Tampilkan postingan dengan label Satwa Mamalia (Wildlife mammals). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Satwa Mamalia (Wildlife mammals). Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 September 2011

Kelelawar Vampir Punya Sensor Panas Peka


Kelelawar vampir menggunakan sensor panas yang sangat sensitif di dekat hidung dan mulutnya untuk mengetahui adanya darah. David Julius dari Universitas California, San Francisco, Amerika Serikat, meneliti sensor itu dan dikutip situs web Livescience, Rabu (3/8/2011).
Kelelawar vampir mengincar binatang yang tidur, seperti burung dan mamalia, bahkan manusia. Penelitian menunjukkan, kelelawar memiliki sel di otak yang sensitif terhadap suara napas hewan yang tidur.
Sensor panasnya membuat kelelawar bisa membedakan kulit yang menutup bagian tubuh berisi darah segar dan hangat dengan area rambut. Mereka menggunakan gigi yang tajam untuk membuat lubang 5 milimeter persegi pada kulit dan mengisap darah binatang tanpa membangunkan.
Kelelawar menggunakan reseptor yang ditemukan pada mamalia, termasuk manusia, untuk merasakan suhu panas dan pedasnya cabai. Namun, reseptor kelelawar mampu mendeteksi tingkat panas lebih rendah, sekitar 30 derajat celsius, dari jarak 20 sentimeter.



Senin, 26 September 2011

Gajah Asia Suka Kelompok Lebih Kecil



Beberapa gajah betina di Asia punya jaringan sosial yang luas. Meskipun demikian, ditemukan pula gajah betina yang hanya berinteraksi dalam kelompok kecil yang terdiri atas beberapa kerabat dekat.
"Jika Anda amati dalam waktu yang cukup lama, dalam hitungan bulan atau bahkan tahun, setiap individu lebih memilih untuk berhubungan dengan beberapa individu tertentu," jelas Sergey Kryazhimskiy, peneliti dari Harvard University.
Menurut Kryazhimskiy, itu berarti hubungan antargajah tidak terjadi secara acak. Meskipun para ilmuwan mendapati ada beberapa gajah labil yang sering menukar lima teman utama mereka.
Jaringan sosial di populasi gajah Asia tampak konsisten di berbagai musim. Pola ini berbeda dengan gajah Afrika-sudah diteliti lebih dulu-yang diketahui memiliki perubahan kehidupan sosial yang lebih luas.
Pada studi gajah Asia ini, Shermin de Silva, peneliti dari Universitas Pennsylvania mengumpulkan data selama dua tahun dengan bantuan tim dari Uda Walawe National Park, Sri Lanka. Setiap kali mereka berjumpa dengan kelompok gajah, mereka mengamati setiap individu yang ada di dalamnya.
Di akhir pelacakan, Kryazhimskiy menganalisis data dari gajah yang dijumpai setidaknya 30 kali dari total 51 ekor. Berhubung gajah Asia jantan menjalani hidupnya seorang diri, peneliti fokus ke gajah betina.
Peneliti mengamati berbagai level kelompok: mulai dari sepasang gajah, individu-individu berhubungan dengan seekor gajah, sampai populasi secara keseluruhan. Ternyata, beberapa gajah bisa memiliki banyak kawan, meski hubungan lebih kuat terjadi pada gajah yang memiliki sedikit teman. Selama penelitan, sekitar 16 persen gajah mengganti 5 teman terdekat mereka.
Mereka mendapati bahwa jumlah teman yang dimiliki setiap individu gajah maksimal mencapai sekitar 20 ekor. Jumlah ini meningkat di saat musim kering. "Mungkin ini cara mereka untuk mengatasi penurunan sumber daya, khususnya air, sehingga setiap kelompok harus dapat bertahan dari kelompok lain," kata Kryazhimskiy.
Sementara itu di musim hujan, di saat sumber air jauh lebih banyak, mereka tidak perlu membentuk kelompok-kelompok. "Dengan demikian setiap individu, tanpa hubungan erat di antara mereka, hidup saling menyebar," ucap Kryazhimskiy sambil menunjukkan bukti bahwa pasangan gajah yang memiliki hubungan pertemanan kuat akan terus bersama bahkan meski sumber air berlimpah di musim hujan.
Menurut Prithiviraj Fernando, peneliti dari Center for Conservation and Research in Rajagiriy, Sri Lanka, penelitian yang dipublikasikan di jurnal BMC Ecology ini merupakan kontribusi besar terhadap pengetahuan tentang kehidupan sosial gajah Asia. Masih banyak penelitian yang perlu dilakukan terhadap hewan tersebut, meski itu cukup sulit karena mereka tinggal di habitat yang sulit ditemui dan cenderung menghindari manusia.
Beberapa gajah betina di Asia punya jaringan sosial yang luas. Meskipun demikian, ditemukan pula gajah betina yang hanya berinteraksi dalam kelompok kecil yang terdiri atas beberapa kerabat dekat.
"Jika Anda amati dalam waktu yang cukup lama, dalam hitungan bulan atau bahkan tahun, setiap individu lebih memilih untuk berhubungan dengan beberapa individu tertentu," jelas Sergey Kryazhimskiy, peneliti dari Harvard University.
Menurut Kryazhimskiy, itu berarti hubungan antargajah tidak terjadi secara acak. Meskipun para ilmuwan mendapati ada beberapa gajah labil yang sering menukar lima teman utama mereka.
Jaringan sosial di populasi gajah Asia tampak konsisten di berbagai musim. Pola ini berbeda dengan gajah Afrika-sudah diteliti lebih dulu-yang diketahui memiliki perubahan kehidupan sosial yang lebih luas.
Pada studi gajah Asia ini, Shermin de Silva, peneliti dari Universitas Pennsylvania mengumpulkan data selama dua tahun dengan bantuan tim dari Uda Walawe National Park, Sri Lanka. Setiap kali mereka berjumpa dengan kelompok gajah, mereka mengamati setiap individu yang ada di dalamnya.
Di akhir pelacakan, Kryazhimskiy menganalisis data dari gajah yang dijumpai setidaknya 30 kali dari total 51 ekor. Berhubung gajah Asia jantan menjalani hidupnya seorang diri, peneliti fokus ke gajah betina.
Peneliti mengamati berbagai level kelompok: mulai dari sepasang gajah, individu-individu berhubungan dengan seekor gajah, sampai populasi secara keseluruhan. Ternyata, beberapa gajah bisa memiliki banyak kawan, meski hubungan lebih kuat terjadi pada gajah yang memiliki sedikit teman. Selama penelitan, sekitar 16 persen gajah mengganti 5 teman terdekat mereka.
Mereka mendapati bahwa jumlah teman yang dimiliki setiap individu gajah maksimal mencapai sekitar 20 ekor. Jumlah ini meningkat di saat musim kering. "Mungkin ini cara mereka untuk mengatasi penurunan sumber daya, khususnya air, sehingga setiap kelompok harus dapat bertahan dari kelompok lain," kata Kryazhimskiy.
Sementara itu di musim hujan, di saat sumber air jauh lebih banyak, mereka tidak perlu membentuk kelompok-kelompok. "Dengan demikian setiap individu, tanpa hubungan erat di antara mereka, hidup saling menyebar," ucap Kryazhimskiy sambil menunjukkan bukti bahwa pasangan gajah yang memiliki hubungan pertemanan kuat akan terus bersama bahkan meski sumber air berlimpah di musim hujan.
Menurut Prithiviraj Fernando, peneliti dari Center for Conservation and Research in Rajagiriy, Sri Lanka, penelitian yang dipublikasikan di jurnal BMC Ecology ini merupakan kontribusi besar terhadap pengetahuan tentang kehidupan sosial gajah Asia. Masih banyak penelitian yang perlu dilakukan terhadap hewan tersebut, meski itu cukup sulit karena mereka tinggal di habitat yang sulit ditemui dan cenderung menghindari manusia.

Jumat, 23 September 2011

Ditemukan Spesies Kelelawar Setan di Vietnam



Tiga spesies baru kelelawar berhasil ditemukan di hutan tropis selatan Indocina. Salah satu spesies yang ditemukan dinamai kelelawar setan, dan memiliki nama ilmiah Murina beelzebub. Jenis kelelawar ini hanya dijumpai di Vietnam. Nama Beelzebub karena warna hitam kejam yang dimiliki oleh spesies baru ini, serta perilaku perlindungan diri yang tampak sengit saat dijumpai di lapangan
Satwa mamalia ini sepenuhnya menggantungkan hidupnya pada keberadaan hutan tropis. Hal tersebut dilihat dari pola hidup serta sumber makanan yang didapat merupakan hasil dari karakteristik hutan tropis dihabitatnya. Kelelawar setan akan bersarang dipohon besar dengan kanopi pohon yang rimbun, gua-gua tinggi, sela-sela tebing atau pada lubang-lubang yang sengaja dibuat. Sumber makanannya merupakan buah-buahan pada pohon-pohon yang berbunga dan beberapa jenis serangga.
Hal tersebut diatas menunjukan peranan penting hutan tropis bagi kelangsungan hidup Kelelawar Setan ini. Sedangkan ancaman yang sedang dihadapi adalah berupa alih fungsi kawasan hutan menjadi pemungkiman serta perkebunan juga tekanan akibat sumber makanan dan tempat tinggalnya yang semakin berkurang akibat penebangan liar.
Penemuan jenis baru kelelawar ini merupakan hasil kerjasama antara pakar biologi dan ahli konservasi dari Hungarian Natural History Museum dan Flora dan Fauna International. Penemuan dipublikasikan di Journal of Mammalogy edisi Agustus 2011.
Paul Racey, pakar kelelawar dan Vice Chairman Flora Fauna International mengatakan, kelelawar merepresentasikan mamalia dengan variasi terbanyak di Asia Tenggara. Jumlah spesies kelelawar diperkirakan dua kali lipat dari jumlah yang ditemukan saat ini berdasarkan penelitian genetik.
Kelelawar setan dan dua jenis baru lain yang ditemukan termasuk dalam golongan kelelawar berhidung tabung. 

Kamis, 22 September 2011

Lumba-lumba Berbicara seperti Manusia



Beragam penelitian tentang lumba-lumba dilakukan mengingat satwa tersebut terkenal cerdas. Salah satu yang sebelumnya pernah didapatkan adalah lumba-lumba bisa bersiul. Siulan tersebut digunakan sebagai alat komunikasi antar individu, persis seperti manusia menggunakan bahasa. Namun, penelitian itu ternyata kurang tepat. Lumba-lumba bukan cuma bersiul, tetapi berbicara.
Ilmuwan mengatakan, suara lumba-lumba diproduksi dari vibrasi jaringan yang cara kerjanya hampir mirip dengan organ di kotak suara manusia dan beberapa hewan darat lain. Demikian simpulan Peter Madsen dari Department of Biological Science di Aarhus University, Denmark, setelah melakukan studi tentang cara lumba-lumba berkomunikasi.
Madsen menelaah data digital suara 12 ekor lumba-lumba hidung botol yang direkam pada tahun 1977. Dasar teori penelitian adalah, nada siulan dipengaruhi oleh frekuensi resonansi di saluran udara. Saat lumba-lumba menyelam, saluran udara termampatkan karena tekanan. Artinya, jika memang bersiul, semakin dalam menyelam, ketukan suara lumba- lumba yang dihasilkan akan makin tinggi.
Lumba-lumba juga bisa bersuara di medium udara dan heliox, campuran 80 persen helium dan 20 persen oksigen. Kecepatan suara di medium heliox 1,74 kali lebih tinggi dari udara sehingga jika siulan diproduksi, maka ketukan nadanya akan 1,74 kali lebih tinggi.
"Kami menemukan bahwa ketukan suara lumba-lumba tidak berubah saat memproduksi suara di medium heliox, artinya ketukan tidak ditentukan oleh ukuran saluran udaranya, yang berarti juga lumba-lumba tidak bersiul," urai Madsen.
Lebih lanjut, Madsen menjelaskan, lumba-lumba justru memproduksi suara dengan membuat jaringan ikat di hidung bergetar sesuai dengan frekuensi yang ingin diproduksi dengan menyesuaikan ketegangan otot dan aliran udara di jaringan tersebut. Ini cara yang sama yang digunakan manusia.
Lalu jika lumba-lumba bisa bicara, apa yang dibicarakan? Ilmuwan mengetahui bahwa lumba-lumba saling berbagi informasi tentang identitas mereka sehingga mampu membantu satu sama lain ketika mengarungi wilayah samudera yang luas.
Insinyur akustik John Stuart Reid dan Jack Kassewitz dari organisasi Speak Dolphin membuat instrumen disebut CymaScope yang bisa mengurai detail struktur suara lumba-lumba sehingga "arsitekturnya" bisa dipelajari. Kassewitz mengungkapkan, "Ada bukti kuat bahwa lumba-lumba bisa melihat dengan suara, seperti manusia memakai USG untuk melihat embrio dalam kandungan. CymaScope memberi peluang untuk mengetahui apa yang dilihat lumba-lumba lewat suara."


Rabu, 21 September 2011

Lindungi Hiu Paus di Teluk Cendrawasih



Hiu paus (Rhincodon typus) di perairan Kwatisore, Kabupaten Nabire, Papua, harus dilestarikan dengan mengategorikan sebagai satwa dilindungi. Pemerintah jangan terlambat mengantisipasi punahnya hiu paus yang terlihat sepanjang tahun di Taman Nasional Teluk Cendrawasih.
Menurut Kepala Balai Besar Taman Nasional Teluk Cendrawasih (TNTC) Djati Witjaksono Hadi, hiu paus atau biasa disebut gurano bintang oleh masyarakat lokal termasuk satwa air yang hanya ditemui di perairan Papua, Filipina, Australia, dan Afrika Selatan. Hiu ini beberapa kali terlihat di Sabang, dan Selat Madura, tetapi tak sepanjang tahun.
"Hiu ini bermigrasi mencari tempat makan dan bertelur. Namun, di perairan Kwatisore, Nabire, selama tiga tahun kami mengamati, hiu paus selalu terlihat. Tidak seperti di Australia yang hanya terlihat saat musim panas," kata Djati, Selasa (9/8/2011).
Hiu paus diperkirakan ada sejak 60 juta tahun lalu. Ia mampu hidup sampai umur 150 tahun dengan panjang hingga 14 meter. Hiu yang dijuluki hiu bodoh, karena jinak dan tidak agresif, memasuki usia subur pada umur 30 tahun. Reproduksinya relatif lambat dibandingkan dengan ikan lain. TNTC mencatat, tahun 2011, ada sekitar 40 hiu paus di perairan Teluk Cendrawasih.
Pemerintah perlu meningkatkan status perlindungan hiu paus. Saat ini, perlindungan hanya mengacu International Union for the Conservation of Nature dan Resources bahwa hiu paus adalah satwa yang rentan.
Pemerintah Indonesia, kata Djati, harus mencantumkan hiu paus sebagai satwa dilindungi dan memasukkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa. "Saat ini sedang dibahas di Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan Konservasi Alam, dan menunggu uji ilmiah LIPI," kata Djati.
Makanan utama hiu paus adalah ikan puri dan plankton. Tidak seperti hiu lain yang memiliki gigi tajam, hiu ini hanya memiliki gigi halus di ujung bibir. Ia menyedot air laut dan menjaring ikan kecil yang masuk.
Keberadaan hiu paus sepanjang tahun adalah peluang bagi sektor pariwisata Papua. Di Kwatisore, hiu-hiu ini berenang di sekitar bagan ikan milik nelayan. Dengan melempar ikan puri, hiu paus naik ke permukaan air. Adapun di Australia, wisatawan harus menunggu waktu tertentu dan hiu paus digiring lebih dulu agar bisa ditonton.
Djati berharap masyarakat diberdayakan dan menikmati manfaat hiu paus. Daya tarik wisata yang ditawarkan kepada turis adalah menyelam dan snorkeling menikmati keindahan hiu paus sambil memberi makan.


Sabtu, 10 September 2011

Beruang berhibernasi, Predasi dan Kehamilan



ScienceDaily (25 Agustus 2011) – Hibernasi beruang hitam, alur tidur mereka melalui musim dingin. Saat ini ilmuan mulai memahami perubahan fisiologis yang memungkinkan beruang untuk muncul kembali di musim semi tanpa banyak otot dan kehilangan tulang, dan bagaimana mereka melarikan diri dari bahaya selama bulan-bulan dingin. Penelitian baru yang diterbitkan dalam jurnal akses terbuka BioMed Central BMC Fisiologi menggunakan monitor jantung dan kerah radio untuk mengukur perubahan sepanjang tahun di detak jantung dan aktivitas beruang hitam liar.
Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa selama hibernasi beruang hitam mengalami variasi ekstrim dalam denyut jantung (aritmia sinus pernapasan) – detak jantung beruang mengalami peningkatan ketika mengambil napas tetapi berhenti untuk waktu yang lama antara jeda napas. Dalam studi ini para peneliti dapat memantau liar Beruang hitam Amerika (Ursus americanus) sepanjang tahun, 24 jam sehari. Mereka menemukan bahwa beruang mengalami aritmia sinus pernafasan selama hibernasi dan dalam bulan-bulan menjelang tidur musim dingin mereka. Selain itu, beruang kurang aktif pada siang hari di musim gugur, beralih menjadi nokturnal. Selama bulan-bulan musim panas, beruang aktif hingga 18 jam per hari dan memiliki tingkat jantung puncak lebih dari 200 denyut per menit, bagaimanapun, selama hibernasi, tingkat pernapasan yang serendah dua napas per menit dan kesenjangan lebih dari 14 detik tanpa detak jantung.
Beruang liar Hamil berhinasi pada awal musim dingin, tetapi detak jantung mereka meningkat sebagai kehamilan mereka terus, spiking selama kelahiran. Setelah cubs lahir detak jantung ibu mereka kembali ke tingkat hibernasi. Selama beberapa minggu setelah melahirkan beruang mengurangi gerakannya, mencegah kerusakan akibat kecelakaan pada anaknya yang menyusui.
Dr Timothy Laske, salah satu tim yang melakukan penelitian mengatakan, "Ketika kita mengambil data, meskipun kita mencoba untuk setenang mungkin, detak jantung beruang meningkat sebelum kami mencapai pintu masuk ke sarang musim dingin mereka dan tetap meningkat untuk beberapa hari. Hal ini menegaskan bahwa meskipun tidur nyenyak jelas, beruang selalu waspada terhadap bahaya dan siap untuk bertindak. "
Dr David Garshelis yang bekerja sama pada proyek ini melanjutkan, "Menggunakan teknologi ini, sepanjang tahun pemantauan beruang liar memungkinkan kita untuk mengamati rincian perilaku beruang, seperti kehamilan dan kelahiran, atau interaksi antara beruang dan binatang liar lainnya, tanpa mengganggu alam perilaku mereka. " Dr Laske menambahkan, "beruang hitam sering membuat jalan mereka ke daerah pinggiran kota yang dapat berbahaya dan stres untuk kedua beruang dan manusia dan pemahaman efek diam manusia dan lingkungan terhadap beruang juga akan memungkinkan lebih baik."