Tampilkan postingan dengan label Tanaman Sayuran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tanaman Sayuran. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 September 2011

BUDIDAYA SAYURAN DATARAN RENDAH


Sayuran dataran rendah yang memerlukan budidaya khusus adalah kangkung air dan genjer. Budidaya kangkung air dan genjer dilakukan di sawah yang berpengairan teknis. Biasanya kangkung air merupakan varietas ungu (berbatang dan berbunga ungu). Sementara kangkung cabut varietas putih (berbatang hijau dan berbunga putih). Meskipun sebenarnya, kangkung putih juga bisa dibudidayakan di lahan basah, dan sebaliknya kangkung ungu bisa dibudidayakan di lahan kering. Karena sifat budidayanya, maka kangkung air relatif lebih rendah harganya dibanding kangkung cabut.
Kacang panjang, terung hijau panjang/ungu, oyong, mentimun dan pare, merupakan sayuran dataran rendah yang dibudidayakan secara massal di lahan sawah pada musim kemarau dan di lahan kering pada musim penghujan. Kacang panjang dan terung ungu/hijau panjang, paling banyak dibudidayakan karena pasarnya juga paling besar. Sementara oyong dan pare relatif lebih sedikit volumenya. Budidaya kacang panjang, oyong, mentimun  dan pare memerlukan ajir. Sementara terung tidak memerlukan ajir.
Komoditas sayuran dataran rendah yang tidak dihasilkan oleh tanaman sayuran adalah nangka muda, pepaya muda, daun melinjo berikut bunga dan buah mudanya. Jenis sayuran ini diperlukan dalam volume besar terutama untuk sayur asem. Meskipun sangat populer dan massal, namun hampir tidak ada petani yang bersedia membudidayakan pepaya, nangka dan melinjo untuk bahan sayuran. Beda dengan daun singkong. Di sekitar Jakarta sudah banyak petani yang membudidayakan singkong hanya untuk dipetik daunnya.
Umumnya, jenis sayuran yang secara sengaja dibudidayakan di dataran rendah hanyalah yang nilai komersialnya relatif baik. Mulai dari selada, caisim, bayam cabut, kangkung cabut, kacang panjang, mentimun, oyong, terung dan pare. Di luar Jawa, khususnya di Kalimantan, NTT, Maluku dan Papua, budidaya sayuran dataran rendah masih sebatas dilakukan oleh etnis Jawa atau Toraja. Etnis ini memiliki tradisi mencangkul, memupuk dan marawat tanaman musiman. Sementara etnis Dayak atau Flores (kecuali Manggarai) dan kebanyakan etnis luar Jawa lainnya lebih mengenal tradisi berladang dan berkebun.
Yang dimaksud dataran rendah dalam konteks ini adalah, kawasan dengan ketinggian mulai dari 0 m. dpl. sd. sekitar 500 m. dpl. Ciri khas kawasan dataran rendah adalah udaranya yang panas. Karenanya sayuran dataran tinggi seperti kol, wortel, seledri, daun bawang dan kentang tidak mungkin dibudidayakan di kawasan ini. Seledri dan daun bawang sebenarnya masih bisa dibudidayakan dengan hasil cukup baik, asal pasarnya relatif jauh dari kawasan penghasil sayuran dataran tinggi. Misalnya Pontianak, Samarinda, Ambon dan terutama Kupang.
Pontianak mendapat suplai sayuran dataran tinggi dari Medan (Brastagi) dan dari Jawa. Samarinda dan Ambon memperoleh suplai dari Jawa dan Sulawesi. Kupang memperoleh suplai dari Sulawesi dan Jawa, namun biaya transportasinya sudah sangat tinggi. Hingga budidaya sayuran dataran rendah menjadi lebih dimungkinkan di Kupang. Atau, ada upaya untuk mengintroduksi budidaya sayuran dataran tinggi di Soe (kabupaten Timor Tengah Selatan). Soe berketinggian antara 500 m. dpl. sd. 1.000 m. dpl, airnya melimpah dan hanya berjarak 1,5 jam perjalanan dari Kupang.
Kekurangan suplai sayuran, bahkan lebih terasa lagi di kota-kota yang relatif kecil seperti Waingapu (Sumba), Tual (Kei), Sorong (Papua), Nunukan (Kaltim). Nunukan yang berbatasan dengan Sabah, Malaysia, terpaksa mendapat suplai sayuran dataran tinggi dari negeri jiran ini. Di nunukan, budidaya sayuran dataran rendah masih sebatas bayam potong, terung, caisim, mentimun dan kemangi. Petaninya masih terbatas etnis Jawa dan Toraja, dengan jumlah baru satu dua. Biasanya mereka sekaligus beternak ayam, hingga kotorannya bisa menjadi pupuk.
Budidaya sayuran dataran rendah dengan biaya on farm paling murah, dialami oleh para petani di bantaran kali di kota Jakarta. Mereka menggunakan pupuk sampah kota yang dibakar. Benih mereka produksi sendiri. Pada budidaya musim kemarau, air irigasi mereka ambil secara manual dengan gembor yang dipikul, langsung dari sungai. Meskipun air sungai tersebut telah menghitam akibat pencemaran, penelitian yang pernah dilakukan menunjukkan, hasil sayuran tersebut tidak tercemar logam berat. Biaya budidaya yang dikeluarkan oleh para petani itu hanyalah tenaga kerja dan pupuk. Kendala utama yang dihadapi oleh para petani sayuran di kawasan Jabotabek justru tingginya biaya off farm berupa pungutan dari aparat serta preman.
Selada, caisim, kangkung, bayam cabut, terung dan pare bisa dengan mudah dibenihkan. Caranya, selada, caisim dan bayam dibiarkan tua dan keluar bunga serta menghasilkan biji. Kangkung pun demikian, namun untuk menghasilkan biji sebanyak mungkin, kangkung cabut ini harus diberi ajir agar merambat. Buah terung dan pare juga dibiarkan menjadi tua dan masak untuk diambil bijinya. Para petani sudah tahu, tanaman yang akan dibenihkan ini dipilih yang paling subur dan tumbuh sehat. Dengan cara ini, petani bisa mengatur agar kebutuhan benih untuk periode tanam berikutnya tercukupi.
Lahan yang akan ditanami sayuran haruslah terkena panas matahari penuh sepanjang hari. Kualitas tanah justru tidak menjadi masalah, sebab dengan adanya bahan organik cukup, maka tanah pasir, tanah liat atau cadas sekali pun tidak menjadi masalah untuk budidaya sayuran. Tanah ini dicangkul sampai gembur dan dibentuk menjadi bedengan memanjang. Pada penanaman musim hujan, perlu dibuat saluran pembuang air (drainase) yang cukup, hingga lahan tanaman tidak tergenangi air. Pada penanaman musim kemarau, saluran drainase tidak diperlukan. Sambil menggemburkan tanah, dilakukan pencampuran pupuk organik.
Selain sampah kota yang dibakar, pupuk untuk budidaya sayuran di sekitar kota juga bisa berupa kompos, kotoran ayam atau limbah isi rumen (perut sapi, domba/kambing) dari rumah pemotongan hewan (RPH). Pupuk organik yang paling murah adalah sampah pasar yang dibakar. Pembakarannya tidak sampai menjadi abu, melainkan cukup berupa arang. Sebab kalau sampai menjadi abu, bahan organis tersebut justru sudah hilang nutrisinya. Abu yang banyak mengandung soda, malahan bisa merusak tanaman sayuran yang perakarannhya sangat lemah. Pupuk kompos bisa dibuat dengan menumpuk limbah organik berupa daun-daunan kering atau sisa produk pertanian lainnya.
Sebenarnya, budidaya sayuran dataran rendah di sekitar kota besar, juga bisa memanfaatkan pupuk kotoran kelinci. Kualitas pupuk kotoran kelinci paling baik jika dibandingkan dengan pupuk organik lainnya. Pakan kelinci bisa berupa limbah sayuran hasil budidaya sendiri, bisa pula dengan mengambil limbah pasar berupa daun kembang kol, kelobit jagung dll. yang biasanya menumpuk di pasar-pasar tradisional. Pemeliharaan kelinci, selain menghasilkan pupuk organik kualitas tinggi, juga bisa memberikan tambahan penghasilan bagi petaninya. Namun, jenis kelinci yang dipelihara haruslah kelinci lokal yang cocok hidup di dataran rendah. Bukan kelinci ras unggul yang hanya cocok dipelihara di dataran tinggi.
Setelah bedengan dengan pupuk organiknya siap, benih sayuran cukup ditaburkan di lokasi penanaman. Agar penyebaran benih merata, terlebih dahulu dicampur tanah atau pupuk organik, baru kemudian disebar. Benih yang bisa langsung ditebar demikian adalah bayam dan kangkung cabut. Sementara caisim, selada, kenikir, kemangi, dan terung haruslah disemai terlebih dahulu baru kemudian dipindahkan ke lahan. Penyemaian benih biasanya dilakukan di bedeng yang terpisah dari bedeng pembesaran. Sayuran kacang panjang, mentimun, oyong dan pare memerlukan ajir atau pagar sebagai rambatan.
Karena sayuran merupakan komoditas yang hanya bisa dipasarkan segar dalam volume terbatas namun setiap hari harus ada, maka budidayanya harus diatur agar bayam, kangkung, caisim, selada dll. itu bisa dipanen tiap hari. Kalau tiap hari pasar hanya mampu menyerap bayam dan kangkung cabut 10 ikat, maka penyebaran benih dilakukan seminggu sekali, dengan perkiraan hasil panennya akan mencapai 70 ikat. Kalau satu ikat kangkung dan bayam cabut dihasilkan dari lahan seluas 625 cm2 (0,25 cm. X 0,25 cm), maka untuk menghasilkan 70 ikat per minggu, harus ditanam satu petak bedengan ukuran 5 m2 (2,5 m. X 2 m.).
Kalau umur panen kangkung dan bayam cabut 40 hari, maka untuk bisa mensuplai 10 ikat kangkung/bayam cabut per hari, diperlukan lahan penanaman seluas 35 m2. (5 m. X 7 m.). Kalau penanaman dilakukan tiap minggu @ 5 m2, maka pada minggu VI lahan yang pertama ditanami sudah dipanen dan siap untuk ditanami lagi. Dengan demikian, rotasi penanaman untuk menghasilkan kangkung/bayam cabut 10 ikat per hari bisa dicapai. Lahan seluas 35 m2 tersebut tidak boleh ditanami bayam dan kangkung darat sekaligus. Sebab hasil panennya akan mencapai 70 ikat per hari hingga tidak bisa terpasarkan.
Meskipun panen diharapkan rutin tiap hari, penanaman dalam skala kecil tidak perlu dilakukan tiap hari. Dengan pola penanaman seminggu sekali, panen tiap hari masih dimungkinkan. sebab dalam kenyataannya, tanaman dalam satu petak ukuran 5 m2 tersebut, pertumbuhannya tidak akan seragam. Pemenenan yang dilakukan satu hari sekali, hanya akan mengambil individu tanaman yang benar-benar sudah siap panen. Kalau tanaman yang tumbuh bongsor itu dicabut, maka tanaman disebelahnya yang sebelumnya tidak mendapat suplai hara serta sinar matahari cukup, akan segera ikut tumbuh bongsor.

Jumat, 26 Agustus 2011

BERCOCOKTANAM TOMAT


"Tanaman "tomat" tidak tahan hujan dan sinar matahari terik suhu panas. Jadi sediakanlah atap rumbia secukupnya sebagai atap payung sebelum hujan dan panas."

"Tomat" lebih memuaskan hasilnya apabila ditanam di daerah yang kering dan sejuk pegunungan.

PERSEMAIAN BIBIT "TOMAT".

Apabila akan menanam biji-biji "tomat", diperiksa dulu barangkali ada kotoran-kotoran atau biji-biji yang keriput. Biji-biji "tomat" dijemur di sinar matahari sebentar di atas secarik kertas.

Sementara menjemur, disiapkan persemaiannya, berupa tanah bersih yang sudah diayak dan dicampur dengan pasir bersih pula (separuh separuh) dalam peti bekas atau kotak. Biji-biji "tomat" yang sudah kering, kemudian disebar rata, dan ditutup dengan tanah yang dilewatkan melalui ayakan pula di atasnya. Tidak perlu tebal-tebal asal tertutup saja. Setelah itu, jangan lupa menekan seluruh permukaan tanah dengan botol bir supaya biji-biji"tomat" tadi benar-benar menempel pada gumpalan tanah dan bukannya melayang di sela-selanya. Tapi botol itu jangan digelindingkan seperti sepur tumbuk. Tekanlah biasa saja, supaya tidak ada biji-biji yang menempel pada botol dan ikut menggelinding ke tetangganya.

Supaya dapat menyiram persemaian ini dengan aman, sebaiknya menggunakan penyemprot obat nyamuk saja, yang sudah diisi dengan air bersih jadi tidak mengaduk-aduk tanah. Dan untuk melindungi biji-biji "tomat" terhadap serangan semut, tutuplah seluruhnya dengan kertas koran, sampai saat mereka berkecambah, namun jangan smpai terlambat membuka tutupnya, supaya tidak sampai kena cendawan. Apabila kecambah-kecambah itu sudah berdaun, pilihlah yang bagus-bagus saja untuk dipindah ke dalam pot-pot kecil (satu pot satu tanaman) yang kemudian diletakkan di tempat yang teduh, supaya dapat menghela napas sebentar, setelah kaget direnggut dari tempatnya semula tadi. Baru keesokan harinya, pot-pot itu diletakkan di luar di atas bedengan-bedengan yang tinggi, untuk menikmati sinar matahari pagi. Namun semuanya harus dilindungi juga dengan atap rumbia, supaya tidak terlalu kepanasan, dan supaya tanah dalam pot itu sendiri tidak kering. Benamkanlah pot-pot itu dalam tanah bedengan sampai sedalam lehernya. Kemudian disiram tiap pagi.


PEMINDAHAN TANAMAN KE TEMPAT PENANAMAN.

Setelah tiga minggu berada dalam pot-pot yang ditanam tadi, pilihlah sekali lagi individu-individu yang bagus-bagus saja, kemudian dipindah ke tempat penanaman yang tetap, yaitu bedengan-bedengan yang sudah digemburkan tanahnya sedalam 60 cm dan dipupuk dengan pupuk kandang kering yang sudah dingin sebanyak 1/4 blek minyak tanah per M2.

Jangan menggunakan pupuk kandang basah, karena dapat menularkan penyakit-penyakit (cendawan).

Jarak tanamnya harus 50 X 60 - 75 cm. Namun apabila halamannya terbatas boleh juga menanam jarak antara batang"tomat" yang satu dengan yanglain tetap harus 50 cm.

Untuk menjaga supaya waktu dipindahkan tidak rusak, ketok-ketoklah pot itu dulu sambil memutar-mutar, sehingga gumpalan tanah yang meliputi akar-akar terlepas dari dinding pot. Kemudian sambil menahan tanah di sekitar batang "tomat" dengan tangan sendiri (jangan menyentuh barang itu). Jungkir balik-kanlah pot itu dan ketroklah pantatnya dengan tangan kanan. Hal ini supaya mudah untuk mengeluarkan tanaman berikut gumpalan tanah yang meliputi akar-akarnya tadi.


PEMELIHARAAN TANAMAN "TOMAT".

Supaya mendapat hasil yang memuaskan, tanaman "tomat" tumbuhnya harus teratur. Tanaman "tomat" harus dirambatkan ke tambang kambing yang panjang dikaitkan kepada para-para setinggi paling sedikit 1 1/2 M. Ujung tambang yang berada di bawah diikatkan pada sebatang kayu pendek yang ditancapkan dalam tanah, di dekat batang "tomat".

Batang yang dirambatkan ke atas ini harus bebas dari cabang-cabang, begitu ada cabang terbentuk, harus segera dipotong, kecuali cabang yang paling atas. Cabang-cabang bawah yang dipotong ini akan mencoba menumbuhkan cabang-cabang baru lagi nantinya, di ketiak-ketiak daun. Namun semuanya harus dipotong lagi, kelak.... dengan hanya meninggalkan sisa sepanjang beberapa cm saja, yang masih mengandung satu helai daun.

Setelah batang itu sendiri setinggi 1 - 1 1/4 meter, potonglah pucuknya, yaitu diatas dompolan bunga yang ke lima atau ke enam (dihitung dari bawah). Pertumbuhannya lantas diteruskan oleh cabang yang paling atas tadi. Dengan begitu kita hanya akan mendapat lima sampai enam dompolan buah saja per batang, namun buah-buahnya akan tumbuh leluasa besarnya. Untuk mendapat jumlah"tomat" yang banyak, perbanyak saja jumlah batang-batang yang ditanam. Hal ini supaya ruangan di sekitar batang itu akan bebas leluasa menerima sinar matahari dan hawa segar secukupnya, sedang buah-buah "tomat" tidak akan ada yang kotor kena tanah.

Tugas berikutnya adalah memotongi semua pencoleng kuncup yang timbul di ketiak-ketiak daun. Begitu pada kuncup yang mau tumbuh, ambil saja dengan ibu jari dan jari telunjuk. Dengan demikian dapat diharapkan bahwa semua sari-sari makanan dan hasil asimilasi daun "tomat" akan digunakan juga dengan cukup, untuk membesarkan buah-buahnya.

Namun apabila sudah tumbuh sebesar kelereng, buah-buah inipun harus ditertibkan. Dalam satu kelompok dompolan hanya boleh ada paling banyak lima buah saja. Apabila dibiarkan lebih dari itu, tumbuhnya akan berdesak-desakan, sehingga nanti buahnya tidak sama rata besarnya. Lebih baik, dipilih saja, yang bagus-bagus dibiarkan, dan yang kerdil jelek dipetik secepatnya.

Pada saat menunggu buah "tomat" masak, "tomat-tomat" tadi tidak boleh kena hujan..... Lindungilah "tomat" anda dengan atap rumbia yang diletakkan miring di atas para-para tempat mengikatkan tambang rambatan tadi. Air hujan yang menempel pada buah-buah "tomat" , apabila tidak segera dibersihkan..... dapat mengakibatkan buah "tomat"tersebut tidak dapat licin halus. Atap pelindung harus diambil kembali dan disimpan baik-baik. Apabila cuaca sudah bagus lagi, untuk dipergunakan menutup lagi apabila matahari panas terik udaranya, setelah pukul 10.00 pagi.

Untuk memperoleh bibit sendiri yang bagus nantinya, tandailah pohon-pohon yang paling bagus menghasilkan buah, besar-besar rata-rata, manis-manis. Buah-buah yang bagus-bagus tadi disisihkan dan jangan dimakan, tapi diambil biji-bijinya, yang setelah dikeringkan disimpan dalam botol-botol bersih yang tertutup rapi. Tiap kali menanam (dan panen), sebaiknya meneliti..... Batang-batang "tomat" yang mana yang paling bagus untuk diambil bibitnya. Dengan demikian anda menyeleksi sendiri sehingga apabila akan menanam lagi sudah memiliki bibit unggul sendiri.

Apabila buah-buah sudah besar, maka daun-daun paling ujung pada tiap-tiap cabang yang dibiarkan pendek tempo hari, harus dipotong juga, bersama-sama dengan semua kuncup yang muncul pada pangkal tangkai dapat didorong lebih cepat lagi masaknya, sehingga cepat pula berubah warna dari hijau ke jingga.

Disamping hal-hal tadi, jangan lupa pula menggemburkan tanah dan menyiangi rumput-rumputan yang tumbuh. "Tomat-tomat" peka sekali terhadap gangguan rumput. Apabila tanah bersih, gembur dan subur, maka dalam waktu tiga bulan saja, sudah dapat memungut hasil yang besar-besar memuaskan.


WAKTU MEMANEN BUAH "TOMAT".

Apabila memetik buah, jangan menunggu sampai berwarna merah betul-betul, sebab buah yang dipetik sesudah merah semuanya akan meledak kalau disimpan lebih lanjut. Sebaliknya kalau memetik sudah berwarna kuning jingga sebagian saja kalau disimpan akan masak sendiri, walaupun di luar batang. Namun jangan sampai memetik buah "tomat" yang masih hijau, karena tidak mungkin bisa masak, tapi malah akan busuk.

Apabila anda memetik buah "tomat"tepat pada waktunya, dan tidak terburu-buru atau terlalu lama menunggu sampai merah rata, maka tanaman itu lantas dapat berbuah lagi yang masih terbelakang tumbuhnya. Lumayan untuk menambah produksi......

Selamat mencoba bercocok tanam"tomat"......

Semoga anda sukses.......

Kamis, 11 Agustus 2011

WASPADAI TANAMAN KUBIS TERSERANG HAMA ”PUTIH” TRITIP

SERANGAN hama putih pada tanaman kubis mengkhawatirkan petani, maka harus mewaspadainya. Karena hama ini memakan daging daun—tapi kulit ari biasanya tidak di makan—sehingga daun kubis menampakkan noda-noda putih.Jika kulit ari tersebut mongering,maka noda-noda putih tadi akan berlubang-lubang.
Pada serangan hama putih yang lebih hebat,daun yang terserang tingal tulang-tulang daunnya saja.Hama ini termasuk kosmopolit,karena tersebar di seluruh dunia,baik di dataran rendah maupun dataran tinggi.
Adapun penyebab munculnya hama putih ini,adalah sejenis ulat yang disebut ulat Tritip (Plutella maculipennis). Ulat bertubuh kecil ini menyerang tanaman kubis sejak tanaman mudah di persemaian hingga tanaman dewasa di kebun produksi.Bila ulat ini mewabah maka kerugian besar akan dialami para petani kubis.

KEBAL INSEKTISIDA
Sebenarnya,ulat Tritip ini berukuran panjang 9-10 mm,tubuhnya berwarna hijau.Sedangkan ketika menjadi kupu-kupu tampak punggungnya berwarna putih seperti berlian sehingga sering disebut kupu-kupu punggung berlian.Ulat ini suka bersembunyi di bagian bawah daun.Apabila daun tersentuh,ulat Tritip akan merasakan ada bahaya yang mengancam dirinya,maka dengan segera ia akan menjatuhkan diri menggunakan benang seperti laba-laba dengan tujuan untuk menyelamatkan diri.
Keistimewaan ulat Tritip yakni bisa kebal terhadap suatu jenis insektisida. Jika ulat Tritip disemprot insektisida dengan dosis yang tidak sesuai atau disemprot hanya dengan satu jenis insektisida,ia malah menjadi kebal dan justru makin merajalela merusak seluruh tanaman,sehingga mengkhawatirkan para petani.
Sebagaimana halnya ulat-ulat lain,hama ini mengalami perubahan bentuk atau metamorfosa sebanyak empat kali dalam daur hidupnya mulai stadium telur,kemudian menjadi larva (ulat),berubah lagi menjadi kepompong (pupa),dan akhirnya menjadi kupu-kupu.Apabila di daerah panas umurnya hanya 2 hari dan di daerah dingin menjadi lama sekitar 41-45 hari.Padahal,tanaman kubis umumnya dibudidayakan di daerah dataran tinggi (dingin),sehingga peluang terserang hama ulat tritip akan semakin besar.
Kupu-kupu betina bertelur sampai 320 butir setiap ekornya yang diletakkan di permukaan daun sebelah bawah.Cara meletakkannya ada yang satu-satu dan ada pula yang berkelompok.Sedangkan umur telur hanya 2 hari
di daerah panas dan selama 3-4 hari di daerah dingin,kemudian menetas, menghasilkan ulat muda berwarna hijau pucat,setelah dewasa berubah menjadi hijau tua dan berbintik-bintik coklat.
PEMBERANTASAN MEKANIS
Karena ulat Tritip bisa kebal terhadap penyemprotan insektisida,maka cara pemberantasan yang dinilai cukup efektif,adalah pemberantasan mekanis.Pada stadium ulat,hama tersebut dipijit satu persatu.Kalau pada stadium kupu-kupu,sebaiknya memasang obor ketika makam,dan di bawah obor disediakan baskom berisi air.Karena kupu-kupu Tritip akan berhamburan melintasi jilatan api sehingga jatuh ke dalam baskom berisi air tersebut.
Selain itu,hama tritip bisa pula dikendalikan secara kultur tanaman,yakni tidak menanam kubis dan tanaman se-famili dalam satu tahun terus menerus. Pergiliran tanaman mutlak perlu dilakukan dengan tujuan memutus siklus hidup dari ulat Tritip tersebut.
Kalau memungkinkan,hama putih ini dapat pula dikendalikan secara biologis,yakni melalui penyebaran hewan predator ulat Tritip yang nantinya bertindak sebagai hewan ando parasut (memakan tubuh ulat dari dalam). Hal ini pernah dicoba oleh para ahli dengan menyebarkan serangga Angintia cerophaga ,sejenis serangga yang berasal dari New Zealand.
Serangga Angintia cerophaga akan bertelur dalam tubuh ulat atau kepompong ulat Tritip.Setelah meneta,ulat kecil yang dihasilkannya akan memakan tubuh ulat Tritip dari dalam.Cara ini termasuk efektif,tetapi sayangnya sampai sekarang belum memasyarakat.
Namun,jika tanaman kubis telah terserang hama Tritip secara merajalela, apaboleh buat,penyemprotan insektisida terpaksa harus dilakukan petani. Pengendalian secara mekanis akan terlalu menyita waktu dan tenaga.Untuk itu bisa dipakai insektisida,tetapi penggunaannya harus benar-benar dengan dosis yang efektif mematikan.
Selain itu,insektisida yang disemprotkan harus berganti-ganti untuk menghindari resistensi (kekebalan) terhadap salah satu insektisida.Dalam hal ini bisa digunakan bermacam-macam insektisida seperti diazinon,formadol, curacron,sevin,basudin dan lainnya,dengan dosis penyemprotan sesuai yang dianjurkan.(REDI MULYADI

Budidaya Strowberry Yang Intensif


STROBERI atau strowberry dan juga dikenal dengan nama arbei dari bahasa Belandaaardbei adalah sebuah genus tumbuhan dalam keluarga Rosaceae merupakan nama buah dari tanaman ini. Ada kurang lebih 20 spesies stroberi. Spesies yang paling umum ditanam untuk dijual adalah dari hasil penyilangan Fragaria × ananassa.
Buah stroberi berwarna hijau keputihan ketika sedang berkembang, dan pada kebanyakan spesies berubah menjadi merah ketika masak. Namanya berasal dari bahasa Inggris kuno streawberige yang merupakan gabungan dari streaw atau "straw" danberige atau "berry". Alasan pemberian nama ini masih tidak jelas. Beberapa spesies Lepidoptera mengambil sumber makanannya dari tumbuhan stroberi, menjadikan spesies ini hama utama tanaman stroberi.
Prospek agribisnis strowberry di Indonesia cukup cerah dilihat dari daya serap pasar dan permintaan dunia dari tahun ke tahun yang terus meningkat.Karena itu tak mengherankan,bila para petani tampak mulai bergairah membudidayakan tanaman stroberi secara intensif seperti yang dilakukan petani di daerah Tawangmangu Kab. Karang Anyar, Sukabumi, Cipanas Kab.Cianjur, Lembang dan Rancabali Bandung, BatuKab.Malang dan Bedugul (Bali).
Adapun syarat tumbuh bagi tanaman strawberry yakni lama penyinaran matahari 8 - 10 jam hari. Curah hujan berkisar 600 700 mm pertahun. Suhu udara optimum antara 17°C - 20°C dan suhu udara minimum antara 4°C - 5°C dengan kelembaban udara 80% - 90%.Ketinggian tempat yang ideal antara 1000-2000 m dpl.
Dalam pengolahan lahan yang akan ditanami stroberry,maka sebelum lahan dibajak digenangi air lebih dahulu semalam. Keesokan harinya dilakukan pembajakan sedalam sekitar 30 cm, setelah itu tanah dilakukan pengeringan baru dihaluskan.
Kemudian membuat bedengan dengan ukuran lebar 80-120 cm, tinggi 30 - 40 cm, jarak antar bedengan 60 cm, panjang menyesuaikan keadaan lahan.Juga dalam pengapurandiberikan dolomit sekitar 100-200 kg per 1000 m2 sesuai kondisi lahan.

Sebelum penanaman,maka perlu dilakukan pemupukan dasar dengan cara menaburkan pupuk UREA 20 kg + TSP 25 kg + KCl 10 kg dan Pupuk kandang 2-3 ton untuk lahan 1 hektar. Untuk mencegah serangan penyakit karena jamur utamanya penyakit layu,berikan fungisida yang 
telah dicampur dengan pupuk kandang dan didiamkan selama seminggu.
Pemasangan mulsa plastik pada saat matahari terik agar mulsa dapat memuai sehingga dapat tepat menutup bedengan dengan tepat.Selanjutnya pembuatan lubang tanam berdiameter lubang ± 10 cm, dengan jarak lubang 30 - 50 cm. Model penanaman dapat berupa dua baris berhadap-hadapan membentuk segi empat.
Adapun cara penanaman strawberry adalah dengan memindahkan bibit beserta medianya.Sebaiknya bibit dikondisikan selama sebulan sebelum tanam di kebun,dan saat penanaman usahakan perakaran tidak rusak saat membuka polibag. Selain itu, perlu dilakukan penyulaman paling lambat 15-30 hari setelah tanam, pada sore hari dan segera disiram,serta penyiangan dilakukan pada gulma/ rumput liar yang menyaingi kehidupan tanaman.Kemudian dilakukan pemangkasan,dilakukan pada sulur yang kurang produktif, rimbun, serta pada bunga pertama untuk memperoleh buah yang prima.
Pemupukan susulan diberikan pada umur 1,5 - 2 bulan setelah tanam dengan NPK (16-16-16) sebanyak 5 kg yang dilarutkan dalam 200 liter air, kemudian dikocorkan sebanyak 350-500 cc/ tanaman.
H A M A
a.) Kutu daun (Chaetosiphon fragaefolii) Bagian yang diserang : permukaan daun bagian bawah, kuncup bunga, pucuk atau batang muda. Gejala : pucuk atau daun keriput, keriting, kadang-kadang pembentukan daun atau buah terhambat.
b.) Tungau (Tetranychus sp -Tarsonemus sp).Bagian yang diserang: daun,tangkai, dan buah. Gejala :daun bercak kuning, coklat, keriting akhirnya daun rontok. 
c.) Kumbang penggerek bunga (Anthonomus rubi), kumbang penggerek akar (Othiorhychus rugosostriatus), kumbang penggerek batang (O. Sulcatus)Gejala serangan : adanya bubuk berupa tepung pada bagian yang digereknya. 
PENYAKIT
a.) Layu verticillium (Verticillium dahliae)
Bagian yang diserang: mulai dari akar, daun, hingga tanaman. Gejala : daun yang terinfeksi mula-mula berwarna kuning hingga kecoklatan, serangan berat akan mengakibatkan kematian pada tanaman. Pengendalian : perbaikan drainase, sanitasi kebun, gunakan insektisida.
b.) Busuk buah matang/Ripe Fruit Rot (Colletotrichum fragariae Brook) Busuk Rhizopus/ Rhizopus spot ( Rhizopus stolonifer ).Bagian yang diserang : buah. Gejala : RFR yang khas hanya pada buah yang masak saja dengan buah busuk disertai massaspora berwarna merah jambu. Pada RS, buah busuk lunak, berair, bila dipijit keluar cairan keruh. Pengendalian : musnahkan buah yang terinfeksi, perbaiki drainase kebun, pemulsaan, rotasi tanaman, dan gunakan insektisida pada awal penanaman yang dicampur dengan pupuk kandang yang telah jadi.

c.) Busuk akar ( Idriella lunata, Pythium ulmatum, Rhizoctonia solani).Bagian yang diserang : akar tanaman. Gejala : Idriella menyebabkan ujung-ujung akar tanaman berwarna hitam dan busuk, sedangkanPhytium mengakibatkan batang batas akar di permukaan tanah busuk berwarna coklat hingga hitam. Sementara jamur Rhizoctonia mengakibatkan sistem perakaran busuk kebasah-basahan. Pengendalian : cabut dan musnahkan tanaman yang terserang berat, tambahkan kapur untuk tanah, lakukan rotasi tanaman,
perbaikan drainase tanaman,dan berikan insektisida pada awal penanaman.
d.) Empulur merah (Phytophtora fragrariae)
Bagian yang diserang : perakaran tanaman. Gejala : tanaman kerdil, daun tudak segar bahkan dapat layu, bila diamati akar dan pangkal batang yang terinfeksi pada empulurnya akan tampak berwarna merah.Penyakit ini mengakibatkan serangan hebat pada kondisi drainase jelek dan masam/pH rendah. Pengendalian : perbaiki drainase, pengapuran tanah, rotasi tanaman, gunakan bibit yang sehat dan hindari luka mekanis pada pemeliharaan, musnahkan tanaman yang terinfeksi berat,dan campurkan pada awal penanaman. 


PANEN
Tanaman stroberi mulai berbunga pada umur 2 bulan setelah tanam. Namun pembuahan atau pembungaan pertama sebaiknya dibuang atau dipangkas karena belum bisa berproduksi secara optimum. Setelah tanaman berumur 4 bulan mulai diarahkan untuk lebih produktif berbunga dan berbuah. Panen dilakukan dengan dipetik atau digunting bagian tangkai buah beserta kelopaknya, dan dilakukan secara periodik dua kali seminggu