Tampilkan postingan dengan label Burung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Burung. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 September 2011

Tips Burung Jawara

Bagi Anda yang memiliki Hewan Peliharaan burung berkicau pasti sangat paham, dengan BURUNG JAWARA bagi penggemar kicauan hanya ada dua hal, yaitu;
1, jawara untuk berkicau. 
2, jawara untuk beranak-pinak.

Jawara berkicau artinya burung gacor, selalu berkicau, tak peduli di arena lomba ataupun di rumah. Jawara untuk beranak pinak berarti selalu bereproduksi dengan baik. Menghasilkan anakan banyak, menghasilkan uang.

Tahukah Anda bahwa burung Anda pun bisa seperti itu? Itu tentunya kalau Anda memahami dan mau melakukan hal utama yang dibutuhkan burung. Apa? Kuncinya hanya satu: burung harus sehat. Tidak perlu dicari-cari alasan mengapa burung Anda tidak juga bunyi sehabis mabung, mabung tidak juga tuntas, macet setelah tarung, berhenti bertelor atau bertelor hanya satu, atau bertelor tiga tetapi tidak pernah menetas dan segudang alasan lain.

Jika burung Anda seperti itu, maka semua itu hanya menandakan satu hal: BURUNG ANDA TIDAK SEHAT!!

Ya, kembali lagi ingatlah satu prinsip dalam memahami burung: “Burung sehat pasti gacor, burung sehat pasti bereproduksi”.

Kamis, 29 September 2011

Ciri-Ciri Burung Sakit

Pada Postingan kali ini saya membahasa tentang Ciri-Ciri Burung Sakit, bagi anda yang memili Hewan Peliharaan burung berkicau semoga ini dapat membantu;

1. Mata
Pada mata keluar sekretum (cairan yang tidak normal atau tidak biasanya), berubah warna atau kecerahannya, sayu, mata dipejampejamkan, dan terjadi pembengkakan di sekitar mata.

2. Lubang hidung (nostrils)
Dari lubang hidung keluar ingus, sesuatu yang membeku sehingga menutupi nostril dan bersin-bersin atau membuka-buka paruhnya karena sesak nafas. Selain itu, bulu-bulu di sekitar nostril dan kepala pada umumnya kotor karena sering digaruk atau diusap.

3. Sayap dan bulu
Bulu tampak suram dan kusut, sayap lunglai (baik sebelah atau keduanya), perilaku menata bulu-bulu hilang atau tidak dilakukan.

4. Napsu atau perilaku makan
Napsu makan turun atau hilang, tidak pandai mematuk makanannya, dan berat badan menurun.

5. Keseimbangan
Burung tampak sempoyongan, tidak mampu atau sukar bertengger (biasanya burung ada di lantai kurungan), dan tidak suka bergerak (inaktif),

6. Sendi tulang
Pada sendi tulang terjadi pembengkakan dan berubah bentuk (deformitas, malformation).

7. Kebiasaan sehari-hari
Kebiasaan sehari-hari yang biasa dilakukan tidak dilakukan lagi, tidak suka mandi-mandi, tidak berkicau, suara kicauannya berubah, dan lain-lain.

8. Tubuh
Terdapat jendolan atau timbunan sesuatu masa di manapun pada tubuhnya.

Dari semuanya itu apabila Anda menemukan pendarahan dari manapun keluarnya adalah merupakan tanda keadan gawat darurat. Dengan demikian, Anda dianjurkan untuk segera mencari pertolongan dokter hewan.

Untuk mendapatkan pertolongan sedini mungkin apabila Anda mendapatkan gejala-gejala tersebut sebaiknya cepat berkonsultasi kepada dokter hewan langganan Anda!

Apabila Anda membawa burung yang sakit tersebut kepada dokter hewan sebaiknya kurungan diselimuti kain atau kertas koran untuk mengurangi keadaan stres. Kurungannya sementara waktu tidak dibersihkan dahulu agar dokter dapat mengamati feces, tempat makan atau minum, dan sebagainya.

Rabu, 28 September 2011

Tips Menjaga Kesehatan Fisik dan Mental Burung Kesayangan

Bagi anda yang mempunyai Hewan Peliharaan burung kesayangan berikut ini saya berikan Tips Menjaga Kesehatan Fisik dan Mental Burung Kesayangan;

Tips dan trik menjaga kesehatan fisik:

1. Jangan pernah iseng memberi pakan burung tidak pada jadwal waktunya (misalnya ada jangkrik lepas, ya masukkan kandang jangkrik, jangan iseng diberikan ke burung yang ada di dekat Anda).
2. Jangan iseng memandikan burung tidak pada waktunya (misalnya biasanya sepekan dua kali, menjadi setiap hari selama sepekan karena kebetulan pekan itu Anda libur atau cuti).
3. Jangan iseng menjemur burung lebih lama dari biasanya untuk sesekali waktu, misalnya hanya karena Anda kebetulan sempat menunggui berlama-lama.
4. Jangan iseng meniru-niru pola pakan dari kawan, jika Anda tidak yakin bisa konsisten untuk melaksanakannya.
5. Jangan sampai kehabisan voor merk tertentu yang biasa Anda berikan ke burung Anda. Jangan terlalu yakin bahwa merk tertentu itu selalu tersedia di kios pakan burung langganan Anda (kecuali Anda mau repot muter2 ke kios lain).
6. Tips (paling gampang dilaksanakan): Konsisten merawat burung secara tidak konsisten…(dengan risiko ditanggung sendiri…., hehehehe).

Tips dan trik menjaga kesehatan mental burung:

1. Biasakan diubah2 tempat gantungannya di tempat2 yang relatif ramai orang, gaduh, berisik.
2. Jangan diubah2 posisi tempat pakannya.
3. Jangan diubah2 bentuk dan ukuran tempat tenggeran/tangkringannya.
4. Biasakan burung dengan kerodong, topi, payung dan lain-lain, dengan warna yang beragam.
5. Biasakan dipertemukan dengan burung lain (baik sejenis maupun lain jenis). Catatan: Jangan lama2, kalau Anda belum yakin dengan kondisi mental si burung.
6. Biasakan dibawa bepergian (entah pakai mobil ataupun motor) entah untuk tujuan lomba, latber, atau sekadar muter2 kota. Misalnya Anda main ke rumah kawan dan tidak merasa repot, bawa saja burung Anda meskipun di sana hanya digantung sendirian, sementara Anda ngobrol.
7. Milikilah burung sejenis sebagai sparring partner atau “unthul” (bahasa Jawa, bahasa Indoensia-nya apa saya tidak bisa memilih kata yang pas) dengan kualitas mental yang jeblok, untuk selalu “dilabrak” oleh burung andalan kita. Ini seperti kalau kita punya ayam bangkok petarung, maka kita perlu ayam jago lainnya (biasanya ayam lokal) yang kualitas tarungnya jelek dengan tugas “menerima pukulan” bangkok jagoan kita.

Ini bertujuan meningkatkan mental burung dengan cara memberi perasaan bahwa dia adalah burung “menangan” (padahal musuhnya-lah yang jelek, hehehe bo’ongi saja biar dia pede).

Selasa, 27 September 2011

Sebab Burung Membisu

Bagi anda yang mempunyai Hewan Peliharaan burung berkicau mungkin bertanya mengapa burung cuma ngeriwik, atau bunyi cuma pagi hari, atau hanya gacor kalau di rumah tetapi tidak gacor di lapangan, atau sebaliknya cuma gacor di lapangan tetapi tidak gacor di rumah.

Sekali lagi ingin saya tekankan bahwa burung apapun yang gacor dalam “segala cuaca” adalah burung yang tidak sakit secara fisik ataupun mental. Berikut ini saya sebutkan sejumlah kondisi burung yang hanya ngeriwik atau hanya bunyi pada waktu dan tempat tertentu.

1. Burung hanya ngeriwik terus.
Burung yang hanya ngeriwik biasanya adalah:
= Burung tua atau pun muda terutama tangkapan hutan. Sebab, meski muda, burung hasil tangkaran biasanya mau gacor. Mengapa? Burung hasil tangkaran besar di lingkungan manusia dan karenanya dia tidak ada kendala takut kepada manusia dan lingkungannya. Sedangkan burung tangkapan hutan, perlu penyesuaian yang lama dengan lingkungan manusia. Dia harus melalui proses penjinakan sehingga cepat beradaptasi.

Kalau Anda memelihara burung tangkapan hutan, kadang perlu waktu berbulan-bulan untuk membuat dia tidak takut lagi dengan manusia. Biasanya, setelah masa mabung barulah dia bisa beradaptasi. Syaratnya, selama waktu itu pula dia ditempatkan di tempat yang relatif ramai, dekat orang rumah berlalu lalang.

Jadi Anda jangan terlalu berharap bahwa burung hasil tangkapan hutan mau gacor dalam waktu singkat sekitar 1-2 bulan. Perlu berbulan-bulan sampai benar-benar tidak takut dengan lingkungan manusia. Dengan demikian, burung yang ngeriwik terus sebenarnya adalah burung yang tidak sehat secara mental, atau mentalnya masih tertekan, dalam hal ini oleh lingkungan yang sama sekali asing bagi dia.

= Burung memasuki masa mabung. Burung mabung biasanya hanya ngeriwik-ngeriwik atau bahkan hanya diam sama sekali. Cek saja kalau burung Anda tiba-tiba tidak gacor, ada kemungkinan memasuki masa mabung. Ada bulu-bulu halus mulai berjatuhan.

= Burung habis mabung, biasanya juga cuma ngeriwik. Dia tidak mau gacor sebagaimana ketika bekum mabung. Hal itu disebabkan, masa rekondisi pasca mabung memang memerlukan waktu sekitar 1-2 bulan. Tentu hal ini tidak berlaku untuk burung-burung tertentu, yang bahkan dalam kondisi mabung masih tetap gacor. Artinya, secara umum, burung yang baru saja mabung sebenarnya adalah burung yang tidak atau belum sehat secara fisik. Untuk mempercepat kesehatannya pulih, pastikan saja kecukupan nutrisinya.

= Burung yang kalah setelah diadu, biasanya juga hanya ngeriwik-ngeriwik terus tidak mau lagi gacor. Kalau hal itu terjadi pada burung Anda, maka burung Anda perlu dikarantina. Sampai kapan? Kadang memerlukan waktu berbulan-bulan untuk memulihkannya, atau biasanya setelah melewati lagi masa mabung. Selama perawatan, Anda jugta perlu memperhatikan kecukupan pakan dan gizinya.

2. Burung hanya gacor pada waktu tertentu.
= Ada burung tertentu yang hanya gacor pada pagi hari sementara sisa waktu selanjutnya hanya ngeriwik, atau gacor hanya malam hari, dan sebagainya. Hal itu biasanya berlaku pada burung-burung yang sebenarnya sudah tidak takut lingkungan tetapi belum fit secara fisik, dan bisa juga karena tidak atau belum birahi sepenuhnya. Burung yang birahi, biasanya gacor sepanjang hari. Tentu dalam hal ini Anda harus mengusahakan bagaimana agar burung tersebut bisa birahi.

= Burung-burung muda juga punya kebiasaan hanya gacor pada waktu tertentu. Dengan demikian, ini hanya masalah waktu yang menuntut Anda untuk bersabar.

3. Burung hanya gacor di tempat tertentu.
= Burung yang hanya gacor di rumah tetapi tidak di arena lomba biasanya disebabkan oleh kondisi tidak fit atau bisa juga karena tidak terbiasa diadu dalam keramaian. Dengan demikian, perlu dilihat dan dikondisikan fisiknya sehingga benar-benar fit dan sementara itu juga dilatih secara rutin tetapi terukur kalau Anda memang pengin punya burung yang mau dan terbiasa gacor di arena lomba atau di keramaian.

= Burung yang hanya gacor di arena lomba tetapi tidak gacor di rumah. Burung seperti ini biasanya disebabkan oleh kondisi kurang birahi. Dalam kondisi seperti itu, burung hanya birahi ketika dirangsang oleh datangnya “musuh” atau “pesaing” yakni burung lain. Semetara kalau di rumah, di mana tidak ada musuh, dia tidak bersemangat untuk bersuara. Tingkatkan birahinya, itu salah satu kuncinya.

Namun demikian, ada juga burung yang memang sudah punya karakter seperti itu, yakni hanya mau bunyi kalau ada lawannya. Kalau sudah berbicara mengenai karakter, maka tidak ada obat apapun yang manjur.

Senin, 26 September 2011

Jenis Burung Kacer

Burung kacer atau Magpie Robin termasuk dalam genus copsyhus. Hewan Peliharaan ini di Indonesia terkenal ada dua jenis yaitu kacer jawa atau Copsychus sechellarum dan kacer poci atau Copsychus  saularis (kacer sumatera).

Perbedaan kedua jenis burung ini adalah pada bulu hitam-putih. Burung kacer jawa berbulu hitam dari dada sampai kloaka, sementara itu untuk kacer poci warna hitam hanya sampai dada, dari dada ke bawah kloaka berwarna putih.

Burung kacer terdiri dari 3 spesies yaitu kacer jawa, kacer poci, dan kacer madagaskar. Tetapi dikalangan pedagang dan pemilik Hewan Peliharaan ini masih ada satu spesies yaitu kacer blorok. Penyebarab burung kacer mulai dari China, India, Nepal, Thailand, Indochina, Filipina, Malaysia dan Indonesia.

Rabu, 21 September 2011

Duit berkicau riang di arena kontes burung

Lifestyle
KOMUNITAS & HOBI
Rabu, 21 September 2011 | 09:08 oleh Dikky Setiawan 
 
KONTES KICAU BURUNG
Duit berkicau riang di arena kontes burung 
 
Jarum jam baru menunjuk pukul 12 siang ketika KONTAN menjejakkan kaki di lapangan kontes burung berkicau yang dikelola Tangerang Selatan (Tangsel) Enterprise, Kamis (15/9) pekan lalu. Suasana di arena lomba burung di bilangan Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, itu mulai ramai dikunjungi para kicau mania, sebutan bagi para penghobi lomba burung berkicau.
Sebagian dari mereka terlihat tengah bercengkrama sembari menyeruput kopi dan menghisap rokok bersama rekan dan koleganya di teras rumah pemilik tanah arena kontes. Ada pula yang berteduh di bawah rimbunnya pepohonan di sekitar arena sambil mempersiapkan sang klangenan-nya turun kontes. Meski tiket telah dipegang, mereka rela menanti dimulainya latihan bersama (latber) kontes burung berkicau.
Akhirnya, sekitar pukul satu siang, latber burung berkicau di Tangsel Enterprise dimulai. Dengan sigap, para kontestan pun menggantungkan sangkar berisi burung jagoannya di nomor gantangan masing-masing. Oh, iya, gantangan adalah sebutan untuk tiang tempat sangkar burung digantung.
Biasanya, gantangan yang bisa dibongkar-pasang (knocked down) itu terbuat dari besi dengan tinggi sekitar 2,5 meter sampai 3 meter. Pada bagian atas gantangan terdapat nomor peserta kontes. Nomor ini terbuat dari plastik atau pelat besi sehingga tidak mudah rusak.
Ukuran gantangan di tiap arena kontes berbeda-beda. Contoh di Tangsel Enterprise, ukuran gantangan sekitar 12 x 8 meter persegi. Dengan luas segitu, arena itu bisa menampung 65 burung kontes. Jenis burung yang dipertandingkan antara lain murai batu, cucak ijo, kacer, love bird, kenari, pentet, cucak jenggot, dan ciblek.
Walau latber berjalan lancar, suasana gaduh tidak dapat dihindari. Hampir seluruh peserta berteriak, memberikan kode dengan menjentikkan jari tangan dan bersiul menyemangati burungnya agar mengeluarkan kicauan yang merdu.
Harga burung naik
Pemandangan semacam ini memang sudah seperti menjadi tradisi di setiap pagelaran kontes burung berkicau. Para pemilik burung ingin burung jagoannya menjadi jawara. Maklum, jika menang dan mendapat selembar sertifikat juara, harga burung ocehan bisa melonjak hingga berlipat-lipat.
Tengok saja kisah Yunus, salah satu kicau mania asal Cinangka, Depok, Jawa Barat. Di tahun 2010, pria yang akrab disapa Kapuk ini pernah memiliki burung berkicau jawara jenis kacer. Burung itu ia beli dengan harga Rp 600.000. Setelah memenangi lima kali berbagai kontes burung, dia menjual burung kacernya tadi seharga Rp 3 juta. “Saya merawat burung itu sekitar dua bulan,” kata ayah lima orang anak ini.
Bahkan, sebelumnya, Kapuk pernah punya burung Murai yang ia beli seharga Rp 1,8 juta dan ia jual lagi Rp 7,5 juta. “Padahal, burung itu hanya sekali juara dan saya rawat kurang dari satu bulan,” ungkap dia.
Itu hanya contoh kecil. Ada pengalaman serupa yang lebih dahsyat. Sofyan Juandi, Kepala Divisi Produk Yayasan BnR membeberkan, dia pernah melego cucak ijo seharga Rp 40 juta. “Burung itu sudah empat kali juara nasional. Saya beli seharga Rp 1,2 juta di Pasar Pramuka. Perawatannya hanya dua bulan,” ujar dia.
Pengalaman lain, Sofyan juga pernah melepas tledekan dengan harga Rp 125 juta. Harga belinya? Cuma Rp 6 juta. “Saya membeli di arena kontes di Solo, Jawa Tengah. Burung itu sudah saya rawat setahun dan sudah juara lebih dari 50 kali. Tapi, selain dari harga jual, saya juga untung dari uang menang lomba,” imbuh Sofyan.
Asal Anda tahu, keuntungan dari lomba burung bukan hanya bisa dinikmati para peserta kontes. Pengelola arena kontes juga menangguk gurihnya laba dari hobi ini. Karena itu, jangan heran jika di kawasan Jabodetabek kian banyak lapangan tempat lomba burung.
Salah satunya, ya, Tangsel Enterprise yang baru berdiri Maret 2011. Eddo Karya, Ketua Panitia Tangsel Enterprise, menjelaskan, dari setiap latber yang digelar setiap Kamis, pihaknya bisa menjual tiket kontes 100 lembar hingga 160 lembar. Dari penjualan tiket sebanyak itu, omzet yang bisa diraup penyelenggara kontes burung sebanyak Rp 2,5 juta sampai Rp 2,8 juta per acara.
Itu baru dari pemasukan kelas latber. Pemasukan Tangsel Enterprise akan melonjak tinggi pada saat menggelar lomba besar yang biasa digelar tiap 1,5 bulan sekali. Dari hasil penjualan tiket di acara ini, Eddo bilang, omzet Tangsel Enterprise mencapai Rp 25 juta.
Pemasukan naik pesat lantaran harga tiket kontes yang dijual saat lomba berbeda dengan tiket latihan bersama. Eddo menjelaskan, saat latber, harga tiket berkisar Rp 10.000-Rp 20.000, tapi ketika lomba besar, harga tiket naik menjadi Rp 40.000-Rp 200.000.
Lazimnya, yang membedakan harga tiket adalah kelas dan jenis burung yang dipertandingkan. Harga tiket termurah biasanya untuk lomba burung yang harga pasaran dan kualitasnya terbilang standar. Sebaliknya, tiket termahal dijual untuk lomba burung yang harga di pasarnya tinggi dan kualitasnya mumpuni. Hadiah juga ikut menentukan mahal atau murahnya tiket. Makin mahal harga tiket, makin besar hadiah yang bisa didapat pemenang lomba.
Menurut Eddo, dari total pendapatan latber atau lomba besar, sekitar 60% dipotong untuk pemberian hadiah. Adapun yang 25% untuk menutup biaya operasional karyawan yang terdiri dari penjual tiket, perawat lapangan, dan juri lomba. Sisanya sekitar 15% dialokasikan untuk dana kas. Dana kas antara lain untuk membayar sewa tanah sekitar Rp 1,3 juta per bulan. Tapi, “Kami bayar sewa tanah setelah menggelar lomba, sebab di situ penghasilan yang paling besar dan ada lebihnya,” tuturnya.
Bukan hanya Tangsel Enterprise yang menyewa lahan untuk kontes burung. Langkah serupa dilakukan pengelola Cinere Enterprise. Bahkan, sewa arena kontes yang berlokasi di Jalan Pepaya Raya, Jagakarsa, Jakarta Selatan ini lebih mahal, yakni Rp 20 juta setahun.
Hanya, arena yang sudah beroperasi sejak 2009 ini lebih beruntung. Mereka mampu meraup penghasilan lebih besar dibanding Tangsel Enterprise. Dari setiap latber yang digelar saban Sabtu, Cinere Enterprise bisa mengantongi pemasukan hingga Rp 25 juta. Uang itu berasal dari penjualan tiket sekitar 600 lembar. Harga jual tiket bervariasi, mulai dari Rp 20.000, Rp 30.000, hingga Rp 50.000.
Sementara itu, pemasukan dari lomba besar yang digelar tiap dua bulan sekali bisa menembus Rp 100 juta. Tapi, sama seperti arena lain, sekitar 50%-60% pemasukan dari penjualan tiket dikembalikan kepada peserta sebagai hadiah dan 20% untuk karyawan. “Sisanya untuk event organizer (penyelenggara kontes),” kata Sofyan Apandi, pengelola Cinere Enterprise.
Harus siap merugi
Apandi menambahkan, rezeki pergelaran lomba burung bukan hanya dinikmati oleh penyelenggara dan peserta lomba saja. Para pedagang makanan dan minuman serta penjual perlengkapan burung kontes, seperti pakan, extra fooding, vitamin, sangkar, dan kerodong sangkar juga ikut kecipratan rezeki. “Omzet penjual perlengkapan burung tak kurang dari Rp 3 juta per event,” ujarnya.
Pemasukan dari arena kontes burung juga dinikmati masyarakat sekitar dari parkir. Dari setiap event di Cinere Enterprise, pemasukan parkir mencapai sekitar Rp 500.000. “Uang pemasukan tidak kami ambil. Dana itu seluruhnya kami serahkan ke warga sekitar,” imbuh pria 45 tahun tersebut.
Pengelola kontes burung lain yang juga memakai sistem sewa tempat adalah Yayasan BnR. Berbeda dengan penyelenggara lain, BnR hanya menggelar lomba bertaraf regional dan nasional. Salah satu tempat yang kerap disewa yaitu Lapangan Banteng. Menurut Sofyan, untuk event kelas itu, pihaknya harus merogoh kocek Rp 4 juta per event. “Biaya itu termasuk izin dan pengamanan untuk kepolisian,” tutur dia.
Dari event regional, BnR biasanya mendulang omzet Rp 120 juta-Rp 130 juta yang berasal dari penjualan 1.000-1.200 lembar tiket. Pendapatan BnR dari lomba akan membengkak jika menggelar kontes tingkat nasional.
Contohnya, tahun 2009 lalu, BnR menggelar lomba bertajuk Presiden Cup di pelataran Parkir Timur Senayan. Ketika itu, BnR mampu menjual tiket lomba hingga 4.500 lembar. Harga tiket untuk event ini berkisar Rp 200.000-Rp 1 juta. “Selain hadiah uang Rp 60 juta, kami juga memberikan door prize berupa mobil Toyota Innova dan Avanza,” ungkap Sofyan.
Tapi, tidak selamanya penyelenggara kontes burung meraup laba. Risiko rugi juga menghadang. Muchtar, pengelola Lebak Wangi Enterprise di Jalan Raya Parung, Bogor, menuturkan, ketika pengunjung sepi, pengelola harus siap menutup pengeluaran. “Kami harus tetap membayar karyawan dan juri setiap event,” katanya.
Arena lain yang lebih beruntung lantaran tidak menyewa lahan adalah Dhifa Enterprise di Jalan Eyang Agung, Ciputat. Arie BNI, Ketua Panitia Dhifa, menjelaskan, ia punya lahan sendiri seluas 2.000 meter persegi. Untuk latber, mereka bisa meraup Rp 3 juta. Sementara, dari lomba, omzet mereka bisa sekitar Rp 25 juta.
Pemasukan sebesar itu juga didapat oleh Duta Satwa Enterprise, penyelenggara kontes burung di daerah Kedaung, Ciputat, Tangerang Selatan. “Karena tidak menyewa lahan, kami tidak mengejar target. Yang penting tali silaturahmi dengan teman dan para kicau mania tetap terjaga,” kata Atin Sumaja, Ketua Panitia Duta Satwa Enterprise.

Sumber:
http://lifestyle.kontan.co.id/v2/read/lifestyle/77912/Duit-berkicau-riang-di-arena-kontes-burung-