi, misalnya, menilai kesediaan burung 'untuk menjelajahi lingkungan baru dan reaksi untuk objek baru. Setiap burung betina kemudian menyaksikan sepasang saudara menjelajahi kandang yang aneh, salah satunya adalah dibuat untuk terlihat kurang eksplorasi dari yang lain dengan menahan dalam sebuah kotak tak terlihat. Mereka kemudian menempatkan perempuan bersama-sama dengan saudara-saudara mereka yang telah melihat dan mengamati mana laki-laki merekayang  menghabiskan waktu paling lama dengan mereka.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa wanita lebih eksplorasi mungkin untuk mendukung laki-laki yang paling tampak keluar dan percaya diri. Ini terlepas dari ukuran tubuh burung dan kondisi atau warna paruhnya. Kurangnya burung betina untuk eksplorasi di sisi lain, tidak menunjukkan preferensi untuk burung jantan.
Pemimpin tim, Dr Sasha Dall dari University of Exeter berkata: "Ini adalah bukti kuat bahwa burung betina lebih peduli terhadap kepribadian jelas burung jantan mereka untuk terbebas dari penampilannya, Kami memiliki bukti pertama bahwa penting bagi para mitra untuk memiliki kepribadian yang kompatibel. Ini adalah sesuatu yang kita mungkin akan semua setuju adalah kasus bagi manusia, tetapi yang telah diabaikan untuk spesies lain. "
Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa ada hubungan antara kepribadian pasangan dan keberhasilan reproduksi mereka dalam berbagai spesies. Penulis utama, Dr Wiebke Schuett dari Royal Veterinary College berkata:. "BurungBetina tampaknya memiliki sebagian besar keuntungan dengan memilih pasangan. Kami telah menunjukkan sebelumnya bahwa pasangan finch zebra yang baik keturunan meningkatkan eksplorasi dalam kondisi lebih baik daripada mereka yang Pola yang sama tidak cocok atau unexploratory. Telah terlihat pada burung lain dan ikan Namun, ini adalah bukti pertama bahwa kepribadian kedua pasangan memainkan peran dalam pilihan pasangan.. "
Penelitian ini dilakukan oleh tim dari University of Exeter, Carleton University, Kanada dan Royal Veterinary College, Universitas London dan dipublikasikan dalam jurnal Etologi. Pendanaan diberikan oleh Dana Sosial Eropa (beasiswa untuk Wiebke Schuett).