Tampilkan postingan dengan label Sekilas Info. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekilas Info. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Agustus 2011

KENAPA PUPUK BOKASHI LEBIH UNGGUL DARI PUPUK KOMPOS ?


Nama Pupuk Bokashi mulai dikenal masyarakat luas. Keunggulan dan kelebihan pupuk organuk tersebut nampaknya mulai mengalahkan pamor pupuk kompos dan pupuk kimia. Meskipun Pupuk Bokashi dan kompos sama-sama menggunakan bahan organik sebagai bahan dasar pembuatan pupuk organik, Pupuk Bokashi diolah dengan menggunakan teknologi EM (effective microorganisms) yang lebih efektif dan ramah lingkungan.
Mahalnya pupuk kimia dan langkanya kompos di pasaran membuat banyak praktisi tanaman berpaling pada Pupuk Bokashi. Permintaan pasar pun mengalami peningkatan. Walaupun memang sebelum mengenal Pupuk Bokashi mereka menggunakan kompos atau pupuk kimia untuk memberikan nutrisi pada tanamannya. Ternyata mereka melihat Pupuk Bokashi lebih unggul dibandingkan dengan kompos.
Bila membandingkan Pupuk Bokashi dan kompos, kandungan hara dalam Pupuk Bokashi lebih tinggi. Sehingga periode proses tumbuh pada tanaman lebih cepat, pengaruh terhadap tanah sempurna, energi yang hilang rendah dan populasi mikroorganisme dalam tanah lebih sempurna. Perpaduan bahan organik seperti molasse (tetes tebu) larutan gula merah dan kandungan mikroorganisme dalam EM4 melengkapi keunggulan Pupuk Bokashi.
PT Songgolangit Persada sebagai produsen dan distributor pupuk Bokashi Kotaku di seluruh wilayahIndonesia melihat indikasi adanya peralihan minat pemakai pupuk kimia ke pupuk organik. Ini memberikan angin segar bagi pemasaran pupuk Bokashi Kotaku. ’’Kita mempunyai strategi pemasaran dengan membagikan sampel Pupuk Bokashi Kotaku pada para pembeli Ramuan Pak Oles,” terang Kadek Suiartana, Kepala Pemasaran Pupuk Bokashi Kotaku.
Para calon konsumen yang menerima sampel tersebut, biasanya akan order membeli Pupuk Bokashi karena mereka telah melihat keunggulan Pupuk Bokashi dibandingkan pupuk lain. Konsumen mengakui Pupuk Bokashi Kotaku penggunaannya lebih praktis, tidak berbau, tanaman tampak lebih segar dan daun lebih hijau serta mampu menekan penyakit yang sumbernya dari media tanam. Harga relatif terjangkau bagi seluruh kalangan masyarakat, Rp 20 ribu per zak (1 zak = 30 kg). Penjualan pupuk Bokashi Kotaku per Juli dan Agustus di konter Jl P Komodo 38X Denpasar meningkat tajam. Pada Juli terjual 307 (9210kg=9,21 ton) zak dan Agustus mencapai 370 zak (11100kg=11 ton).

Selai Kelapa Berlemak Tinggi dan Rendah


Masyarakat di kawasan Asia Tenggara mengenal selai kelapa dalam berbagai nama, rasa dan resep sesuai kreasi daerah atau negara masing-masing. Selai kelapa berfungsi luas dari selai yang dioleskan pada roti atau dikonsumsi bersama jenis kudapan seperti ketan, ada juga sebagai ramuan pada pembuatan dodol, dikonsumsi langsung atau lainnya.
Di Indonesia, Malaysia dan Singapura terkenal selai kelapa dengan nama srikaya, berupa yang berwarna kuning emas. Bahan utama srikaya terdiri dari santan kelapa, telur ayam atau bebek, gula dan ekstrak daun pandan.
Di Thailand dikenal sangkhaya yang teksturnya seperti pudding, kurang lengket dibanding selai kelapa umumnya sehingga kadang-kadang dijuluki sebagai pudding kelapa. Samkhaya dikonsumsi sebagai kudapan dan digunakan pula untuk pembuatan jenis kudapan lainnya.
Di Pilipina, selai kelapa dibuat dari ’santan kelapa dan gula atau molasses. Biasanya dioleskan pada roti panggang atau digunakan pada pembuatan dodol. Di negeri ini berkembang pembuatan dua jenis selai kelapa, yakni selai kelapa yang mengandung banyak lemak (berlemak tinggi) dan sedikit lemak (lemak rendah) dengan resep dan cara pengolahan masing-masing sebagai berikut. Dengan adanya pilihan selai kelapa yang rendah lemak peluang pasar bisa lebih terbuka luas mencakup konsumen yang membatasi konsumsi atau diet lemak.
Untuk selai kelapa berlemak tinggi ada dua resep dan cara pengolahan. Model pertama pembuatan selai kelapa berlemak tinggi dimulai dengan mencampur kelapa parut dengan air dalam perbandingan volume 1:½, lalu santan kelapa diekstrak dengan alat pengepres atau expeller. Ampas kelapa yang diperoleh dicampur dengan perbandingan 1:½ lalu diektraksi lagi untuk memperoleh santan.
Semua santan yang diperoleh direbus secara pelahan hingga dadih lembut dan lapisan berminyak terbentuk di permukaan santan. Tambahkan gula merah dengan perbandingan 2:5 terhadap santan yang direbus, lalu perebusan dilanjutkan selama 20 menit.

Cara Menyimpan Sayuran Daun Agar Lebih Awet


Sayuran daun yang umumnya berwarna hijau memiliki kelebihan dibandingkan jenis sayuran lain karena mengandung klorofil. Menurut ahli gizi, struktur kimia klorofil hampir sama dengan hemoglobin, sehingga bisa merangsang pembentukan sel darah merah. Dengan konsumsi makanan yang mengandung antioksidan yang cukup seperti sayuran daun, juga akan mencegah timbulnya penyakit kanker pada manusia.
Dibandingkan dengan jenis sayuran yang lain, sayuran daun memiliki daya simpan yang relatif pendek. Pada suhu kamar, penyimpanan lebih dari  1 hari menjadikan sayuran daun tampak layu dan kuning. Perubahan ini tentunya akan menurunkan nilai gizi dan daya tarik dari sayuran tersebut. Berbeda dengan sayuran buah yang bisa disimpan sampai tiga hari pada suhu kamar, dan sayuran umbi yang bisa tahan lebih dari sebulan. Berikut tips menyimpan sayuran daun dalam almari es agar lebih awet:
Mencuci sebelum disimpan
Cucilah sayuran sampai bersih, dengan air yang mengalir. Diharapkan kotoran dan  residu pestisida juga ikut hilang bersama aliran air. Adanya kotoran yang menempel akan memicu tumbuhnya mikroba yang menyebabkan sayuran cepat busuk selama penyimpanan.
Membuang bagian yang busuk dan berpenyakit
Pilihlah sayuran yang berwana hijau dan utuh. Artinya daun yang keriting atau berlubang karena terkena hama / penyakit sebaiknya dibuang.  Sayuran yang terkena hama/ penyakit ini bila ikut disimpan akan mempengaruhi daun lain yang sehat. Selain itu juga agar tidak berbahaya bagi tubuh bila dikonsumsi.
Memotong sayuran
Potonglah sayuran daun sesuai dengan kebutuhan. Biasanya bagian batang hanya diambil sedikit. Hal ini akan lebih efisien tempat  selama penyimpanan dan efisien waktu, di mana sayuran bisa langsung dimasak.
Memasukkan dalam wadah berlubang
Wadah yang digunakan bisa dari plastik yang berlubang atau wadah lain yang memungkinkan aerasi udara selama penyimpanan. Sayuran, walaupun sudah dipanen/ terlepas dari pohonnya, masih mengalami pernafasan selama penyimpanan. Dengan wadah berlubang memungkinkan sayuran masih bisa bernafas, dan CO2 bisa dikeluarkan lewat lubang yang ada. Penyimpanan sayuran dalam wadah tertutup rapat, akan menjadikan kondisi panas karena produksi CO2, sehingga sayuran cepat busuk. Sebaliknya penyimpanan tidak dalam wadah / plastik, atau dibiarkan terbuka menjadikan sayuran banyak kehilangan air sehingga cepat layu. 
Suwarni 
Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang

Kamis, 11 Agustus 2011

Kiat Menyetek Tanaman Perdu

SEBENARNYA menanam tanaman perdu cukup mudah yakni melalui stek.Walaupun mudah,tapi kalau tidak tahu dalam hal vercocok tanam,maka tanaman perdu—semacam melati,remujung,anggur dan lainnya—tidak akan mudah tumbuh dengan baik.Bahkan tidak akan tumbuh sama sekali. Mengapa demikian? Sebab,system stek juga mengundang risiko gagal sekalipun kecil,baik karena akar tidak keluar akibat terjadinya pembusukan.Walau system perbanyakannya sama yakni stek,tapi tiap tanaman mempunyai sifat dan kebiasaan berbeda-beda.Karena itu perlu sedikit pengetahuan dan persiapan matang,terutama yang menyangkut media tanam,peralatan dan bahan-bahan yang diperlukan untuk melakukan penyetekan.Media tanam yang baik untuk tanaman remujung misalnya,yaitu campuran tanah 25 persen,pupuk kandang 50 persen dan pasir 25 persen. Untuk menghindari ancaman cacing nematode,maka media tanam itu perlu diberi insektisida khusus untuk cacing nematode. Kemudian media tanam untuk melati,yakni campuran pasir kasar,,cincangan batang pakis atau tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:2 ditambah dengan sedikit arang yang sudah remuk/bubuk.Sedangkan media tanam yang paling baik untuk tanaman anggur adalah campuran humus,mos dan pasir dengan perbandingan 2:1:1.Ketiga bahan itu sebaiknya diayak dulu sampai halus,kemudian baru dicampur dan disterilkan dengan cara mengukusnya pada suhu 80oC selama beberapa jam.Setelah itu, ukur derajat keasamannya; kalau angka pH-nya 6 ke atas,berarti sudah memadai untuk media tanam.Peralatan stek yang perlu dipersiapkan adalah pisau tipis yang tajam atau gunting potong yang tajam,pot atau polybag dan larutan zat pengatur tumbuh (ZPT) Hobsonal 5 EC.Bahan steknya bisa dari pucuk cabang yang sudah patah,potongan batang atau cabang maupun potongan akar.Untuk potongan atau bahan stek panjangnya minimal 10-15 cm dan memiliki 2-3 helai daun.Sementara ujung bawah dahan stek diruncingkan dengan cara memotongnya miring kira-kira 45 derajat.Untuk merangsang keluarnya akar lebih cepat,bahan stek kemudian direndam dalam larutan ZPT Hobsonal 5-EC,kemudian ditancapkan dalam pot atau polybag yang sudah diisi media tanam.Supaya tidak terjadi penguapan secara berlebihan,stek yang sudah ditanam itu dibungkus dengan plastik,dan diletakkan pada tempat yang sejuk dan lembab.Adapun suhunya sekitar 20-28oC,penyiraman hanya dilakukan kalau media tanamnya tampak kering.Hal ini untuk menghindari pembusukan stek.Sedangkan pemupukan cukup dengan beberapa butir NPK dan bisa pula diberikan dalam bentuk butiran atau larutan.Selama 1-4 minggu,kalau stek masih tetap hijau segar berarti penyetekan berhasil dengan baik.Namun,kalau stek kuning layu bisa jadi gagal.Bila stek sudah tumbuh dan daunnya sudah mencapai sekitar 8 helai,maka boleh dipindahkan ke tempat yang lebih terbuka.Kalau masih di dalam polybag, maka bisa dipindahkan ke pot atau langsung ke tanah.Sementara itu,untuk merangsang pertumbuhan dan produktivitas,maka sebulan sekali sebaiknya disemprot dengan ZPT Hobsonal 5-EC.