Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 September 2011

Teknik Kreatif Pemanfaatan Keterbatasan Lahan

Oleh : ICHSAN KURNIAWAN
 
Pekarangan merupakan lahan terbuka yang terdapat di sekitar tempat tinggal. Lahan ini jika dipelihara dengan baik akan memberikan lingkungan yang menarik, nyaman dan sehat serta menimbulkan kebetahan bagi empunya rumah. Selain itu pemanfaatan yang optimal walaupun sebagai manifestasi penyaluran hobi akan mendatangkan beragam keuntungan. Untuk pemenuhan kebutuhan dapur sehari-hari, estetika, hobi bahkan untuk keuntungan materil yang komersil, penanaman pekarangan dapat dilakukan. Selain itu hal ini tak lain dan tak bukan bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui kemandirian masyarakat tani dengan pemberdayaan potensi yang ada termasuk pekarangan.
Lantas, bagaimana apabila lahan pekarangan atau di sekitar rumah sempit, bahkan yang tersisa hanya halaman depan/ belakang yang minim atau juga berupa teras rumah dengan ukuran yang tak seberapa luas yang telah dicor dengan semen. Lalu, dimana dan bagaimana bisa menanam sementara dalam kondisi dalam keterbatasan seperti ini.
Ada beberapa teknik yang dapat dijadikan rujukan dalam pemanfaatan agar tetap produktif di lahan sempit. Talampot dan vertikultur adalah dua diantaranya yang dapat dipedomani. Teknik ini bisa menjadi solusi dalam masalah keterbatasan lahan.

1.   Tampot/ Talampot
Tampot/ talampot dalam aplikasinya merupakan istilah untuk penanaman ragam tanaman termasuk hortikultura yang dilakukan dalam pot. Hal ini memang sudah akrab sejak lama. Selain tanaman hias, beberapa tahun silam misalnya tabulampot (tanaman buah dalam pot) menjadi trend dengan bermacam komoditi buah seperti mangga, jambu biji, belimbing, jeruk dan lain sebagainya. Bukan hanya sekedar menyalurkan hobi atau pemenuhan kebutuhan buah di rumah, namun tak jarang hasil tabulampot juga menjadi penambah penghasilan (dijual).
Foto by Ichsan Kurniawan
Selain tanaman buah penanaman dalam pot/ polybag dengan komoditi sayuran juga kerap dilakukan. Paling tidak demi mencukupi kebutuhan dapur rumah tangga. Jenis sayuran yang dapat ditanam di pot atau polybag di antaranya bawang-bawangan, jahe, seldri, cabe, pakchoy, bayam dan lain-lain.

2.   Vertikultur
Sementara teknik kedua yakni vertikultur yang merupakan tampot/ talampot yang teknis pemposisian pot/ polybag lebih diatur dengan tingkat produktivitas lebih tinggi daripada penanaman di pot biasa untuk lahan sempit. Hal ini dikarenakan adanya pengaturan posisi dari letak pot-pot tanaman secara vertikal agar lebih dapat memuat banyak tanaman pada lahan yang terbatas.
Pada teknis vertikultur selain penggunaan pot, wadah penanaman sayuran juga bisa dilakukan dengan mensubstitusinya dengan paralon atau memanfaatkan barang-barang bekas seperti keranjang, bambu/ betung, kaleng-kaleng bekas biskuit dan bahan lainnya.
Vertikultur sendiri diambil dari bahasa Yunani. Kata “vertical” yang berarti ke atas/ bertingkat dan “culture” yakni bertanam. Jika diartikan sepenuhnya vertikultur adalah penanaman bertingkat/ ke atas. Sebenarnya teknik ini hanya sebagai bentuk pengoptimalan pengusahaan budidaya di tengah lahan yang terbatas.
Beberapa keunggulan dari penerapan teknik ini yaitu tetap bisa produktif meski lahan terbatas, dapat memenuhi kebutuhan pangan tertentu secara mandiri, merangsang kreatifitas dan inovasi serta membuat keindahan tersendiri karena vertikultur mengandung seni pengaturan posisi tanaman agar bisa maksimal. Selain itu yang tak kalah penting, membuat lingkungan yang asri yang konon katanya dapat memberikan sebuah lingkungan terapi (healing) tersendiri dalam hal psikologis.
Teknik ini sendiri sangat fleksibel dan dapat dilakukan siapa saja dengan beragam usia mulai dari anak sekolah sampai usia tua. Keaplikatifannya membuat teknik ini menjadi trend dikalangan perkotaan yang notabene memang mengalami keterbatasan lahan untuk menanam sayuran. Selain itu pemanfaatan ragam barang bekas dapat dilakukan misalnya saja paralon, bambu (betung), bekas minuman gelas dan lain-lain. Pekakas yang dapat digunakan antara lain gergaji, paku linggis dan bor.
Berikut salah satu contoh sederhana pembuatan :
1. Sediakan bambu (untuk lebih sederhana dan bermodal rendah bagi petani) berdiameter 10-15 cm sepanjang 1-2 m
2. Pembatas bagian dalam antar ruas bambu (betung) dilobangi.
3. Buat belahan pada masing-masing ujung yang diberi bahan serupa kayu sebagai tegakan bagi bambu.
5. Buat lobang berdiameter + 2 cm secara bertingkat dan berselangan.
6. Atur jarak sedemikian rupa sehingga kita bisa mendapatkan jarak tanaman yang tak terlalu rapat. Hal ini disesuaikan dengan jenis sayur yang akan kita tanam.
7. Masukkan komposisi media pertanaman.
8. Media juga dapat kita sesuaikan dengan keinginan kita (organik atau konvensional)
8.Tanaman siap ditanam sesuai dengan pilihan kita.
Ctt : kita dapat mengkreasikan jenis dan model pertanaman sesuai dengan selera dan estetika yang kita inginkan

Vertikultur memiliki beberapa varian teknis penerapan di antaranya :
-          Vertiding
-          Vertigar
-          Vertirak
-          Vertitambat
-          Verti gantung
-          Verti keranjang dan
-          Vertikultur dengan talang

Vertiding (vertikultur di dinding) yakni memanfaatkan dinding luar rumah dengan wadah pot. Berbeda sedikit, vertirak (vertikultur rak) memanfaatkan dinding luar namun dengan wadah rak. Teknik ini dapat dilakukan dengan menyusun tiga atau empat baris tanam dalam rak. Rak sendiri dapat mempergunakan bambu, talang air atau paralon sebagai wadah. Selain itu juga teknik vertikultur ini ada yang dimanfaatkan untuk tanaman merambat (vertitambat) dengan memanfaatkan pagar sebagai fasilitas rambat tanaman dengan menjejerkan pot tanaman sejajar dengan pagar.
Pengaturan posisi jarak antar tanaman ke atas bisa diatur sedemikian rupa tergantung tanaman yang ditanam dengan batas ketinggian. Pengaturan ini menjadi seni tersendiri yang akan mendatangkan kesan keindahan dalam tata letaknya.
Pemenuhan kebutuhan pupuk terhadap budidaya skala ini tidaklah sulit. Sampah organik yang berasal dari dapur kita dapat diolah dan dijadikan nutrisi bagi tanaman. Mulai dari air cucian beras, cangkang telur, sisa-sisa sayur dan buah, cucian daging/ ikan dan segala macam sampah organik. Dengan memberdayakan bahan lokal tersebut, kebutuhan akan sarana produksi juga tidaklah menjadi kendala dan menimbulkan biaya yang banyak. Sementara hasilnya untuk kebutuhan dapur juga sudah dapat dinikmati tanpa merogoh kocek.

Minggu, 28 Agustus 2011

Kota Gaplek, Desa Bioetanol

(Upaya Peningkatan Kualitas Petani Singkong di Wonogiri)

PENDAHULUAN


Latar Belakang

Di Indonesia tanaman ubi kayu (singkong) sudah lama dikenal masyarakat dan tumbuh secara alami hampir di seluruh nusantara. Di beberapa daerah, tanaman ini masih menjadi sumber makanan pokok karena kandungan karbohidratnya yang cukup tinggi. Selain itu, singkong juga sering dijadikan sebagai jajanan dengan beragam variasinya.
Di berbagai daerah yang memiliki lahan kritis dan kering, singkong sering dijadikan sebagai solusi cadangan pangan. Apabila terjadi krisis pangan yang disebabkan karena gagalnya penanaman padi, maka singkong dijadikan sebagai solusi alternatif pemenuhan kebutuhan makanan pokok.

Sentra tanaman singkong umumnya banyak ditemukan di kawasan yang mengalami kesulitan air, seperti kabupaten Wonogiri dan sekitarnya. Kawasan tersebut tergolong kawasan krisis air dan mengalami kemunduran dalam hal pertanian. Sebagian besar masyarakat lebih memilih untuk menanam singkong daripada padi karena tanaman tersebut memiliki ketahanan yang hebat dan tidak membutuhkan banyak air.
Setelah panen, umumnya singkong tersebut dijemur menjadi gaplek. Dari gaplek tersebut muncul berbagai hasil olahan produk makanan seperti tiwul, dan sejenisnya. Maka tidak mengherankan jika kemudian kabupaten Wonogiri dikenal dengan Kota Gaplek, mengingat sebagian besar masyarakatnya mengkonsumsi gaplek sebagai makanan pokok.
Hingga saat ini, masyarakat wonogiri masih mempertahankan budaya menanam singkong. Hampir semua ladang di Wonogiri pasti terdapat tanaman singkong, hal ini dimaksudkan untuk menjaga ketahanan pangan jika suatu saat terjadi gagal panen tanaman padi. Masyarakat tidak ingin terlalu bergantung pada tanaman padi.
Seiring dengan semakin berkembangnya teknologi, pertanian di kabupaten Wonogiri perlahan mulai membaik. Gagal panen memang sesekali terjadi namun kondisinya tidak separah sebelumnya. Hal ini kemudian berpengaruh pada tanaman singkong, masyarakat mengalami kemajuan dan mulai meninggalkan konsumsi singkong. Tanaman tersebut memang masih ditanam oleh masyarakat Wonogiri namun fungsinya sudah tidak lagi menjadi cadangan pangan tetapi berubah menjadi pakan ternak. Singkong yang sudah kering dan menjadi gaplek umumnya disimpan di gudang untuk dijual kepada pengepul gaplek.
Terjadi penurunan strata sosial terhadap gaplek. Hal ini dapat dilihat dari catatan Dinas Pertanian (Dipertan) Wonogiri yang menyebutkan bahwa produksi singkong di Wonogiri mencapai 1.017.595 ton, namun yang dikonsumsi hanya 64.136 ton (Wonogiri: 2009). Sisanya sebesar 953.459 ton hanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Petani masih menganggap singkong sebagai tanaman sampingan sehingga pengolahan yang diberikan nyaris tidak ada.
Padahal, singkong yang sudah menjadi gaplek tersebut sangat potensial untuk diolah menjadi dan sangat bermanfaat bagi dunia industri. Kebutuhan etanol di Indonesia pun sangat besar, sayangnya hal itu tidak diimbangi oleh pemenuhan produksi. Saat ini hanya terdapat 14 pabrik etanol di Indonesia, sehingga usaha tersebut memiliki potens yang sangat besar.
Potensi singkong yang sedemikian besar itu mengundang banyak investor untuk mengolah dan menanamkan modal di kabupaten Wonogiri. Bahkan, sebuah perusahaan bernama Guang Xi State Farms milik pemerintah kabupaten Wuming, Provinsi Guang Xi, China berencana untuk membuat Hutan Ketu, Wonogiri menjadi suatu kawasan industri (Wonogiri: 2008).
Di hutan tersebut rencananya akan dibangun 50 Perusahaan bioetanol yang akan menyerap 15.000 tenaga kerja. Selain berfungsi sebagai penyerap tenaga kerja, pembangunan perusahaan tersebut ditujukan agar potensi singkong yang ada di Wonogiri dapat dimanfaatkan secara baik dan bernilai ekonomis.
Rencana tersebut memang sangat menggiurkan, mengingat keberadaan perusahaan tersebut dapat mengatasi masalah pengangguran di Wonogiri, selain itu hasil investasi tersebut dapat meningkatan pendapatan asli daerah Wonogiri. Pola hidup masyarakat pun akan terangkat secara strata sosial, dari masyarakat tradisional menjadi masyarakat industri.
Namun sayangnya perjanjian kerjasama yang telah dirancang selama 3 tahun (2007-2009) tersebut gagal untuk diwujudkan. Hal ini disebabkan karena kabupaten Wonogiri memiliki keterbatasan air bersih, sehingga menghambat proses produksi pembuatan bioetanol. Akan tetapi, masalah ini bisa diselesaikan dengan melakukan penyulingan air laut yang ada di selatan kabupaten Wonogiri. Penyulingan ini memang membutuhkan banyak biaya, tetapi hal tersebut setara dengan keuntungan yang diperoleh dari bioetanol.
Masalah lainnya adalah terbatasnya jumlah sumber daya manusia (SDM) di Wonogiri yang dapat direkrut kedalam perusahaan bioetanol. Pemahaman masyarakat Wonogiri terkait dengan bioetanol masih sangat minim, padahal sasaran utama dari program ini adalah masyarakat Wonogiri. Sebenarnya masalah ini dapat diselesaikan dengan mengambil tenaga kerja dari luar Wonogiri, namun hal tersebut sangat beresiko karena dapat menimbulkan gesekan horisontal.
Masalah keterbatasan SDM tersebut menyebabkan investor dari China tersebut angkat kaki dari Wonogiri, peluang pertumbuhan ekonomi yang dibayangkan pun gagal direalisasikan. Diperlukan suatu penyelesaian khusus agar dapat meningkatkan kualitas SDM di Wonogiri.
Berdasarkan hal tersebut, kami tertarik untuk menyelesaikan masalah terkait bagaimana cara meningkatkan kualitas SDM Wonogiri di bidang bioetanol? Serta bagaimana cara mengubah paradigma masyarakat Wonogiri dari “Gaplek untuk Pakan Ternak” menjadi “Gaplek untuk Bioetanol”?

Manfaat dan Tujuan

Manfaat dan tujuan dari diadakannya Program yang bernama ”Kota Gaplek, Desa Bioetanol” ini antara lain:
  1. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Wonogiri
  2. Mengubah Paradigma masyarakat Wonogiri terhadap produk gaplek
  3. Menambah pengetahuan terkait proses sederhana membuat bioetanol
  4. Meningkatkan taraf hidup masyarakat di desa-desa Wonogiri
  5. Memotivasi daerah penghasil singkong dan gaplek lain untuk dapat memanfaatkan gaplek menjadi bioetanol.
  6. Meningkatkan kreativitas mahasiswa menerapkan ilmu yang didapat
  7. Menambah pengalaman Mahasiswa bersosialisasi dengan masyarakat luas.
GAGASAN
Tanaman ubi kayu di Indonesia sebenarnya memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan. Dalam statistik FAO (2009) disebutkan bahwa produksi ubi kayu di Indonesia menduduki peringkat keempat di dunia setelah Niger, Brasil dan Thailand. Dalam satu tahun, produksi ubi kayu di Indonesia mencapai kisaran 22 juta ton, dengan luas tanam mencapai 1.205.440 ha.
Dari jumlah tersebut, sebagian besar tanaman ubi kayu berasal dari Provinsi Lampung, Jawa Tengah, D. I. Yogyakarta dan Jawa Timur (BPS: 2009). Komoditas ubi kayu tersebut biasanya dijual dalam bentuk manihok atau yang dalam istilah awam dikenal dengan istilah gaplek untuk dijadikan sebagai pakan ternak. Produk tersebut tidak hanya dijual didalam negeri, tetapi juga diekspor ke berbagai negara seperti Italia, Amerika Serikat, China dan berbagai negara lainnya untuk digunakan sebagai program penggemukan hewan ternak (Wonogiri: 2007).
Beberapa daerah bahkan mendapat julukan sebagai kota gaplek karena memiliki tingkat produksi yang sangat tinggi dan menjadi sentra utama bagi produk gaplek. Ambil contoh kabupaten Wonogiri, dalam satu tahun kabupaten ini memiliki lahan ubi kayu seluas 70.330 ha dan mampu menghasilkan 1.205.279 ton ubi kayu, umumnya produk tersebut diolah dengan cara dijemur dan menghasilkan ubi kayu kering bernama  gaplek. Gaplek tersebut kemudian dijual kepada pengepul, dari para pengepul itulah gaplek berpindah dari perusahaan satu ke perusahaan lain hingga akhirnya mencapai perusahaan di Surabaya untuk diekspor ke berbagai negara (Wonogiri: 2008).
Hingga saat ini upaya pemanfaatan ubi kayu masih tebatas pada pembuatan gaplek. Cara ini paling digemari oleh masyarakat karena dinilai sangat praktis. Setelah dipanen, ubi kayu cukup dibersihkan dan dikeringkan hingga menjadi gaplek. Setelah kering, biasanya ada pengepul yang sudah siap membeli produk tersebut. Tanpa membutuhkan banyak tenaga dan pikiran, uang hasil produk gaplek langsung bisa dinikmati.
Hanya saja kelemahan dari produk ini adalah harganya yang sangat rendah berkisar antara Rp. 300 hingga Rp. 700 per kilogram, tergantung harga yang ditentukan oleh para pengepul. Para petani ubi kayu tidak memiliki nilai tawar yang cukup tinggi karena gaplek yang sudah dijemur harus segera dijual. Jika terlalu lama disimpan di gudang, harga gaplek akan semakin jatuh.
Permasalahan tersebut sebenarnya disebabkan karena keterbatasan yang dimiliki para petani dalam mengolah ubi kayu. Pengetahuan para petani tersebut masih terbatas pada pengolahan tingkat produk mentah. Padahal jika gaplek tersebut diberi sedikit sentuhan rekayasa pertanian maka akan berubah menjadi sebuah bahan bakar nabati yang terkenal dengan istilah bioetanol atau biofuel.
Produk tersebut memiliki nilai tawar yang lebih tinggi daripada gaplek biasa. Secara hitungan kasar, gaplek yang sudah diolah menjadi bioetanol tetapi belum disuling (destilasi) harganya meningkat hingga Rp. 1.700/kg. Adapun gaplek yang sudah diolah menjadi bioetanol hingga tingkat destilasi harganya mencapai Rp. 2.000 hingga Rp. 2.400 tergantung pada tingkat kemurnian etanol (Dinas Pertanian TPH Jawa Tengah: 2003).
Dari permasalahan tersebut kami mencoba untuk memberikan solusi awal dengan mengadakan pelatihan pembuatan bioetanol kepada masyarakat Wonogiri. Pelatihan ini diadakan di kecamatan Jatiroto yang berada di kabupaten Wonogiri. Kecamatan ini dipilih karena merupakan penghasil Kacang Mete yang relatif besar di Wonogiri. Selain itu, alasan dipilihnya kecamatan ini sebagai tempat pelatihan adalah tempatnya yang cukup terpencil dengan kondisi masyarakat yang masih tergolong kedalam tingkat pedesaan sehingga dapat menjadi kawasan percontohan terkait dengan usaha pembuatan bioetanol dengan asumsi apabila daerah sekelas Jatiroto dapat berhasil mengembangkan bioetanol, maka teknik ini juga dapat diterapkan di daerah lain.
Sasaran utama dalam pelatihan pembuatan bioetanol ini adalah anak-anak yang masih memasuki usia sekolah (9 hingga 18 tahun). Pemilihan ini didasari pada tingkat produktivitas anak-anak tersebut yang tergolong cukup tinggi. Anak-anak tersebut pada umumnya memiliki semangat yang tinggi untuk belajar diluar kelas dan mengamati dunia baru terutama terkait dunia keilmiahan.
Untuk memudahkan dalam proses pelatihan, kami membagi peserta sesuai dengan tingkat pendidikan yakni SD (Kelas 4 hingga 6), SMP dan SMA. Jumlah peserta dalam pelatihan pembuatan ini berturut-turut adalah 250 anak SD, 150 anak SMP, dan 100 anak SMA. Semua peserta berasal dari berbagai desa dan kelurahan yang ada di Jatiroto, dimana setiap desa diberi kesempatan untuk mengirimkan 30-40 anak guna mengikuti pelatihan bioetanol ini.
Tabel 1. Peserta Pelatihan Pembuatan Bioetanol di Kecamatan Jatiroto
No.Desa/KelurahanJumlah Peserta
SDSMPSMA
1Boto16105
2Brenggolo17107
3Cangkring15105
4Dawungan14108
5Duren15106
6Guno15107
7Jatirejo14105
8Jatiroto251010
9Mojopuro15106
10Ngelo16107
11Pengkol15105
12Pesido16107
13Pingkuk17106
14Sanggrong251010
15Sugihan15106









Keterangan:
  1. Pengambilan peserta diserahkan kepada pejabat desa dan kelurahan setempat yang bekerja sama dengan pejabat sekolah terkait.
  2. Pelatihan dilaksanakan selama 1 kali dalam seminggu (Desa 1-5 pada hari Jumat, Desa 6-10 pada hari Sabtu, Desa 11-15 pada hari Minggu) di Balai desa masing-masing.
  3. Penelitian dilaksanakan selama 2 bulan dari bulan Oktober hingga November 2010.
Dalam pelatihan tersebut kami memberikan berbagai materi terkait pembuatan bioetanol namun tetap disesuaikan dengan tingkat pengetahuan anak. Setiap akhir pertemuan selalu diadakan sesi praktek pembuatan bioetanol secara bertahap agar para peserta tidak merasa jenuh dan lebih aplikatif di lapangan.
Untuk anak SD, pemberian materi masih terbatas pada teknik pembuatan tape dari bahan baku singkong. Teknik pembuatan tape menjadi dasar pengetahuan bagi pembuatan bioetanol. Setiap peserta SD diberi pemahaman sederhana terkait fungsi bakteri Saccharomyce Sp atau yang biasa dikenal dengan nama ragi dalam mengolah singkong menjadi tape.
Pada pendidikan dasar tersebut, peserta tidak dituntut untuk menghasilkan etanol, tetapi lebih pada bagaimana membuat tape yang baik dan enak. Disini para peserta diajarkan bagaimana cara mengolah singkong, memberikan ragi kedalam sngkong dan menutup singkong tersebut agar dapat mengalami proses fermentasi.
Untuk anak SMP, pemberian materi sedikit meningkat dari pembuatan tape menjadi produksi bioetanol setengah jadi. Para peserta tersebut diberi cara pembuatan bioetanol skala rumah tangga secara sederhana. Mulai dari pengolahan gaplek menjadi bubur, proses peragian, hingga tahap penyaringan etanol yag dihasilkan selama proses tersebut. Peserta belum dikenalkan pada materi destilasi secara penguapan dan pengukusan.
Pada pendidikan menengah ini, peserta mulai diperkenalkan dengan berbagai istilah kimiawi yang terjadi selama proses pembuatan bioetanol tersebut. Para peserta dituntut untuk mampu mengkombinasikan antara gaplek dengan ragi sehingga mampu menghasilkan bioetanol yang maksimal
Adapun untuk anak SMA, pemberian materi semakin meningkat. Dari aspek teori, peserta diperkenalkan pada materi kimia dan rekayasa teknologi. Para peserta sudah dilibatkan pada proses cara menghitung kadar yang dihasilkan secara kalkulasi ilmiah. Para peserta juga sudah diperkenalkan pada berbagai zat dan kandungan yang terdapat dalam etanol singkong.
Dari aspek praktik, materi yang diberikan kepada para peserta semakin meningkat hingga tahap penyulingan dan pemurnian etanol yang dihasilkan. Para peserta diajarkan untuk memproduksi bioetanol skala rumah tangga dan dituntut untuk mampu menghasilkan bioetanol yang jernih dan memiliki presentasi etanol yang tinggi dengan batas toleransi 85 persen.
Setelah proses pendidikan selesai, pada bulan Desember 2010 kami mengadakan lomba pembuatan bioetanol tingkat kecamatan Jatiroto. Lomba tersebut dibagi kedalam tiga klasifikasi yakni tingkat SD, SMP dan SMA. Setiap klasifikasi diberi ujian praktik dan teori. Ujian teori dilaksanakan dengan menggunakan skema lomba cerdas cermat.
Untuk ujian praktik, setiap kelompok peserta diberi berbagai alat untuk membuat bioetanol dan diberi waktu selama 4 hari untuk menyelesaikan proses pembuatan bioetanol tersebut. Pembatasan waktu selama 4 hari ini didasarkan pada pengamatan bahwa waktu terbaik untuk fermentasi singkong adalah selama  96 jam (Hikmiyati: 2008). Selama proses fermentasi, hasil olahan para peserta disimpan kedalam lemari dan disimpan di kantor kecamatan Jatiroto. Agar hasil fermentasi lebih stabil, kami menjaga lemari tersebut agar tetap berada sesuai dengan suhu kamar 20 hingga 25 derajat celsius.
Setelah 4 hari, para peserta kembali diundang untuk melanjutkan proses pembuatan bioetanol sekaligus penjurian. Pada final ini, seluruh masyarakat kecamatan Jatiroto sangat antusias untuk melihat perwakilan dari desa mereka melanjutkan proses pembuatan bioetanol. Banyak diantara masyarakat yang datang secara berbondong-bondong menggunakan mobil dengan bak terbuka demi menyaksikan perlombaa tersebut, meski sebenarnya banyak diantara mereka yang tidak mengetahui lomba apa yang sedang dilaksanakan.
Istilah “Bioetanol” masih sangat asing di telinga masyarakat, bahkan tak jarang ada masyarakat yang mengalami salah pengucapan. Masyarakat tidak terlalu peduli dengan tema apa yang sedang dilombakan, yang terpenting adalah desanya dapat menjadi juara. Sebagian besar masyarakat terlalu antusias bahkan tak jarang ada yang menyoraki peserta lomba, sehingga lomba ini lebih mirip dengan pertandingan sepak bola. Kondisi demikian memang sedikit mengganggu konsentrasi para peserta, namun hal ini juga mengindikasikan bahwa semangat masyarakat Wonogiri khususnya Jatiroto untuk menjadi lebih maju masih sangat tinggi terutama dalam hal perkembangan bioetanol.
Juara umum I dalam lomba ini adalah Desa Sanggrong dan diikuti oleh Desa Pingkuk dan Desa Jatiroto. Pada proses penyerahan hadiah juara, kami juga memberikan anjuran agar terus berlatih dan berbagi cara pembuatan bioetanol kepada warga sekitar sehingga ilmu tersebut dapat dipelajari oleh banyak orang.
Pasca kegiatan tersebut, pada bulan Februari 2011 kami kembali mengunjungi Kecamatan Jatiroto untuk mengetahui sejauh mana perkembangan dari pelatihan pembuatan bioetanol tersebut. Dari observasi yang kami lakukan ke berbagai desa di Kecamatan Jatiroto, terlihat ada kemajuan yang cukup baik karena 9 dari 15 desa sudah mulai mengadakan pelatihan pembuatan bioetanol di tingkat Karang Taruna setempat.
Program ibu-ibu PKK juga sudah memasukkan pelatihan pembuatan tape singkong dalam jadwal kegiatannya. Hal yang cukup mengejutkan adalah pada pendidikan informal seperti Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) di desa Ngelo, Pingkuk, Sanggrong dan Jatirejo juga memiliki jadwal pelatihan pembuatan bioetanol dengan alat yang lebih sederhana.
Berdasarkan hal tersebut, kesimpulan awal kami menyebutkan bahwa minat masyarakat Jatiroto terhadap pembuatan bioetanol sangat tinggi. Hanya saja selama ini belum ada lembaga yang memberikan pengetahuan terkait bioetanol sehingga masyarakat tidak kunjung berkembang dalam menggali potensi yang terdapat dalam tanaman ubi kayu.
Dari kegiatan pelatihan pembuatan bioetanol yang kami laksanakan diatas, kami mencoba untuk memberikan gagasan strategis terkait pengembangan sumber daya manusia (SDM) masyarakat Wonogiri dalam hal bioetanol. Setidaknya ada 4 teknik yang harus diterapkan agar muncul perubahan pola pikir dari kota gaplek menjadi kota bioetanol. Keempat teknik tersebut adalah:
  1. Mengadakan kegiatan pelatihan pembuatan bioetanol hingga ke tingkat desa dan kelurahan di seluruh Wonogiri.
  2. Membuat program “Kota Gaplek, Desa Bioetanol” yang bertujuan untuk memacu persaingan positif antar desa di Wonogiri.
  3. Mempromosikan potensi tenaga kerja Wonogiri kepada para pengusaha bioetanol baik di dalam maupun luar negeri.
  4. Menambahkan kurikulum Muatan Lokal “Desa Bioetanol” kepada semua instansi pendidikan dari SD hingga SMA di Kabupaten Wonogiri, agar pemahaman akan potensi Bioetanol dapat tertanam sejak usia produktif.
Tahap pertama,mengadakan kegiatan pelatihan pembuatan bioetanol hingga ke tingkat desa dan kelurahan di seluruh Wonogiri. Program tersebut diberikan kepada organisasi kemasyarakatan (Ormas) seperti PKK, Karang Taruna, Kelompok Tani dan berbagai ormas lainnya. Program pelatihan ini harus dilakukan secara berjangka dan terukur, misalnya setiap bulan sekali dengan kurikulum yang disesuaikan dengan kondisi masyarakat sasaran.
Pendidikan yang diberikan pun harus disesuaikan dengan kapasitas masyarakat tersebut. Sebagai contoh, pendidikan yang diberikan kepada ibu-ibu PKK tidak bisa disamakan dengan para remaja di Karang Taruna. Untuk PKK, pendidikan Bioetanol masih terbatas pada bagaimana membuat tape singkong yang baik dan enak. Jika sudah mapan dalam pembuatan tape singkong, maka barulah diperkenalkan bagaimana cara mengolah bioetanol secara sederhana.
Begitu pula dengan pendidikan untuk Karang Taruna, Kelompok Tani dan berbagai ormas lainnya. Program harus disesuaikan dengan tingkat pendidikan para pengurus Karang Taruna tersebut. Praktis, program ini sangat bergantung pada kelihaian para tutor karena harus menyesuaikan dengan kondisi masyarakat.
Program ini dapat dilaksanakan oleh siapa saja, baik dari instansi pendidikan, lembaga swadaya masyarakat, hingga pemerintah. Namun peran pemerintah daerah tentu saja sangat diperlukan karena berpengaruh pada legitimasi kegiatan di mata masyarakat.
Tahap Kedua,membuat program “Kota Gaplek, Desa Bioetanol”. Program ini merupakan program lanjutan dari program pertama. Setelah memberikan pelatihan kepada masyarakat, harus ada upaya pembinaan agar program tersebut dapat berjalan secara berkelanjutan. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan mengadakan lomba sebagaimana yang telah kami uji cobakan di kecamatan Jatiroto diatas, lomba dilaksanakan setahun sekali.
Agar lomba dapat berjalan dengan baik, perlu diadakan klasifikasi lomba baik dari segi peserta maupun dari segi materi yang diujikan. Desa yang berhasil mengikuti semua lomba yang diujikan dan masuk kedalam 3 besar juara umum akan mendapatkan gelar “Desa Bioetanol”. Gelar ini diwujudkan dalam bentuk tulisan “Selamat Datang di Desa Bioetanol” yang dipasang di gerbang atau tugu menuju desa tersebut. Bahkan, jika perlu dibuat sertifikasi kepada warga yang sudah pernah menjuarai lomba pembuatan bioetanol.
Namun gelar ini tidak bisa melekat selamanya pada desa tersebut. Gelar “Desa Bioetanol” hanya berlaku selama satu tahun dan dievaluasi melalui lomba pembuatan bioetanol tahun berikutnya. Jika desa tersebut gagal mempertahankan prestasinya maka gelar tersebut akan dicabut dan diberikan kepada desa juara lainnya. Kegiatan ini bertujuan agar menumbuhkan semangat bersaing secara sportif antar desa dalam hal pembuatan bioetanol.
Apalagi setiap desa pasti memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri sehingga diharapkan akan muncul ide-ide kreatif dalam mengatasi kekurangan tersebut. Program ini sebenarnya bisa dilakukan oleh siapapun namun akan lebih menarik jika pemerintah kabupaten Wonogiri berperan aktif dan menggandeng instansi pendidikan dalam hal penilaian dan penjurian Desa Bioetanol. Sehingga hasil yang didapat dapat lebih maksimal dan diterima oleh semua kalangan.
Tahap Ketiga, mempromosikan tenaga kerja Wonogiri kepada para pengusaha bioetanol baik di dalam maupun luar negeri. Program ini juga merupakan kelanjutan dari program-program sebelumnya. Setelah diberi pendidikan, pelatihan dan gelar, pada umumnya masyarakat menuntut adanya peluang dari segi ekonomi atas apa yang selama ini telah mereka kerjakan.
Oleh karena itu, langkah selanjutnya yang harus ditempuh adalah dengan mempromosikan potensi tenaga kerja dan sumber daya manusia tersebut kepada para pengusaha yang membutuhkan. Pada program ketiga ini, peran pemerintah daerah dinilai sangat vital karena harus membuka pintu investasi selebar-lebarnya kepada investor. Para calon investor tersebut harus diberikan penjelasan tentang potensi alam wonogiri yang sangat besar serta potensi sumber daya manusia yang juga tak kalah besarnya.
Diperlukan sebuah regulasi jelas yang mengatur berbagai ketentuan tata cara investasi bioetanol di Wonogiri, mulai dari lokasi aktivitas hingga masalah tenaga kerja sehingga potensi SDM yang sudah ada di Wonogiri tidak terbuang sia-sia dan menimbulkan masalah baru dalam masyarakat.
Tahap Keempat, menambahkan mata pelajaran baru kedalam semua instansi pendidikan mulai dari SD hingga SMA. Mata pelajaran baru tersebut berupa muatan lokal (mulok) “Desa Bioetanol” yang mengajarkan tentang bagaimana cara pembuatan Bioetanol dari skala rumah tangga hingga skala industri. Tentu saja dengan memperhatikan tingkat pendidikan.
Biasanya pada tahap awal akan terjadi krisis tenaga pengajar, tetapi hal tersebut dapat diatasi dengan mengadakan kerjasama kepada instansi perguruan tinggi yang sedang melakukan program pengabdian masyarakat. Munculnya tambahan mata pelajaran ini bertujuan agar para siswa dapat menjadi tenaga kerja yang terampil setelah keluar dari masa pendidikan, sehingga bahaya akan pengangguran dapat sedikit teratasi.
Istilah “Desa Bioetanol” ini bertujuan agar para siswa merasa lebih dekat dengan nama bioetanol. Selain itu istilah ini juga bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran bahwa bioetanol tidak hanya dapat diciptakan oleh industri skala besar tapi juga oleh masyarakat dengan skala rumah tangga. Bioetanol tidak hanya diproduksi di kota tetapi juga lahir dari desa.
Slogan “Kota Gaplek, Desa Bioetanol” berfungsi sebagai pengubah pola pikir masyarakat Wonogiri dari sekedar mengolah menjadi gaplek menjadi bioetanol. Solgan seperti ini terbukti sangat efektif, misalnya adalah Propinsi Jawa Tengah yang membuat ikon baru menjadi ”Bali Deso, Mbangun Deso” sehingga membuat masyarakat menjadi hafal dan lebih memilih untuk membangu n daerahnya daripada berurbanisasi ke kota besar.
Hal ini tidak menutup kemungkinan, jika Kabupaten Wonogiri berani untuk menambah ikon ”Kota Gaplek, Desa Bioetanol” maka akan menumbuhkan sebuah pola pikir baru pada masyarakat. Kedepan, diharapkan program tersebut dapat berjalan lancar dan menjadi sebuah batu loncatan serta motivator bagi daerah-daerah lain yang juga memiliki potensi alam berupa singkong namun belum dapat memanfaatkannya secara optimal.
KESIMPULAN
Kabupaten Wonogiri memiliki potensi tanaman ubi kayu yang sangat besar, dalam satu tahun kabupaten ini memiliki lahan ubi kayu seluas 70.330 ha dan mampu menghasilkan 1.205.279 ton ubi kayu, umumnya produk tersebut diolah dengan cara dijemur dan menghasilkan ubi kayu kering bernama  gaplek. Tingginya jumlah produk gaplek di Wonogiri menyebabkan kabupaten ini mendapatkan julukan sebagai Kota Gaplek.
Sayangnya, rendahnya harga gaplek tidak setara dengan tenaga yang dikeluarkan oleh para petani. Sebenarnya  ubi kayu bisa juga dimanfaatkan untuk menjadi bioetanol, namun keterbatasan pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat menyebabkan pemanfaatan ubi kayu masih terbatas pada pembuatan gaplek. Oleh karena itu kami mengadakan penelitian terkait pelatihan pembuatan bioetanol kepada masyarakat kecamatan Jatiroto, Wonogiri.
Pelatihan tersebut ternyata membawa dampak yang sangat positif bagi masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari semangat belajar yang tinggi dan saling bertukar ilmu terkait cara pembuatan bioetanol. Pelatihan yang tadinya hanya ditujuka kepada anak usia sekolah ternyata berkembang hingga ke ibu-ibu PKK dan remaja Karang Taruna.
Melihat keberhasilan dan tingginya hasil yang diperoleh dalam penelitian itu, kami berinisiatif untuk mencoba menawarkan beberapa gagasan terkait pengembangan bioetanol di kabupaten Wonogiri. Gagasan tersebut kami kemas dalam program yang bernama “Kota Gaplek, Desa Bioetanol”. Dalam program tersebut terdapat empat strategi yang harus dilaksanakan, meliputi:
  1. Mengadakan kegiatan pelatihan pembuatan bioetanol hingga ke tingkat desa dan kelurahan di seluruh Wonogiri.
  2. Membuat program “Kota Gaplek, Desa Bioetanol” yang bertujuan untuk memacu persaingan positif antar desa di Wonogiri.
  3. Mempromosikan potensi tenaga kerja Wonogiri kepada para pengusaha bioetanol baik di dalam maupun luar negeri.
  4. Menambahkan kurikulum Muatan Lokal “Desa Bioetanol” kepada semua instansi pendidikan dari SD hingga SMA di Kabupaten Wonogiri, agar pemahaman akan potensi Bioetanol dapat tertanam sejak usia produktif.
Keempat langkah diatas sangat mungkin untuk diterapkan pada masyarakat Wonogiri karena telah disesuaikan dengan kondisi sosiologis masyarakat tersebut. Selain itu, keempat langkah tersebut juga sudah diujicobakan di kecamatan Jatiroto, Wonogiri serta memiliki dampak yang positif bagi perkembangan bioetanol di kabupaten Wonogiri.
DAFTAR PUSTAKA
Buku:
Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Kabupaten Wonogiri. 2007. Rencana Kerja Sama Pemerintah Daerah Kabupaten Wonogiri dan Kabupaten Wuming China. Wonogiri.
Badan Pusat Statistik Kabupaten Wonogiri. 2007. Kabupaten Wonogiri dalam Angka Tahun 2006. Wonogiri
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Wonogiri. 2008. Laporan Kunjungan Kerja Kecamatan Baturetno 21 Juli 2008. Wonogiri
Dinas Pertanian Kabupaten Wonogiri. 2008. Produksi Tanaman Pangan Kabupaten Wonogiri Tahun 2008. Wonogiri.
Hikmiyati Nopita. 2008. Pembuatan Bioetanol dari Limbah Singkong melalui Proses Hidrolisa Asam dan Enzimatis. Makalah tidak Dipublikasikan. Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro.
Website:
http://faostat.fao.org/site/567/DesktopDefault.aspx?PageID=567#ancor
http://www.bps.go.id/tab_sub/print.php?id_subyek=53%20&notab=14

Sumber tulisan : http://kakniam.wordpress.com/2011/03/03/kota-gaplek-desa-bioetanol/

Rabu, 24 Agustus 2011

Cara menanam kurma

Menanam pohon kurma terbagi dua yaitu:

A) Menanam pohon kurma dari anak kurma.

Pokok pokok kurma dewasa biasanya akan mengeluarkan anak-anak kurma di pangkal pohon dan jumlahnya tergantung pada umur pohon dewasa.

Anak-anak pohon kurma ini bisa dipisahkan dari batang pohon kurma dewasa dan ditanam di tempat lain.

Kerja-kerja memisahkan anak kurma sangat rumit dan jika tidak dilakukan dengan cermat akan merusak anak kurma dan juga pohon kurma dewasa.

Menurut beberapa pendapat mengatakan 70 persen anak-anak pohon kurma yang tumbuh dari pohon dewasa adalah bakal pohon betina dan bisa menghasilkan buah.

Sedangkan 80 persen bakal pohon yang tumbuh dari biji adalah pohon jantan.

Anak-anak pohon kurma yang telah dipisahkan dari pohon kurma harus disediakan dengan cukup air. Ini karena kebanyakan akar anak-anak kurma ini telah terputus.

Cara yang terbaik merawat akar-akar anak kurma ini adalah dengan membalut akar yang terputus itu dengan goni basah.

Cara lain adalah dengan merendam sebagian pangkal anak-anak kurma ini dalam air sehingga akar-akar baru tumbuh.

Jika memilih untuk menanam anak-anak kurma setelah dipisahkan, adalah sangat perlu menyiram dua kali sehari dengan kadar air yang cukup. Pastikan tanah sekitar anak kur yang bar ditanam lembap selama antara dua dan tiga bulan.

B) Menanam kurma menggunakan biji.

Biji-biji kurma mudah ditemukan setelah memakan buah kurma kering. Ia diasingkan untuk tujuan penyemaian.

Kita bisa menentukan jenis-jenis kurma yang populer yang biasa dibawa pulang dari tanah Arab adalah ajwah dan ambar.

rahasia pendebungaan

Pohon kurma memiliki jenis kelamin yaitu pohon jantan dan pohon betina. Kedua jenis kelamin menghasilkan bunga.

Tahukah Anda bahwa bunga-bunga kurma tidak menghasilkan bau dan rasa? Oleh karena itu, serangga dan lebah tidak membantu di dalam proses pendebungaan pohon kurma.

Pencantuman bunga jantan dan bunga betina harus dilakukan dengan bantuan manusia menggunakan tangan.

Bunga-bunga kurma jantan bisa diambil dan disimpan di dalam pendingin selama setahun jika pohon-pohon kurma betina belum menghasilkan bunga.

Proses pendebungaan bisa dilakukan dari dari tiga sampai 30 hari setelah bunga-bunga betina keluar dari mayang pohon.

Proses membuat serbuk sari dari bunga jantan

1.Membuang kelopak mayang kurma mulai dari atas ke bawah.

Mayang pohon kurma jantan biasanya tertutup untuk menghindari tiupan angin atau serangga. Kemudian letakkan bunga kurma jantan tadi pada rak yang kering.

2 Setelah pengeringan bunga kurma jantan selesai, goyanglah bunga kurma jantan tadi untuk mendapatkan serbuk sari kurma jantan.

3. Bunga-bunga kurma jantan dibagi menjadi dua bagian. Sepohon bunga kurma jantan bisa mendebungakan 40 sampai 50 pohon kurma betina.

4.Setelah proses pendebungan siap maka bunga kurma ini harus dijarakkan untuk menghasilkan buah kurma yang besar. Bilah bunga yang rapat hanya menghasilkan buah yang banyak tapi ukurannya kecil.

Sumber :
http://www.utusan.com.my/utusan/info.asp?y=2010&dt=0816&pub=Utusan_Malaysia&sec=Agrobiz&pg=ag_02.htm

Sabtu, 13 Agustus 2011

Kisah Sukses Seorang Pembersih Kaca

Bagi orang-orang menengah atas, mengendarai mobil yang bersih, wangi dan terawat mesin dan bodinya merupakan suatu kebutuhan. Mobil, bagi mereka bukan sekedar alat transportasi, tapi sekaligus sebagai simbol prestise dan kebanggan. Tidak heran kalau mereka ingin mobilnya tetap kelihatan bersih dan mengkilap. Sebab itu, untuk membuat mobil tampak cantik, mereka tidak keberatan mengeluarkan kocek minimal Rp 500 ribu setiap kali berkunjung ke bengkel salon mobil.Kisah sukses seorang pembersih kaca, dimulai dari seorang lelaki bernama Haji Akbar Sarwono. Pemilik dan pendiri salon kecantikan mobil HAS, memang jeli menangkap peluang bisnis. Di Jakarta adalah lokasi pilihan yang tepat untuk membuka usaha tersebut. Karena perkembangan ibu kota begitu cukup pesat dalam perekembangan jumlah mobilnya, terutama pemilik mobil pribadi. HAS, panggilan akran Haji Akbar Sarwono, kini telah mempunyai lima bengkel di Jakarta yang setiap bulannya didatangi hampir 400 mobil untuk mempercantik interior mapun eksterior mobil. Menurut HAS, jumlah tersebut masih dapat ditingkatkan. Kendala HAS bukan pada pasar, tapi teknis, seperti keterbatasan tenaga kerja dan ruang pembersihan.

Sejak muda, hobi pria kelahiran Surabaya ini adalah merawat mobil.”Saya nekat buka bisnis ini dengan modal dengkul,’ ungkapnya. Bisnis yang kini menghasilkan ratusan juta rupiah per tahun ini bermula dari jasa membersihkan kaca. Pada tahun 1987, Has membuka bengkel pertama, di garasi rumahnya di Kelapa Gading, Jakarta Timur. Kala itu hanya dibantu oleh seorang tukang cuci mobil dan dan menempati sebuah garasi rumahnya yang hanya berkapasitas 2 mobil. Dengan janji kaca buram jadi terang Has memasang tariff Rp 25 ribu  per mobil. Mulanya, ia pesimis bahwa tarif sebesar itu dapat memikat konsumen. “Ongkos cuci mobil saja ketika itu hanya Rp 3000,’ katanya. Tapi, diluar dugaan Has, pada hari pertama beroperasi, bengkelnya menerima tiga mobil.
Melihat respon pasar yang dinilai cukup baik itu, Has membuka lagi bengkel di Pluit. Kali ini garasi rumah orang tuanya, dan hanya dapat menampung satu mobil. Sejak saat itu, Has tak menganggap lagi merawat mobil sebagai hobi. Ia mulai berpikir serius tentang pengembangan bisnis. Karena itu ia terus mempelajari tentang pengembangan binis. Ia terus mempelajari soal kecantikan mobil dengan membaca buku serta mengunjungi pameran-pameran otomotif mobil. Beliau juga mengeluarkan dana cukup besar untuk pergi ke Amerika, di sana Has mengunjungi bengkel-bengkel salon kecantikan mobil dan banyak bertanya tentang bisnis ini. Has semakin mahir dalam bisnis ini. Has menyadari bahwa usaha ini selain tergantung pada jumlah mobil yang beredar juga tergantung pada lokasi. Pada tahun ketiga Has telah berhasil meraih sekitar 200 pelanggan. Selanjutnya Has mencari tempat berusaha yang dapat menampung lebih banyak.  Di tempat yang baru tersebut, Has tidak hanya menawarkan jasa membersihkan kaca mobil, tapi juga mempercantik mobil. Jasa yang ditawarkan dikemas dalam satu paket, yaitu membersihkan seluruh kaca mobil, mengkilapkan cat, membersihkan seluruh bagian interior, membersihkan dan sekaligus mengkilapkan ban, bumper setang wiper, dan handle pintu mobil, serta menciptakan keharuman di dalam mobil seperti mobil baru.
Meski tidak tamat sekolah dasar, pemilik Has termasuk otodidak yang bisa dengan cepat menguasai ilmu dan ketrampilan secara mandiri. Bayangkan saja, kelahiran Malang Jawa Timur tahun 1941 itu menguasai bahasa Arab, Belanda, Inggris, serta Cina dalam tiga dialek. Konon, keahlian multi bahasa itu berkat pergaulannya dengan kalangan the high yang menjadi langganannya. Karena itu pula, Has juga sering menerima panggilan memoles kapal pesiar dan pesawat terbang milik para konglomerat.
Kisah sukses seorang pembersih kaca ini, patut kita teladani. Bagaimana kegigihannya mulai dari membersihkan kaca hingga mampu menjadikan mobil-mobil pelanggannya tampak seperti keluar dari showroom saja. Semoga dapat menjadi inspiransi berharga bagi anda para pebisnis baru.
Sumber : Bisnis Ukm