Tampilkan postingan dengan label Teknik Pengolahan Limbah Pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknik Pengolahan Limbah Pertanian. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 September 2011

Tebu Jadi Alternatif Bahan Bakar di Brazil

INILAH.COM, Washington – Tebu menjadi alternatif bahan bakar fosil pemanasan global pada mobil dan truk di Brazil. Selain itu, tebu memiliki efek menguntungkan, mendinginkan suhu lokal.

Para peneliti memperingatkan, bukan berarti tebu akan menggantikan hutan Amazon  atau vegetasi alam lainnya. Manfaat tebu bisa muncul ketika tebu dimasukkan dalam  pertanian yang ada, menggantikan tanah rumput atau tanaman panen seperti kedelai.

"Tebu memiliki kemampuan memantulkan sinar matahari agar ‘berkeringat’ dan  keringat tebu mendinginkan udara," kata pemimpin peneliti Scott Loarie dari Carnegie Institution for Science.

Tanaman menarik uap air dari tanah dan memancarkannya ke udara dalam proses  fotosintesis, ungkap Loarie. Selain itu, tebu sangat efisien dalam saat  melakukan transfer pendingin kelembaban.

“Dengan tebu, efek pendinginan evaporatif jauh lebih signifikan dibanding dengan Albedo (reflektifitas),” katanya.

Studi ini diterbitkan dalam Nature Climate Change. Tebu digunakan dalam biofuel yang menjadi bahan bakar seperempat kendaraan bermotor di Brazil.

Alhasil, atmosfer akan terjaga dari gas rumah kaca karbondioksida yang mempengaruhi iklim global. Namun, karena efisiensinya memancarkan air dingin, suhu lokal akan turun 0,93 derajat Celsius dibanding tanaman lain.

Kamis, 25 Agustus 2011

Daur ulang limbah minyak goreng menjadi bahan bakar Bio-diesel


1. Pendahuluan

Limbah minyak goreng nabati yang dibuang dari industri pengolahan makanan dan pedagang makanan serta rumah tangga di Jepang diperkirakan 400.000 ton per tahun. Limbah minyak goreng yang dikeluarkan dari industri pengolahan makanan dan pedagang makanan dikumpulkan oleh perusahaan pengumpul. Limbah yang terkumpul ini kemudian didaur ulang menjadi sabun, cat dan pakan hewan. Waktu itu limbah minyak goreng di rumah tangga dibuang sebagai sampah umum, akan tetapi akhir-akhir ini telah terdapat kesadaran masyarakat Jepang akan pentingnya perlindungan lingkungan hidup, makna daur ulang dan pemanfaatan kembali sumber bahan alam. Pada saat ini telah berkembang pergerakan masyarakat untuk mendaur ulang limbah minyak goreng yang berasal dari rumah tangga menjadi Bio-diesel Fuel (BDF) atau bahan bakar bio-diesel.

Sebagai salah satu usaha pencegahan pemanasan bumi, penggunaan bahan bakar berbasis biomass telah dicanangkan di beberapa tahun terakhir sebagai isu penting. Penyebaran teknologi penggunaan bahan bakar minyak nabati akan meningkat pada tahun-tahun belakangan ini dan telah menjadi kenyataan dan akhirnya banyak memverifikasi teknologi maju ini dan memperkenalkannya secara luas. Dan juga dikembangkan emisi zero pada limbah makanan, hal ini akan membantu penurunan emisi CO2 atau karbon dioksida dan penanggulangan pemanasan bumi. Sementara ini banyak rujukan tentang kajian biomass dan bahan bakar bio-ethanol, penelitian ilmiah sosial pada bahan bakar bio-diesel telah digalakan di Jepang. Disini dibahas daur ulang limbah minyak goreng dan penggunaan bahan bakar bio-diesel dalam bidang pertanian dalam arti luas.

2. Pengumpulan minyak goreng bekas dari industri makanan

Pembuangan limbah minyak goreng sebagian besar berasal dari minyak goreng nabati, total limbah tersebut di Jepang diperkirakan sebanyak 410.000 ton per tahun. Kurang lebih sebanyak 260.000 ton berasal dari para pengelola atau pedagang makanan seperti pabrik makanan, restoran dan pabrik tahu, sedangkan separuh lainnya 250.000 ton berasal dari limbah rumah tangga. Limbah minyak goreng berasal dari pedagang makanan dikumpulkan oleh pedagang pengumpul minyak goreng bekas. Sementara yang beasal dari rumah tangga dikumpulkan sebagian dengan alasan peningkatan kesadaran lingkungan hidup, akan tetapi kebanyakan dari limbah tersebut telah memadat dan dibuang dengan cara yang sama seperti sampah dapur lainnya.

Limbah minyak goreng sebanyak 260.000 ton yang dikumpulkan dari pedagang makanan di daur ulang untuk bahan dasar sabun, pupuk, pakan hewan dan cat. Pada tahun 2002 sebanyak 20.000 ton limbah minyak goreng digunakan untuk membuat bahan bakar bio-diesel dan boiler dan sebanyak 400.000 ton digunakan sebagai bahan baku untuk industri sabun, minyak dan cat, dan sekitar 200.000 ton untuk pakan hewan. Pada tahun yang sama sekitar 10.000 ton limbah minyak goreng dari rumah tangga didaur ulang untuk tujuan industri dan pembuatan bahan bakar.

Dari beberapa daerah telah terjadi peningkatan kesadaran bersama dalam pengumpulan dan pendaur-ulangan limbah minyak goreng ini sehingga pada tahun 2006 telah meningkat menjadi 20.000 – 30.000 ton. Maka dari itu kemungkinan limbah minyak goreng yang dapat dikumpulkan menjadi 100.000 ton per tahun. Minyak ini dapat didaur ulang dengan memisahkan minyak hewani dan bahan tambahan lainnya dengan cara memanaskannya di sebuah oven reaktor untuk mendehidrasinya dan menambahkan methanol (methyl alcohol), sebagai katalis. Lalu akan diperoleh methyl ester dan gliserin.

3. Kegiatan percontohan di Kyoto

Kota Tokyo tempat dimana dilahirkannya Kyoto Protocol pada tahun 1997, telah bekerja meminimalkan turunan sampah dan mendaur ulang limbah minyak goreng melalui kerjasama antara pemerintah setempat dengan masyarakatnya. Pada bulan November 1996 “Kyoto Minicipal Council for Promotion of Garbage Reduction” telah didirikan oleh penduduk, pedagang, dan pemerintah setempat. Dengan menggerakan penduduk yang berdedikasi di berbagai daerah, pemerintah setempat telah mengumpulkan 13.000 liter limbah ninyak goreng dari rumah tangga dalam waktu setahun dan juga setiap tahun telah membeli limbah minyak goreng yang berasal dari pabrik pengolah makanan, restoran dsb sekitar 1.400.000.000 liter dari pedagang pengumpul. Kemudian Kyoto setiap tahunnya memproduksi bahan bakar bio-diesel berasal dari 1,5 juta liter limbah minyak goreng yang dikerjakan di tempat produksi bio-diesel berlokasi di Fushimi-ku, Kyoto. Kyoto menggunakan bahan bakar bio-diesel (kemurnian 100%) sebagai bahan bakar untuk 220 truk sampah. Pada bulan April 2000, telah dimulai penggunaan bahan bakar campuran 20% bakar bio-diesel untuk bahan bakar sekitar 80 bus kota. Menurut Bidang Perencanaan Daur Ulang, Biro Lingkungan Hidup, Pemerintah Derah Kyoto, tidak ada prefektur lain yang menggunakan bahan bakar bio-diesel sebanyak 300 kendaraan, Kota Kyoto merupakan kota yang paling banyak menggunakan bahan bakar bio-diesel di Jepang.

4. Penggunaan bahan bakar bio-diesel di pertanian dan perikanan

Penggunaan bahan bakar bio-diesel untuk kapal penangkap ikan, traktor pertanian, belum dilaksanakan secara besar-besaran. Beberapa telah dilaksanakan, sebagai contoh penggunaan bahan bakar bio-diesel oleh kapal penangkap ikan lokal “Kakezu-Maru", jaringan penangkap ikan yang dipunyai oleh Mr. Yosuke Matsuo, seorang anggota Koperasi Nelayan Kota Amino, Kyotango, Prefektur Kyoyo. Sejak Mei 2006, Mr. Matsuo telah mencoba menggunakan bahan bakar yang berasal dari limbah minyak goreng untuk kapalnya. Untuk wilayah ini kegiatan pengumpulan limbah minyak goreng telah dimulai. Dia penggerak kampanye lingkungan hidup di wilayahnya sebagai presiden “Council for Protection of Nakisuna ((Quartz sand) on the Kotohikihama Beach” di Amino-machi. Hal penting yang perlu dicatat bahwa bahan bakar bio-diesel merupakan bahan bakar ramah lingkungan yang dapat membantu penurunan emisi karbon dioksida dan sulfur oksida. Maka dari itu Mr. Matsuo telah memutuskan untuk menggunakan bahan bakar tersebut untuk menggerakan mesin kapalnya. Kakezu-Maru biasa menempuh jarak antara Pelabuhan Ikan Asamogawa ke penempatan jaring ikan yang berjarak sekitar 1,5 km dari garis pantai. Dia juga dapat menggunakan bahan bakar bio-diesel sama seperti menggunakan bahan bakar umum sebelumnya.

Penggunaan bahan bakar bio-diesel untuk traktor pertanian dapat dilihat pada projek “Nanohana Eco-life Network” di Shin Aashi dan Aito, Prefektur Shiga dan juga di Yokohama, Prefektur Aomori, Kanayama, Prefektur Yamagata dan Kita, Prefektur Akita. Di daerah tersebut bahan bakar Bio-diesel diproduksi menggunakan minyak bijian dan limbah minyak goreng.

5. Promosi bahan bakar bio-diesel

Sangat perlu pulikasi penggunaan bio-diesel kepada masyarakat sebagai bahan pendidikan tentang makanan, bidang pertanian, dan masalah lingkungan hidup yang akan berguna untuk keselamatan manusia dan kelestarian sumber alam di bumi. Pengembangan metoda daur ulang dan sistem sosial lingkungan hidup yang berkelanjutan akan menyumbangkan penurunan emisi karbon dioksida dan pencegahan pemanasan bumi. Yang diperlukan pertama kali adalah menarik perhatian pemerintah pusat dan daerah, sekolah dan persatuan orang tua murid, masyarakat pertanian dan perikanan, koperasi konsumen dan penduduk dalam membangun sistem sosial untuk penggunaan limbah minyak goreng.

Praktek yang menarik dalam rangka penggunaan limbah minyak goreng :
1) Kegiatan yang dilakukan oleh NPO, pengumpul limbah minyak goreng di Sumida-ku, Tokyo dengan cara membuat kupon yang dapat ditukar dengan tanaman untuk ditanam di hutan Prefektur Fukushima. Metode ini dapat dipraktekan untuk mengumpulkan limbah minyak goreng untuk dijadikan bahan bakar bio-diesel yang digunakan pada kegiatan pertanian dan perikanan.
2) "Kupon sayur-sayuran atau beras" dan "Kupon ikan" yang diberikan kepada mereka yang menyetorkan limbah minyak goreng, dengan kupon yang terkumpul dapat ditukarkan dengan sayur-sayuran, beras dan ikan dari koperasi pertanian dan perikanan setempat.

Penggunaan limbah minyak goreng dalam bidang pertanian dan perikanan menghadapi masalah tingginya biaya pengumpulan dan pemurnian. Sehingga perlu dukungan politik dari pemerintah pusat, pemerintah daerah dan pejabat berwenang yang lain. Di Jepang tidak ada subsidi harga bahan bakar yang diberikan kepada petani dan nelayan. Kebijakan baru untuk memberikan subsidi pada bidang pertanian, kehutanan dan perikanan untuk biaya pengumpulan dan pemurnian limbah minyak diperlukan adanya peraturan pemerintah untuk penurunan emisi CO2 dan perlindungan lingkungan hidup secara global. Usaha bidang perikanan sangat membantu perokonomian regional sehingga pemerintah daerah sangat diharapkan membantu dan mendukung kegiatan-kegiatan pusat pemrosesan perikanan yang terdapat di wilayah prefekturnya

Multifungsi ‘Limbah’ Padi


Padi merupakan satu dari sekian banyak tanaman yang dibudidayakan. Dari sekian banyak tanaman budidaya, adil rasanya jika tanaman padi disebut tanaman budidaya yang paling penting terlebih untuk masyarakat yang memang menjadikan nasi sebagai makanan utamanya.
Setiap hasil produk tanaman selain diambil bahan utamanya pasti ada bahan sampingannya yang tersisa yaitu yang sering disebut limbah, begitu juga dengan tanaman padi. Semakin banyak masyarakat petani yang membudidayakan tanaman padi maka semakin banyak pula limbah yang dihasilkan.
Limbah sering diartikan sebagai bahan buangan/bahan sisa dari proses pengolahan hasil pertanian. Kata limbah sering berkonotasi negatif. Hal itu bisa menjadi benar apabila limbah tersebut dapat memberikan dampak buruk terutama bagi lingkungan. Sebaliknya menjadi salah apabila limbah tersebut bisa menjadi sumber penghasilan. Banyak sekali masyarakat yang memanfaatkan peluang ini yaitu memanfaatkan limbah menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat bahkan menjadi lahan untuk mendapatkan uang.
Limbah padi merupakan salah satu contoh limbah yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat di Indonesia. Kita tahu bahwa hasil utama dari tanaman padi adalah beras. Selain itu adalah ‘limbah’. Akan tetapi semua ‘limbah’ padi bisa dimanfaatkan. Limbah padi yang dimaksud adalah sekam, dedak, bekatul, dan jerami. Dari proses penggilingan padi biasanya diperoleh sekam sekitar 20-30%, dedak antara 8- 12% dan beras giling antara 50-63,5% data bobot awal gabah.
Sekam
Sekam padi merupakan lapisan keras yang meliputi kariopsis yang terdiri dari dua belahan yang disebut lemma dan palea yang saling bertautan. Pada proses penggilingan beras sekam akan terpisah dari butir beras dan menjadi bahan sisa atau limbah penggilingan. Dari proses penggilingan padi biasanya diperoleh sekam sekitar 20-30% dari bobot gabah. Sekam dengan persentase yang tinggi tersebut dapat menimbulkan masalah bagi lingkungan jika tidak dimanfaatkan.
Komposisi kimia sekam padi menurut Suharno (1979) adalah kadar air  (9,02%), protein kasar (3,03%), lemak (1,18%), serat kasar (35,68%), abu (17,17%), karbohidrat dasar (33,71%). Sedangkan menurut DTC – IPB, komposisi kimia sekam terdiri dari karbon/zat arang (1,33%), hidrogen (1,54%), oksigen (33,64%), silika (16,98%).

Kamis, 11 Agustus 2011

Teknologi Pengolahan Dodol Jagung Manis


Pendahuluan
                Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu komoditas pangan yang sangat penting di Indonesia dan dapat digunakan sebagai bahan pangan, pakan maupun industri. Sebagi bahan pangan,  jagung mempunyai komposisi kimia yang tidak jauh berbeda dengan nilai gizi beras. Dalam usaha meningkatkan daya guna jagung , maka perlu dilakukan diversifikasi pengolahan peroduk pangan asal jagung. Produk pangan yang dimaksud merupakan bahan yang diolah setengah jadi maupun bahan yang dikonsumsi. Bahan olahan tersebut harus disukai oleh konsumen dan secara ekonomis pengolahan bahan tersebut mempunyai nilai efisiensi yang tinggi. Salah stu jenis produk olahan yang dapat dibuat adalah dodol jagung.
Dodol merupakan makanan tradisional yang cukup terkenal di beberapa daerah di Indonesia, dapat diolah dari tepung ketan, tepung biji-bijian, maupun buah-buahan yang dicampur dengan gula atau diberi tambahan bahan lain seperti tepung beras atau tepung ketan, tepung tapioca, tepung honkwe, bahan pewarna maupuun bahan lainnya. Cara pembuatan dodol sangat mudah, peralatan yang digunakan juga sederhana sehingga dapat diterapkan menjadi industry rumah tangga.

Prosedur
Bahan yang diperlukan :
Bubur jagung 3 kg, tepung ketan 1 kg, gula pasir 2 kg (50%), gula merah 0,5 kg (15%), margaein 140 gram (3 %), garam dapur dan vanili secukupnya, santan 2 liter dari 3 butir kelapa.
Peralatan yang diperlukan :
1.    Timbangan, digunakan untuk menimbang bahan baku da produk jadi
2.    Wajan + alat pengaduk dodol, untuk memasak dodol
3.    Baskom plastic, digunakan untuk wadah pencucian dan penampungan bubur jagung
4.    Alat peniris, digunakan untuk meniriskan jagung setelah dicuci
5.    Alat pemart, digunakan untuk memerut kelapa sebagai tambahan pembuatan dodol jagung dan memarut jagung
6.    Alat pemanas
7.    Pisau stainless steel untuk memotong dodol

Cara pembuatan :
1.         Jagung dikupas kulit luarnya lalu dicuci
2.         Jagung yang telah dicuci lalu diparut sehingga diperoleh bubur jagung yang halus
3.         Bubur buah jagung ditimbang sebanyak 3 kg
4.         Guila merah sebanyak 0,5 kg direbus dengan air kemudian disaring
5.         Bubur buah jagung dicampur dengan gula pasir, santan, gula merah cair dan mentega
6.         Masak dengan api sedang sambil diaduk hingga mengental
7.         Masukan tepung ketan yang telah dicairkan untuk menghindari proses penggumplan selama proses pemasakan
8.         Pemasakan dilanjutkan hingga dodol matang, cirri dodol sudah matang apabila adonan dodol sudah kalis dan tidak lengket
9.         Tuang kedalam Loyang yang telah diolesi minyak goring
10.     Setelah matang dipotong-potong dan dibungkus dengan plastic polypropylene 0,01 mm
11.     Diberi label dan siap untuk dipasarkan atau disimpan.


SNI
Syarat mutu dodol
Jenis Uji
Persyaratan Mutu
Keadaan
        -  Warna
        -  Bau
        -  Rasa

Normal, khas
Normal, khas
Normal, khas

Air(%)
Maks.20
Abu(%)
Maks.1,5
Jumlah gula dihitung sebagai sukrosa(%)
Min 35-45
Protein(Nx6,25)%
-
Lemak(%)
Min 7
Serat kasar(%)
Maks.2
BTM(pengawet)
Sesuai SNI 0222-1995
Cemaran Mikroba

 -     Kapang
 -     Khamir
 -     Salmonelia
 -     staphylococus
Maks.50 koloni/g
Maks.50 koloni/g
Negatif
0 koloni/g