Tampilkan postingan dengan label organik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label organik. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 September 2011

Teknik Kreatif Mengendalikan Ancaman Penyakit Brekele

Oleh : Ichsan Kurniawan

Brekele. Begitulah salah satu istilah populer di kalangan petani Sumbar dan sebagian Bengkulu untuk menyebut penyakit virus kuning yang kerap membayang-bayangi pertanaman cabe mereka. Serangan penyakit ini kerap mengganggu tidur para petani cabe karena gangguan yang ditimbulkan berpotensi menggagalkan panen komoditi ini. Ditambah lagi modal pertanaman cabe yang tak sedikit cenderung membuat gamang masyarakat tani yang mengandalkan salah satu komoditi hortikultura bernilai ekonomis ini.
Beberapa tahun ini penyakit ini mendominasi pertanaman cabe di Indonesia dan menjadi masalah besar dalam hal pengendaliannya. Misalnya di tahun 2004, berdasarkan data dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Barat yang gencar meneliti langkah-langkah pengendalian pertanian termasuk terhadap masalah ini, provinsi ini mendapat garis merah untuk luas serangan penyakit ini yang mencapai 234,6 berganding dengan provinsi Jawa Tengah dengan angka 216,7. Sementara pada tahun 2009, menurut data tersebut, hampir 80 % dari pertanaman cabe Sumbar terserang penyakit ini, baik kategori ringan sampai berat.
Khusus untuk wilayah Sumbar beberapa tahun belakangan, virus kuning sendiri masih menjadi ancaman utama bagi pembudidayaan cabe di Sumatera Barat. Seperti baru-baru ini dirilis melalui situs resmi Provinsi Sumatera Barat, Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) itu diperkirakan akan menyerang 61 wilayah pengamatan dari 71 wilayah yang tercatat Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Sumbar. Serangan mulai kelompok ringan hingga berat akan mengancam produksi dan diperkirakan khusus kriteria berat akan menimpa Kab. Limapuluh Kota. Kendati demikian, hampir semua wilayah produsen cabe mendapat serangan virus Gemini ini.
 Virus Kuning dan Vektor
Penyakit virus kuning mempunyai beberapa gejala serangan antara lain daun keriting, warna menguning, pertumbuhan terhambat dan buah pendek. Penyakit ini ditularkan melalui vektor (pembawa) tertentu. Berbagai penelitian menyatakan bahwa kutu kebul (whitefly) merupakan salah satu pembawa tersebut. Penyebaran spesies yang bernama ilmiah Bemisia tabaci ini sendiri mulai dari Nangro Aceh Darussalam, sepanjang pulau Sumatera hingga hampir seluruh pulau Jawa ditambah beberapa daerah di wilayah Kalimantan bagian selatan dan Sulawesi.
Penyakit ini memiliki inang yang luas dengan kekuatan patogenik tahan terhadap pesisida. Namun bukan berarti tidak dapat dikendalikan, ada beberapa strategi yang dapat dilakukan demi mengendalikan keganasannya serta efek merugikan yang ditimbulkannya.
Penularan yang dilakukan kutu kebul tersebut berproses mulai dari menghisap tanaman cabai yang sudah terkena virus kuning kemudian menghinggap pada tanaman cabai yang masih sehat dan setelah itu mengeluarkan lendir yang terapat idapan virus kuning di dalamnya. Kemudian virus tersebut menyebar didalam tubuh tanaman yang bersamaan dengan cairan yang ada didalam tubuh tanaman tersebut. Jadi virus ini yang berbentuk Gen pada tahap selanjutnya akan merusak jaringan-jaringan pada tanaman yang berupa kromosom (RNA/DNA). Pendeknya virus kuning tersebut menghentikan kerja gen kromosom / klorofil tersebut yang berupa asam amino sehingga tanaman tersebut dikuasai oleh gen virus kuning
 Langkah Pengendalian
Menurut BPTPH Sumbar, beberapa langkah dapat dilakukan untuk pengendalian virus kuning misalnya, pada fase pra tanam, petani bisa mengendalikan dengan penggunaan benih sehat dan tidak berasal dari daerah terserang, perlakuan benih, penggunaan varietas tahan, pergiliran tanaman dengan bukan Solanaceae dan cucurbitaceae serta menanam pinggiran lahan dengan bunga matahari dan jagung sebagai barrier.
Penggunaan pestisida sintetis merupakan langkah akhir yang dilakukan mengingat berbahan tidak “ramah” terhadap lingkungan. Karena sedapat mungkin beberapa tahapan pengendalian secara dini demi menjaga kelestarian alam dan keseimbangan lingkungan mesti dijalani mengingat banyak ragam masalah yang timbul akibat pemakaian pestisida berbahan kimia buatan.
Pemakaiannya dianggap melahirkan problema jangka panjang pertanian ke depan. Pestisida sintetis dituding “membabi buta” dan tak pilih-pilih dalam “membunuh”. Sebenarnya ini memang sebuah kesalah pahaman yang harus diluruskan. Kita kerap salah sangka dan menganggap semua makhluk “imut” yang terbang masuk ladang selalu dituduh sebagai hama. Sementara bisa saja mereka musuh alami yang sama sekali tak menimbulkan gangguan dan justru malah membantu mengusir, memakan dan mengurangi intensitas serangan hama yang sebenarnya.
Berbagai penelitian terus dilakukan berkaitan cara tepat dalam mengendalikannya. Berbagai lembaga penelitian termasuk Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) merilis langkah-langkah tersebut. Tak terlepas juga pelaku-pelaku lapang kemudian menerapkan atau bahkan tak tertutup kemungkinan mengujikan sendiri di lapang mulai dari penyuluh dan petani mencobakan berbagai cara dari paket PHT, organik ataupun juga ragam pestisida yang dituding mampu mengendalikannnya.
Banyak penelitian dilakukan berkaitan dengan pengendalian terhadap penyakit ini. Beberapa langkah pengendalian yang dapat dilakukan. Merujuk berbagai sumber berikut teknis yang bisa dilakukan :
a)     Langkah Kultur Teknis
Foto by Ichsan K
  1. Penggunaan bibit yang sehat merupakan langkah awal yang dapat diambil yakni menggunakan bibit dengan riwayat bukan dari daerah/area yang bekas diserang
  2. Pemakaian kelambu / sungkup kasa halus pada persemaian sejak penyebaran benih dapat dilakukan demi memperkecil kemungkinan serangan
  3. Pemberian pupuk kandang/ kompos
  4. Pengaturan jarak tanam agar tak terlalu rapat
  5. Sanitasi lingkungan terhadap gulma dan eradikasi tanaman yang terserang dan pemusnahannya. Hal ini ditujukan untuk meminimalkan sumber infeksi dan untuk aerasi tanah
  6. Pergiliran tanaman cabai dengan tanaman yang bukan inang dari penyakit tersebut
  7. Penanaman tumpang sari dengan kubis dan tomat yang seperti dilaporkan sebagai inang alternatif/ perangkap
 b)     Langkah Fisik/ Mekanis
Penanam jagung 2-3 minggu sebelum tanam dapat dilakukan sekaligus untuk mengundang musuh alami datang. Penanaman dilakukan dengan jarak rapat (15-20 cm) pada pinggir di sekeliling kebun sebanyak 5-6 baris, selain itu penanaman bunga tahi ayam juga dapat dilakukan.
Selain itu penggunaan Pseudomonad flurescens sebanyak 20 ml/ltr air selama 6-12 jam dengan perendaman benih juga dapat dilakukan. Beberapa point lain yang dapat dilakukan yakni “imunisasi” tananaman muda dengan ekstrak bunga pukul empat dan bayam duri, untuk mengaktifkan gen pertahanan tanaman.
Selanjutnya pemasangan perangkap likat kuning +  40 lembar pada ketinggian 30 cm di atas kanopi tanaman dengan digantung atau dijepit. Tujuannya mengurangi atau “menyaring” kembali hama vektor (kutu kebul) yang lepas dari barrier jagung.
c)     Langkah Biologis
Secara biologis pelepaskan predator Menochilius sexmaculatus (1 ekor/10 m2) dapat mengendalikan gangguan hama vektor penyakit ini. Menurut Nusyirwan dari BPTP Sukarami yang menyampaikannya sebagai salah satu materi penerapan Good Agricultural Practices pada sosialisasi GAP/SOP beberapa waktu lalu bahwa predator ini akan memangsa kutu kebul baik dalam bentuk imago atau larva dengan kemampuan 200-500 larva/hari dan 10-50 imago/hari. Dan disini juga lah letak fungsi tanaman jagung yang polennya sebagai sumber makanan alternatif bagi sang predator.
 d)     Langkah Kimiawi
Foto by Ichsan Kurniawan
Secara kimia penggunaan pestisida nabati dengan mencampur +100 lembar daun sirsak atau daun tembakau ke dalam 5 liter air ditambah 15 gram sabun colek/1 liter air atau (20 gram biji atau 50 gram daun nimba + 1 grm sabun colek / 1 liter air mampu difungsikan sebagai pestisida botani. Ramuan tersebut ditumbuk halus, dicampur air, disaring, dan direndam 1 malam. Pestisida nabati lainnya antara lain bunga pukul empat, bayam duri dan eceng gondok. Seperti dilaporkan Kardinan (2002) bahwa larutan sirsak saja dengan 50-100 lembar dalam 5 liter air dan 15 gr sabun colek dan disaring sangat efektif mengendalikan hama penyerang tanaman cabai.

Kamis, 11 Agustus 2011

Ujang Ahmad, Perintis Pertanian Organik di Kebonpedes



Ujang Ahmad, Perintis Pertanian Organik di Kebonpedes PDF Cetak E-mail



Rabu, 10 Agustus 2011 09:20
Petani konvensional di tanah Sunda umumnya mengenal falsafah "kadenge, kadeuleu, karampa, karasa" atau mendengar, melihat, meraba, dan merasakan. Bagi Ujang Ahmad Zaenal Muttaqin, falsafah yang dianut oleh para petani tradisional tersebut menjadi hambatan serius ketika dia ingin mengajak mereka untuk bertani organik.

sawah098Para petani konvensional harus mendengar, melihat, dan meraba dulu baru mereka percaya terhadap teknologi baru dalam bertani. Susahnya minta ampun untuk meyakinkan petani konvensional bahwa bertani organik dengan cara budidaya baru itu merupakan cara terbaik guna meningkatkan kesejahteraan mereka," kata Ujang, ayah dua anak ini.

Kegelisahan Ujang terhadap nasib petani di desanya Jambenenggang, Kecamatan Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mulai muncul sekitar akhir tahun 2000. Ketika itu Ujang baru kembali dari Jepang, setelah bekerja di sebuah pabrik sejak tahun 1997.

Ketika di Jepang, setiap akhir pekan Ujang menyempatkan diri magang di sebuah sentra pertanian. Ini bisa dia lakukan dengan rekomendasi dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Sukabumi. Di sini dia melihat pertanian yang sudah sistematis dikerjakan mesin. Petani di Jepang hanya menjadi operator sejak membajak sawah, menyemai, menanam, hingga memanen. "Produktivitas lahan mereka tinggi, mencapai 11 ton per hektarw waktu itu," ceritanya.

Pulang ke Indonesia, Ujang membuang mimpinya untuk melihat petani di kampungnya mengoperasikan mesin di sawah. Namun, muncul keyakinannya bahwa petani bisa meningkatkan taraf hidup jika mereka mau. "Dari teknologi, jelas kita ketinggalan (dari Jepang). Tapi, kalau petani mau mengubah pola bertaninya, saya yakin mereka bisa meningkatkan taraf hidup," kata Ujang.

Lulusan Madrasah Aliyah Negeri Syamsul Ullum Sukabumi itu mendapati petani di sekitarnya sebagai petani miskin yang penghasilannya amat kecil. "Di lahan seluas 1 hektare, petani penyewa hanya mendapat pemasukkan sebesar Rp 2 juta selama satu musim, atau sekitar Rp 500.000 per bulan," kata Ujang.

Penghasilan itu dihitung dari ongkos produksi, mulai dari pupuk dan pengolahan lahan sebesar Rp 2,2 juta per hektare serta sewa lahan Rp 7 juta per hektare per musim.
hasil panen mereka hanya 5,6 ton per hektare dan dijual dengan harga Rp 2.000 per kilogram. Dengan demikian, panen semusim hanya memberi hasil Rp 11,2 juta. Setelah dikurangi ongkos produksi dan sewa lahan, petani hanya memperoleh Rp 2 juta per musim. "Kami mengenal istilah, petani hanya timbul daki setelah bertani karena mereka memang tidak mendapat apa-apa," kata Ujang.

Dengan falsafah yang dianut oleh para petani konvensional itu, dia harus memulai lebih dulu bagaimana bertani organik dan budidaya yang baik hingga bisa memberikan keuntungan. Ketika memulai cara bertani organik, banyak petani konvensional yang mencemooh Ujang. Apalagi, di masih termasuk "anak kemarin sore" di kampung Kebonpedes.
banyak petani yang mengatakan bahwa mereka lebih dulu bertani daripada saya, jadi tentunya merasa lebih tahu. Saya diam saja, tetapi tetap yakin ketika melihat hasilnya, mereka akan percaya," katanya.

Ujang kemudian memulainya dengan mengganti pupuk pabrik dengan pupuk kompos dari tumbuh-tumbuhan hijau dan granole (pupuk dari kotoran hewan yang dicampur dengan dekomposer). Ujang memerlukan waktu tiga musim untuk mengakhiri penggunaan pupuk pabrik karena kondisi tanah belum terbiasa. Dia memproduksi sendiri granole dengan maksud agar tak bergantung pada pihak manapun. Dia mendapatkan kotoran hewan dari warga yang beternak sapi dan para tetangga yang memiliki kambing dan ayam.
Apabila menggunakan kompos, sawah seluas 1 hektare memerlukan sekitar 5-7 ton. Adapun dengan granole, sawah luas yang sama hanya memerlukan 500 kilogram sampai 1 ton. Kebutuhan ini tergantung dari kondisi keasaman tanah.

Selain beralih ke pertanian organik, Ujang juga memulai budidaya bertani yang baru, yakni dengan mengurangi penggunaan benih padi. "Petani konvensional biasanya menggunakan hingga delapan bibit dalam satu lubang. Ketika tumbuh maksimal hanya 18 anakan yang jadi karena bibit sulit tumbuh," katanya.

Adapun cara yang dilakukan Uajng adalah dengan menggunakan satu-dua bibit saja per lubang. Ternyata setelah tumbuh, tanaman itu bisa menghasilkan 25 anakan per lubang.
Dengan cara itu, dia hanya memerlukan paling banyak 8 kilogram benih per hektare. Bandingkan dengan petani konvensional yang memerlukan benih sampai 35 kilogram per hektare.

Masih belum puas, Ujang berusaha menambah pengetahuan bertaninya dengan mengikuti Sekolah Lapangan Pengelola Tanaman Terpadu (SLPTT) di Kebonpedes. Terbukti, Ujang bisa mendongkrak produktivitas tanaman padinya menjadi 8 ton lebih per hektare.

Adapun ongkos produksi yang diperlukan Ujang untuk mengolah 1 hektare lahan hanya Rp 2,1 juta. Ditambah sewa lahan Rp 7 juta, dia hanya menghabiskan biaya sebanyak Rp 9,1 juta. Namun, hasil panen dan harganya bisa naik signifikan. Dengan hasil panen padi organik pada musim terakhir sebanyak 8,82 ton per hektar dan harga gabah basah Rp 2.400 per kilogram, Ujang memperoleh penghasilan Rp 21,168 juta. Jumlah itu, setelah dikurangi modal kerja, masih bersisa Rp 12,068 juta dalam semusim, atau Rp 3 juta per bulan.

Melihat keberhasilan Ujang, puluhan petani konvensional dan pemuda pengangguran di Kebonpedes mulai tertarik menekuni pertanian organik. Dalam satu musim terakhir, delapan kelompok tani setempat meminta Ujang mendampingi mereka mempraktikkan cara bertani organik. Setiap kelompok tani itu mempunyai anggota 20-25 petani.
Seiring dengan makin banyaknya petani konvensional yang menerapkan pertanian organik dan cara budidaya baru itu, Ujang yakin petani di Kebonpedes akan Mandiri.

"Apa lagi yang mau dibantah? Pupuk sudah bisa kami produksi sendiri dan harga gabah padi organik juga jauh di atas harga padi nonorganik. Kalau ada kemauan, sebenarnya tidak sulit menjadi petani Mandiri," kata Ujang. (*/Kompas) Sumber: http://ciputraentrepreneurship.com/entrepreneur/nasional/sosial/10394-ujang-ahmad-perintis-pertanian-organik-di-kebonpedes.html