Tampilkan postingan dengan label mitra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mitra. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 September 2011

My Bento, Optimistis Bidik Pasar Menengah ke Bawah

Kamis, 29 September 2011 13:33
Dalam menghadapi persaingan bisnis, seorang entrepreneur harus cermat dalam membidik pasar yang sesuai dengan produk yang ditawarkannya. Dengan konsisten dalam menggali pasar yang telah ditentukan, sebuah bisnis bisa bertahan untuk bersaing dengan kompetitor bisnis sejenis yang telah mapan. Hal itulah yang menjadi startegi My Bento, untuk bersaing di ketatnya kompetisi bisnis kuliner di Indoensia. Dengan mengusung produk makanan Jepang, My Bento memilih untuk fokus menggarap pasar menengah ke bawah sebagai sasaran pembeli potensial.

mybento911Dengan jargon usaha “makan hemat makin dekat”, My Bento berharap agar produknya bisa tersebar hingga ke pelosok-pelosok daerah di Indonesia. Selain itu, dengan mematok harga jual yang tidak terlalu mahal, My Bento ingin agar masakan Jepang bisa menjadi salah satu makanan rakyat, yang terjangkau oleh semua golongan dan bisa diperoleh di mana saja. Selain harga yang murah meriah, My Bento pun ingin mengkampanyekan menu masakan Jepang yang menggunakan bahan baku 100% halal.

Kini, My Bento telah memiliki lebih dari 50 gerai di seluruh Indonesia. My Bento pun makin dikenal sebagai salah makanan cepat saji yang ramah dalam harga dan digemari dari segi rasa, khususnya di kalangan anak muda. Namun, siapa sangka jika bisnis ini awalnya lahir dari sebuah praktikum matakuliah yang diarsiteki oleh 4 orang mahasiswa?

Bermula saat Dede Suleiman dan empat orang rekannya mendapatkan sebuah tugas kuliah untuk membuka dan menjalankan sebuah usaha, tahun 2006. Pria yang kini baru berusia 26 tahun ini mengaku ingin total dalam menciptakan sebuah peluang bisnis baru, dan ingin sungguh-sungguh meneruskan bisnis tersebut. Ia pun melihat bahwa bisnis makanan Jepang cukup potensial untuk serius digarap.

“Awalnya memang tugas mata kuliah kewirausahaan yang mengharuskan kami untuk membuat suatu bisnis. Namun, kami harus mencari modal sendiri untuk usaha tersebut. Karena sudah mengeluarkan modal yang buat saya tidak sedikit, maka saya rasa sayang jika usaha ini tidak kami seriusi. Karena satu dari kami bisa memasak, maka kami memilih untuk mencoba bisnis kuliner, khususnya masakan Jepang. Apalagi saat itu tidak banyak bisnis kuliner Jepang yang ada,” Ungkap Dede saat berbincang dengan Ciputraentrepreneurship.com, di salah satu gerainya di Bintaro, Tangerang Selatan.

Nama My Bento dipilih karena memiliki arti “bekal saya”. Dengan demikian, Dede dan teman-temannya berharap suatu saat nanti bisnis ini bisa menjadi bekal dan rezeki yang baik di masa depan. Sadar bahwa sudah ada kompetitor produk sejenis yang telah jauh mapan, My Bento pun merancang strategi pasar dengan membidik golongan menengah ke bawah sebagai calon konsumen potensial. Dede berpendapat, saat itu restoran makanan Jepang hanya bisa ditemui di kota-kota besar saja, dan dibeli oleh orang-orang tertentu saja. Melihat peluang tersebut, My Bento pun ingin menciptakan citra makanan Jepang yang merakyat.

”Saat ini bisnis makanan Jepang yang ada, selalu memfokuskan pada pasar menengah ke atas dan ke kota-kota besar. Nah kami lalu melihat pasar masyarakat yang tinggal di kota-kota kecil, ternyata juga menyukai jenis makanan Jepang. Dari saya saya melihat sangat potensial jika kami mendekatkan produk kami ke mereka, terjangkau, dari segi tempat dan harga,” jelas Dede.

Sebagai sebuah proyek perkuliahan, Dede dan ketiga rekannya memang tidak memiliki modal yang besar saat memulai usaha. Dengan modal Rp 15 juta, Dede pun mulai usahanya dengan sangat sederhana, di daerah Lampung. Itupun dengan menggunakan ruko milik kerabat salah satu rekannya. Pada tahun pertama menjalankan bisnisnya, Dede pun hampir mengalami kebangkrutan, dan akhirnya dua orang rekannya mundur dari usaha My Bento, dengan alasan ingin berkarier sebagai karyawan. Menghadapi kondisi tersebut, Dede mengaku tak patah arang. Ia merasa bisnis yang dijalaninya adalah sebuah pertaruhan karier dan masa depannya. Ia pun memilih untuk tetap berjuang menjalankan bisnisnya.

“Ketakutan-ketakutan muncul ketika mulai sepi. Seandainya saya tidak bisa mengganti uang modal yang saya pinjam dari orangtua, pasti orangtua saya tidak akan mendukung langkah saya sebagai pebisnis. Karena dari awal memang orangtua saya sudah tidak setuju bila saya terjun ke dunia bisnis. Sebuah pertaruhan harga diri. Toh saat itu saya belum mempunyai tanggungan apapun, dan saya masih berstatus mahasiswa. Jika sampai saya lulus, bisnis saya belum berhasil, saya siap banting stir menjadi pegawai. Namun saya dan teman saya sampai sejauh ini bisa membuktikan bahwa kami bisa bertahan menjalankan bisnis My Bento,” sambung Dede.

Demi memajukan usahanya, My Bento pun kini memilih jalur waralaba dengan sasaran mitra di daerah. Dengan pilihan paket mulai dari Rp 21 juta sampai dengan Rp 250 juta, calon mitra bisa memilih untuk menjalankan usaha My Bento mulai dari paket sederhana hingga premium. Selain itu, My Bento pun menstandarkan gerai mereka dalam bentuk permanen, agar bisa memberikan kenyamanan pada konsumen. Dari segi menu, My Bento juga menawarkan menu Jepang yang otentik dan memilih untuk bekerja sama dengan perusahaan besar seperti Unilever, untuk menstandarkan racikan bumbu yang dipakai. Dengan cara tersebut, My Bento pun mulai dikenal sebagai makanan murah namun berkualitas.

Dengan bisnis yang terus berkembang, kedepannya My Bento menargetkan bisa membuka 10 gerai per tahunnya. Selain itu dalam waktu dekat ini, My Bento juga membidik pasar di wilayah Indonesia bagian timur sebagai target ekspansi usaha.

“Kami ingin agar My Bento bisa sampai ke tiap provinsi di Indonesia. Khususnya untuk daerah seperti Ambon, Sulawesi, dan Papua, yang rencananya akan segera kami dekati berikutnya. Setelah ambisi kami tercapai, selanjutnya bukan tidak mungkin kalau brand kami bisa menembus pasar Mancanegara, khususnya Negara-negara tetangga kita,” ujar Dede.

Di usianya yang masih sangat muda, Dede telah membuktikan bahwa seorang entrepreneur bisa bertahan menjalankan bisnisnya jika ada dedikasi dan konsisten menjalankan bisnisnya. Terlebih bagi anak muda yang memilih jalan hidup menjadi seorang wirausahawan, yang seringkali patah arang dalam menghadapi cobaan dalam bisnisnya.

“Secara umum, bila kita telah memilih sebuah usaha untuk dijalankan, kita harus bisa konsisten dalam mengembangkan usaha tersebut. Seorang wirausahawan harus memiliki dedikasi tinggi terhadap bisnis yang ia telah jalankan. Jangan pernah takut terhadap halangan, karena tidak ada bisnis yang tampa halangan. Masalahnya hanyalah bagaimana kita bisa menghadapi halangan tersebut,” ucap Dede dengan yakin. (*/Gentur)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/component/content/article/196-exclusive-interview/11550-my-bento-optimistis-bidik-pasar-menengah-ke-bawah.html

TAWARAN KEMITRAAN JASA KESEHATAN

Peluang Usaha

 
Kamis, 29 September 2011 | 13:33  oleh Dea Chadiza Syafina
TAWARAN KEMITRAAN JASA KESEHATAN
Laba mengalir dari kemitraan layanan rawat pasien di rumah.

Perawatan pasien tak harus dilakukan di rumah sakit. Dalam kondisi tertentu, seperti tahap pemulihan, peningkatan derajat kesehatan, dan lainnya, pasien bisa dirawat di rumah.

Adalah Ladira yang menawarkan layanan rawat pasien di rumah. Pemilik sekaligus penggagas Ladira, Wiryanto, ingin memudahkan masyarakat dalam merawat anggota keluarga yang sakit di rumah.

Selain itu, Ladira juga meringankan keluarga pasien karena tak terbebani biaya kamar rumah sakit. Pasien yang berada dalam perawatan Ladira hanya dikenai biaya dokter, perawat, alat-alat kesehatan yang disewa, serta biaya obat jika diperlukan.

Pihak keluarga pun bisa dilibatkan sebagai perawat. "Kami bisa melatih mereka yang memang ingin merawat pasien, sehingga beban biaya bisa ditekan dan jadi lebih murah," jelas Wiryanto.

Ladira, yang dirintis Wiryanto sejak 2006 ini, mulai menawarkan kemitraan awal tahun ini. Wiryanto melihat, potensi pelayanan perawatan pasien di rumah cukup besar. "Potensinya bisa mencapai 500 Ladira di tingkat kabupaten dan kotamadya," ucap dokter lulusan Jerman ini.

Ada dua pilihan investasi yang bisa dipilih oleh calon mitra Ladira. Pertama, investasi di hulu dengan nilai investasi minimal Rp 2 miliar. Dalam skema investasi ini, Wiryanto menawarkan kepemilikan saham Ladira. Calon mitra juga bisa menggenggam saham maksimal 40% atau Rp 4 miliar dari total investasi Ladira yang mencapai sebesar Rp 10 miliar.

Kedua, kemitraan di hilir, dengan tiga tingkatan nilai investasi. Untuk investasi dengan cakupan wilayah kabupaten atau kotamadya, dikenakan biaya sebesar Rp 225 juta selama lima tahun kemitraan. Dengan investasi segini, mitra dapat menggunakan nama Ladira, tenaga asisten perawat, pramurukti, sistem manajemen Ladira, pendampingan usaha selama tiga bulan, pelatihan karyawan untuk tenaga medis maupun administrasi, serta berbagai kegiatan promosi.

Mitra hanya perlu menyediakan sarana serta prasarana usaha jasa perawatan pasien di rumah. Selain membeli, mitra bisa menyewa berbagai peralatan kesehatan itu dari pihak ketiga yang telah menjadi rekanan Ladira.

Kemitraan hilir kedua yakni di tingkat provinsi dengan nilai investasi Rp 750 juta. Dengan biaya segini, mitra akan memperoleh fasilitas yang sama dengan masa kerja sama selama 10 tahun.

Terakhir adalah kemitraan di tingkat regional dengan masa kerja sama selama 15 tahun. Selain DKI Jakarta, Wir-yanto menawarkan kemitraan tingkat regional ini di setiap provinsi dengan investasi senilai Rp 2 miliar. Mitra regional ini juga mengantongi lisensi untuk menawarkan pasokan obat-obatan serta peralatan untuk mitra tingkat kabupaten atau kotamadya.

Untuk setiap mitra, Ladira mengutip royalty fee sebesar 3% dari omzet mitra per bulan khusus mitra tingkat kabupaten atau kotamadya. adapun untuk mitra tingkat provinsi dan regional, royalty fee dipatok 2%. Wiryanto menghitung, balik modal mitra bisa dalam waktu dua hingga tiga tahun.

Menurut Levita Supit, pengamat waralaba, bisnis Ladira ini merupakan inovasi menarik dan berprospek cerah. Usaha rawat pasien di rumah ini juga tak mengenal tren dan dapat bertahan lebih lama.

Nilai investasi yang ditawarkan pun masih beralasan. "Ini sesuatu yang baru. Kalau memang berani untuk berinvestasi, ini peluang yang bagus," kata Levita.


Ladira
Jl. Kesehatan Raya 20
Bintaro, Jakarta Selatan
Telp. (021) 93230960, 92469866
sales@LADIRAindonesia.com

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/78660/Ladira-menawarkan-kemitraan-layanan-rawat-pasien-di-rumah

Rabu, 07 September 2011

TAWARAN KEMITRAAN KULINER CONE

PELUANG USAHA

Selasa, 06 September 2011 | 12:20  oleh Bambang Rakhmanto
TAWARAN KEMITRAAN KULINER CONE
Menikmati renyahnya laba dari kudapan berat

Kesibukan sering membuat orang lupa makan. Waktu istirahat yang terbatas, memaksa mereka yang sibuk hanya makan camilan guna mengganjal perut yang kosong.

Kebutuhan akan camilan mengenyangkan inilah yang menginspirasi Yoppi Kurniawan membuat camilan berat bernama Yammi Cone. Makanan kreasinya memadukan makanan berat seperti nasi atau mi dengan pembungkus cone layaknya es krim.

Dengan Yammi Cone, orang dapat dengan tenang menjalankan aktivitas seperti mengetik atau menyetir tanpa takut perut keroncongan. Konsep yang diusung Yoppi juga akan mengurangi biaya produksi karena tidak memerlukan tempat makan yang luas, meja, piring ataupun peralatan makan lain. "Konsepnya take away," katanya.

Setelah membangun gerai pada 2009 di Jember, Jawa Timur, Yoppi kini mulai berani menawarkan kemitraan kepada masyarakat pada tahun ini. Beruntung bagi Yoppi, begitu usaha kemitraan ditawarkan, dua mitra asal Banyuwangi langsung bergabung.

Yoppi yakin kreasi makanannya sangat prospektif. Oleh karena itu dia menargetkan untuk bisa memboyong 50 mitra dari seluruh Indonesia hingga akhir 2012 nanti.

Kepada calon mitra yang hendak bergabung, Yoppi menawarkan paket investasi silver dan paket investasi gold. Untuk paket silver, mitra hanya boleh menjual Yammi Cone dengan lima macam isi, yaitu mie goreng, nasi goreng, kwetiau, spageti dan bihun.

Adapun untuk pemegang paket gold, selain menjual Yammi Cone juga ada menu tambahan, seperti hotdog, hamburger, dan sandwich.

Dengan nilai investasi sebesar Rp 10 juta untuk paket silver, mitra akan mendapat booth, box etalase, box display produk cone, kompor kecil, dan juga peralatan lain. Selain itu, mitra juga akan mendapatkan bahan baku untuk 100 porsi cone plus topping, seperti daging, saus, mentega, sendok/garpu kecil, dan kertas pembungkus.

Adapun investasi paket gold sebesar Rp 12 juta. Paket ini menawarkan booth dengan ukuran lebih besar. Selain mendapatkan fasilitas seperti yang didapat paket silver, mitra paket gold mendapatkan tambahan bahan baku burger, hotdog, dan sandwich masing-masing 10 porsi.

Karena kemitraan, maka Yoppi tidak mengenal franchise fee dan royalty fee. “Mitra hanya terikat sebatas bahan baku," kata Yoppi. Ia menambahkan, biasanya kerja sama mitra harus membayar Rp 7 juta untuk mendapat bahan baku selama sebulan.

Dengan harga Yammi Cone Rp 8.000 per porsi, dan menu tambahan hamburger, hotdog, dan sandwich seharga Rp 7.500 per porsi, Yoppi menargetkan omzet Rp 12 juta per bulan untuk paket gold. "Per hari mitra mampu menjual minimal 50 porsi," harapnya. Jika target tercapai, laba bersih mitra mencapai Rp 3,65 juta per bulan.

Ketua Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (Wali) Levita Supit mengingatkan, sebaiknya Yoppi membangun minimal tiga gerai sendiri sebelum menawarkan kemitraannya. Untuk meyakinkan investor. Tidak hanya itu, Yoppi juga harus membuktikan gerai-gerai yang dimilikinya menguntungkan.

Calon mitra juga harus kritis menilai tawaran kemitraan itu. Sebab, untuk konsep waralaba, usaha minimal harus berusia lima tahun dan teruji mampu bertahan.

Yummi Cone,
Jl. Kalimantan No. 66,
Di depan Gedung Soetardjo - Universitas Jember,
Jember, Jawa Timur

Telp. 08123470068

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/76703/Menikmati-renyahnya-laba-dari-kudapan-berat

TAWARAN KEMITRAAN KULINER MAKARONI GORENG

PELUANG USAHA

 
Selasa, 06 September 2011 | 15:21  oleh Fahriyadi
TAWARAN KEMITRAAN KULINER MAKARONI GORENG
Rezeki camilan makaroni goreng kian gurih
Bisnis camilan berbahan baku makaroni memang menggiurkan. Itulah, meski baru memulai usaha enam bulan lalu, MakoMako sudah berani menawarkan kemitraan dan kini telah menjaring 20 mitra. Sebelumnya, Mabasa juga sukses menjalin kemitraan usaha makaroni goreng. Kini Mabasa telah menggandeng 250 mitra.

Makaroni goreng bisa menjadi camilan renyah yang lezat. Dengan harga yang terjangkau membuat kudapan ringan ini disukai konsumen. Itulah sebabnya, pemilik usaha ini juga percaya diri untuk mengembangkan usaha ini dengan konsep kemitraan.

Salah satu tawaran kemitraan bisnis makaroni datang dari Pioni Adya Group yang mempunyai produk makaroni goreng aneka rasa merek MakoMako. Meski baru membuka usaha sejak Februari 2011 di Bandung, pada 18 Agustus 2011 lalu, Pioni sudah berani menawarkan kemitraan.

Menurut Muhammad Dana Prihadi, pemilik Pioni, kini MakoMako telah berhasil menggandeng 20 mitra. Hanya saja mereka ini belum beroperasi karena pembukaan usaha baru dilakukan sepekan setelah lebaran.

Dana bilang, dari 20 mitra itu, sebagian besar berasal dari luar Bandung. "Sebanyak 40% justru berasal dari Sulawesi dan Kalimantan, sementara sisanya dari Jawa Tengah, dan Jakarta," terang Dana.

Dana yang saat ini berumur 28 tahun ini sengaja membatasi jumlah mitra di Bandung. Maklum, Dana sudah punya tiga gerai milik sendiri di Bandung dan dua di Solo.

Ia mengatakan, walau baru menjalankan usaha selama enam bulan, ia yakin bisnis makanan makaroni sangat prospektif. "Dalam enam bulan, grafik penjualan selalu meningkat," katanya.

Untuk bisa memiliki usaha makanan ini, MakoMako menawarkan dua paket investasi senilai Rp 3,5 juta dan Rp 5 juta. Yang membedakan dua paket investasi tersebut adalah bentuk gerai atau booth yang diperoleh mitra.

Untuk paket Rp 3,5 juta menggunakan booth permanen, sementara paket Rp 5 juta mendapat booth mobile yang dapat dipindah-pindah. Dengan harga jual Rp 3.000 - Rp 5.000 per porsi ukuran 100 gram, Dana menargetkan penjualan sebanyak 40 porsi makaroni goreng tiap hari. Jika target tercapai, mitra diperkirakan akan mendapat omzet hingga Rp 6 juta per bulan, sehingga mitra balik modal paling lama tiga bulan.

Ada delapan variasi rasa makaroni goreng yang ditawarkan oleh MakoMako, seperti keju, blackpepper steak, jagung manis, dan blueberi. Target pasar MakoMako adalah kalangan pelajar dan mahasiswa, meski melayani juga penjualan untuk umum.

Dana yang juga memiliki kemitraan makanan kentang Pota Potatoes yakin pasar makaroni goreng akan terus berkembang. "Pemainnya masih jarang," katanya.

Atas keyakinannya tersebut, ia menargetkan penambahan jumlah mitra mencapai 120 mitra akhir Juli 2012 nanti. Dia bahkan berencana menawarkan konsep resto serba makaroni. Sayangnya, konsep resto tersebut masih dalam tahap rencana sehingga belum jelas kapan terwujud.

Selain MakoMako, Mabasa atau Makaroni Banyak Rasa juga menawarkan kemitraan di Bandung. Mabasa bisa dibilang lebih senior dibanding MakoMako. Lihat saja, Mabasa mulai menawarkan kemitraan bisnis makaroni goreng sejak Januari 2010.

Sejak ditawarkan, Mabasa telah memiliki 250 outlet yang tersebar di 26 kota di Indonesia. "Bukan hanya Jawa, mitra kami telah sampai hingga Medan, Makassar, Manado, dan lombok," ujar Dian F. Luthfie, pemilik Mabasa.

Sebagai pionir kemitraan camilan makaroni, Dian mengklaim jika Mabasa mengalami perkembangan usaha yang signifikan. Jika pada Januari 2011 lalu baru sebanyak 100 gerai, kini sudah meningkat lebih dari dua kali lipat.

Bahkan, menurut Dian, dalam dua tahun ini usahanya mampu mempertahankan tingkat penjualan per gerai berkisar 200 - 300 porsi dengan harga Rp 2.500 - Rp 3.000 per 100 gram. Dengan jumlah penjualan itu berarti omzet per bulan mencapai sekitar Rp 18 juta.

Nilai omzet itu cukup baik, mengingat biaya investasi yang ditawarkan hanya Rp 3 juta untuk gerobak permanen dan Rp 3,5 juta untuk gerobak dorong.

Walaupun pesaing bisnis makaroni terus bertambah, Dian mengaku tak khawatir. Bahkan, menurut Dian, persaingan diperlukan untuk menjaga motivasi dan kualitas.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/76729/Rezeki-camilan-makaroni-goreng-kian-gurih

Kiat Menggaet Pembeli dan Mitra Bisnis "Online"

Kiat Menggaet Pembeli dan Mitra Bisnis "Online"
Wardah Fazriyati | wawa | Selasa, 6 September 2011 | 11:46 WIB

Foto menarik dan menjadi sarana visualisasi produk bisa membantu meningkatkan imej produk dalam bisnis online.

KOMPAS.com - Bisnis online terbilang lebih praktis, mudah, minim biaya dibandingkan membuka toko fisik. Selama koneksi internet tak putus, bisnis online bisa dijalankan kapan dan di mana saja. Namun ada faktor lain yang juga turut menyukseskan bisnis online, yakni branding.

Branding produk demi meningkatkan imej penting dikelola dengan baik dalam berbisnis online. Inilah yang dibuktikan Muri Handayani (27) dan Dessy Artha (31) melalui bisnis online jilbab ninja RaZha dengan sistem keagenan dan distributor online, berbasis di Bandung, Jawa Barat.

Kualitas dan inovasi produk, serta skema penjualan melalui keagenan menyukseskan bisnis online jilbab ninja RaZha. Tak berhenti sampai di situ, keuletan dua perempuan muda ini dalam memasarkan produk dan menggencarkan branding juga turut berkontribusi.

"Imej penting dan mendorong penjualan jilbab nina RaZha," kata Handayani yang akrab disapa Hani ini kepada Kompas Female di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Kemampuan branding jilbab ninja RaZha sukses mendobrak penjualan melalui bisnis online. Hanya dalam dua bulan pertama, omzet bisnis ini mencapai Rp 55 juta. Hani dan Dessy berhasil menjual 3.300 potong jilbab per akhir Agustus 2011, sejak produksi pertama pada Mei 2011 lalu.

Foto produk
Hani dan Dessy mengatur pembagian tugas. Adalah tugas Hani untuk menggencarkan pemasaran dan promosi melalui internet. Menurut Hani, cara yang dinilainya ampuh untuk menggaet pembeli online di antaranya memberikan gambar produk yang berkualitas dan menarik.

"Dengan foto produk yang menarik, pembeli online bisa mendapatkan gambaran mengenai produk yang dijual. Apalagi jika ada foto cara pakai produk dengan ragam gaya, sehingga memberikan inspirasi gaya bagi pembeli," kata Hani yang memasang foto produk yang dikenakan model sekaligus memberikan contoh cara memakai kerudung aneka gaya.

Sementara bagi agen dan distributor, foto produk yang berkualitas mempermudah mereka dalam berjualan. Foto produk memfasilitasi pebisnis dalam menjual produk, tambah Hani.

Update penjualan
Selain itu, kebiasaan update status di berbagai media sosial juga turut memengaruhi penjualan. Apalagi jika di status tersebut menyebutkan jumlah item yang terjual. Untuk bisnis online yang mengandalkan keagenan, catatan penjualan produk yang diinformasikan seperti ini menjadi ukuran keberhasilan produk dan penjualan. Dengan begitu, agen atau distributor yang berminat berbisnis online bisa mengukur sejauhmana peluang bisnis online tersebut.

"Dengan mencantumkan berapa item jilbab ninja yang terjual, pengguna internet bisa menilai produk. Bagi pengguna atau pembeli, informasi ini menunjukkan jilbab tersebut banyak peminatnya. Sementara bagi pebisnis, mereka akan menilai peluang bisnis dari jumlah jilbab yang terjual tersebut, termasuk perkembangan penjualannya," jelas Hani.

Kepercayaan menjadi faktor penentu keberhasilan bisnis online. Dengan semakin banyaknya produk terjual, dan hal ini diinformasikan dengan baik melalui internet, peluang bisnis semakin terbuka lebar. Tak ayal jika kemudian semakin banyak lagi pembeli juga mitra bisnis yang tertarik dan percaya dengan produk online tersebut.

Sumber:
http://female.kompas.com/read/2011/09/06/11464526/Kiat.Menggaet.Pembeli.dan.Mitra.Bisnis.Online

Selasa, 06 September 2011

TAWARAN KEMITRAAN KULINER BURGER

Peluang Usaha

 
Senin, 05 September 2011 | 16:05  oleh Dea Chadiza Syafina, Handoyo
TAWARAN KEMITRAAN KULINER BURGER
Wah, bisnis burger mulai klenger

Burger sudah tidak menjadi makanan mahal lagi. Roti isi daging, sayuran, mayones, serta saus ini bisa ditemukan dengan mudah di kota-kota besar dengan harga yang sangat terjangkau. Tak hanya di restoran asing, burger juga banyak dijual dalam gerai-gerai kecil di pinggir jalan.

Walaupun burger sudah populer, namun tak seluruh tawaran kemitraan burger mengalami perkembangan yang bagus. Ada sebagian pengusaha burger dengan kemitraan yang terus berkembang, namun ada pengusaha yang stagnan.


• Sweet Burger

Mulai menawarkan kemitraan pada awal 2009 di Jakarta, dari 15 mitra yang dulu pernah bergabung dengan Sweet Burger sebagian besar gulung tikar. Saat ini hanya tersisa lima sampai enam saja yang masih aktif. "Ini karena semakin banyaknya saingan," kata Panca Firdaus, pemilik Sweet Burger.

Selain persaingan ketat, pemilihan lokasi yang kurang strategis membuat mitra Sweet Burger tak lagi beroperasi. "Kalau masalah rasa, kita tidak kalah," klaim Panca. Apalagi, menurutnya, tambahan bumbu racikan mayones sendiri membuat rasa burger buatannya lebih lezat.

Tak hanya itu, dia juga membuat sendiri roti burgernya dan menggunakan olahan daging impor. Ini dimaksudkan supaya tekstur roti dan daging yang dibuat lebih kenyal dan enak. Harga yang ditawarkannya juga terjangkau, Rp 7.000 hingga Rp 11.000 per porsi. Dengan harga tersebut, mitra bisa memperoleh margin berkisar 50%-55%.

Dengan margin yang besar, investasi yang disetorkan oleh mitra juga cukup terjangkau. Sweet Burger hanya mengutip biaya kemitraan sebesar
Rp 15 juta untuk kemitraan selama tiga tahun. Dengan dana itu, mitra akan mendapatkan sebuah booth lengkap dengan peralatan masak dan penjualan. Mitra juga mendapat bahan baku produksi awal senilai Rp 200.000.

Panca juga meminta mitra seterusnya membeli bahan baku, seperti roti, beef, sosis dan mentega dari pusat. "Selain bahan baku itu, mitra bebas beli di mana saja," katanya.

Harga bahan baku bervariasi. Contohnya untuk roti, harganya sekitar Rp 1.100 per potong. Adapun beef, mulai dari Rp 1.300 sampai Rp 2.800 per iris tergantung jenisnya. Adapun setiap 400 gram mayones, dihargai Rp 15.000.

Jika mitra ingin memperpanjang kerja sama setelah tiga tahun berakhir, maka hanya berkewajiban membayar kembali biaya kemitraan setengahnya. Dengan target penjualan 25-30 porsi burger dalam sehari, maka omzet diperkirakan sebesar Rp 250.000 hingga Rp 300.000 sehari.

Setelah dikurangi pengeluaran maka keuntungan bersih mitra dalam sebulan akan mencapai Rp 2,5 juta. Dengan demikian balik modal akan tercapai dalam waktu 6 hingga 7 bulan.

Walaupun sejumlah mitranya tak mampu bertahan, Panca tak putus asa. Dia bahkan ingin mengembangkan usaha dengan mengeluarkan paket mini cafe dengan nilai investasi Rp 65 juta. "Kami sedang proses mematangkan konsep. Tahun depan semoga sudah siap," jelas Panca.


• Quickie Eat & Tasted

Nasib kurang menguntungkan juga dialami oleh Quickie Eat & Tasted. Menawarkan kemitraan sejak 2009, Quickie menawarkan menu burger dan hotdog. Walaupun makanan yang dijual lebih bervariasi, namun jumlah mitra Quickie tak bertambah sejak 2010 sampai sekarang.

"Belum ada penambahan gerai baru. Masih sama seperti dulu," kata Guz Ardi, pemilik Quickie Eat & Tasted.

Hingga kini Quickie baru memiliki dua gerai, satu gerai miniresto milik sendiri dan satu gerai booth milik mitra. Belum bertambahnya jumlah mitra, menurut Ardi, karena dia masih konsentrasi di jenis usaha lain.

Bahkan, pengelolaan dan manajerial gerai miniresto Quickie Eat & Tasted di Bintaro, Jakarta telah diserahkan kepada kerabatnya. Ia saat ini mengaku disibukkan dengan bisnis ekspor ikan patin.

Walau begitu, pihaknya masih membuka peluang untuk calon investor yang ingin bermitra. Apalagi, menurut Ardi, bisnis burger masih menjanjikan.

Untuk menjadi mitra Quickie Eat & Tasted paket booth, investasi yang harus dikeluarkan Rp 10 juta untuk kerja sama selama dua tahun. Mitra akan mendapatkan booth, peralatan lengkap, bahan baku awal, serta pelatihan. Paket investasi miniresto yang ditawarkannya juga masih sama, senilai Rp 55 juta.


• Big Burger

Berbeda dengan dua kedai burger asal Jakarta yang lesu. Nasib gerai burger asal Yogyakarta ini jauh lebih baik. Big Burger dalam setahun ini berkembang menjadi 170 mitra dari sebelumnya 112 mitra.

Daru, Marketing Big Burger, mengatakan bahwa penambahan 58 mitra tersebar di Jakarta, Bandung, Samarinda, Lampung, Malang, dan Yogyakarta. Tak hanya itu, dalam waktu dekat, Big Burger juga akan menambah lima gerai baru di Lampung. "Di Yogyakarta bertambah 10 gerai, karena burger di sana telah padat dan berdekatan satu sama lain," katanya. Jika penambahan mitra di Yogyakarta tidak dibatasi, menurutnya, mungkin ada 200 outlet di kota tersebut.

Big Burger sendiri mulai menawarkan kemitraan sejak September 2009. Jika dulunya paket investasi yang ditawarkan sebesar Rp 15 juta, Rp 35 juta, dan Rp 60 juta, kini telah berubah. Kenaikan harga menyesuaikan dengan perubahan booth, meja dan kursi dari kayu menjadi stainless steel.

Untuk paket pertama berupa booth standar dengan ukuran 2 m x 2,5 m di luar Yogyakarta dan Pulau Jawa ditawarkan senilai Rp 18 juta sampai Rp 20 juta. Paket ini cocok untuk usaha yang berlokasi di depan minimarket atau di dalam mal.

Paket kedua atau gerai mini dengan investasi Rp 40 juta khusus di Yogyakarta. Sedangkan untuk calon mitra di luar Jawa harganya naik menjadi Rp 45 juta. Mitra yang memiliki paket kedua mendapatkan booth standar, konter kecil, serta dua set meja dan kursi, neon box dan paket pelatihan.

Adapun paket ketiga, berupa paket master senilai Rp 65 juta. Mitra akan mendapatkan perlengkapan komplet memasak dan penyajian yang terpisah. Juga dilengkapi empat set meja dan kursi, payung kafe, neon box, serta pelatihan karyawan.

Selain biaya investasi awal, Big Burger membebankan biaya keanggotaan di luar Yogyakarta sebesar Rp 100.000 per bulan. Dengan harga per porsi Rp 7.000 sampai dengan Rp 11.000 di Yogyakarta, harga akan berubah tergantung lokasi mitra.

Semakin jauh lokasi mitra dari Big Burger pusat yaitu Yogyakarta, maka harga kemungkinan akan mengalami kenaikan. Sebab, ongkos kirim bahan baku dibebankan kepada mitra. Beban ongkos kirim membuat manajemen Big Burger membuka kesempatan bagi mitranya untuk menaikkan harga jual.

Daru menjanjikan, omzet yang cukup memikat bagi para mitra. Untuk paket booth rata-rata akan mendapat omzet Rp 500.000 sampai Rp 600.00 per hari. "Untuk mini gerai dan master bisa dua kali lipat," kata Daru.

Dengan omzet sebesar itu maka paket mini gerai dan master bisa balik modal dalam waktu lima bulan. Sebab, paket ini memiliki tempat yang lebih besar, sehingga membuat pelanggan memiliki waktu santai yang banyak. "Gerai ini dapat dijadikan tempat untuk berkumpul kaum muda-mudi," katanya.

Selain itu, mitra waralaba mini gerai dan gerai master dapat menjual aneka minuman sebagai pelengkap. Penjualan minuman dapat membantu mendongkrak laba. Adapun untuk booth standar, balik modal yang dijanjikan lebih lama antara enam sampai tujuh bulan setelah beroperasi.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/76630/Wah-bisnis-burger-mulai-klenger