Tampilkan postingan dengan label kisah sukses. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah sukses. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 September 2011

Fulus Empuk dari Pembuatan Busa Helm

Jumlah pengendara motor yang terus meningkat, turut mendongkrak usaha busa helm. Pembuatan busa yang biasanya dipakai sebagai pelapis bagian dalam helm ini bisa mendatangkan uang hingga ratusan juta. Tak hanya memasok pabrik helm di dalam pegeri, busa helm buatan lokal ini telah dipakai oleh pabrik-pabrik helm yang ada di negara-negara TimurTengah.

Sebagai salah satu pengaman, helni wajib dikenakan oleh pengendara motor. Alhasil, penjualan helm terus mengekor jumlah sepeda motor yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Tak hanya meramaikan gerai penjualan helm, kenaikan permintaan helm juga menguntungkan produsen busa pelapis helm.

Tengok saja usaha Andi Primadi. Pemilik PT Sukses Gemilang ini bisa menuai 180.000 pesanan busa pelapis helm per bulan. Dengan pesanan sebanyak itu. Andrimengaku bisa mengantongi omzet lebih dari Rp 200 juta sebulan. "Kalau lagi sepi, omzet berkisar Rp 80 juta lungga Rp 120juta," ujarnya.

Dari omzet itu, Andri mendapatkan keuntungan sebanyak 20%. Ia menjual busa pelapis helm dengan harga Rp 2.000 per set untuk helm standar SNI dan Rp 5.200 per set untuk helm premium.

Awalnya, Andri tak menyangka bisa meraih kesuksesan dari bisnis ini. Tak sengaja, pengusaha garmen ini mendapat tawaran untuk menjahit busa dari kliennya Nyatanya, permintaan ini selalu rutin diterima dan mendatangkan banyak fulus. Ia pun mengubah halauan menjadi produsen pelapis helm sejak 2009.

Kini, Andri telah memiliki 150 karyawan. Ia memasok tujuh pabrik helm di Tangerang, Bekasi dan Surabaya. Selain memenuhi pesanan pabrik helm lokal, Andri juga mengirimkan rakitan pelapis helm ini ke luar negeri, khususnya di kawasan Asia Tenggara dan Timur Tengah. "Untuk ekspor saya dapat order dari pihak kedua," tandasnya.

Tak buruh waktu lama untuk membuat dalaman helm. Dalam sehari, Andri bisa menghasilkan 3.000 set dalaman helm. Jika pesanan membanjir, ia meningkatkan kapasitas produksi hingga dua kali lipat produksi tersebut dapat ditingkatkan menjadi dua kalilipatnya dengan memberlakukan dua kali pergantian jam kerja atau shift.

Selain Andri, pembuatan busa helm juga digeluti oleh Muhammad Ardiansyah. Pria yang membuka usahanya di Mojokerto, Jawa Timur terjun ke usaha ini sejak tahun 2000. Ardi, panggilan akrab Muhammad Ardiansyah ini merupakan generasi kedua perajin busa helm. Orang tuanya telah merintis usaha ini pada 1990-an.

Ardi bilang, usaha pembuatan busa helm ini masih sedikit pemainnya. "Padahal, kebutuhan lapisan dalam pelindung kepala ini terus meningkat," ujarnya

Hanya, berbeda dengan produsen busa helm lainnya, Ardi tak mengirim busa helm ke produsen helm. Ia justru membuat busa tersebut untuk kebutuhan reparasi helm yang rusak. "Karena tingkat kerusakan helm, kebanyakan pada lapisan dalam, yakni busa yang terlepas dari kainnya," tutur pria 27 tahun ini.

Meski hanya memenuhi permintaan reparasi, Ardimemproduksi busa helm untuk semuajenis dan merek helm. Ia pun bisa menjual busa pelapis ini dengan harga tinggi, yakni Rp 25.000 hingga Rp 50.000 per set, tergantung jenis helm serta ketebalan busa yang diinginkan. "Biasanya ketebalan busa antara 5-8 cm," ujar Ardi yang dibantu tiga pekerja.

Permintaan reparasi busa helm ini pun cukup besar. Dalam sebulan, ia menerima 500 perbaikan helm. Bahkan, mendekati momen tertentu, seperti Lebaran, Natal dan Tahun Baru, permintaan bisa berlipat. Terkadang bisa mencapai 1000 permintaan dalam sebulan," tandasnya.

Tak heran, dalam sebulan, Ardi bisa meraup omzet sekitar Rp 20 juta-Rp 25 juta per bulannya Ia pun bisa memperoleh margin keuntungan cukup tinggi, hingga 40%.

Maklum, helm yang dikirimkan untuk perbaikan, biasanya helm-helin mahal, yang kebanyakan datang dari Jakarta dan Jawa Timur. Ardi banyak memperoleh pelanggan yang setia mengganti busa helm padanya, karena ia aktif menawarkan jasanya ini melalui berbagai gerai-gerai online di internet.

Berkah laba diolah di instalasi pengolahan limbah

Produk ramah lingkungan terbukti bisa menjadi lahan bisnis yang menguntungkan. Seperti usaha pembuatan instalasi pengolahan limbah (IPAL) yang menggunakan bakteri pengurai. Dua tahun terakhir omzet produsen IPAL ini naik signifikan karena semakin ketatnya aturan pemerintah soal pengelolaan limbah baik industri atau perumahan.


Pemahaman untuk menjaga lingkungan agar tetap sehat ternyata bisa menjadi peluang bisnis yang menguntungkan. Selain bermanfaat menjaga kelestarian alam, bisnis yang ramah lingkungan itu bisa memberikan fulus yang menggiurkan.


Salah satu produk yang bermanfaat bagi lingkungan itu adalah instalasi pengolahan limbah (IPAL) cair yang bisa digunakan untuk perumahan, perkantoran, rumah sakit atau di pabrik. Instalasi pengolahan limbah cair itu sering dikenal dengan nama wastewater treatment.


Pengusaha yang membuat IPAL itu adalah Joko Nugroho, pemilik CV Taqindo Karya, di Surabaya. Berkat bisnis IPAL, alumni Institut Teknologi Surabaya (ITS) itu mampu mendulang omzet lebih dari Rp 100 juta per bulan.


Sejak memulai usaha pada 2009 silam, Joko sudah bisa melayani pembuatan IPAL untuk berbagai kebutuhan, termasuk IPAL berteknologi daur ulang.


Ide membuat IPAL muncul saat ia menjadi relawan bencana tsunami di Aceh pada 2005 lalu. Saat itu Joko melihat IPAL bikinan relawan Korea Selatan dan Kanada. 


Berkat jadi relawan itu pula Joko mengetahui sistem serta teknologi pengolahan limbah itu. Setelah kenyang menjadi relawan, pada 2006 Joko kembali ke Surabaya dan bekerja di sebuah perusahaan yang juga memproduksi IPAL. 


Joko sengaja bekerja di perusahaan yang memproduksi IPAL, sebab ia memiliki latar belakang pendidikan di bidang lingkungan. Joko merupakan alumnus Fakultas Teknik Lingkungan ITS tahun 2004. "Saya waktu itu ambil spesialisasi kajian pengelolaan limbah," jelas Joko. 


Tiga tahun lamanya Joko bekerja untuk orang lain, hingga akhirnya ia memutuskan buka usaha sendiri tahun 2009. Ia nekat membuka usaha pembuatan IPAL walau dengan modal pas-pasan. 


Saat mendapatkan pesanan membuat IPAL, Joko mengandalkan uang muka dari si pemesan IPAL. Karena kurang, Joko nekat mencari pinjaman dari temannya. "Saya harus utang Rp 15 juta untuk menyelesaikan proyek perdana itu," terang Joko.


Berkat duit pinjaman itu, Joko akhirnya bisa menyelesaikan pesanan senilai Rp 90 juta tersebut. Tentu, begitu dia dibayar lunas, Joko pun langsung menutup utangnya itu. "Hanya butuh dua minggu bagi saya untuk melunasinya," terang Joko.


Setelah dua tahun menjalani usaha pembuatan IPAL, Joko setidaknya telah memiliki 40 mitra yang terdiri dari industri, rumah sakit, dan juga perumahan. Dari setiap proyek itu Joko mengutip laba yang beragam, tergantung dari nilai proyeknya. "Rata-rata labanya sekitar 25% dari nilai proyek," ungkap Joko.


Joko sendiri memiliki beragam produk IPAL untuk berbagai kegunaan. Seperti IPAL untuk limbah domestik manusia di perumahan, rumah sakit, dan perkantoran. Dalam produk ini, Joko menerapkan bio teknologi pengurai bakteri.


Selain itu, Joko juga memproduksi IPAL yang memiliki teknologi pengolahan daur ulang. Artinya, IPAL ini bisa mengolah air limbah menjadi air yang bisa digunakan kembali. "Permintaan pengolahan air limbah untuk daur ulang tergantung dari pesanan," terang Joko.


Namun Joko mengakui tidak banyak yang tertarik memesan IPAL yang bisa mendaur ulang. Bukan karena mereka jijik, namun teknologi IPAL ini harganya masih terbilang mahal. Apalagi banyak klien Joko yang memesan IPAL demi memenuhi ketentuan pemerintah. 


Itulah sebabnya, agar bisnis pembuatan IPAL berjalan lancar, Joko mesti mengikuti perkembangan aturan yang ditetapkan pemerintah pusat dan ada juga pemerintah daerah.


Dengan mengikuti perkembangan situasi, bisnis IPAL Joko pun semakin berkibar. Apalagi, belakangan ini banyak proyek pembangunan mulai menyasar ke ke wilayah Indonesia Timur. "Ada percepatan pembangunan di Indonesia Timur yang membuka peluang bagi usaha saya," ungkap Joko.


Karena berlokasi di Surabaya, setidaknya Joko bisa lebih hemat dalam hal transportasi. Sehingga dia bisa berkompetisi dalam tender pembuatan IPAL. "IPAL bisa kami kerjakan dari Jakarta sampai Papua," klaim Joko yang berencana akan melakukan ekspansi usahanya ke Indonesia Barat.


Selain Joko, produsen IPAL lainnya adalah PT Bioseptic Abadi di Kelapa Gading, Jakarta. Kusuma Himawan, Sales Manager PT Bioseptic Abadi bilang, perusahaan itu berdiri sejak 1996 lalu dan melayani pemasangan IPAL untuk industri, perumahan, rumah sakit, dan juga sekolah.


Selama berbisnis IPAL, Himawan mengaku baru dua tahun belakangan bisnis IPAL laris manis. Hal itu terjadi karena ketatnya aturan yang dibikin pemerintah DKI Jakarta soal pengolahan limbah. "Dua tahun ini omzet saya naik dua kali lipat," kata Himawan. Namun dia enggan menyebut nilai omzet itu.


Sekadar gambaran, Himawan memiliki produk IPAL untuk limbah domestik mulai dari harga Rp 3 juta hingga Rp 3 miliar per unit. "Sebulan kami bisa jual 10 unit," katanya.


Sama dengan Joko, Himawan juga memiliki produk IPAL untuk daur ulang yang biasanya digunakan untuk industri ataupun untuk perkantoran. Namun pesanan untuk IPAL ini sepi peminat. "Kami punya IPAL yang bisa menghasilkan air yang kualitas setara dengan air ledeng," terang Himawan.


Menurutnya, IPAL yang laris adalah IPAL untuk limbah manusia berupa tabung yang memiliki bakteri pengurai yang disebut dengan bioseptictank. "IPAL ini memiliki bakteri khusus yang bisa dengan cepat mengurai limbah dan tidak mencemari tanah," terang Himawan.


Himawan pun menyatakan, bisnis pengolahan limbah adalah bisnis masa depan. Terutama pengolahan limbah untuk daur ulang. "Air di perkotaan makin langka sehingga nanti akan ada upaya mendaur ulang air untuk digunakan sendiri," ujarnya. 

Jumat, 02 September 2011

Cara Cepat Kaya


Banyak cara untuk menjadi kaya tetapi harus diimbangi dengan melihat peluang dan memanfaatkan peluang tersebut hingga menghasilkan kesuksesan.Mungkin waktu yang akan menjawab tentang sukses itu.Terapi taukah anda bahwa ada cara yang cepat untuk menjadi kaya ???silahkan dibaca dibawah ini


beberapa jalan untuk kaya :
  1. Dapat Warisan yang banyak
  2. Kawin dengan anak konglomerat 
  3. Kawin dengan janda kaya
  4. Berbisnis dan maju pesat
  5. Sedekah yang banyak
nah yang mau dibahas adalah SEDEKAH YANG BANYAK untuk mempercepat proses menjadi orang kaya.

anda pernah dengar hukum sepuluh kali lipat  alias "Tenfold Law" ? yaitu hukum yang berlaku universal, yang tidak memandang suku, agama, ras dan golongan. Dan sudah menjadi sunnatullah atau hukum Allah, bahwa siapapun yang menginfakkan uangnya untuk manusia lain yang membutuhkan, maka akan diberi balasan sebanyak sepuluh kali lipat.

kita banyak mengira bahwa orang-orang kaya memberikan sedekah ketika mereka sudah kaya. tapi sesungguhnya, mereka sudah mengetahui hukum ini dan mempraktekkannya dengan kontinyu sejak mereka masih 'bukan apa-apa'.

sebaliknya dengan orang miskin (dan akan selalu miskin), mereka tidak mau mengeluarkan uang untuk berinfak dengan alasan bahwa mereka lah yang patut diberi infak. padahal jika mereka ingin merubah hidup, mereka harus merubah diri dari 'tangan dibawah' menjadi 'tangan diatas'.

ini adalah metode paling sederhana untuk menjadi kaya, tetapi sangat sulit untuk mempraktekkannya secara kontinyu karena kodrat manusia adalah tamak dan tidak mau berbagi.

coba anda praktekkan untuk menyisihkan sedikitnya 10% dari penghasilan anda untuk disedekahkan kepada yang membutuhkan. dan lakukan secara kontinyu termasuk pada semua uang yang anda dapat dari sumber tak terduga misal bonus, fee, dll.  dan lihat perubahan hidup anda dalam 3 tahun ke depan.

3 tahun kelamaan ? Ingin lebih cepat lagi? ya tinggal diperbesar  saja persentase sedekahnya. beranikan untuk bersedekah 20%..... atau mau yang lebih cepat lagi - super kilat? sedekahkan saja semua penghasilan anda.. (hehehehe....buat sehari-hari gimana?)

yang terpenting adalah konsistensi sedekahnya alias terus menerus dan jangan putus. jangan cuma hangat-hangat tahi kebo. karena efek kaya hanya akan timbul jika dilakukan secara ajeg dengan persentase yang tetap.

ga percaya? coba praktekkan selama setahun.... dan lihat...



Minggu, 28 Agustus 2011

Air Mancur Membangun Citra Jamu

Setiap industri jamu memiliki sejarah perkembangan masing-masing yang unik, dan perjalanan sejarah itulah yang menempa setiap industri jamu hingga menjadi perusahaan yang berpengalaman. Perjalanan sejarah itu pula yang membentuk perusahaan untuk tidak hanya sekedar dapat bertahan di era persaingan yang makin ketat, namun lebih jauh dari itu dapat meniti sukses dengan meraih pangsa pasar cukup besar sekaligus meraih peluang ekspor di pasar mancanegara.
20081212
Banyak industri jamu yang kurang menyadari pentingnya penerapan falsafah tersebut sehingga perkembangan bisnisnya dari tahun ke tahun tidak banyak mengalami kemajuan. Namun ada juga industri jamu yang betul-betul menerapkan falsafah itu secara konsisten di setiap lini produksi.


Dari sekian banyak industri jamu yang menurut data Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia (GP Jamu) pada tahun 2004 mencapai 1.166 industri, hanya segelintir industri jamu saja yang kini berkembang menjadi industri jamu modern dengan menerapkan Cara Pembuatan Obat Tradisonal Yang Baik (CPOTB) dan menerapkan sistem standard kualitas produk yang umum diterapkan di industri farmasi skala besar.

PT. Air Mancur yang awalnya merupakan perusahaan keluarga dan didirikan oleh tiga keluarga, yaitu Keluarga Wonosantoso, Keluarga Ongkosandjojo dan Keluarga Hindrotanojo merupakan salah satu dari segelintir kelompok industri jamu yang menerapkan sistem standard tersebut yang pada tanggal 5 Juli 2006 lalu menerima Sertifikat Cara Pembuatan Obat Tradisional Yang Baik (CPOTB).

Bagi PT Air Mancur yang merupakan perusahaan industri jamu yang sudah cukup lama berkiprah di kancah persaingan produk jamu nasional maupun internasional, mutu produk merupakan kunci sukses yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Sebab hanya dengan mengutamakan mutu produklah, bisnis industri jamu yang sudah digelutinya puluhan tahun itu dapat bertahan sampai saat ini walaupun berbagai hambatan dan kendala silih berganti menerpa bisnis tersebut.

PT Air Mancur yang saat ini dipimpin oleh Victor S. Ringoringo sebagai Managing Director/Chief Executive Officer, sejak pertama kali berdiri pada tahun 1963 sudah memiliki komitmen yang kuat untuk mengutamakan mutu produk sebagai kiat perusahaan dalam menjalankan bisnis jamu. Sebagai perwujudan awal dari komitmen tersebut, PT. Air Mancurmenuangkan komitmen tersebut dalam bentuk moto perusahaan ‘Air Mancur Lebih Manjur’.

“PT Air Mancur memang bukan merupakan perusahaan industri jamu yang berdiri pertama kali di Indonesia dan PT Air Mancur memang bukan perusahaan yang terbesar di industri ini, tapi semua mengakui bahwa Air Mancur memang yang termanjur,” kata Victor.

Untuk mengimplementasikan komitmen dan moto perusahaan khususnya dalam menghasilkan produk juamu berkualitas tinggi tersebut, manajemen perusahaan PT Air Mancur telah mengambil kebijakan untuk mengedepankan kegiatan Research and Development (R&D). “Di bidang R&D ini, Divisi Penelitian dan Pengembangan (Litbang) PT Air Mancur termasuk yang paling maju diantara industri jamu lainnya yang ada di Indonesia saat ini.”

Dengan didukung divisi R&D yang kuat dan ditunjang peralatan dan mesin produksi yang modern, PT Air Mancur kini mengukuhkan diri sebagai salah satu produsen jamu terkemuka di tanah air. Dengan kelebihan tersebut PT Air Mancur telah berhasil membalikkan persepsi di masyarakat dari produk jamu yang selama ini dikenal sebagai produk tradisional menjadi produk hasil teknologi modern karena diproduksi dengan metode atau cara produksi yang modern, mulai dari pemillihan bahan baku, pengujian khasiat, dan proses produksi. . Walaupun cara produksinya sudah modern, namun ramuan tradisional jamu yang khasiatnya sudah terbukti dari generasi ke generasi sudah diturunkan tetap dipertahankan.

Kiat bisnis lainnya yang diterapkan manajemen PT Air Mancur adalah diterapkannya prinsip ‘Steady Safe’. Artinya perusahaan didorong untuk tumbuh dan berkembang secara alami dan bertahap. “Prinsip ini juga berarti perusahaan tidak perlu banyak gembar-gembor dalam menjalankan bisnisnya, tetapi tetap maju melangkah dengan pasti untuk mencapai kemajuan perusahaan.”

Dengan prinsip “Steady Safe” ini, PT Air Mancur tidak banyak melakukan promosi produk dengan memasang iklan di media massa. Sebaliknya upaya pemasaran produk lebih banyak ditempuh dengan memperkuat jalur pemasaran tradisional yang melibatkan agen-agen yang sudah bekerjasama selama puluhan tahun. Agen-agen tradisional ini umumnya melayani kios-kios, warung dan penjaja jamu lainnya di pelosok daerah. Namun demikian jalur pemasaran tradisional ini bukan satu-satunya jalur pemasaran PT Air Mancur. Jalur distribusi modern pun tetap digarap secara professional sesuai dengan target pasarnya. Misalnya untuk distribusi produk ke apotik, toko obat dan pasar modern, PT Air Mancur telah menunjuk distributor farmasi dan consumer goods yang modern.
200812121

Produk Bervariasi

Dengan kekuatan di bidang R&D itulah PT. Air Mancur kini berhasil mengembangkan berbagai jenis produk jamu dengan variasi yang sangat beragam, mulai dari produk jamu bubuk, jamu kapsul, jamu pil/tablet dan jamu cair. Selain itu, dalam rangka diversifikasi usaha, PT Air Mancur juga memproduksi dan memasarkan produk-produk kosmetik, minuman kesehatan, mother care, baby care, fitofarmaka, dan food supplement herbal, seperti produk madu rasa, minyak telon, param kocok, bedak Harum Sari dan Lulur Putri Ayu.

Produk-produk jamu PT Air Mancur sudah sejak lama dikenal konsumen, bahkan beberapa diantaranya berhasil menempati posisi market leader. Hingga saat ini PT Air Mancur telah merilis lebih dari 20 merek produk jamu dengan berbagai variannya. Beberapa produk jamu produksi PT Air Mancur diberi merek ‘Air Mancur’, tetapi ada juga beberapa produk jamu lainnya yang dijual dengan menggunakan merek lain, namun tetap ada label “Air Mancur “nya.

Beberapa produk jamu PT Air Mancur yang sudah banyak dikenal di pasar antara lain jamu bubuk dan jamu bersalin dengan merek Air Mancur, jamu kapsul dengan merek Ben Kwat untuk pria, jamu kapsul Mustika Rapet untuk wanita, jamu tablet Stop Diar untuk menghentikan diare, jamu kapsul dan jamu bubuk Pro Urat untuk penyakit asam urat, jamu kapsul/tablet Pro Linu untuk mengobati pegel linu dan jamu cair Orangin untuk mengobati masuk angin.

Walaupun banyak produk jamu buatan PT Air Mancur kini sudah diproduksi secara modern dengan menggunakan peralatan dan mesin berteknologi mutakhir, namun untuk menjaga keseimbangan tenaga kerja, PT Air Mancur sampai kini masih mempertahankan cara produksi tradisional untuk beberapa jenis produk jamu. Hal itu ditujukan agar perusahaan dapat tetap menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

 “Langkah pengembangan teknologi produksi juga diselaraskan dengan program pensiun karyawan. Biasanya penambahan mesin produksi tidak dilakukan secara sekaligus melainkan dilakukan bertahap bersamaan dengan dimulainya masa pensiun karyawan. Dengan demikian pengalihan cara produksi dari cara tradisional ke cara modern tidak menimbulkan gejolak baik bagi karyawan maupun bagi perusahaan. Sedapat mungkin kami menghindari terjadinya rasionalisasi sebagai dampak dari penggunaan mesin-mesin modern ini,” tutur Victor.

Diakui kultur kerja di industri jamu sangat unik. Kultur yang sudah terbangun sejak lama itu diwarnai rasa kekeluargaan yang sangat tinggi antara karyawan dengan pihak manajemen perusahaan. Karena itu, hingga saat ini tidak pernah terdengar adanya gejolak ketenagakerjaan di PT Air Mancur, karena semua hak-hak buruh sudah terpenuhi.

PT Air Mancur kini mempekerjakan 1.200 karyawan di empat pabrik yang berlokasi di Solo dan Wonogiri, Jawa Tengah. Satu pabrik jamu di Solo khususnya untuk pengerjaan bahan baku dan pengemasan, satu pabrik jamu lagi di Wonogiri untuk kegiatan ekstraksi. Sementara itu, satu pabrik kosmetik berlokasi di Solo dan satu pabrik madu berlokasi di Wonogiri. Cikal bakal pabrik jamu milik PT Air Mancur yang didirikan para pendiri PT Air Mancur pada tanggal 23 Desember 1963 berlokasi di Wonogiri.

PT. JAMU AIR MANCUR
Head Office & Factory:
Jl. Raya Solo-Sragen Km. 7 Palur, Solo 57102, Jawa Tengah.

Sumber  : arifh.blogdetik.com

Jumat, 26 Agustus 2011

Keripik Tempe Jadi Andalan Desa Ngadiroyo


Solopos.com–Salah satu jenis makanan kecil yang terkenal dari Wonogiri adalah keripik tempe. Banyak desa menjadi penghasil camilan yang laris setiap Lebaran ini, salah satunya Desa Ngadiroyo, Kecamatan Nguntoronadi, Wonogiri.
Ada sedikitnya delapan warga yang mengembangkan usaha pembuatan keripik tempe di desa yang terkenal dengan Gunung Pegat-nya ini. Salah satu warga tersebut adalah Sakijo. Di rumahnya yang berada di Dusun Pojok, tiap hari Sakijo dibantu isterinya membuat keripik tempe dan beberapa jenis makanan kecil lain di antaranya keripik pisang.
“Kami sudah menjalankan usaha ini sejak sekitar 15 tahun lalu. Dari usaha inilah kami menghidupi keluarga dan membayai pendidikan ketiga anak kami. Memang hanya kecil-kecilan tapi ini telah menjadi sumber penghidupan kami,” ungkap Ny Sakijo, saat ditemui Espos di rumahnya, Minggu (31/7/2011).

Ny Sakijo menambahkan selama kurun waktu 15 tahun menjalankan usaha keripik tempe itu, ia telah mendapat pangsa pasar tidak hanya di lingkungan sekitar tetapi juga merambah ke sejumlah kecamatan lain. Tiap hari, Ny Sakijo mengaku menghabiskan sekitar 5 kg kedelai yang dibuatnya menjadi tempe kemudian dibuat keripik. Jumlah produksi itu akan meningkat menjadi 8 kg/hari ketika semakin mendekati Lebaran.
Kepala Desa Ngadiroyo, Suharno, saat ditemui Espos di kediamannya, kemarin mengungkapkan dengan kondisi alam yang kurang menguntungkan untuk pertanian, penduduk di desanya yang berjumlah 692 keluarga (2.050 jiwa) itu memang banyak yang mengandalkan penghidupan dari industri kecil.
“Di desa ini ada yang menjadi pengusaha keripik tempe maupun tempe sayur, industri tahu, rempeyek dan sejumlah jenis makanan kecil lain. Semuanya memang masih sebatas industri rumah tangga,” katanya.
Potensi lainnya, kata Suharno, berupa hasil palawija seperti kacang dan ketela pohon. Perikanan juga cukup memberi harapan. Ada beberapa puluh warga yang mengandalkan hidup dengan menjadi nelayan di perairan Waduk Gajah Mungkur, yang berjarak cukup dekat dengan desa itu di sebelah barat.
“Baru-baru ini nelayan kami mendapat bantuan dua buah perahu dan beberapa jaring. Kami mengupayakan untuk mendapat bantuan lagi agar nelayan cukup terbantu,” kata Suharno.
Desa Ngadiroyo terdiri atas delapan dusun, yakni Sengon, Pencol, Pojok, Ngadiroyo, Rejosari, Tritis, Ngelo dan Serayu. Di sebelah selatan, desa ini berbatasan dengan Desa Bumiharjo, sebelah timur dengan Desa Ngadipiro, sebelah barat dengan Desa Pondoksari dan sebelah utara dengan Desa Gedong, Kecamatan Ngadirojo.
Sumber : Solopos.com

Senin, 22 Agustus 2011

Penjual Bakso Pikul Wonogiri Jadi Resto Franchise

Kisah sukses kali ini akan menceritakan seorang pengusaha sukses asal Wonogiri yang telah berhasil mengembangkan usahanya ke berbagai penjuru negeri. Namanya telah masuk ke tokohindonesia.com. Beliau baru saja wafat meninggalkan semangat bagi generasi muda wonogiri untuk terus berjuang dan berkarya untuk mencapai kesuksesan. Simak perjalanan hidup beliau ini.

Nama Lengkap : Ki Ageng Widyanto Suryo Buwono
Pekerjaan Utama : Pemilik Bakso Lapangan Tembak
Lahir : Wonogiri, Jawa Tengah, 15 Juni 1949
Wafat : Solo, Jawa Tengah, 9 Juli 2011
Agama : Islam
Pendidikan :
  • SMP Solo, 1965 - 1967
  • STM 1 Solo, 1968 - 1970



BIOGRAFI

Ki Ageng Widyanto Suryo Buwono, lahir di Wonogiri, Jawa Tengah, 15 Juni 1949. Lulusan STM 1 Solo ini pemilik usaha waralaba (franchise) bakso Lapangan Tembak. Dia merintis usahanya dari dari pedagang bakso pikulan hingga menjadi pengusaha franchise dengan 140 restoran di seluruh Indonesia. Dia meninggal dunia di Solo, Jawa Tengah, Sabtu 9 Juli 2011, dalam usia 62 tahun.

Widyanto telah memulai usaha sejak kelas 2 SMP tahun 1966 di Solo, menjajakan bakso dengan pikulan berkeliling kota. Setelah tamat STM 1 di Solo, dia pun hijrah ke Jakarta tahun 1971 dengan bekal uang Rp.1.200. Di Jakarta dia langsung dagang bakso keliling. Setiap hari keluar masuk gang memikul angkring bakso. Beberapa tahun kemudian, dia mengganti angkring dengan gerobak dorong. Di siang hari, dia berkeliling dari gang ke gang di kawasan Petamburan, Slipi, Pejompongan dan Gelora Senayan. Lalu pada malam hari, dia mangkal di kawasan Lapangan Tembak Senayan (kini telah berubah menjadi Hotel Mulia).

Masih ingat, kala itu warung bakso Widyanto itu selalu dipenuhi pelanggan sehingga area parkir itu selalu penuh mobil. Bahkan para pelanggan rela makan sambil berdiri atau di dalam mobil masing-masing karena tidak mendapatkan tempat duduk. Para pelanggannya bukan hanya para atlet pelatnas tetapi juga dari berbagai kalangan masyarakat bahkan para pejabat dan tokoh masyarakat berbaur mencicipi baksonya. Bahkan pada tahun 1980-an, Sri Sultan Hamengkuwono IX mengapresiasinya dengan memberi nama Ki Ageng Widyanto Suryo Buwono.

Kemudian, di Lapangan Tembak itu, Widyanto mendapat pelanggan yang ketagihan dengan baksonya. Maka, sejak 1982 Widyanto akhirnya memutuskan mangkal tiap hari di luar pagar kompleks Lapangan Tembak Senayan. Pelanggannya pun semakin banyak, di antaranya para atlet pelatnas atletik, bulutangkis, renang, dan menembak. Hingga akhirnya, tahun 1983, dia dipersilahkan mendorong gerobak baksonya ke dalam kompleks. Bahkan akhirnya diizinkan membuka warung kecil di lokasi parkir. Sejak itulah bakso ala Jowo itu dikenal masyarakat pelanggan dengan sebutan Bakso Lapangan Tembak Senayan.

Masih ingat, kala itu warung bakso Widyanto itu selalu dipenuhi pelanggan sehingga area parkir itu selalu penuh mobil. Bahkan para pelanggan rela makan sambil berdiri atau di dalam mobil masing-masing karena tidak mendapatkan tempat duduk. Para pelanggannya bukan hanya para atlet pelatnas tetapi juga dari berbagai kalangan masyarakat bahkan para pejabat dan tokoh masyarakat berbaur mencicipi baksonya. Bahkan pada tahun 1980-an, Sri Sultan Hamengkuwono IX mengapresiasinya dengan memberi nama Ki Ageng Widyanto Suryo Buwono.

Kemudian, Widyanto dimudahkan membuka beberapa gerai di lingkungan Senayan. Selain di halaman Gedung Bulutangkis, dia diizinkan menyewa lahan untuk buka warung bakso di Kelurahan Lapangan Tembak Senayan yang ditempatinya hingga sekarang. Sampai akhirnya, dia pun mengembangkan usaha bakso menjadi waralaba (franchise) Bakso Lapangan Tembak. Sampai akhir hayatnya, Sabtu 9 Juli 2011, usaha baksonya telah mempunyai 140 restoran  (franchise) di seluruh Indonesia.

Penulis: Tian Son Lang | Bio TokohIndonesia.com | ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA

Sumber : TokohIndonesia.com

Aziz Widayanto - Petani Anggrek yang Sukses dari Wonogiri

Dalam usia relatif rnuda (35 th) Aziz Widayanto sudah bisa mewujudkan angan-angannya sebagai Kader Petani Muda yang mandiri. Kehidupan pria kelahiran 21 Juni 1975 terbilang sukses dengan rumah yang cukup megah, dan sebuah mobil pick-up untuk mengangkut hasil pertanian untuk memperlancar usahataninya.

Aziz yang telah mempersunting gadis pilihannya yang bernama Yustin Wariyanti 11 tahun yang lalu, telah mernbuahkan 2 orang anak (1 putri dan 1 putra). Sosok pemuda tani anggota Kelompok Tani Marsudi Tani, di Dusun Garon Desa Batuwarno, Kecamatan Batuwarno, Wonogiri ini mempunyai motivasi kerja yang tinggi, dan mampu menjadi penggerak dan memberikan contoh pada masyarakat di sekitarnya, ternyata dengan berusahatani yang dirintis mulai tahun 2005 yakni budidaya pembesaran bibit tanaman anggrek, ia dapat hidup layak bersama keluarganya. Di balik kesuksesan tersebut nampaklah keteladanan yang tercermin dalarn kesederhanaan dan mampu memberikan magnet bagi warga lingkungannya.


Perkenalannya dengan pengusaha anggrek asal Batuwarno yang sekarang berdomisili di Jakarta yang menawarkan kerjasama saling rnenguntungkan dengan menjadi plasma menjadikannya sebagai salah satu petani anggrek yang diunggulkan di Kecamatan Batuwarno. Semua itu bisa teraih berkat kerja kerasnya, interaksinya dengan Penyuluh Pertanian yang mampu memberikan motivasi untuk melaksanakan usahataninya dengan lebih baik.

Komoditas utama yang diusahakan Aziz adalah tanaman bunga anggrek dengan populasi 12.000 batang. Usaha lainnya yaitu tanaman pangan jagung dengan produktivitas 5,5 ton pipilan kering dan peternakan (ternak sapi yang sudah berkernbang sampai 8 ekor), serta rumput gajah dan silase dari jerami. Bagi Aziz, anggrek mernberikan keuntungan sebesar Rp 23,992 juta, jagung Rp 11,150 juta, ternak sapi, belum termasuk rumput gajah maupun silase yang selain dipakai sendiri juga dijual kalau ada yang membutuhkan.

Sumber : Sinartani.com

Minggu, 21 Agustus 2011

Hardian Kusuma Djati Penggerak Petani Mandiri

Dunia pertanian mungkin tidak begitu menarik bagi kebanyakan anak muda. Harus berlepotan lumpur, panas dan hujan, cukup menjadi alasan bagi mereka untuk tidak menekuni bidang itu. Tapi tidak demikian halnya dengan pemuda berusia 28 tahun bernama Hardian Kusuma Djati ini.

Pada 2010 lalu, ia bahkan menjadi wakil Wonogiri dalam ajang lomba pemuda pelopor bidang pertanian tingkat nasional. Akrab disapa Djati, pemuda asal Desa Kebonagung, Kecamatan Sidoharjo, Wonogiri ini sudah berjibaku dengan masalah-masalah pertanian sejak usia 14 tahun. Maklum ayahnya juga seorang pengembang di bidang pertanian di desanya, terutama pertanian organik melalui pembuatan pupuk. Dari ayahnya itu pula, Djati belajar mengenai teknik-teknik pertanian organik.


Pada 2009, beberapa tahun setelah ayahnya meninggal dunia, anak pertama dari tiga bersaudara ini mendirikan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pemasaran beras organik. Untuk menjamin ketersediaan beras organik itu, Djati mengajak kelompok tani di desanya untuk bertani secara organik.
“Para petani di desa saya, waktu ayah saya masih hidup pernah mengembangkan pertanian organik. Tapi setelah ayah saya meninggal, kebanyakan mereka kembali menggunakan pupuk kimia, sebab tidak ada yang membantu pemasaran beras organik mereka,” kata Djati, belum lama ini.

Pertanian organik itu dikembangkan Djati dengan berbasis pada kemandirian petani. Dalam hal ini, petani dan kelompok tani diajak membuat pupuk sendiri dari kotoran ternak, mengolah tanah sendiri menggunakan pupuk itu, lalu menanam padi dengan tak sedikitpun menggunakan pupuk kimia. Pada 2009 itu juga, salah satu kelompok tani di desanya yang melakukan uji coba berhasil.

Keberhasilan itu memicu para petani di desa lain ikut mengembangkan pertanian organik. Hingga saat ini, puluhan kelompok tani dari 12 desa di Sidoharjo telah menjadi kelompok binaan Djati. Beras hasil panen kelompok-kelompok tani itu dipasarkan melalui perusahaannya ke sejumlah daerah termasuk Surabaya dan Jabodetabek dengan harga di tingkat petani yang lebih tinggi dibandingkan harga beras non-organik.

Djati bahkan mengaku pernah ditantang untuk melakukan pemasaran ke Eropa Barat dengan harga Rp 38.000/kg. Namun karena produksinya masih belum mencukupi, Djati belum berani memenuhi tantangan itu.
“Saya punya mimpi membuat para petani di Wonogiri mandiri seperti yang ada di negara-negara maju, tidak tergantung pada pemerintah dalam penyediaan pupuk, dan ke depan, saya ingin sekali melihat Wonogiri menjadi tujuan agrowisata dan agro industri,” tandasnya.

Diakuinya untuk mewujudkan mimpi itu tidaklah mudah. Tapi bukan berarti tidak mungkin. Ia bahkan mengakui mengajak petani beralih ke padi organik tidak sesulit yang dibayangkan. “Mengembangkan pertanian organik kuncinya ada pada pemasaran. Jika pemasaran produknya jelas, apalagi harga jualnya lebih tinggi, petani tidak akan segan-segan beralih ke padi organik,” ungkap pemuda yang mengaku pernah mengecap pendidikan di Akademi Teknik Warga jurusan Teknik Elektronik itu.

Sumber : RadioGGLink

Ary Suryani Sukses Berbisnis Kerudung Delani

produk kerudung delani 220x123 Percantik Jilbabmu, dengan Kreasi Kerudung Delani Sekali lagi, hobi ternyata bisa mendatangkan rejeki ketika kita mau tekun dalam mengembangkannya. Hobi yang mungkin bagi kebanyakan orang ‘hanya’ dianggap sebagai kegiatan sampingan untuk melepas penat, sebenarnya bisa menjadi ‘senjata’ untuk mendatangkan rupiah di kantong kita. Selain bisa mengembangkan skill yang dimiliki, dengan mengembangkan hobi yang tersebut, pastilah dalam mengerjakannya akan lebih menyenangkan.  Begitu halnya dalam dunia fashion, kebanyakan pelaku fashion pada awalnya menggeluti dunia tersebut sebagai sebuah hobi semata. Hal itu juga berlaku pada Ibu Hj. Ary Suryani Sudarmanto yang mendirikan usaha Kerudung Delani.

Bermula dari hobi mengutak-atik kerudung yang beliau kenakan sendiri. Ibu asli wonogiri tersebut kini memiliki tempat usaha yang dinamai Kerudung Delani. Memulai usaha pada tahun 2004, saat ini Ibu Ary memberdayakan ibu-ibu rumah tangga di sekitar rumahnya untuk membantu mengerjakan usahanya yaitu memodifikasi kerudung. “Saya memberdayakan ibu-ibu di sekitar sini untuk bisa ikut serta mengembangkan hobi ini, namun untuk pola masih saya yang mengerjakan”, begitu kata Ibu Ary. Saat ini ada 7 orang ibu rumah tangga yang beliau berdayakan untuk membantu usaha Kerudung Delani. Ibu-ibu tersebut sebelumnya diberikan kursus singkat oleh Ibu Ary selama 1 minggu untuk paham dan bisa memodifikasi kerudung-kerudung ciptaan Ibu Ary.


kerudung delani.1 220x123 Percantik Jilbabmu, dengan Kreasi Kerudung Delani Kerudung Delani saat ini menerima orderan untuk membuat, menjual, serta menerima untuk jahit kerudung, renovasi kerudung, hias kerudung, seragam kerudung, kerudung wisuda, dan kerudung manten. Berbagai macam model kerudung modis terpajang rapi di kios Ibu Ary yang berlokasi di sebelah timur Monumen Jogja Kembali (Monjali) Yogyakarta. Model-model kerudung tersebut beliau namai antara lain Delani Kombinasi, Kerudung Langsung, Kerudung Matahari, Kerudung Gelombang Panjang, Kerudung Gelombang Pendek. “Ada 9 macam model kerudung yang saat ini kami produksi, namun yang paling banyak peminatnya itu yang Delani Kombinasi”, jelas Ibu Ary sembari menunjukan kepada tim BisnisUKM kerudung Delani Kombinasi.

Dalam sehari Ibu Ary dan karyawannya mampu menghasilkan 15 buah kerudung. Sistem pemasaran yang beliau lakukan selama ini sebatas promosi mulut ke mulut. Dan cara itu menurut Ibu Ary masih cukup efektif dijalankan, karena langsung berhubungan dengan konsumen. Kalau kesulitan untuk menghubungi Ibu Ary, dapat dipastikan setiap hari Minggu pagi beliau juga membuka stand di “Sunday Morning” di lembah UGM. “Lumayan banyak yang tertarik ketika kita membuka stand di Sunday Morning UGM”, tambah Ibu Ary ketika ditanya tentang pemasarannya.

Kerudung Delani menjual produknya berada pada range harga RP. 12.000,00 – RP. 750.000,00 tergantung dari model dan bahan yang dipakai. Dengan harga segitu, Kerudung Delani memiliki omzet berkisar Rp. 2.000.000,00-Rp. 3.000.000,00 setiap bulannnya. Saat ini, Ibu Ary juga memiliki cabang di Wonogiri bekerja sama dengan adiknya. Dan untuk kedepannya, beliau berharap untuk bisa mempopulerkan kerudung-kerudungnya di semua wilayah Indonesia. “Saat ini baru Kalimantan, Magelang, Jogja, Solo, juga Jakarta yang menjadi area pemasaran kami”, Kata ibu Ary sekaligus menutup kunjungan tim bisnisUKM di kios yang juga menjadi satu dengan tempat tinggal Ibu Ary. Kini peluang sukses dengan menekuni bisnis fashion, telah dinikmati oleh Ibu Hj. Ary Suryani Sudarmanto.

Sumber : BisnisUKM.com

Marzuki Abdullah Pendiri Tiga Serangkai Dari Wonogiri

tiga serangkai 250x146 Profil Pengusaha Tiga SerangkaiBagi para pelajar, keberadaan buku pelajaran sudah menjadi bagian dari aktivitas mereka selama duduk di bangku sekolah. Buku pengetahuan umum, buku pengetahuan alam, serta buku pelajaran lainnya memberikan kemudahan bagi para pelajar dalam menuntut ilmu. Buku pelajaran yang sering digunakan oleh sekolah – sekolah, salah satunya buku hasil produksi Tiga Serangkai.

Tiga Serangkai merupakan salah satu penerbit buku, khususnya buku pelajaran dan pengetahuan yang berdiri sejak 28 September 1958. Bermula dari sepasang suami istri (Alm) H. Marzuki Abdullah dan istrinya Hj. Siti Aminah, yang keduanya saat itu berprofesi sebagai guru sekolah dasar ( SD ) di Wuryantoro Wonogiri. Rasa tanggungjawab mereka sebagai seorang guru, menjadi motivasi bagi beliau untuk melihat para siswa berhasil dalam studinya. Dari keinginan tersebut mereka berinisiatif untuk mengumpulkan semua pertanyaan tentang pelajaran, dan menyusunnya menjadi kumpulan soal latihan ujian.


Awalnya H. Abdullah dan sitrinya, mencetak  buku pertama mereka di Toko Buku Tiga yang berlokasi di daerah Solo. Dan ternyata buku kumpulan soal yang mereka terbitkan, laris manis dipasaran sehingga permintaan cetak juga meningkat. Atas usulan pemilik toko buku Tiga, pasangan guru ini akhirnya mendirikan perusahaan penerbit buku dengan nama Tiga Serangkai dan memilih Sukoharjo sebagai lokasi usaha. Nama tersebut dipilih dengan mengambil salah satu kata dari Toko Buku Tiga, yang telah berjasa menerbitkan buku karya mereka untuk pertama kali.

Permintaan pasar yang sangat tinggi, menuntut Tiga Serangkai semakin meningkat pula dalam memproduksi buku. Sehingga pada tahun 1972 mereka pindah lokasi usaha yang lebih strategiws, di Jl. Dr. Supomo No.23 Surakarta. Mereka juga sudah membeli peralatan cetak modern yang mampu mencetak puluhan ribu buku dalam waktu satu jam, untuk menunjang  kualitas produk buku yang mereka hasilkan.

Saat ini buku pelajaran hasil produksi Tiga Serangkai, menjadi salah satu buku acuan bagi para pelajar sejak puluhan tahun yang lalu. Buku – buku pelajaran yang disusunnya, dipasarkan dengan pendekatan langsung ke sekolah – sekolah. Tak heran jika saat ini Tiga Serangkai berhasil menjangkau ribuan sekolah dan toko buku yang tersebar di berbagai daerah.

Walaupun pada tanggal 14 Desember 1990 H. Abdullah wafat, namun tidak menurunkan semangat Hj. Siti Aminah untuk melanjutkan apa yang diimpikannya bersama almarhum suaminya. Dengan bantuan keluarga dan saudaranya, pada tahun 1992 CV. Tiga Serangkai berhasil mengembangkan usahanya menjadi PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.

profil pengusaha tiga serangkai 250x172 Profil Pengusaha Tiga SerangkaiPerkembangan usaha PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri tidak berhenti disitu saja, pada tahun 2003 manajemen mengambil keputusan untuk membagi perusahaan menjadi 3 bagian penting. Yaitu bagian penerbitan dan percetakan, bagian distribusi, dan bagian retail. Untuk bagian penerbitan dan percetakan membawahi 3 unit bisnis yaitu PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, PT. Pantja Simpati, dan PT. Wangsa Jatra lestari. Untuk bagian retail dibantu oleh PT. Assalam Niaga Utama ( Assalam Hipermarket ), Assalam Grosir, serta PT. tiga serangkai Nusantara. Sedangkan untuk bagian distribusi membawahi dua unit usaha yaitu PT. Tiga Serangkai International dan PT. K33.

Keberhasilan PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri dalam mengelola usahanya, membuahkan hasil bagi perusahaan. Pada tahun 2007 Tiga Serangkai mendapatkan sertifikat ISO 9001 : 2000 untuk manajemen mutu. Hal ini membuktikan bahwa Hj. Siti Aminah dan para tim kerjanya berhasil membawa PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri menjadi salah satu perusahaan besar, dan mendapat kepercayaan dunia international.

Semoga kisah profil pengusaha Tiga Serangkai dalam mengembangkan usahanya serta meningkatkan kualitas pendidikan, dapat menjadi inspirasi bagi semua. Salam sukses.

Sumber gambar : http://manistebu.files.wordpress.com/2010/08/logo-tiga-serangkai.jpg dan http://tigaserangkai.co.id/blog/wp-content/uploads/2007/09/bp-abdullah-alm-ibu-s-aminah.jpg
http://bisnisukm.com/profil-pengusaha-tiga-serangkai.html

Hendro Widodo Sukses Dengan Tiwul dan Gatot

3852346460 370ab5c9a0 220x165 Bukan Sekedar Makanan “Ndeso”Sebagai orang Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur, pasti kenal dengan makanan tradisional bernama Tiwul dan Gatot. Dua jenis makanan ini terkenal sebagai makanan orang susah. Karena jika beras mahal atau sawah mengalami kekeringan, orang desa akan mengkonsumsi makanan yang berbahan dasar ketela kering (gaplek) yang dihaluskan ini. Masih banyak kita jumpai makanan ini di sejumlah daerah, seperti Kabupaten Wonogiri di Jawa Tengah, Gunung Kidul, Yogyakarta dan Blitar Jawa Timur.

Namun jangan salah, makanan tradisional seperti tiwul dan gatot kini bukan sekedar makanan ndeso lagi, ternyata bisa menjadi bisnis yang menguntungkan bagi seorang Hendro Widodo. Pria yang berasal dari Serengat Blitar ini melihat ada peluang bisnis pada makanan tradisional ini. Dan pada tahun 2003 Hendro mulai memproduksi tiwul dan gatot dalam kemasan, atau ia menyebutnya tiwul dan gatot instan. Proses menjadikan tiwul dan gatot instan cukup panjang. Hendro kerap mengganti resep agar semakin sempurna. Banyak komplain dari konsumen, namun itu justru menjadi masukan berharga bagi Hendro. Dan baru pada awal 2004, Hendro memberi merek dua produknya Titan dan Gatan.


Sampai sekarang Hendro tetap menyimpan rapat-rapat resep tiwul dan gatot instannya. Ia turun tangan sendiri dalam meracik menu, bahkan lima karyawan yang membantunya pun hanya meneruskan proses produksi berikutnya. Semua proses produksi dilakukan dengan cara sederhana, termasuk pengeringan yang masih memakai panas matahari. Karena diakui Hendro, ia belum mempunyai dana untuk membeli oven.
Dalam sebulan, Hendro bisa memproduksi dua ton tiwul dan sekitar 600 kg sampai 800 kg gatot. Selama ini, pria berumur 24 tahun ini mengaku tak mengalami kesulitan soal pasokan bahan baku, sebab daerahnya sangat kaya dengan singkong.

Hendro menjual tiwul dan gatot instan dalam dua bentuk, yaitu kemasan dan curah. Ia mematok harga kemasan seberat 250 gram dengan harga Rp 5.000. Sedangkan harga tiwul dan gatot instan curah lebih murah, yakni Rp 10.000 per kilogram. Tetapi, Hendro mengaku 80 persen produknya adalah dalam bentuk kemasan.

Dengan modal awal Rp. 25 juta, kini omzet tiwul dan gatot instan ini mencapai Rp. 10 juta per bulan. Dengan laba bersih 30 persen. Lewat 27 agen, produk Hendro kini sudah tersebar di beberapa daerah seperti Surabaya, Semarang, Bandung, Jakarta, Batam, Manado, dan Banjarmasin. Selain lewat agen, Hendro juga menitipkan produknya di beberapa outlet di Jawa Timur dengan sistem konsinyasi atau bagi hasil.

Cara penyajian kedua makanan ini sangat mudah. Kita tinggal merendam tiwul ukuran 250 gram dengan sekitar 150 cc air. Setelah dua menit, kukus tiwul selama 20 menit. Setelah mekar, paling enak tiwul dicampur taburan parutan kelapa yang sudah dibubuhi garam, keju, atau meses. Penyajian gatot sama dengan tiwul. Hanya, waktu merendamnya lebih lama, minimal delapan jam. Makin lama justru lebih baik karena gatot bisa lebih kenyal.

Hendro menyediakan tiwul instan dalam dua rasa, yaitu manis dan tawar. Tiwul tawar bisa sebagai pengganti nasi. Dan juga cocok untuk pengidap diabetes dan diet.

Kreatifitas dan ketekunan yang dimiliki Hendro Widodo telah memberikan hasil yang luar biasa. Tiwul dan gatot, bukan lagi sekedar makanan “ndeso”. Karena kini makanan tradisional ini telah di cari dan diminati oleh banyak orang.

Sumber http://bisnisukm.com/bukan-sekedar-makanan-%E2%80%9Cndeso%E2%80%9D.html
Sumber gambar http://farm3.static.flickr.com/2476/3852346460_370ab5c9a0.jpg

jajanan1 Bukan Sekedar Makanan “Ndeso”

Sakidjan, Sukses Berdagang Mie

Tepatnya 1 Desember 1957 di kota Wonogiri lahirlah seorang bayi laki laki dari rahim seorang ibu yang bernama Painem, lalu bayi itu di beri nama Sakidjan. Th 1970 Sakidjan tamat Sekolah Dasar berijazah di kota Jatiroto.

Singkat cerita 1973 atau tepatnya +18 Th kemudian, Sakidjan mencoba untuk mengadu nasib ke Ibu Kota Jakarta yang katanya sekejam kejamnya ibu tiri lebih kejam Kota Jakarta. “ Hmmm…apakah iya Jakarta seperti itu…? “ gumam Sakidjan. Tak perduli apa kata orang bahwa jakarta itu kejam Sakidjan pun membulatkan tekad untuk Hijrah ke Jakarta. Sesampainya di Jakarta Sakidjan yang bermodal nekat (red : modal denkul) alias tidak punya keterampilan, Sakidjan pun bingung mau apa dan harus bagaimana sedangkan kerabat,saudara ataupun teman di kota yang semewah ini Sakidjan tidak punya.


Perlahan tapi pasti itulah salah satu prinsip yang ada di hati seorang Sakidjan. Dia mencoba untuk bergelut di bidang Mie walaupun kala itu dia tidak langsung berjualan sendiri. Jangankan untuk berjualan sendiri dorong gerobak saja Sakidjan tidak bisa. Dengan menenteng ember kesana kemari Sakidjan ikut berjualan keliling sambil dia pelajari apa saja yang harus dilakukan seorang pedagang mie, ya…mungkin cuma itu yang dia bisa saat itu. Dan satu lagi Sakidjan berkerja tanpa di gaji, yang penting dia bisa hidup di kota jakarta ini. “Orang bisa kenapa saya tidak…” itu adalah prinsip yang boleh kita katakan prinsip keduanya seorang Sakidjan. Tak kenal lelah, letih ataupun malu yang mungkin bahasa anak sekarang Gengsi, Tengsin, Siteng, what ever lah namanya, Sakidjan terus berusaha mencoba dan bertanya, dari mulai cara memukul kentongan lalu naik satu level mendorong gerobak, lalu naik mengaduk mie, naik lagi memasak mie, dan hingga akhirnya Sakidjan pun bisa berjualan mie sendiri. Itupun di tempuh oleh Sakidjan bukan dalam waktu yang singkat, selama tiga tahun Sakidjan ikut dengan orang.

“Kalau belum kita coba jangan pernah kita mengatakan kita tidak bisa” prinsip ke tiganya seorang Sakidjan. Tepatnya pada tahun 1975 Sakidjan mulai memberanikan diri untuk terjun berjualan mie sendiri, dengan cara menyewa gerobak dan mengambil mie dari orang china. Namun waktu itu di mata masyarakat khususnya masyarakat muslim mereka beranggapan bahwa mie itu terbuat dari bahan baku yang haram. Bahkan tidak jarang pelanggan Sakidjan menannyakan bumbu dan bahan yang digunakan terbuat dari apa, maklum kala itu kebanyakan yang mengkonsumsi mie hanya orang – orang non pribumi.

Satu tahun kemudian atau tepatnya pada tahun 1976 dia bertemu dengan seorang gadis asal kota Wonogiri yang bernama Saikem. Pada tahun 1977 Sakidjan dikaruniai seorang putra yang bernama Sriyono yang kini juga membantu mengelola di bagian produksi. Enam tahun kemudian, pada tanggal 23 Mei 1983 Sakidjan kembali dikaruniai seorang putra yang bernama Pandiono.Skom yang saat ini juga membantu mengelola usaha di bagian marketing, outlet dan kerjasama. Tiga tahun kemudian kembali Sakidjan di karuniai seorang putri yang bernama Wuri Triningsih yang telah menyelesaikan tugas akhirnya di Ilmu Kebidanan.

Kembali ke tahun 1975 saat Sakidjan mulai berjualan mie sendiri. “ Jujur, Ulet dan Pantang menyerah…” sepertinya ini adalah modal awal sakidjan. Jujur, bukan hanya dalam hal materi tapi apapun yang Sakidjan lakukan atau perbuat dia harus jujur karena Sakidjan yakin bahwa orang jujur akan di mudahkan segalanya baik itu razekinya, jalan hidupnya walau terkadang perih dan sakit intinya kita harus tetap jujur. Ulet, bukan sejenis binatang melainkan sebuah sifat yang ada pada diri Sakidjan. Orang jawa bilang “ Time is Money…” yang artinya waktu adalah uang, bukannya Sakidjan mata duitan tapi semua itu demi tuntutan hidupnya yang harus memberi nafkah anak dan istrinya. Tak kenal hujan, panas dan sakit Sakidjan harus tetap berjualan. Di dalam benak seorang Sakidjan jika kita belum sampai dirawat di RS ( Rumah Sakit ) atau kita sakit tapi masih bisa bangun dari tempat tidur berarti kita masih bisa untuk mencari nafkah. Pantang menyerah, ketika itu penjualan mie Sakidjan tak ada kenaikan, pada hal dia harus membayar sewa gerobak yang per harinya Rp. 200,- sedangkan pada waktu itu harga mie baru Rp. 60,-. Rasa putus asa mulai menyelimuti benak Sakidjan, karena pada waktu itu hanya segelintir orang yang mau makan mie.

Pantang menyerah yang ditanamkan Sakidjan berhasil mengalahkan rasa putus asanya. Tak perduli di tidur di emperan toko bersama teman – temannya, bahkan tak jarang dia harus menahan rasa laparnya karena uang hasil penjualan hanya cukup untuk belanja dan bayar sewa gerobak. Atas kejujuran, keuletan dan pantang menyerahnya lambat laun Sakidjan lambat laun usahanya terus menanjak. Hingga pada tahun 1981 Sakidjan sudah mulai memproduksi mie sendiri, walaupun masih tertatih tatih dan dengan modal yang sedikit. Sakidjan terus berusaha kegagalan demi kegagalan di laluinya hanya untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Dan akhirnya Sakidjanpun berhasil mendapatkannya meski harus kehilangan materi yang tidak sedikit. Saat itu Sakidjan sudah mempunyai tempat untuk “mangkal” tepatnya di senayan pintu 1. Tapi sampai pada tahun itu mie masih belum banyak yang mengkonsumsi, kebanyakan yang mengkonsumsi masih orang China. Agar persepsi masyarakat berubah Sakidjan bersama teman – teman satu profesinya berinisiatif untuk menambahkan kata MIE AYAM. Dan ternyata dengan menambah kata “ayam” Sakidjan bersama teman – temannya berhasil meyakini masyarakat bahwa mie itu halal untuk di konsumsi.

Waktu terus berjalan dan usaha Sakidjan terus menanjak. Di tahun 1987 Sakidjan sudah mempunyai 15 anak buah (Karyawan), beberapa pangkalan (red: tempat jualan) yang tersebar di kawasan senayan dan jakarta selatan serta Sakidjan serta mensuplai mie kepada sekitar 50 gerobak dorong.

Pengalaman adalah mata pelajaran yang tidak di ajarkan di sekolah manapun. Lagi lagi itulah prinsip Sakidjan. Di tahun itu pula (1987) ia mendapatkan pembinaan dari Bogasari. Pembinaan demi pembinaan di dapatkannya,hingga solusi dari permasalahnya selama ini, di dapatkannya pula, dari pangkalan berubah menjadi Outlet, dari segi service terhadap konsumen dll. Rasa ingin maju Sakidjan kian menggebu gebu apa yang dia dapat dari pembinaan Bogasari di saring dan serap hingga akhirnya Sakidjan terus eksis sebagai pengusaha MIE AYAM BAKSO. Namun pada waktu itu Sakidjan masih memakia nama MIE TUNGGAL RASA untuk setiap outletnya. Karena nama tersebut adalah nama paguyuban dari Bogasari yang mana siapapun yang memakai produk Bogasari berbasis tepung terigu berhak untuk memakai nama tersebut. Akhirnya Sakidjan mengganti nama menjadi MIE KONDANG yang artinya Mie terkenal, harapan Sakidjan mienya bisa terkenal minimal seluruh Indonesia.

Waktu terus berjalan Sakidjan pun terus mengikuti pembinaan – pembinaan dari Bogasari, walapun begitu usahanya tetap berjalan itupun salah satu hasil dari pembinaan Bogasari. Dimana kini tanpa adanya campur tangan Sakidjan usahanya mampu melayani 7 Outlet yang tersebar di Jakarta Selatan dan Tanggerang, 80 pedagang gerobak dorong, belum lagi jika ada pesanan untuk acara – acara. Hinga akhirnya pada tahun 2004 MIE KONDANG Sakidjan sampai di kediaman Presiden Susilo Bambang Yudoyono. Pada waktu itu MIE KONDANG nya di percayai melayani acara Open House di Cikeas yang mana per harinya bisa mencapai 2000 porsi selama satu bulan.

Tidak terasa 35 tahun sudah tepat pada tahun ini 2010 Sakidjan merintis usahanya, dan kini Sakidjan mampu melayani 10 outlet yang beberapa adalah kerjasama, melayani 135 pedagang gerobak dorong serta melayani catering untuk Pejabat – pejabat tinggi negri ini khususnya TNI.

Itulah sepenggal kisah tentang Bpk. Sakidjan diamana beliau mendirikan usahanya dalam rentang waktu yang panjang.

“Pahit itu harus kita rasakan karena manisnya tinggal kita telan”

sumber: miekondang.com

Sudwikatmono, Pengusaha Sukses Dari Wonogiri

Sudwikatmono Orang Wonogiri tepatnya Wuryantoro Kota Kecamatan yang letaknya sebelah selatan Kota Wonogiri berjarak sekitar 20 Km. Sudwikatmono Orang Wonogiri meninggal beberapa hari lalu, namun namanya masih terus ditulis banyak media dan mengulas berbagai cerita tentang Sudwikatmono.

Sudwikatmono, mantan si raja sinepleks, berniat membangun kerajaan bisnisnya lagi. Yang Mencoba Tidak Menyerah dan Tidak Lari.

Ini bukan dongeng seribu satu malam. Seorang konglomerat jatuh, karena langit tempatnya bergantung runtuh. Ia bagian dari beberapa konglomerat yang tumbuh bersama kekuasaan.


Lalu, satu per satu, dilegonya asetnya. Namanya pun pelan-pelan dalam proses menghilang. Tapi, sebelum sama sekali terhapus dari dunia bisnis, Sudwikatmono mencoba bangkit. Ia tak hanya mampu pulih, meski tak seratus persen, dari stroke yang menyerangnya di tahun 1997. Belum lama ini, lewat perusahaan yang dikelola anak bungsunya, ia mengajukan proposal untuk membeli PT Petrokimia Nusantara Interindo (PENI), salah satu perusahaan bahan baku plastik terbesar di Indonesia. Cita-citanya, membangun sebuah perusahaan bahan baku plastik terbesar, dengan cara menggabungkan PT PENI dengan yang sudah dan masih dimilikinya: Polypet Karyapersada, Polyprima Karyareksa, Tripolyta, dan Patra Polindo.

Sejauh ini, kita belum tahu kelanjutan dari rencana itu. Yang sudah berjalan hampir lima tahun, setelah Soeharto tak lagi berkuasa, Sudwi menjalankan bisnis-bisnisnya bak lone ranger. Ia hanya dibantu anak lelaki satu-satunya (tiga anaknya yang lain perempuan). Cuma, dalam lima tahun itu terbukti, setidaknya, dengan melepas yang satu meraih yang lain, ia bisa bertahan.

Dulu, selama 32 tahun, berkat kedekatannya dengan sang penguasa, bisnis lelaki kelahiran Wuryantoro, Wonogiri, Jawa Tengah, itu menggurita hingga mencapai sekitar 300-an perusahaan. Kini, pun jaringan bioskop Cineplex 21, yang ketika lahir dihujani kritik oleh artis dan para pekerja film kita, sudah bukan lagi miliknya.

Seperti kata para bijak, harapan adalah pelita hidup, tampaknya itulah yang kemudian hinggap di benak Sudwi ketika selama satu bulan ia harus dirawat di Rumah Sakit Pondok Indah. Badannya sempat lumpuh. Ia sempat pula tak bisa bicara. Tapi harapan membuat tubuhnya bersedia diajak latihan dan latihan—melatih tangannya dengan bola-bola kecil, membaca koran sambil berupaya berteriak-teriak untuk melatih bicara. Sudwi mencoba tidak menyerah. Dan berhasil. Suara lelaki yang dikenal jago melobi itu kini perlahan dan pelan, sama dengan irama berjalannya.

Seperti tubuhnya yang terserang stroke, krisis ekonomi membuat bisnis lelaki itu berantakan. Tiba-tiba saja, penggila mi itu berutang Rp 1,84 triliun kepada BPPN. Memang, Bank Surya yang dimilikinya bersama Bambang Sutrisno mendapat suntikan BLBI sebelum akhirnya ditutup pemerintah, akhir 1990-an. Bebannya terasa bertambah berat, karena Bambang kabur ke Singapura. Untunglah, pelanggaran batas maksimal pemberian kredit Bank Surya, oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada November silam, dibebankan kepada Bambang sebagai wakil komisaris utama. Terbukti ia dalang dari praktik tipu-menipu itu. Sudwi, sebagai komisaris utama, dinyatakan tidak tersangkut-paut kasus tersebut.

Di luar urusan Bank Surya, terpaan lain menimpa PT Indocement Tunggal Prakarsa, pabrik semen yang menjadi mesin uang Sudwikatmono dan rekan-rekan the Gang of Four-nya—Liem Sioe Liong, Djuhar, dan Ibrahim Risjad. Akibat nilai tukar rupiah merosot hingga tinggal seperempatnya terhadap dolar AS, Indocement tidak mampu membayar utang.
”Untuk membayar bunga saja, kami tidak mampu,” ujarnya bercerita. Apa boleh buat, 62 persen kepemilikan perusahaan itu akhirnya dijual kepada Kimmeridge Enterprise, anak perusahaan Heidelberger Zement AG, sebuah perusahaan semen tingkat dunia. Saham Sudwikatmono dkk. pun terdilusi.
Sebagian dari saham Indocement yang tersisa, ditambah sebagian saham PT Bogasari Fluor Mills (mesin uang lainnya dari kelompok the Gang of Four), saham-saham lain dan sejumlah uang tunai, diserahkan kepada BPPN untuk melunasi utang yang Rp 1,84 triliun tadi. Sekarang, menurut Sudwikatmono, urusan utangnya kepada BPPN telah selesai. Ia dan Ibrahim Risjad memang tercatat sebagai obligor BPPN yang paling kooperatif. Bukan hanya dalam soal melunasi utang, juga dalam hal dipanggil BPPN, Sudwi selalu datang sendiri.

Karena urusan sudah beres, BPPN berjanji memberikan surat jaminan bebas dari proses dan tuntutan hukum yang dikenal sebagai release and discharge. ”Surat itu penting sebagai jaminan bahwa kewajiban saya telah selesai,” katanya. Untuk itu, sahamnya di Indocement dan Bogasari tak lagi berarti. ”Tidak signifikan,” katanya tanpa mau menyebut angka. Tapi mungkin ini lebih baik bagi pengusaha yang dulu suka berpantalon putih, bersepatu putih ini. Bukankah dua perusahaan itu menjadi besar hanya karena berkolusi dengan kekuasaan?

Menyangkut perusahaan-perusahaan yang lain, Sudwi menugaskan Grup Indika, kelompok usaha yang dimodalinya dan dijalankan anak bungsunya, Agus Lasmono, untuk melakukan restrukturisasi. Perusahaan yang kondisinya buruk segera ditutup. Perusahaan yang tidak termasuk core business keluarga—keluarga Sudwikatmono berencana menfokuskan diri pada bisnis multimedia, hospitality seperti restoran dan hotel, serta petrokimia—diupayakan dijual. Kerja sama yang dirasa tidak lagi sreg (karena berbagai alasan) diputus secara baik-baik.
Karena alasan yang terakhir itu, kerja sama bisnis selama 30 tahun dengan Benny Suherman dalam Grup Subentra (yang memiliki jaringan Cineplex 21) diputus secara baik-baik. Juga, ia berpisah kongsi dengan Arswendo Atmowiloto. Mereka berbisnis penerbitan, di antaranya tabloid Bintang dan Fantasi. Di luar yang dilepas-lepas itu, perusahaan yang masih baik dikelola secara lebih profesional. Melalui restrukturisasi, ”Nantinya perusahaan saya kira-kira tinggal 30 saja,” katanya.

Itulah memang jalan kembali bukan saja untuk survive, juga untuk berusaha tanpa KKN. Sesungguhnya, sebagian yang dipikulnya tak secara langsung karena ulahnya. Misalnya, ia ditagihi pajak sebagai komisaris utama di banyak perusahaan. Padahal, perusahaan-perusahaan itu sebetulnya merugi dan tidak lagi membayar gaji kepadanya. Selain itu, Sudwi sebagai komisaris utama di mana-mana bukan kemauannya sendiri.

Di zaman Orde Baru, banyak pebisnis sengaja mendekati dan mengajak berkongsi karena ia dianggap bisa menjamin keluarnya berbagai izin usaha. Ia memang dikenal sebagai pelobi andal, di samping punya sandaran sangat kuat: Soeharto.

Ada juga perusahaan yang sekadar minta izin pasang namanya di kolom komisaris utama, meski kalau ada imbalan jumlah tak berarti, dan meski dijatah saham gratis pun nilainya tak punya pengaruh dalam rapat umum pemegang saham (RUPS). Perusahaan yang berperilaku seperti ini yakin, pencantuman nama Sudwikatmono bisa membuat keder para pesaing, birokrat, dan pejabat yang hendak mengganggu bisnis tersebut. Jadi, Sudwikatmono pernah disamakan dengan semacam mantra, atau jampi-jampi penolak bala. Itu sebabnya hingga ia disebut-sebut memiliki kerajaan bisnis 300 badan usaha.

Musim berganti, para penguasa pun lewat. Di antara pendiri Gang of Four, setidaknya Sudwikatmono tak menampik tanggung jawab. Pengalamannya menderita stroke, antara lain, membuatnya bertekad untuk menegakkan perusahaan yang tak lagi menyandarkan pada keleluasaan. Pepatah klasik itu memang bersemayam di benaknya: pengalaman itu memang benar guru yang baik, tapi memang benar juga SPP-nya teramat mahal.

Sumber : http://www.majalahtrust.com/liputan_khusus/liputan_khusus/159.php
Image : http://i.poskota.co.id/uploads/2011/01/Sudwikatmono.jpg


Sabtu, 13 Agustus 2011

Kisah Sukses Pengusaha Jamur

jamur kuping4 200x155 Kisah Sukses Pengusaha Jamur Sukses dengan berbisnis jamur tentu bukan hanya isapan jempol belaka. Semua orang memiliki peluang yang sama untuk bisa meraih sukses melalui bisnis jamur. Salah satunya yaitu Ir. Eddy W. Santoso yang sukses membangun PT. Teras Desa Intidaya untuk membudidayakan jamur lingzhi, hiratake, shiitake, hon shimeiji, jamur tiram, jamur kuping, maitake, dan enoki.

Memulai usaha budidaya jamur di saat krisis moneter terjadi, tentu bukan perkara mudah bagi seorang Eddy W. Santoso. Pada awalnya lelaki lulusan Teknik ITB ini tidak tertarik untuk terjun menekuni bisnis budidaya jamur. Beliau lebih berminat menekuni bisnis komputer sebagai peluang usaha yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Namun sayang, perjalanan bisnis komputer yang telah dijalankannya selama 15 tahun ini harus gulung tikar diterjang badai krisis moneter yang melanda Indonesia pada tahun 1997.
Kegagalannya dalam menjalankan bisnis komputer membuat Eddy harus berpikir keras dan berusaha bangkit dari keterpurukan yang sedang Ia alami. Saat itu permintaan komputer nyaris terhenti, sehingga Ia harus mencari peluang bisnis baru yang lebih menjanjikan di tahun-tahun yang akan datang.

Sejak kejadian tersebut, setiap harinya Eddy melakukan riset pasar dan belajar dari para pengusaha sukses yang ada di sekitarnya. Dan setelah melakukan pengamatan yang cukup lama, Eddy pun menjatuhkan pilihannya untuk menekuni bisnis jamur sebagai usaha barunya. Peluang tersebut diambil Eddy karena pada dasarnya tanaman jamur cukup mudah untuk dibudidayakan, terutama di daerah dingin seperti Jawa Barat. Selain itu kandungan gizi pada jamur juga cukup tinggi, sehingga peluang pasarnya pun masih sangat terbuka lebar.

Setelah tiga tahun menjalankan bisnis budidaya jamur, Eddy semakin optimis bahwa dirinya tidak salah memilih peluang bisnis. Pasalnya dari tahun ke tahun, permintaan pasar jamur semakin menunjukan peningkatan yang cukup tajam. Bahkan bisnis jamur yang dikembangkan Eddy belum bisa mencukupi permintaan jamur di sekitar kota Bandung dan Jakarta.

Melihat permintaan jamur (terutama jamur hiratake dan jamur lingzhi) yang terus meningkat, Eddy pun mengembangkan bisnisnya dengan memanfaatkan kurang lebih 1 hektar lahan yang ada di Lembang untuk membudidayakan jamur. Tidak hanya itu saja, Eddy pun menggandeng para pemuda pengangguran di sekitar lokasi tersebut untuk diberikan pelatihan budidaya jamur sebelum mereka direkrut sebagai karyawan PT. Teras Desa Intidaya. Bahkan kesuksesan bisnis jamur Eddy tidak berhenti sampai disitu, untuk memperluas bisnis jamurnya Ia pun menjalin kerjasama dengan beberapa petani plasma guna mencukupi permintaan pasar jamur obat yang terus meningkat.

Kini di tengah kesuksesannya menjalankan bisnis budidaya jamur, Eddy tidak pernah lelah untuk berusaha memberikan nilai lebih kepada masyarakat sekitar dengan mengenalkan macam-macam jamur dan manfaatnya bagi para konsumen. Selain itu Eddy juga berharap, agar masyarakat Indonesia mulai mengembangkan bisnis jamur karena potensi pasar lokal maupun internasional masih sangat terbuka lebar.
Semoga kisah sukses pengusaha jamur ini bisa menjadi inspirasi bagi para pembaca, khususnya para pemula yang tertarik menekuni bisnis jamur. Ingat, selalu ada peluang bagi siapa saja yang mau tekun dan terus berusaha. Mulai dari yang kecil, mulai dari yang mudah, mulai dari sekarang. Ayo berbisnis jamur !!!
Sumber : Bisnis Ukm

Kisah Sukses Seorang Pembersih Kaca

Bagi orang-orang menengah atas, mengendarai mobil yang bersih, wangi dan terawat mesin dan bodinya merupakan suatu kebutuhan. Mobil, bagi mereka bukan sekedar alat transportasi, tapi sekaligus sebagai simbol prestise dan kebanggan. Tidak heran kalau mereka ingin mobilnya tetap kelihatan bersih dan mengkilap. Sebab itu, untuk membuat mobil tampak cantik, mereka tidak keberatan mengeluarkan kocek minimal Rp 500 ribu setiap kali berkunjung ke bengkel salon mobil.Kisah sukses seorang pembersih kaca, dimulai dari seorang lelaki bernama Haji Akbar Sarwono. Pemilik dan pendiri salon kecantikan mobil HAS, memang jeli menangkap peluang bisnis. Di Jakarta adalah lokasi pilihan yang tepat untuk membuka usaha tersebut. Karena perkembangan ibu kota begitu cukup pesat dalam perekembangan jumlah mobilnya, terutama pemilik mobil pribadi. HAS, panggilan akran Haji Akbar Sarwono, kini telah mempunyai lima bengkel di Jakarta yang setiap bulannya didatangi hampir 400 mobil untuk mempercantik interior mapun eksterior mobil. Menurut HAS, jumlah tersebut masih dapat ditingkatkan. Kendala HAS bukan pada pasar, tapi teknis, seperti keterbatasan tenaga kerja dan ruang pembersihan.

Sejak muda, hobi pria kelahiran Surabaya ini adalah merawat mobil.”Saya nekat buka bisnis ini dengan modal dengkul,’ ungkapnya. Bisnis yang kini menghasilkan ratusan juta rupiah per tahun ini bermula dari jasa membersihkan kaca. Pada tahun 1987, Has membuka bengkel pertama, di garasi rumahnya di Kelapa Gading, Jakarta Timur. Kala itu hanya dibantu oleh seorang tukang cuci mobil dan dan menempati sebuah garasi rumahnya yang hanya berkapasitas 2 mobil. Dengan janji kaca buram jadi terang Has memasang tariff Rp 25 ribu  per mobil. Mulanya, ia pesimis bahwa tarif sebesar itu dapat memikat konsumen. “Ongkos cuci mobil saja ketika itu hanya Rp 3000,’ katanya. Tapi, diluar dugaan Has, pada hari pertama beroperasi, bengkelnya menerima tiga mobil.
Melihat respon pasar yang dinilai cukup baik itu, Has membuka lagi bengkel di Pluit. Kali ini garasi rumah orang tuanya, dan hanya dapat menampung satu mobil. Sejak saat itu, Has tak menganggap lagi merawat mobil sebagai hobi. Ia mulai berpikir serius tentang pengembangan bisnis. Karena itu ia terus mempelajari tentang pengembangan binis. Ia terus mempelajari soal kecantikan mobil dengan membaca buku serta mengunjungi pameran-pameran otomotif mobil. Beliau juga mengeluarkan dana cukup besar untuk pergi ke Amerika, di sana Has mengunjungi bengkel-bengkel salon kecantikan mobil dan banyak bertanya tentang bisnis ini. Has semakin mahir dalam bisnis ini. Has menyadari bahwa usaha ini selain tergantung pada jumlah mobil yang beredar juga tergantung pada lokasi. Pada tahun ketiga Has telah berhasil meraih sekitar 200 pelanggan. Selanjutnya Has mencari tempat berusaha yang dapat menampung lebih banyak.  Di tempat yang baru tersebut, Has tidak hanya menawarkan jasa membersihkan kaca mobil, tapi juga mempercantik mobil. Jasa yang ditawarkan dikemas dalam satu paket, yaitu membersihkan seluruh kaca mobil, mengkilapkan cat, membersihkan seluruh bagian interior, membersihkan dan sekaligus mengkilapkan ban, bumper setang wiper, dan handle pintu mobil, serta menciptakan keharuman di dalam mobil seperti mobil baru.
Meski tidak tamat sekolah dasar, pemilik Has termasuk otodidak yang bisa dengan cepat menguasai ilmu dan ketrampilan secara mandiri. Bayangkan saja, kelahiran Malang Jawa Timur tahun 1941 itu menguasai bahasa Arab, Belanda, Inggris, serta Cina dalam tiga dialek. Konon, keahlian multi bahasa itu berkat pergaulannya dengan kalangan the high yang menjadi langganannya. Karena itu pula, Has juga sering menerima panggilan memoles kapal pesiar dan pesawat terbang milik para konglomerat.
Kisah sukses seorang pembersih kaca ini, patut kita teladani. Bagaimana kegigihannya mulai dari membersihkan kaca hingga mampu menjadikan mobil-mobil pelanggannya tampak seperti keluar dari showroom saja. Semoga dapat menjadi inspiransi berharga bagi anda para pebisnis baru.
Sumber : Bisnis Ukm