Tampilkan postingan dengan label kerajinan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kerajinan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 September 2011

Merangkai untung dari kerajinan cangkang kerang

Peluang Usaha

Kamis, 08 September 2011 | 12:31  oleh Fahriyadi
PELUANG BISNIS KERAJINAN CANGKANG TELUR
Merangkai untung dari kerajinan cangkang kerang
Cangkang kerang ternyata bisa dibuat menjadi aneka bentuk kerajinan yang indah dan bernilai seni tinggi. Selain ramah lingkungan, kerajinan tangan dari cangkang kerang juga bisa mendatangkan rupiah. Peminat kerajinan cangkang kerang ini pun tidak hanya pasar domestik saja, tetapi juga sampai ke Eropa.

Cangkang kerang bila tidak dimanfaatkan hanya menjadi limbah atau sampah yang berserakan mengotori jalan atau pekarangan. Namun berkat sentuhan tangan nan terampil, cangkang kerang itu bisa berubah menjadi kerajinan yang cantik dan indah.

Tak hanya itu, kerajinan dari cangkang kerang ini pun mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Seperti yang dilakukan oleh I Darmaya, pemilik PT Caspla Bali yang bermarkas di Denpasar, Bali.

Darmaya menangkap peluang untuk mengolah cangkang kerang itu menjadi kerajinan yang bernilai tinggi. Ia mulai mengolah cangkang kerang itu pada 2002 lalu. Saat itu, ia melihat banyak cangkang kerang berserakan terbuang di wilayah pesisir pantai Bali.

Melimpahnya cangkang kerang itu membuat Darmaya berpikir untuk menjadikan cangkang kerang menjadi kerajinan yang bermutu dan bernilai seni. Lantas, ia membentuk cangkang itu menjadi aneka kerajinan seperti kalung, cincin, gelang, pigura, meja, kursi, vas bunga dan masih banyak lagi. "Selain mengurangi volume limbah, cangkang kerang merupakan bahan baku berkualitas untuk kerajinan," kata Darmaya.

Karena unik, kerajinan cangkang kerang itu banyak digemari hingga ke pasar mancanegara. Alhasil, Darmaya sukses meraup laba dari kerajinan cangkang kerang yang sebelumnya tak berguna itu.

Darmaya bilang, kulit kerang memiliki karakter material yang keras dan berkilau. Inilah yang menjadi daya tarik utama kerajinan cangkang kerang ketimbang kerajinan dari bahan lain seperti kayu atau batu.

Sejak menekuni usaha kerajinan cangkang itu, Darmaya kini telah mendesain lebih dari 5.000 motif. Salah satu desain Darmaya yang terkenal adalah bingkai foto berukuran 10 sentimeter (cm). "Selain bingkai, banyak bentuk kerajinan yang bisa dibuat dari cangkang," kata pria asli Bali itu.

Untuk menjaga produksi, Darmaya membeli cangkang dari pengepul seharga Rp 20.000 - Rp 50.000 per kilogram (kg), tergantung kualitas dan ukuran cangkang.

Darmaya memang mengincar cangkang unggulan yang berukuran besar dan memiliki warna menarik karena dia sengaja membidik pasar kelas atas. Ia memasarkan kerajinan cangkang itu melalui toko aksesori yang ada Denpasar dan beberapa kota lain di Bali. Tak hanya itu, ia juga memenuhi pesanan dari hotel-hotel yang bertebaran di Pulau Dewata.

Soal harga, Darmaya menjual produk kerajinan itu mulai harga Rp 5.000 hingga Rp 1 juta per pieces. Khusus untuk bingkai foto, Darmaya menjualnya mulai dari harga Rp 50.000 hingga Rp 8 juta per buah.

Hingga kini, Darmaya mampu memproduksi hingga ribuan produk kerajinan cangkang. Selain menjualnya di Bali, Darmaya juga memasarkan produknya di toko aksesori di Lombok. Untuk menambah pelanggan Darmaya tak keberatan membuat kerajinan cangkang dengan desain dari pemesan kerajinan.

Dengan ketekunan dan keuletan mengolah cangkang kerang itu, Darmaya bisa mendulang omzet hingga Rp 300 juta per bulan. Penjualan Darmaya bahkan bisa naik 400% saat ada pesanan dari Eropa yang biasanya datang di bulan September hingga November. "Saya eskpor enam kontainer, dengan nilai US$ 50.000 per kontainer," terang Darmaya.

Kerajinan milik Darmaya banyak digemari orang Eropa karena bentuknya yang unik sehingga dinilai cocok untuk suvenir Natal.

Pengusaha lain yang mengolah cangkang kerang menjadi kerajinan menarik itu adalah Teguh Adi Prabowo, Pemilik Puspa Guna di Surabaya. Teguh menjadi perajin cangkang kerang sejak 1997 lalu.

Laki-laki berusia 37 tahun itu mengaku tergiur mengolah cangkang kerang karena melihat potensi pasarnya yang besar dari kalangan wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara.

Teguh mempunyai ciri khas produk kerajinan cangkang kerang berupa hiasan dinding. Dalam sehari, mantan petani rempah itu menjual hingga 70 buah kerajinan yang dibanderol mulai dari Rp 100.000 hingga Rp 300.000 per buah.

Salah satu produk unggulan Teguh adalah hiasan dinding cangkang yang membentuk desain batik. Untuk membuat desain seperti itu, Teguh mengaku memilih sendiri cangkang kerang yang keras dan memiliki karakter warna yang menarik. "Cangkang itu harus dipilah, karena tidak semua cangkang kerang keras dan kuat," jelasnya.

Selain itu, cangkang kerang tersebut mesti dibersihkan untuk menghilangkan bau amis yang kadang-kadang masih menempel di cangkang.

Selain menjual kerajinan hiasan dinding itu ke pasar domestik, Teguh sempat melayani pasar ekspor. Tercatat pada tahun 2000 hingga 2010, ia rutin mengirim 300 buah kerajinan tangannya itu ke Eropa. "Tapi sejak tahun 2011 ekspor turun karena Eropa lagi terkena krisis," keluh Teguh.

Sewaktu Teguh masih rutin ekspor ke Eropa itu, omzet Teguh berkisar antara Rp 40 juta-Rp 60 juta per bulan. Setelah ekspor terhenti, omzet Teguh turun menjadi Rp 20 juta per bulan."Kami harap pasar pesanan kerajinan cangkang kembali bergairah ke Eropa," ujar Teguh.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/76924/Merangkai-untung-dari-kerajinan-cangkang-kerang

Merangkai laba dari kerajinan bambu

Peluang Usaha

 
Kamis, 08 September 2011 | 12:43  oleh Ragil Nugroho, Bambang Rakhmanto
PELUANG BISNIS KERAJINAN BAMBU
Merangkai laba dari kerajinan bambu 
 
Pohon bambu bukan tanaman asing bagi orang Indonesia. Dengan jumlah yang berlimpah, batang bambu bisa digunakan untuk memenuhi beragam kebutuhan. Selain bahan baku mebel, bambu bisa disulap menjadi berbagai alat musik barat, bahkan rangka sepeda.

Tanaman bambu memiliki sejuta manfaat. Selain bisa digunakan untuk bahan baku mebel, atau bahan untuk mempercantik interior dan eksterior rumah, bambu juga bisa disulap menjadi alat musik dan alat transportasi, berupa sepeda.

Sebagai bahan alternatif pengganti kayu, bambu semakin menjadi andalan usaha kerajinan di Indonesia. Apalagi bahan baku bambu dengan mudah ditemui di mana saja.

Lihat saja pengalaman Supardi dan Dasep Arifin bergelut dengan bambu. Supardi yang berasal dari Bandung sejak 2005 lalu telah membuat aneka lampu hias, kursi, dan meja bambu dengan merek Bamboo's Craft. Dengan merek yang sama, pada 2010 lalu dia juga berkreasi membuat sepeda onthel alias sepeda angin dari bambu.

Tentu saja, sepeda bambu yang dibuat oleh Supardi dijual lebih mahal. Jika produk lampu hias dan furnitur bambu dijual dengan harga antara Rp 100.000 sampai Rp 500.000 per unit, sepeda bambu dia banderol seharga Rp 20 juta per unit.

Dibantu oleh 4 karyawan, Supardi membuat sepeda bambu ukuran tinggi 165 cm dan panjang 120 cm dalam waktu 20 hari. "Meski baru, produk sepeda bambu saya mulai disukai konsumen, terutama di Jabodetabek dan Semarang," ujar dia.

Supardi rata-rata bisa menjual dua sepeda bambu per bulan. Dengan penjualan tersebut, dia mengaku mendapat omzet total hingga Rp 50 juta per bulan dari seluruh penjualan kerajinan bambu. Dari omzet senilai itu, Supardi bisa menarik margin hingga 15%.

Dengan permintaan yang terus naik dalam dua tahun terakhir, Supardi bertekad akan lebih fokus membuat sepeda bambu. "Prospeknya sangat bagus," katanya.

Prospek yang bagus itu didukung oleh kondisi geografis dan demografis Indonesia. Polusi, kemacetan, dan mulai tumbuhnya kesadaran masyarakat akan kesehatan, memicu gerakan bike to work sehingga memicu permintaan sepeda lebih tinggi.

Menurut Supardi, sepeda bambu adalah solusi paling tepat untuk menyelamatkan lingkungan. Selain materialnya murah dan mudah didapatkan, juga mudah didaur ulang. "Proses pembuatannya pun tidak menimbulkan polusi karbon," kata Supardi, bersemangat.

Tak hanya itu, ia juga mengklaim, sepeda bambu buatannya nyaman digunakan. Sebab, bambu yang digunakan sebagai rangka sepeda itu ulet alias tak mudah patah, lentur, tetapi kuat. Kelenturan inilah yang menjadikan sepeda bambu mampu meredam getaran sehingga nyaman digunakan di jalan bergelombang dan tidak rata.

Namun, untuk memproduksi sepeda bambu yang nyaman, kuncinya ada di bahan baku. "Diperlukan kejelian memilih bambu. Sebab, tidak semua bambu bisa digunakan," katanya.

Supardi sendiri memilih bambu kuning China sebagai "bahan baku" pembuatan sepeda. Bambu ini lebih kuat dibanding bambu jenis yang lain.

Selain pemilihan bambu, perajin juga harus menguasai teknik pengeringan dan pemanasan bambu. Proses ini sangat penting untuk membuat bambu lebih ulet dan mencegah keretakan bambu. Menurut Supardi, teknik pengeringan dan pemanasan tak sulit namun butuh ketekunan. "Teknik penyambungan juga harus benar agar rangka tidak patah," katanya.

Penyuka bahan baku bambu yang lain adalah Dasep Arifin, warga Sentul, Bogor, Jawa Barat. Namun, Dasep tidak membuat sepeda seperti Supardi. Dia lebih memilih bambu untuk dijadikan alat musik seperti biola, kecapi, suling, dan, tentu saja, angklung. “Walaupun terbuat dari bahan yang mudah ditemui, biola saya tidak kalah dengan buatan luar negeri,” ujar pria berusia 65 tahun ini. Menurut Dasep, banyak orang yang menyukai produk biola bambu karena unik.

Berlatar belakang seniman karawitan, Dasep tertarik untuk mengembangkan alat musik bambu karena ingin mengembangkan kesenian yang digelutinya. Apalagi dia melihat pohon bambu sangat banyak ditemui di mana saja. “Saya selalu berpikir untuk mengembangkan kesenian Indonesia asli,” tuturnya.

Ide untuk membuat biola bambu hadir ketika dia menyadari bahwa alat musik dari bambu saat ini kebanyakan hanya angklung dan suling. KArena itu, sejak 2009 lalu, Dasep pun mulai merealisasikan pembuatan biola bambu tersebut.

Selama dua tahun itulah, Abah berusaha mencari bentuk dan suara yang pas untuk biola bambunya. Selama itu pula, dia berusaha menemukan jenis bambu yang cocok untuk biola. Akhirnya dia menggunakan bambu gombong karena memiliki ukuran besar.

Dengan panjang 12 m dan diameter 10-15 cm, bambu gombong mudah di bentuk sesuai dengan keinginan. “Tidak semua bambu bisa menghasilkan bunyi, ada karakteristik bambu yang bisa digunakan dan biasanya insting saya yang bermain dalam pemilihan bambu,” ujar Dasep.

Setelah menemukan jenis bambu yang tepat, yang dilakukan Dasep adalah membuat motif yang sesuai dengan bentuk biola. Setelah motif terbentuk sesuai dengan keinginan, bambu diberi warna dan dipernis agar corak bambu keluar sekaligus mengkilap.

Walau sudah menghabiskan waktu dua tahun, Dasep mengaku biola bambunya masih jauh dari sempurna. Selain belum menghasilkan suara yang maksimal, bentuknya juga belum sesuai dengan yang dia harapkan. "Kalau boleh saya bilang baru 70%, karena bentuknya masih cukup besar,” kata Dasep.

Namun, meski kondisi kesempurnaan biola baru 70%, Dasep mengaku biola buatannya sudah banyak dipesan. Mayoritas pembeli biola, kecapi dan alat musik adalah seniman atau yang cinta dengan musik.

Dari biola dan berbagai alat musik dari bahan baku bambu tadi, Dasep mengaku belum bisa mendapatkan duit yang lumayan. Dengan harga satu unit biola bambu mencapai Rp 600.000, per bulan dia hanya mampu mengantongi omzet mencapai Rp 10 juta. Omzet itu nantinya untuk membeli bahan baku termasuk membayar empat karyawan.

Menurut Dasep, omzet itu masih minim karena dia belum mampu memproduksi dalam jumlah banyak dan cepat. “Kendala memang masih berkutat pada soal modal dan tenaga kerja. Apalagi semua kerajinan itu diproses dengan bantuan mesin.

Karena itu, dia berharap ada investor yang tertarik untuk memodali usahanya nan langka ini.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/76927/Merangkai-laba-dari-kerajinan-bambu-

Rabu, 07 September 2011

Kilap laba kerajinan berbahan kaca

Peluang Usaha

 
Rabu, 07 September 2011 | 12:25  oleh Ragil Nugroho, Fahriyadi
PELUANG BISNIS KERAJINAN KACA
Kilap laba kerajinan berbahan kaca
 
Kaca bisa menjadi produk kerajinan yang bernilai seni tinggi. Selain unik dan menarik, kerajinan kaca juga terkesan mewah. Oleh karena itulah, kerajinan ini banyak diburu oleh kolektor benda seni termasuk hotel-hotel berbintang. Selain domestik, pasar ekspor juga terbuka.

Produk berbahan baku kaca sangat beraneka ragam. Selain untuk kebutuhan bangunan, kaca juga bisa dijadikan produk kerajinan seperti cenderamata dan suvenir yang menarik dan terkesan mewah.

Salah satu perajin kaca adalah Medi Rahma Lukri, pemilik Inti Art Glass di Semarang, Jawa Tengah. Memulai usaha sejak 2007, Medi menggunakan pecahan kaca bekas untuk membuat berbagai kerajinan unik.

Pecahan kaca bekas yang dikumpulkan dilebur dengan proses pembakaran selama 10 jam bertemperatur 1.200 derajat celsius. "Awalnya saya hanya ingin memanfaatkan kaca-kaca yang tidak terpakai," ujar Medi. Dengan menggunakan produk daur ulang, biaya pembelian bahan baku semakin murah.

Kaca yang meleleh kemudian dicetak sesuai dengan bentuk yang diinginkan, seperti vas atau tempat lilin. Setelah terbentuk, proses penyempurnaan dilakukan dengan memberikan motif ukiran menggunakan gerinda.

Dibantu 12 pegawai, Inti Art Glass bisa memproduksi sekitar 500 kerajinan kaca ukir berbagai ukuran. Produk-produk tersebut kemudian dijual dengan harga mulai Rp 10.000 hingga Rp 1 juta per produk. "Yang paling mahal berbentuk patung atau tokoh," katanya.

Tak hanya vas bunga, tempat lilin atau patung, Medi juga membuat ukiran dari berbagai barang dari kaca seperti botol anggur dan stoples kaca. Hanya saya, media kaca untuk ukirannya tidak sembarangan karena harus memiliki unsur unik dan antik.

Dari seluruh hasil produksinya, Medi mengaku bisa mengumpulkan omzet penjualan mencapai Rp 25 juta perbulan. Dari hasil itu, keuntungan bersih yang didapat sebesar 20% omzet atau sekitar Rp 5 juta.

Pesanan produk kerajinan kaca itu sebagian besar dipesan oleh hotel-hotel di Bali, Jakarta dan Surabaya. Selain pasar domestik, ia juga sering mendapat pesanan dari Swiss, Australia dan Jepang.

Menurut Medi, nilai penjualan produknya selalu meningkat pada Juni hingga September mencapai 30%. Kenaikan itu disebabkan banyaknya hari libur sehingga produknya manis laris. Dengan peningkatan tersebut, Medi yakin prospek kerajinan kaca masih akan cerah ke depan. Apalagi para pemain di bidang ini belum begitu banyak. Untuk menggenjot peningkatan penjualan, inovasi produk harus tetap dilakukan.

Ia menambahkan, kerajinan berbahan baku kaca memiliki karakteristik tersendiri dibanding kerajinan dari material lain seperti batu atau kayu. Kaca selain lebih unik juga memiliki sifat elegan dan mewah. "Itulah kenapa kolektor benda seni atau hotel sangat berminat," katanya.

Senada diungkapkan oleh Gus Nanda, perajin kaca sekaligus pemilik PT Aulia Bali Craft di Badung, Bali. Ia mengatakan, kerajinan dari kaca laris diburu oleh kolektor benda seni tak hanya lokal namun mancanegara. Selain sebagai koleksi pribadi, kerajinan kaca juga bisa menjadi suvenir.

Memulai usaha sejak 2006, Nanda yang saat ini berumur 37 tahun mengaku memperoleh keterampilan membuat kerajinan kaca setelah bekerja di galeri seni milik orang asing di Bali. Selain memproduksi kerajinan kaca, Nanda juga membuat kerajinan dari batu.

Berbagai bentuk wadah unik dan menarik seperti gelas dan botol dibuat. Selain itu, dia juga membuat lampu hias kaca. "Selain memproduksi massal, kami juga memproduksi sesuai permintaan," ujarnya.

Agar terlihat unik dan menarik, Nanda dalam proses pembuatan selalu mengedepankan unsur kerajinan tangan atau handmade. Mesin hanya digunakan untuk mempercepat dan mempermudah proses produksi. Ia menyebutkan, 60% proses adalah handmade dan 40% mesin. Mesin biasanya digunakan saat proses finishing dan pemotongan kaca.

Penggunaan mesin dalam proses produksi membuat Aulia Bali Craft mampu memproduksi hingga 100 produk gelas dan botol dengan aneka bentuk, warna, dan motif per hari. Jika konsumen ingin produk yang berbeda atau sesuai keinginan, dibutuhkan waktu sekitar 3 hari hingga seminggu penyelesaian.

Bahkan, untuk pemesanan lebih dari 1.000 dengan desain sesuai dengan permintaan diperlukan waktu lebih lama. "Untuk 1.000 pieces produk custom, kami mengerjakan sekitar 10 hari hingga 2 minggu," jelasnya.

Harga jual tiap produk buatan Nanda berkisar antara Rp 10.000 sampai Rp 50.000 untuk gelas dan botol. Adapun untuk produk hiasan lampu Rp 100.000 per unit. Tiap bulan rata-rata 1.500 sampai 2.000 produk dengan omzet Rp 40 juta didapatkan.

Selain untuk memenuhi permintaan berbagai hotel di Bali, Nanda juga melakukan ekspor ke pasar Eropa dan Amerika Serikat. Namun, memasuki tahun 2011, ia mengatakan, pasar ekspor cenderung sepi dan pasar domestik tak stabil. "Karena kerajinan bukan produk prioritas, sehingga jika ada guncangan ekonomi akan terasa imbasnya," paparnya.

Akibat krisis ekonomi yang melanda Eropa dan Amerika Serikat, Nanda mengaku mengalami kemerosotan omzet mencapai 20% sampai 30%. Untuk itu, ia berharap kondisi ekonomi dunia kembali membaik guna meningkatkan omzet usaha seperti sebelumnya.

Menurutnya, produk kerajinan adalah perpaduan antara ide, konsep, ketelitian, dan kreativitas. Namun begitu, keberadaan pasar yang mampu menyerap juga sangat penting. "Di awal, kami bingung harus mendistribusikan ke mana. Akan sisa-sia jika produksi tidak ada peminat," katanya.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/76808/Kilap-laba-kerajinan-berbahan-kaca

Jumat, 02 September 2011

Kaos Kreatif Dari Kain Perca

Saya tak menyangka sebelumnya bahwa usaha mengisi waktu luang membuat kaos kreatif sulam perca yang berawal dari tema-tema simpel untuk anak-anak ini merupakan bagian dari hobby "tua" yang orang bule bilang "patchwork" maupun "quilting". Para hobbiest crafting jenis ini "di luar negeri sana" sangat terorganisir dengan baik.

Saya cenderung melihat karya-karya para crafter patchwork quilt bule-bule ini sebagai karya crafter profesional, bukan lagi sekedar hobbiest. Bahkan mungkin sebenarnya patchwork itu sendiri telah menjadi bagian dari industri hobby yang telah mapan dan jelas konsumennya di daratan eropa atau amerika sana.
Sedikit tentang patchwork, secara mendasar ia adalah sebuah aktivitas atau proses menggabungkan/menyatukan lembaran-lembaran material (material yang biasa digunakan adalah kain perca) membentuk motif-motif tertentu (yang dikehendaki) baik motif nyata maupun abstrak.Oleh sebab itu masuk akal jika kemudian patchwork dikategorikan dalam bagian aktivitas seni, yang memang karyanya sangat dipengaruhi oleh inisiatif/inovasi "taste si seniman patchwork itu sendiri" Ada crafter yang menggemari pola-pola/pattern symetric, ada pula yang cenderung berkarya dalam pola-pola sebaliknya (asymetric).Bertolak dari hal ini, saya punya ambisi pribadi, lebih tepatnya sih sebuah rencana jangka panjang atau cita-cita kali yee???
ingin sekali menjadikan aktivitas yang awalnya iseng "patchwork quilt"ini menjadi benar-benar hobby yang kemudian mampu memberi manfaat tidak lagi hanya bagi saya, namun buat orang-orang di sekitar kami (Tim Kaos Kreatif)

Jumat, 12 Agustus 2011

Bisnis Kerajinan Kertas Untung dan Untung

BANTUL - Berbekal setangkai bunga kertas yang dibeli di kawasan Malioboro Yogyakarta, kini usaha bunga kertas Mahmidah (24) laris manis. Warga Dusun Ngabean, Desa Triharjo, Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul kini bisa menjual bunga kertas sehari mencapai 600 tangkai.

Bahkan hasil karyanya oleh pengepul bunga kertas telah dikirim hingga negara timur tengah khususnya Arab Saudi. Usaha yang ditekuninya saat ini pun diikuti oleh para tetangganya karena tergiur akan kesuksesan memproduksi bunga kertas.Memang, usaha home industry kini tak hanya sekadar jualan kue dan bunga kertas saja, bahkan berkembang ke usaha kerajinan dari tempurung kelapa yang harganya tak kalah dengan bunga kertas.Menurut Mahmidah, usaha bunga kertasnya dirintis pada 2001. Kala itu, bersama suami, dia mencoba peruntungan membuka usaha kecil-kecilan. Bermodal hanya Rp2 juta, kegigihannya dalam mengembangkan usaha kini merambah ke luar negeri."Saya mengenal seni merangkai bunga dari perajin di Dongkelan, Sewon. Kala itu saya bermimpi punya usaha sendiri," ujarnya, saat ditemui di Bantul, Minggu (15/11/2009).Untuk memberdayakan perempuan di Ngabean, dia sengaja mempekerjakan warga Ngabean dengan upah yang bervariasi. Mulai dari Rp7.000 hingga Rp12.000. Tidak hanya merangkai di kiosnya, pekerja bisa merangkai di rumah masing-masing dengan sistem borongan."Kami melihat perempuan di Ngabean tidak ada kerjaan. Dengan usaha mandiri kami mencoba memberdayakan mereka," katanya.Per hari, 15 pekerja mampu merangkai 600 biji bunga. Konsumen bebas memilih motif bunga dengan harga sebesar Rp850 per tangkai. Bersama keluarga, dia mampu menjual produknya hingga Saudi Arabia. Sedang, Malioboro dan Kasongan menjadi sasaran pasar domestik.Selain itu, dirinya biasa mendatangkan lembaran-lembaran lontar dari Jawa Timur dengan harga Rp6 juta setiap truk. Daun-daun lontar asal Jatim menurutnya memiliki kualitas baik dibanding daerah lain.Bagi Mahmidah, membangun kepercayaan konsumen menjadi kunci kesuksesan usaha. Dengan sistem getok tular, dia biasa membangun pemasaran hingga merambah ke mancanegara.Dia menuturkan, perkembangan usahanya tidak berjalan instan, butuh proses panjang dalam menjaring konsumen. Bahkan, dia sempat pesimis dengan maraknya usaha bunga kertas di DIY."Saya menyadari sepenuhnya membangun usaha butuh kesabaran. Kami terus bertahan dengan membangun kepercayaan konsumen," imbuhnya.Setiap bulan, usahanya mampu meraup pendapatan sebesar Rp15 juta. Kelebihan dari bunga kertas buatannya yakni lebih awet, dengan perawatan yang gampang. Caranya, hanya menjaga bunga-bunga itu tetap kering.Konsumen pun bisa menikmati bunga kertas sebagai hiasan rumah dalam pot-pot keramik. "Karena kualitasnya itu juga hasil kerajinan saya bahkan saat ini telah diekspor hingga ke Arab Saudi. Meski untuk ekspor itu sudah melalui para pengepul terlebih dahulu," pungkasnya.Ngadirah (37) salah seorang perangkai bunga di rumah Mahmidah mengatakan kecintaan merangkai bunga bermula dari masa kecil di dusun itu. Permainan masa kecil menyimpan memori, sehingga membuatnya terampil.Awalnya, dia kesulitan memadupadankan aneka warna pada bilah bambu yang berbalut daun lontar. Sebagai buruh serabutan, dalam sehari, ibu dua anak ini bisa memperoleh tambahan penghasilan sebesar Rp8.000 per hari.Dia bisa menghasilkan 50 rangkaian bunga setiap pagi. "Saat musim libur atau jelang tahun baru, kami lembur karena banyak pesanan dari luar daerah," ujarnya

Kamis, 11 Agustus 2011

Biarpun kertas bekas, untungnya tetap berkelas


PELUANG USAHA
 
Rabu, 10 Agustus 2011 | 13:03  oleh Ragil Nugroho, Bambang Rakhmanto, Fahriyadi
GREEN BUSINESS KERAJINAN KERTAS BEKAS
Biarpun kertas bekas, untungnya tetap berkelas
 
Isu pemanasan global dan semakin sadarnya masyarakat akan produk ramah lingkungan membuat kerajinan daur ulang kertas banyak diminati. Tak hanya pernak-pernik seperti gantungan kunci, kartu nama, magnet kulkas, ataupun pigura, bubur kertas bekas juga bisa dijadikan panel hiasan dinding dengan harga jual tinggi.

Limbah kertas tak hanya bisa digunakan sebagai bungkus makanan. Koran bekas, majalah bekas, ataupun limbah kertas yang lain bisa dibuat berbagai kerajinan dan hiasan dinding bernilai ekonomi tinggi.

Salah seorang perajin kertas bekas adalah Yunita Adistira di Bekasi, Jawa Barat. Menggeluti usaha kerajinan kertas bekas sejak tahun 2007, Yunita mengaku usahanya berawal dari kegiatan iseng mengisi waktu luang. Apalagi saat itu, dia banyak sekali menemukan kertas-kertas terbuang yang akhirnya dibakar sia-sia.

Ia pun akhirnya membuat berbagai pernak-pernik kerajinan dari bubur kertas, seperti gantungan kunci, tempat kartu nama, gantungan handphone, dan magnet kulkas.

Dengan harga jual Rp 5.000 - Rp 25.000 per produk, Yunita saat ini mengaku mampu mengantongi omzet Rp 11 juta hingga Rp 15 juta per bulan. "Saat ini saya juga membuat patung, wayang, dan boneka salju dari bubur kertas," katanya.

Pemilik CV Bintang Emas ini membuat patung dan boneka beragam ukuran tergantung pesanan. Dengan harga bervariasi mulai dari Rp 50.000 sampai Rp 200.000, mahal murahnya tergantung ukuran dan tingkat kerumitan. Menurut Yunita, patung atau boneka dengan tinggi 10 cm - 20 cm paling banyak dipesan. "Margin labanya sekitar 40%," ujarnya.

Tak hanya menyasar individu, produk daur ulang kertas milik Yunita juga banyak diminati wedding organizer dan perusahaan yang peduli dengan alam. Kepedulian mereka biasanya ditunjukkan dengan membeli produk dari bahan yang ramah lingkungan. Konsumen produk daur ulang kertas bekas tidak hanya di Pulau Jawa, tapi sudah merambah Kalimantan dan Sumatera. Khusus untuk Sumatera, 40% permintaan datang dari Pekanbaru.

"Di Pekanbaru tren produk daur ulang sedang meningkat," katanya. Menurut Yunita, masyarakat tertarik untuk membeli kerajinan daur ulang kertas karena unik dan menarik.

Tak hanya produk Yunita saja yang diminati masyarakat. Sebab, produk hiasan dari bubur kertas bekas milik Sumarsono juga sedang naik daun. Lelaki asal Cilebut, Jawa Barat ini memanfaatkan bahan bubur kertas untuk dijadikan panel atau hiasan dinding.

"Kerajinan kertas bekas prospeknya bagus karena didukung isu pemanasan global," katanya. Ia mengaku telah membuat berbagai kerajinan berbahan baku kertas bekas sebelum ada isu pemanasan global.

Dengan semakin meningkatnya kepedulian lingkungan, maka nilai penjualan produk daur ulang meningkat. Saat ini, untuk setiap hiasan dinding berukuran 45 cm x 45 cm dijual dengan harga Rp 150.000. Dengan harga tersebut, Sumarsono mengaku mampu mengantongi omzet per bulan mencapai Rp 60 juta.

Omzet yang didapat oleh Sumarsono termasuk besar, sebab harga kertas bekas yang dibutuhkan untuk membuat satu produk tidak lebih dari Rp 20.000. "Keuntungan saya mencapai 50% dari omzet," kata pemilik usaha Laxsvin Art ini.

Omzet itu selain didapatkan dari penjualan hiasan dinding berukuran sedang 45 cm x 45 cm, juga didapatkan dari penjualan hiasan ukuran 85 cm x 120 cm dengan harga Rp 1,6 juta. Hiasan dinding ukuran 45 cm x 45 cm lebih diminati karena lebih simple dan mudah dibawa kemana-mana. "Sebanyak 90% pembeli saya datang dari konsumen rumah tangga," katanya.

Walau saat ini baru melayani pasar wilayah Jabodetabek, ke depan Sumarsono berharap mampu menjual hasil kerajinannya ke pasar luar negeri. Tak hanya itu, ia juga bertekad untuk menularkan keterampilannya kepada orang lain. Oleh sebab itu selain sibuk dengan usahanya, Sumarsono juga aktif memberikan bimbingan bagi masyarakat yang mau belajar membuat panel kertas bubur.

Lain dengan Yunita dan Sumarsono, Adang Ganda Permana, pemilik Paper Explorer di Jakarta mengolah kertas bekas menjadi paper bag, kartu nama, dan pigura. Memulai usaha sejak tahun 1999, Adang membutuhkan banyak bubur kertas untuk kemudian dijadikan produk kerajinan jadi.

Dalam sebulan kapasitas produksi bubur kertas Adang mencapai 10 ton. "Dari bubur kertas akan dicetak sesuai pesanan," ujarnya. Jumlah bubur kertas itu mampu memenuhi pesanan paper bag mencapai 3.000 unit, dengan harga satuan sekitar Rp 5.000.

Adang mengaku, hanya dari penjualan paper bag, ia mampu memperoleh omzet per bulan mencapai Rp 15 juta. Nilai omzetnya berlipat jika ditambah dengan penjualan kartu nama dan pigura dari bahan baku bubur kertas bekas.

Menurutnya, pembuatan produk kerajinan dari bubur kertas bekas tidaklah sulit. Untuk yang sudah sering membuat, bahkan bisa menyelesaikannya dalam waktu sehari. Yang terpenting, menurut Adang, adalah proses perendaman kertas. Proses perendaman penting untuk mendapatkan bubur kertas yang memiliki elastisitas baik sehingga mudah dibentuk.

Proses pembuatan yang cukup mudah juga dikemukakan oleh Yunita. Ia mengaku mendapat ilmu kerajinan bubur kertas bekas secara otodidak. "Ternyata tidak begitu sulit mengolahnya," katanya.

Bahan baku utama yang dibutuhkan adalah kertas bekas, air dan lem putih atau lem kayu. Selain itu juga dibutuhkan cat poster dan vernis, blender, kain untuk menyaring, dan cetakan.

Pertama, kertas bekas disobek-sobek dan direndam dalam air selama satu hari sampai tiga hari. Kedua, setelah proses perendaman selesai, kertas diblender sampai halus. Ketiga, kertas blender disaring dengan kain. Penyaringan dilakukan untuk membuang air, sehingga diperlukan pemerasan sampai agak kering. Keempat, ampas atau bubur kertas tadi kemudian dicampur, diaduk rata dengan lem putih. Kelima, adonan siap dicetak sesuai dengan keinginan.
"Setelah dicetak lalu dijemur dan diberi cat poster dan vernis agar lebih kuat," katanya. Untuk menghadirkan tekstur menarik, bisa dicampurkan pewarna dan serat dari pelepah pisang atau jahe.

Selasa, 09 Agustus 2011

Merangkai untung dari hasil menenun lidi menjadi taplak meja


PELUANG USAHA
 
Senin, 08 Agustus 2011 | 14:19  oleh Handoyo
GREEN BUSINESS KERAJINAN TENUNAN LIDI
Merangkai untung dari hasil menenun lidi menjadi taplak meja
 
Seluruh bagian pohon kelapa memang bernilai guna. Selain buah, daun dan batang, lidi atau tulang daun kelapa bisa diolah menjadi kerajinan bernilai ekonomis. Lidi bisa ditenun menjadi tikar, suvenir, boks pakaian, dan juga taplak meja yang laku di pasar luar negeri. Perajin tenun lidi bahkan mampu meraup omzet hingga Rp 150 juta per bulan.

Produk lidi ternyata tidak hanya bisa diolah menjadi sapu atau tusuk satai saja. Lidi atau tulang daun kelapa itu juga bisa disulap menjadi kerajinan menarik yang unik, dan diminati konsumen di pasar domestik maupun internasional.

Namun, untuk membuat kerajinan menarik dari lidi itu butuh kreativitas, seperti yang dilakukan Eko Rudiyanto. Lewat bendera KREA di Yogyakarta, Eko mengubah lidi menjadi aneka kerajinan tenun nan unik.

Pria asal Bantul, Yogyakarta itu mengolah lidi menjadi aneka bentuk, seperti kotak CD, kotak pakaian, souvenir pernikahan, placemates atau taplak meja, kotak pensil, tas, tikar lidi, bahkan juga bingkai cermin. "Saat ini, saya fokus produksi taplak meja dan tikar lidi," terang Eko.

Eko sudah melakoni usaha pembuatan kerajinan lidi sejak 2002 lalu. Berkat ketekunan dan keuletannya, Eko bisa memasarkan produk itu hingga ke Belanda, Prancis, Italia, Arab, Qatar, Turki, Malaysia, dan Singapura.

Dalam memproduksi, Eko menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) tradisional. Alat itulah yang kemudian mengantarkan Eko mampu mendapatkan omzet hingga Rp 150 juta per bulan.

Omzet itu ia peroleh dari pengiriman 8.000-10.000 unit placemates dan tikar lidi tiap minggu ke berbagai negara. Harga jual dari setiap produk itu mulai dari Rp 3.500 per unit sampai Rp 55.000 per unit, tergantung dari besar kecilnya ukuran dan tingkat kerumitan dari masing-masing produk.

Produk yang paling murah dibuat oleh Eko adalah jenis taplak meja ukuran 35 centimeter (cm) x 45 cm. Sedangkan untuk produk yang paling mahal adalah tikar lidi berukuran 45 cm x 10 meter (m).

Dengan mempekerjakan 170 orang, dalam seminggu Eko bisa memproduksi 10.000 placemates serta 300-350 roll tikar. Eko menghitung, untuk pengerjaan satu unit tikar, dibutuhkan satu karyawan yang bekerja dalam satu hari.

Dengan mempekerjakan 170 karyawan itu, Eko berharap bisa berbagi rezeki dengan masyarakat lingkungan tempat ia menetap. "Kebanyakan karyawan saya adalah perempuan," kata Eko.

Eko sengaja memilih karyawan perempuan lantaran kaum hawa ini lebih teliti dan lebih sabar dalam merangkai kerajinan tenun dari lidi.

Proses pengerjaan placemates itu mirip dengan cara menenun kain biasa. Tahap pertama adalah melakukan pemintalan benang menjadi gulungan yang besar.

Selanjutnya batang lidi yang telah kering dibersihkan dari sisa-sisa daun yang masih menempel. "Kalau tidak dibersihkan, efeknya lidi mudah busuk," jelas Eko.

Setelah batang lidi bersih, maka lidi yang sudah halus itu ditenun dengan benang yang telah dipintal sesuai dengan ukuran dan permintaan konsumen.

Dalam mendapatkan bahan baku, Eko mendatangkannya dari Ciamis, Jawa Barat. Setiap ikat lidi, Eko membelinya seharga Rp 1.100 - Rp 1.200. Dalam sebulan, Eko menghabiskan 17.000 ikat. "Jumlahnya itu bisa dua sampai tiga truk dengan panjang lidi rata-rata 60 cm-70 cm," jelas Eko.

Selain Eko, perajin tenun lidi yang lain adalah Dwi Santoso. Dwi memulai usaha menenun lidi sejak 2000 lalu. Saat itu ia mengolah limbah lidi yang banyak berserakan di sekitar tempat tinggalnya. "Dari iseng akhirnya menjadi kerajinan tenun," ujar Dwi pemilik Lya Craft di Sleman Yogyakarta.

Berawal dari iseng itulah Dwi sukses membuat tenun lidi secara massal. Namun, karena kebutuhan lidi kian banyak, Dwi memutuskan membeli lidi dari daerah Cilacap dan juga Ciamis.

Setiap minggu, Dwi membeli 1.000 hingga 2.000 ikat lidi dengan harga Rp 1.000 per ikat. Lidi-lidi itulah yang kemudian ia olah menjadi kerajinan tenun berupa placemates dan tikar lidi.

Setidaknya, dalam sepekan Dwi mampu memproduksi 3.000 hingga 5.000 unit produk kerajinan. Hasil produksi sebanyak itu dikerjakan oleh 25 karyawannya yang bekerja di bengkel kerajinan.

Soal harga, Dwi membanderol aneka kerajinan itu dengan harga yang berbeda, yakni mulai harga Rp 2.000 per unit hingga Rp 50.000 per unit, tergantung dari besar kecilnya ukuran kerajinan tersebut.

Selain membentuk lidi menjadi lembaran yang ditenun, Dwi juga membuat stik lidi dengan hiasan manik-manik seharga Rp 10.000 per unit. Dari bisnis pembuatan tenun lidi ini, Dwi bisa mengantongi omzet hingga Rp 100 juta per bulan.

Untuk proses produksi, Dwi membaginya dengan dua pilihan. Pertama, pilihan tenun dengan warna alami. Kedua adalah tenun pilihan warna tambahan.

Untuk membuat tenun lidi dengan warna tambahan, membutuhkan proses pewarnaan tersendiri. Setidaknya dibutuhkan dua ons pewarna kayu untuk satu tenun lidi. Agar mendapatkan warna cerah seperti ungu ataupun hijau, hasil tenunan itu direbus selama 10-15 menit.

Sedangkan untuk mendapatkan warna gelap seperti biru dan hitam, perebusan butuh waktu lebih lama, hingga satu jam. Setelah direbus, batang-batang lidi dijemur di bawah sinar matahari langsung selama setengah hari. "Pengeringan bisa dengan oven khusus kayu dengan suhu 80 derajat," papar Dwi.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/74881/Merangkai-untung-dari-hasil-menenun-lidi-menjadi-taplak-meja