Tampilkan postingan dengan label kiat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kiat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 September 2011

Menyiasati Produktivitas yang Rendah

PDF Cetak E-mail

man_with_laptop
Produktivitas kerap menjadi masalah bagi sebuah bisnis tanpa memandang usia. Patut diketahui bahwa ada beberapa waktu yang menjadi saat-saat puncak tingkat produktivitas seseorang. Di satu waktu seseorang bisa sangat produktif sementara di saat lain ia kurang produktif dan kurang fokus. Maka dari itu, bekerja keras di luar waktu-waktu terbaik itu bisa dipastikan hanyalah pembuangan waktu dan tenaga karena hasilnya tidak maksimal dan lebih lama.


Mengetahui kapan puncak produktivitas Anda ialah sebuah kiat yang telah banyak dibahas dan sekali lagi perlu ditekankan bahwa jam-jam terbaik Anda hanyalah yang paling berharga. Bahkan jika Anda memiliki banyak waktu di kantor atau mengerjakan aktivitas bisnis, Anda bisa melakukan kegiatan yang lebih membosankan ke jam-jam saat tingkat produktivitas lebih rendah merupakan trik yang bisa ditempuh. Dengan begitu, Anda masih bisa tetap produktif tanpa harus kehilangan akal sehat.

Jadi, tanpa mempedulikan apa profesi Anda, daripada terus menerus bekerja selama 8 jam, Anda bisa mencoba berhenti setelah dua jam bekerja dengan baik. Lakukan aktivitas lainnya selama beberapa jam kemudian kembalilah dan lakukanlah kegiatan semula dengan lebih berapi-api. Ini lebih baik daripada Anda memaksakan diri meneruskan untuk mengerjakan satu aktivitas padahal energi dan fokus Anda untuk itu sudah benar-benar kering.

Nah, bagaimana jika Anda belum tahu persis saat puncak produktivitas Anda? Cobalah untuk melakukan pemetaan energi selama satu hari bekerja. Cara lain untuk menggenjot produktivitas ialah dengan mengelola waktu dengan lebih bijak. Caranya ialah dengan menggunakan “proyek yang tertunda”, terapkan sebuah siklus kerja 30/30 menit, dan fokuslah pada 1 hingga 3 jenis kegiatan dalam sehari. Alihkan perhatian Anda dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya untuk mendapatkan pikiran yang lebih segar.

Lalu kapan kita bisa mengetahui kita tidak bekerja dengan produktif dan harus beralih ke kegiatan lain? Sederhana saja. Saat Anda merasa bahwa Anda terlalu memaksakan diri untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan, bisa dipastikan Anda tidak sedang bekerja dengan produktif. Beranjaklah dan kerjakan sesuatu yang lain yang tidak menuntut Anda untuk berpikir terlalu banyak.

Semakin produktif seseorang saat bekerja, semakin baik stabilitas pekerjaannya, peluang promosinya juga lebih tinggi. Dan begitu juga potensi rekrutmen. Semuanya akan menstabilkan dan meningkatkan pendapatan pribadi, menyeimbangkan aspek-aspek dalam kehidupan Anda. Sekali lagi produktivitas ialah tentang kualitas bukan kuantitas.

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/183-hrd/8973-menyiasati-produktivitas-yang-rendah.html

Rabu, 07 September 2011

Kiat Saat Laba Usaha Stagnan

PDF Cetak E-mail
Selasa, 06 September 2011 09:19
stagnant0911Banyak usaha rintisan yang ‘berhasil’ selama beberapa tahun terakhir dalam mengatasi tantangan dalam memulai bisnis, termasuk penggabungan usaha, pengembangan layanan, pendanaan dan pengaturan operasional. Namun mereka masih belum meraih laba yang tumbuh secara sehat.

Terasa tidak menyenangkan saat kita berada pada fase plateau (datar), melakukan rutinitas seperti membayar gaji karyawan, melihat mereka mendapatkan penghasilan lebih banyak dari yang Anda kantongi sebagai pemilik/ pendiri usaha. Di tahap ini, Anda mungkin berharap untuk bekerja dengan valuasi bisnis yang baik untuk menarik lebih banyak pembeli potensial atau setidaknya memiliki uang untuk biaya kuliah anak Anda kelak.

Jika Anda ada dalam kategori ini, pertama-tama ketahuilah bahwa Anda tidak sendirian. Namun kemudian Anda harus mencermati nasihat dan saran yang diberikan oleh Patricia Sigmon, seorang penulis buku bisnis. Berikut ialah kiat-kiat dari Sigmon bagi Anda yang tengah berusaha mengatasi tantangan dalam peningkatan laba usaha:

Kiat #1: Selalu hadir dan terhubung
Penting bagi Anda untuk terlihat menonjol dalam persaingan dan selalu tunjukkan reputasi Anda. Akreditasi, lisensi, dan sertifikasi baik untuk usaha dan pegawai secara individu bisa membuat Anda lebih unggul dalam kompetisi yang sengit. Bangunlah reputasi baik secara offline dan online. Secara offline, Anda bisa memperluas jejaring relasi dengan berkenalan dan berkomunikasi tatap muka. Secara online, Anda bisa gunakan jejaring sosial, situs usaha, dan blog untuk berhubungan dengan klien dan calon klien serta membangun aliansi bisnis strategis.

Kiat #2: Maksimalkan arus kas
Salah satu cara terbaik untuk membuat arus kas menjadi stabil ialah memberikan retainer pra bayar atau rencana pembayaran berjalan. Kontrak pemeliharaan ialah cara lain untuk menciptakan sumber pemasukan baru. Pertimbangkan biaya pembaruan kontrak setiap bulan atau tahun dan aturlah pembayaran kredit untuk hindari biaya atau memanfaatkan diskon dan persyaratan yang lebih baik.

Kiat #3: Rampingkan biaya manajemen
Susunlah sebuah sistem yang ramah pengguna dan pastikan Anda memiliki waktu administratif ke dalam biaya-biaya proyek, tarif per jam, atau tarif berjalan Anda. Otomatisasi akan membuat usaha berjalan lebih efisien dan akan memangkas biaya manajemen.

Kiat #4: Perbaiki pemasaran
Kini pemasaran selalu berkaitan dengan kecepatan. Semakin cepat usaha Anda dihubungi dan merespon pelanggan, semakin bagus kredibilitasnya di mata mereka. Dengan hadir di dunia maya, seperti Facebook dan LinkedIn, peluang untuk berkomunikasi secara instan semakin mudah. Adakanlah rapat kelompok, presentasi penjualan dan promosi khusus menggunakan webinar (web seminar), webcast dan podcast daripada harus berjalan ke luar kota untuk menemui pelanggan satu persatu. Jangan lupa untuk mengukur semua upaya pemasaran itu untuk melihat mana yang paling hemat biaya.

Kiat #5: Jadikan setiap orang staf penjualan
Tanyakan  pada karyawan apa yang mereka hendak lakukan untuk menumbuhkan bisnis Anda, perbaiki masalah yang ada atau memangkas biaya. Gabungkan semuanya. Bersikaplah fleksibel dengan menyingkirkan deskripsi pekerjaan yang terlalu mengikat. Buka kesempatan selebar mungkin bagi karyawan untuk terlibat dalam penjualan, upaya pendorong tumbuhnya laba, dan pengembangan ide. Berikan imbalan bagi karyawan yang berusaha lebih untuk mewakili perusahaan di dalam dan di luar pekerjaan.

Kiat #6: Ubah aturan kerja
Tantangan yang ada ialah bagaimana menghasilkan penjualan lebih banyak sembari mengurangi pengeluaran dan menyiasati proses administratif. Untuk jasa, coba untuk adopsi model penjualan berbasis hubungan dengan memberikan banyak alasan bagi klien Anda (termasuk insentif finansial) untuk selalu kembali pada Anda. Jagalah kantor Anda selalu efisien.

Apakah layanan Anda diganti? Temukan kembali diri Anda dalam pasar modern: Jika Anda seorang instruktur teknik berbayar dan kelas Anda menyusut, berikan pelatihan melalui dunia maya. Daripada menjual layanan Anda ke siapa saja, cobalah memperluas layanan Anda secara vertikal dengan membidik industri-industri yang Anda sudah akrabi dan sukses di dalamnya.

Seorang entrepreneur yang telah merawat usaha rintisannya seperti seorang anak yang masih enggan utnuk mundur dan membuat perubahan yang harus diwujudkan. Namun jangan khawatir. Jika memulai bisnis bisa membuat Anda menjadi pribadi yang super kreatif, mengubah model bisnis Anda untuk memenuhi permintaan pasar yang baru, yang pada gilirannya akan menghasilkan struktur yang lebih menguntungkan bisa juga sama menyenangkannya. (*/Akhlis)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/amankan-bisnis/10869-6-kiat-bagi-usaha-jasa-saat-laba-stagnan.html

Kiat Menggaet Pembeli dan Mitra Bisnis "Online"

Kiat Menggaet Pembeli dan Mitra Bisnis "Online"
Wardah Fazriyati | wawa | Selasa, 6 September 2011 | 11:46 WIB

Foto menarik dan menjadi sarana visualisasi produk bisa membantu meningkatkan imej produk dalam bisnis online.

KOMPAS.com - Bisnis online terbilang lebih praktis, mudah, minim biaya dibandingkan membuka toko fisik. Selama koneksi internet tak putus, bisnis online bisa dijalankan kapan dan di mana saja. Namun ada faktor lain yang juga turut menyukseskan bisnis online, yakni branding.

Branding produk demi meningkatkan imej penting dikelola dengan baik dalam berbisnis online. Inilah yang dibuktikan Muri Handayani (27) dan Dessy Artha (31) melalui bisnis online jilbab ninja RaZha dengan sistem keagenan dan distributor online, berbasis di Bandung, Jawa Barat.

Kualitas dan inovasi produk, serta skema penjualan melalui keagenan menyukseskan bisnis online jilbab ninja RaZha. Tak berhenti sampai di situ, keuletan dua perempuan muda ini dalam memasarkan produk dan menggencarkan branding juga turut berkontribusi.

"Imej penting dan mendorong penjualan jilbab nina RaZha," kata Handayani yang akrab disapa Hani ini kepada Kompas Female di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Kemampuan branding jilbab ninja RaZha sukses mendobrak penjualan melalui bisnis online. Hanya dalam dua bulan pertama, omzet bisnis ini mencapai Rp 55 juta. Hani dan Dessy berhasil menjual 3.300 potong jilbab per akhir Agustus 2011, sejak produksi pertama pada Mei 2011 lalu.

Foto produk
Hani dan Dessy mengatur pembagian tugas. Adalah tugas Hani untuk menggencarkan pemasaran dan promosi melalui internet. Menurut Hani, cara yang dinilainya ampuh untuk menggaet pembeli online di antaranya memberikan gambar produk yang berkualitas dan menarik.

"Dengan foto produk yang menarik, pembeli online bisa mendapatkan gambaran mengenai produk yang dijual. Apalagi jika ada foto cara pakai produk dengan ragam gaya, sehingga memberikan inspirasi gaya bagi pembeli," kata Hani yang memasang foto produk yang dikenakan model sekaligus memberikan contoh cara memakai kerudung aneka gaya.

Sementara bagi agen dan distributor, foto produk yang berkualitas mempermudah mereka dalam berjualan. Foto produk memfasilitasi pebisnis dalam menjual produk, tambah Hani.

Update penjualan
Selain itu, kebiasaan update status di berbagai media sosial juga turut memengaruhi penjualan. Apalagi jika di status tersebut menyebutkan jumlah item yang terjual. Untuk bisnis online yang mengandalkan keagenan, catatan penjualan produk yang diinformasikan seperti ini menjadi ukuran keberhasilan produk dan penjualan. Dengan begitu, agen atau distributor yang berminat berbisnis online bisa mengukur sejauhmana peluang bisnis online tersebut.

"Dengan mencantumkan berapa item jilbab ninja yang terjual, pengguna internet bisa menilai produk. Bagi pengguna atau pembeli, informasi ini menunjukkan jilbab tersebut banyak peminatnya. Sementara bagi pebisnis, mereka akan menilai peluang bisnis dari jumlah jilbab yang terjual tersebut, termasuk perkembangan penjualannya," jelas Hani.

Kepercayaan menjadi faktor penentu keberhasilan bisnis online. Dengan semakin banyaknya produk terjual, dan hal ini diinformasikan dengan baik melalui internet, peluang bisnis semakin terbuka lebar. Tak ayal jika kemudian semakin banyak lagi pembeli juga mitra bisnis yang tertarik dan percaya dengan produk online tersebut.

Sumber:
http://female.kompas.com/read/2011/09/06/11464526/Kiat.Menggaet.Pembeli.dan.Mitra.Bisnis.Online

Selasa, 06 September 2011

7 Kiat Sukses Solopreneur


Views :1795 Times PDF Cetak E-mail
Selasa, 06 September 2011 10:37
Umumnya, pada awal-awal usaha atau pada masa perintisan, bisnis rumahan berskala kecil dikelola oleh pelaku tunggal atau bisa disebut dengan solopreneur. Karena hanya di-maintain oleh satu orang, banyak yang sangsi akan keberhasilan bisnis tersebut di masa mendatang.
solopreneurAnggapan itu tentu saja salah. Meski hanya dikelola oleh satu orang tanpa bantuan karyawan serta berlokasi di rumah tanpa ada gedung atau ruko sewaan, bisnis itu tetap potensial meraup untung besar bila si pelaku memanfaatkan daya kreatifitasnya secara maksimal.
Berikut adalah tujuh kiat meningkatkan omzet bisnis rumahan yang dikelola oleh solopreneur seperti yang dilansir dari situs Entrepreneur.com.

Memanfaatkan teknologi
Dengan bantuan newsletter dan beberapa sosial media yang kini sedang booming serta blog, solopreneur bisa menggaet konsumen sebanyak yang diinginkan. Kehadiran video conference juga dapat membantu meningkatkan kredibilitas bisnis rumahan.

Outsource
Saat ini, begitu banyak outsourcing yang muncul dengan menawarkan jasa berbiaya murah. Anda bisa mendelegasikan sebagian kecil tugas atau pekerjaan kepada mereka. Seperti penyusunan pembukuan misalnya. Anda cukup meminta bantuan akuntan yang bisa dipercaya untuk melakukan penyusunan pembukuan tersebut.

Jeli akan peluang
Kejelian dalam melihat peluang sangat mutlat bagi solopreneur. Karena hanya sendiri dalam mengelola bisnisnya, solopreneur dituntut untuk bisa multitasking, mulai dari menciptakan strategi pemasaran, merancang business plan, me-manage konsumen hingga melihat segala macam peluang yang bisa dijajaki demi meningkatkan omzet.

Memperlakukan bisnis selayaknya bisnis
Jangan memperlakukan bisnis yang sedang Anda tangani sebagai usaha sampingan semata. Tapi, kelolalah secara profesional. Susunlah segala macam dokumen yang berkaitan dengan bisnis Anda itu secara sistematika. Cara-cara itu bisa membuat bisnis Anda tampak profesional di mata konsumen sehingga menambah kepercayaan serta loyalitas konsumen.

Lakukan investasi
Benar adanya bahwa melakukan bisnis rumahan secara tunggal bisa menekan pengeluaran semaksimal mungkin. Meski demikian, investasi tetap dibutuhkan untuk modal ekspansi usaha.

Jangan melupakan tujuan Berbisnis
Apa sebenarnya tujuan Anda berbisnis? Apakah hanya sekadar menambah penghasilan keluarga atau ingin menciptakan kerajaan bisnis yang bisa dinikmati anak serta cucu kelak? Ada baiknya, solopreneur juga mengetahui dengan baik, visi serta misinya dalam berbisnis. Buatlah business plan untuk membuat Anda tetap fokus menjalani bisnis dan seiring perkembangan bisnis tersebut, buatlah business plan yang lebih update.

Jalin relasi dengan klien
Walau lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dalam mengelola roda bisnis, tapi perlu diingat bahwa menjalin relasi dengan klien atau konsumen bagi solopreneur juga sangat penting. Membangun networking adalah salah satu hal wajib yang harus dilakukan oleh semua entrepreneur. Networking bisa memperluas wawasan, bisnis serta kolega yang dibutuhkan solopreneur dalam mengembangkan bisnisnya. (*/ely)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/174-rencana-bisnis/10872-tujuh-kiat-bagi-solopreneur-untuk-kembangkan-bisnis.html

Minggu, 21 Agustus 2011

Sukses Kelola Bisnis Keluarga Sampai ke Luar Negeri



PDF Cetak E-mail
Melakukan usaha di era globalisasi ini biasanya berkiblat pada hal modern dan menanggalkan nilai-nilai budaya. Kendati tidak setiap orang seperti itu.

Seperti yang digeluti U'us, pengelola Sanggar Reret Art Shop. Sanggar itu adalah sebuah usaha kerajinan, patung kayu, primitif, kerjinan dari tulang dan lain-lain yang beralamat di Jalan Raya Bandung-Sumedang Km 19 Cibeusi, Jatinangor, Kabupaten Sumedang.

uus_reret0811Sanggar Reret ini dikelola oleh seorang bapak yang bernama Dr. HC. Dayat Supriatna, bersama keluarganya termasuk anaknya yang bernama U'us.

U'us menceritakan awal mulanya usaha sanggar ini hanya bermodalkan Rp20 ribu dengan pinjaman uang dari bank. Lanjutnya dengan tekad dan kerja keras usaha ini mulai kelihatan berhasil dengan dimulai menjual dengan mendatangi rumah ke rumah dan mulut ke mulut.

"Awal mulanya usaha ini, dulu hanya dari rumah ke rumah, mulut ke mulut, door to door-lah, dengan modal awal usaha kami hanya Rp20 ribu pada tahun 1965," ungkap Uus kepada Okezone.

Usaha Sanggar Reret ini, dijelaskan U'us adalah usaha yang turun temurun dari tahun 1965, namun baru berhasil setelah tahun 1997, usaha Sanggar ini mulai baru bisa menghasilkan. U'us mulai berhasil mempekerjakan beberapa pegawai dan mulai mengekspor hasil kerajinannya.

"Sampai 1997 masih sendiri, kita jual sendiri. Mulai keangkatnya tahun 1997, setelah mulai disentuh instansi pemerintah," ucapnya.

Dia menceritakan, pemerintah tertarik membiayai UMKM ini setelah melihat sang bapak pencipta usaha melakukan show atau pameran ke luar negeri, yaitu ke Jerussalem dengan biaya sendiri dan bantuan seorang teman. Setelah melihat hasil pameran si bapak di luar negeri, pemerintah baru tertarik untuk membiayai Sanggar ini.

Dia menambahkan, setelah mendapatkan sentuhan pemerintah ini, Sanggar pun mulai berkembang, di mana pada 1997 Sanggar Reret mempekerjakan sekira 50 karyawan. "Namun pekerja kita sekarang 25-an," tambahnya.

Tidak tanggung tanggung, hasil kerajinan yang dirintis bapaknya, Uus beserta keluarganya ini sekarang telah melalangbuana ke luar negeri, dimana sekira 75 persen dari hasil produk dijualnya ke luar negeri. Adapun omzet penjualan hasil produk kerajinan ini mencapai Rp20 juta di setiap even yang dilakoninya. Barang yang dijual pun beragam harganya, mulai dari Rp15 ribu sampai Rp3 juta. "Kalau ada even begini seperti pameran, inacraft omzet kita bisa mencapai Rp15 juta sampai Rp20 juta, tapi enggak selalu tetap juga. Kalau enggak ada event biasanya kita juga masukin barang ke factory outlet," jelasnya

Dia juga menceritakan, ketika terjadi krisis moneter 1998 usaha kerajinan ini malah mendapatkan untung karena kebanyakan konsumen pasar mereka adalah orang orang luar negeri. Sehingga dengan adanya krisis ini malah menguntungkan karena tingginya harga dolar. "Malah bagus 1998, kebanyakan beli orang luar," katanya.

Walaupun demikian dia mengaku untuk penjualan ke luar negeri ini, Indonesia masih kalah jauh dengan Thailand, padahal menurut Uus barang hasil kerajinan Indonesia jauh lebih bagus dibandingkan barang asal Thailand.

Uus menjelaskan, kekalahan Indonesia dalam merambah pasar internasional ini adalah susahnya izin untuk berdagang atau ekspor keluar negeri, sehingga Indonesia kalah bersaing dengan Thailand. "Untuk ekspor keluar negeri barang kita 75 persen kita ekspor, tapi kita hanya jual ke eksportir aja, dan dalam ekspor kita juga masih kalah dengan Thailand, perizinan susah ke luar, makanya ini adalah salah satu faktor susahnya bersaing ke luar," pungkasnya.
Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/manufaktur/10616-sukses-kelola-bisnis-keluarga-sampai-ke-luar-negeri.html

Pilah-Pilih Jejaring Sosial yang Tepat untuk Bisnis




PDF Cetak E-mail
social-netw

Jejaring sosial sesungguhnya ialah jaringan bisnis baru. Namun Anda harus memahami budaya yang berbeda agar bisa menggunakannya dengan baik. Misalnya, minat pribadi seseorang ialah entrepreneurship dan MySpace diperuntukkan bagi para remaja muda. Jika seseorang berusia paruh baya menggunakan MySpace mungkin bisa diibaratkan seperti orang tua yang bergabung dalam sebuah pesta perayaan kelulusan anak sekolah menengah atas.  Setiap orang merasa aneh dan kurang nyaman.

Jejaring sosial memiliki karakteristiknya sendiri sehingga Anda harus benar-benar mempelajarinya sebelum memutuskan untuk terjun ke dalamnya untuk tujuan bisnis. Terdapat beberapa aturan tak tertulis yang sejumlah orang belum sadari keberadaannya.

Setiap jejaring sosial  mengklaim menjadi layanan yang paling bisa mengakomodasi para pebisnis untuk bersosialiasi dan menjual produknya tanpa atau dengan sedikit modal.

Berikut ialah penjelasan singkat tentang lansekap berbagai jejaring sosial yang terkait dengan jaringan bisnis untuk para entrepreneur dan usaha rintisan:
  • Twitter. Percaya atau tidak, banyak entrepreneur lebih menyukai Twitter dibandingkan jejaring sosial lain. Twitter menjadi tempat membaurnya 75 juta pengusaha perusahaan, individu, selebritis, bahkan politikus. Inilah versi modern surat kabar tradisional. Cukup dengan klik tautan dalam sebuah tweet, Anda bisa dapatkan berita, thread gosip selebriti, kabar perekonomian terkini, atau perkembangan dunia bisnis terkini. Sebagai entrepreneur, Anda bisa  bertemu dengan banyak entrepreneur antusias lainnya di Twitter.

  • Facebook. Inilah ‘raja rimba’ dalam belantara jejaring sosial. Dengan jumlah pengguna di seluruh dunia mencapai setengah miliar, Facebook menjadi tempat paling potensial bagi para pebisnis sekaligus entrepreneur untuk menjangkau pelanggan, berinteraksi dengan sesama entrepreneur, dan sebagainya. Anda bisa ciptakan group atau bergabung dalam group yang sudah ada untuk bisa mendapatkan kabar terkini dan berdiskusi tentang isu-isu terkini dengan orang lain.

  • LinkedIn. Jejaring sosial ini disesaki oleh 60 juta pengguna dari kalangan profesional, yang sebagian besar ialah marketer dan eksekutif. Terdapat sebuah group seperti “Applied Entrepreneurship”di mana pertukaran pendapat begitu hidup mengenai nilai hak paten, legalitas MLM, dan sebagainya. Gen Y (generasi muda yang lahir setelah 1980) mungkin merasa tidak nyaman di LinkedIn dibandingkan di Twitter atau Facebook karena kesannya yang sangat serius dan berbau bisnis yang kental. Namun justru itulah yang membuat LinkedIn sebagai sumber informasi bagi entrepreneur yang tak kalah penting.

  • MySpace. Jejaring sosial yang baru-baru ini mengalami penurunan jumlah pengguna ini didominasi oleh para musisi dan remaja awal. Namun jangan salah karena ditemui juga kelompok “Entrepreneurs” dan “Business Networking” di dalamnya. Dibandingkan LinkedIn, diskusi berbau bisnis tidak terlalu ramai di MySpace.

  • Koprol. Entrepreneur di tanah air tidak boleh melupakan jejaring sosial berbasis lokasi satu ini. Sebagai pengguna, kita akan diberikan opsi “Profil Bisnis” yang bisa menjadi tempat berpromosi usaha dan berinteraksi dengan sebanyak mungkin pelanggan bisnis kita. Bahkan akun Koprol bisnis ini bisa dikelola oleh banyak admin dan diintegrasikan dengan Twitter serta Facebook.

  • Google Plus. Siapa tidak kenal jejaring sosial baru ini? Menurut Christian Oelstein (manajer produk Google Plus), Google Plus belum mengakomodasi profil untuk bisnis/ usaha/ korporat dan jika pun ditemukan, itu hanyalah bagian eksperimen tim Google Plus. Namun tentu Anda tidak dilarang untuk sedikit melakukan upaya trial-and-error dengan profil pribadi Anda. Dengan jumlah pertumbuhan pengguna dan tingkat kenyamanan penggunaan yang terus menerus diperbaiki, tak heran jika Google Plus akan menjadi salah satu jejaring sosial yang potensial untuk suburkan bisnis.

  • Jejaring sosial lainnya (Ryze, Plaxo, Orkut, Ecademy, Bebo, Friendster, dan sebagainya). Ada begitu banyak jejaring sosial di luar sana, bahkan ada yang belum pernah kita dengar. Sejumlah layanan memang diperuntukkan bagi  teritori tertentu dan terkenal di negara tertentu saja. Orkut, misalnya, ada di India dan Asia. Sementara Ryze lebih dikenal di Eropa.


Sebelum Anda memtuskan untuk memilih jejaring sosial mana yang sesuai untuk bisnis Anda, pilihlah beberapa yang terlihat paling menjanjikan. Cobalah dan kemudian tentukan rentang waktu untuk mencoba mengukur efektifitasnya. Anda akan terkejut dengan banyaknya jumlah orang dan prospek yang berdatangan.
Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/bina-usaha/49-rencana-bisnis/10374-pilah-pilih-jejaring-sosial-yang-tepat-untuk-bisnis.html