Tampilkan postingan dengan label waralaba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label waralaba. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 September 2011

Yuk, Jadi Distributor Produk

PDF Cetak E-mail
Jumat, 23 September 2011 10:21
gudang_0911Setiap hari terdapat triliunan rupiah yang berpindah tangan akibat dari rantai distribusi dari produsen ke konsumen. Angka tersebut tentunya sangat menggiurkan.

Anda bisa menjadi distributor jika dapat membuat saluran baru yang inovatif untuk mendistribusikan produk. Selain itu, Anda juga harus mengidentifikasi kelompok baru konsumen potensial dengan kebutuhan yang ditunjukkan untuk produk tertentu. Anda juga dapat memanfaatkan basis konsumen yang ada dengan melakukan diversifikasi penawaran ritel dengan produk baru.

Tertarik menjadi distributor yang inovatif? Berikut beberapa hal yang harus Anda perhatikan.

  1. Tentukan produk yang ingin didistribusikan dan persyaratan yang diperlukan sebelum mendistribusikannya. Sebagai contoh, distributor obat farmasi dan alat kesehatan harus mematuhi peraturan perizinan. Konsultasikan dengan pihak yang berwenang mengenai persyaratan peraturan untuk mendistribusikan produk yang Anda inginkan.
  2. Tentukan target pelanggan yang Anda bidik. Anda dapat memilih untuk menjual produk secara langsung ke konsumen langsung atau ke distributor pedagang seperti toko ritel. Hindari mengumpulkan persediaan yang besar dan hati-hati mengelola rantai pasokan Anda serta hubungan dengan pelanggan Anda. Tentukan saluran yang akan Anda gunakan untuk mendistribusikan produk kepada pelanggan Anda.
  3. Melakukan analisis pasar untuk menentukan produsen yang paling dominan dalam kategori produk. Idealnya, Anda hanya akan berusaha untuk mendistribusikan produk yang memiliki ekuitas merek dan pangsa pasar yang signifikan, meskipun Anda juga dapat memilih untuk mendistribusikan produk yang memiliki pangsa pasar lebih kecil jika Anda menerima syarat pembelian yang menguntungkan dalam pertukaran. Menguntungkan termasuk harga yang lebih baik, pengaturan kredit yang lebih besar atau lebih fleksibel, dan konsinyasi mengurangi risiko menyeluruh dan klausul kontrak buy-back yang mewajibkan pemasok atau produsen untuk pembelian kembali persediaan yang tidak terjual.
  4. Pendekatan produsen produk dan grosir besar untuk menegosiasikan harga pembelian dan persyaratan pembelian lainnya. Jika Anda tidak memiliki basis pelanggan yang sudah ada atau merek mapan, Anda mungkin harus memiliki akses ke kredit yang cukup besar dan untuk mengambil risiko bisnis kegagalan untuk menjual produk.
  5. Tentukan praktek-praktek manajemen persediaan Anda, termasuk di mana dan bagaimana Anda sistem transportasi dan pergudangan. Gunakan ruang penyimpanan yang sesuai dengan peraturan pada kategori produk Anda. Sebagai contoh, produk makanan memiliki peraturan penting tentang beberapa tanggal kedaluwarsa pendinginan dan harus mematuhi. Selain itu, Anda harus memiliki armada atau kontrak dengan perusahaan transportasi untuk mengirimkan produk ke pelanggan Anda. (*/dari berbagai sumber)

Sumber:
 http://ciputraentrepreneurship.com/kembangkan-uang-anda/11358-yuk-jadi-distributor-produk.html

Lejitkan Popularitas Merek dengan Waralaba

Lejitkan Popularitas Merek dengan Waralaba Views :617 Times PDF Cetak E-mail
Jumat, 23 September 2011 11:32
Siapa tak kenal sistem waralaba alias franchise sekarang ini? Waralaba bisa didefinisikan sebagai sebuah perikatan dimana salah satu pihak diberikan hak memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas kekayaan intelektual (HAKI) atau pertemuan dari ciri khas usaha yang dimiliki pihak lain dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan oleh pihak lain tersebut dalam rangka penyediaan dan atau penjualan barang dan jasa.

waralaba0911Kadang pebisnis merasa putus asa saat menghadapi berbagai kendala dalam memasarkan merek yang ia miliki. Nah, jika Anda juga menghadapi problem serupa (merek tak kunjung dikenal orang). Jangan khawatir, mungkin sistem waralaba adalah jawaban yang Anda tunggu selama ini. Lalu seberapa menguntungkannya jika kita membuat sebuah waralaba dengan merek yang kita miliki?

Menurut Peni R. Pramono, konsultan keuangan dan pelatih kewirausahaan, kemitraan bisa dibangun untuk membuat lebih banyak orang menyadari kehadiran merek Anda di pasar (meningkatkan brand awaraness).  Selain itu, risiko yang kita tanggung sendirian pada awalnya bisa dibagi-bagikan kepada mitra. Kemitraan membuat merek kita bisa menjangkau lebih banyak pasar dan dengan sendirinya membuat lebih banyak orang mengenal dan menggunakannya.

Lalu untuk membangun kemitraan atau partnership, kita juga perlu banyak persiapan. Sebuah poin penting yang patut diingat sebelum mengembangkan merek menjadi sebuah sistem waralaba ialah bahwa bisnis waralaba intinya adalah menduplikasi atau mereproduksi apa yang sudah ada. Pewaralaba (franchisor) perlu cermat dalam memilih hal-hal yang bisa dibagikan kepada para terwaralaba (franchisee) karena jika kurang cermat, hal-hal yang seharusnya tetap menjadi ‘resep rahasia dapur’ menjadi terbuka ke banyak orang.

Bagi pemilik merek/ usaha yang ingin berfokus pada pemantapan kualitas produk dan merek yang ia jual, menyewa jasa seorang konsultan dan agensi merupakan solusi terpraktis untuk membangun sistem waralaba bagi merek Anda. Mereka inilah yang akan melaksanakan riset pemetaan untuk Standard Operational Procedure (SOP) yang akan dibagikan kepada para terwaralaba. Agensi juga bisa memberikan bantuan dalam menemukan mitra yang setara. (*/Akhlis)
       

Jumat, 16 September 2011

Memfasihkan bahasa Inggris, memfasihkan laba

PELUANG USAHA

 
Jumat, 16 September 2011 | 14:25  oleh Dea Chadiza Syafina, Bambang Rakhmanto
TAWARAN KEMITRAAN KULINER PENDIDIKAN
Memfasihkan bahasa Inggris, memfasihkan laba
Kemampuan berbahasa Inggris bisa menjadi modal untuk bersaing memperoleh pekerjaan. Penguasaan terhadap bahasa resmi internasional ini juga sangat diperlukan agar hubungan dengan relasi lain negara berlangsung lancar.

Era globalisasi memang membuat kemampuan berbahasa sangat penting. Karena itu, saat ini berbagai kursus pendidikan bahasa, terutama bahasa Inggris, semakin banyak bermunculan.

Salah satu pebisnis yang menawarkan usaha pendidikan bahasa Inggris adalah Sudirman Alif Gani. Kursus bahasa Inggris miliknya, Easy English Center (EEC) berdiri tahun 2000 di Kemayoran, Jakarta Pusat. "EEC merupakan pusat bahasa Inggris percakapan yang berkualitas," klaimnya.

Usahanya ini mencoba memberikan kesempatan luas bagi siapa saja yang tertarik belajar bahasa Inggris. Karena itu, biaya kursus yang dibebankan kepada siswa, menurutnya, cukup terjangkau.

Untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) kelas 3 sampai 4, biaya yang dikenakan per siswa adalah Rp 35.000 per bulan. Sedangkan untuk kelas 5 SD sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP) kelas 1, biaya kursus sebesar Rp 40.000 per bulan. Biaya lebih tinggi ditarik untuk TK, SD kelas 1 dan 2 juga Sekolah Menengah Umum (SMU) sebesar Rp 45.000 per bulan, dan uang pendaftaran Rp 30.000.

Tak hanya untuk pelajar, EEC juga menyediakan program kursus bahasa Inggris percakapan untuk karyawan dan umum dan program intensif satu bulan.

"Kami akan latih setiap hari sampai mahir. Kami berikan garansi," promosi Sudirman. EEC juga menyediakan program pendidikan guru TK, guru bahasa Inggris internasional, bimbingan belajar bilingual serta program extention selama lima bulan.

Dengan bermodal kualitas itulah, kemudian Sudirman mulai menawarkan kemitraan usaha kursusnya kepada masyarakat tahun 2002. Kini EEC telah memiliki empat mitra di Bintaro, Utan Kayu, Sunter, Tanjung Priok.

Ada empat paket kemitraan yang ditawarkan, yaitu standar dengan investasi Rp 5 juta, paket silver Rp 10 juta, paket gold Rp 20 juta, dan paket platinum Rp 30 juta.

Untuk paket standar, selain menyediakan lokasi usaha dan perlengkapan sendiri, mitra juga harus menyediakan seorang karyawan untuk dilatih mengelola lembaga. "Jika tidak, bisa membeli tenaga kerja dari EEC pusat dengan biaya antara Rp 5 juta sampai Rp 20 juta tergantung keahlian," katanya.

Tenaga dari pusat itu memiliki kemampuan untuk mengelola kursus, memasarkan, sekaligus menjadi tenaga pendidik. Calon mitra juga harus menyiapkan guru pengajar yang akan mendapat training dengan tambahan biaya Rp 1 juta. Jika calon mitra tak mau repot, EEC juga telah menyediakan tenaga pengajar bertarif Rp 2,5 juta - Rp 5 juta.

Tawaran fasilitas itu juga bakal diberikan untuk paket silver. Hanya, untuk paket kedua ini, calon mitra akan mendapat dukungan dua orang tenaga pengajar dan seorang manajer terampil dengan masa kontrak minimal 1 tahun. Adapun paket gold, akan mendapat dukungan pemasaran selama dua bulan, termasuk satu orang manajer serta tiga orang pengajar terampil selama 2 tahun.

Untuk paket platinum, calon mitra berhak mendapatkan tenaga manajer dan pengajar sesuai dengan kebutuhan. Tak hanya itu, mitra juga mendapat jaminan keberhasilan usaha dan bantuan dana dari pusat apabila pemilik mengalami kerugian. "Manajemen EEC bersedia menutupi kekurangan dana jika mengalami kerugian," janjinya.

Atas investasi yang ditanamkan, mitra akan mendapatkan bagi hasil 60% dari laba bersih tiap bulan. Keuntungan dibagikan dua bulan sekali setelah dipotong pengeluaran termasuk sewa gedung serta gaji karyawan.

Salah seorang mitra EEC di Bintaro, Banten, Mustahdi telah bergabung sejak 2004. "Ada pasang surut dalam mendapatkan anak didik," katanya. Dalam setahun rata-rata siswa yang ikut kursus mencapai 250 anak sampai 300 anak dari SD hingga SMU. Dengan empat kelas dan empat pengajar tetap, omzet per bulan Mustahdi mencapai Rp 15 juta.

Easy English Center
Jl. Utan Panjang 2 No. 103 Kemayoran,
Jakarta Pusat
Telp: 081210799334

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/77588/Memfasihkan-bahasa-Inggris-memfasihkan-laba-

Rabu, 14 September 2011

Kucek laba laundry mewangi usai Lebaran


Peluang Usaha



Rabu, 14 September 2011 | 12:54  oleh Dea Chadiza Syafina
TAWARAN KEMITRAAN BINATU
Kucek laba laundry mewangi usai Lebaran

Pengusaha jasa binatu atau laundry kiloan mendulang berkah usai Lebaran. Banyak warga, khususnya di kota besar mencuci pakaian kotor melalui jasa laundry kiloan yang relatif murah. Omzet pengusaha laundry pun naik berlipat usai Lebaran.

Usai Lebaran, bisnis laundry kiloan kian mewangi. Lantaran asisten rumah tangga pulang kampung, warga perkotaan memilih membawa cucian kotor mereka ke penyedia laundry kiloan yang menawarkan tarif ramah di kantong.

Bertambahnya jumlah cucian itu tentu saja mendatangkan rezeki berlimpah bagi pengusaha usaha laundry kiloan. Saking banyaknya, beberapa pengusaha laundry bahkan membatasi cucian pelanggan karena kapasitas mesin cuci sudah penuh.

Tiga pengusaha laundry kiloan yang dihubungi KONTAN di Bandung, Jakarta dan Yogyakarta mengalami lonjakan jumlah cucian. Salah satunya Waroenk Laundry, di Bandung. Kukuh Ginanjar, pemilik Waroeng Laundry itu mengatakan, potensi kenaikan omzetnya bisa mencapai 50%. Namun, terbatasnya kapasitas mesin pencuci, ia hanya bisa mengantongi kenaikan omzet 33% saja. "Kenaikan cucian tertinggi ada di gerai yang berdekatan dengan kampus," ungkap Kukuh.

Usai Lebaran, Waroenk Laundry kiloan mulai beroperasi 4 September, tepatnya empat hari setelah Lebaran (H+4). Saat mulai beroperasi, gerai mereka langsung dibanjiri cucian pelanggan.

Jenis cucian terbanyak Waroenk Laundry itu berupa penutup tempat tidur atau bed cover, selimut, jaket serta karpet. Walaupun terjadi lonjakan cucian, Kukuh mengaku tetap berusaha melayani konsumen secara profesional.

Target pakaian kering dalam satu hari tetap ia penuhi agar konsumen tidak kecewa. Jika sudah melebihi kapasitas mesin cuci, Kukuh terpaksa menolaknya atau meminta waktu tambahan waktu pencucian lebih. "Jika cucian terlalu banyak dan tidak bisa selesai sehari, kami minta waktu," imbuh Kukuh.

Kapasitas cucian Waroenk Laundry hanya 200 kilogram (kg) per hari. Agar bisa menampung banyak cucian usai Lebaran, Kukuh sebenarnya sudah menaikkan kapasitas mesin cuci itu menjadi 250 kg. Penambahan kapasitas juga dilakukan dengan cara menambah jam operasional laundry hingga 24 jam.

Kenaikan jumlah cucian pelanggan itu ikut mendongkrak omzet Kukuh usai Lebaran. Dari Rp 600.000 per hari menjadi Rp 800.000 per hari. "Kenaikan bisa lebih tinggi," kata Kukuh.

Kenaikan omzet juga dialami oleh Dedi Setiadi, pemilik Dressed Laundry di Jakarta. "Kenaikan omzet kami lebih dari dua kali lipat," kata pria yang membuka usaha jasa laundry sejak tahun 2009 silam.

Selain menawarkan laundry kiloan, Dedi juga menawarkan jasa laundry dengan konsep layanan sendiri (self service). Konsumen bisa mencuci sendiri pada mesin cuci yang sudah disediakannya.

Kenaikan jumlah pelanggan yang membawa cucian ke gerai Dressed Laundry tidak hanya terjadi di gerai mereka yang ada di Jakarta saja. Kenaikan jumlah pelanggan terjadi di gerai Dreesed Laundry di Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi. "Kenaikan hampir merata di semua gerai," kata Dedi yang enggan menyebut nilai omzetnya itu.

Kenaikan jumlah cucian juga dirasakan oleh pengusaha laundry yang ada di kota Gudeg, Yogyakarta. Danang Yusti Wijaya, koordinator wilayah Laundry on Kilo's di Yogyakarta bilang, lonjakan jumlah cucian usai Lebaran itu mencapai 100% dari hari biasanya. "Cucian menumpuk karena habis liburan," terang Danang.

Kenaikan cucian milik pelanggan Laundry on Kilo's itu juga merata di gerai mereka yang ada di Jabodetabek. Jenis cucian terbanyak datang usai Lebaran itu didominasi oleh pakaian, sisanya cucian berat seperti bed cover, selimut, jaket dan lain-lain. "Cucian berat 30% sisanya 70% adalah pakaian," ujar Danang.

Agar bisa melayani banyak pelanggan usai Lebaran, Danang sudah berusaha untuk menaikkan kapasitas mesin cuci di setiap gerai Laundry on Kilo's. Kapasitas mesin cuci milik Danang itu naik dari 100 kg per hari menjadi 200 kg per hari.

Tidak hanya itu, Danang juga berusaha menambah kapasitas pencucian dengan menambah jam operasional. Bahkan, Laundry Kilo's buka lebih cepat pasca-Lebaran, yakni pada H+2 Lebaran. "Kami berusaha meningkatkan layanan," terang Danang.

Kenaikan jumlah cucian Laundry on Kilo's itu juga mendongkrak omzet mereka. Danang memberi contoh, omzet gerai mereka yang ada di Yogyakarta naik dari Rp 1,6 juta per hari, menjadi Rp 3 juta per hari. "Kenaikan omzet serupa juga terjadi di gerai kami yang Jakarta," jelas Danang yang punya 50 gerai yang tersebar di Indonesia.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/77375/Kucek-laba-laundry-mewangi-usai-Lebaran

Andreas Andi, Bos Lele Saurus

PDF Cetak E-mail
Rabu, 14 September 2011 09:37
Pecel lele merupakan jenis masakan yang familiar di hampir semua wilayah di Indonesia. Makanan yang terdiri dari lele goreng yang disajikan dengan sambal dan lalapan, hampir setiap sore sampai malam hari dapat dijumpai di warung tenda sepanjang jalan di kota-kota di Indonesia.

lele_saurusSelama ini bisnis pecel lele tidak pernah surut sepanjang waktu dan dapat tetap eksis bertahan dengan situasi ekonomi apapun. Hal ini karena bahan bakunya yang melimpah, dan harganya yang lebih ekonomis dibanding menu-menu kuliner lainnya. Dengan besarnya potensi bisnis yang ditawarkan, tak heran jika bisnis pecel lele cukup menggiurkan untuk digeluti.

Potensi inilah yang akhirnya dilirik oleh Andreas Andi Bayu, seorang pengusaha muda asal Umbulharjo, Yogyakarta. Andreas melihat, saat ini konsep bisnis pecel lele yang sudah ada masih sangat tradisional dan terkesan apa adanya. Oleh karena itu, Andreas berkeinginan untuk menaikan citra kuliner pecel lele dari makanan pinggir jalan, menjadi kuliner berkelas restoran. Kualitas masakan, pelayanan, tempat penyajian, sampai faktor kebersihan menjadi perhatian yang penting.

“Kualitas minyak goreng harus diperhatikan, sehingga masakan lele yang harusnya memberi kontribusi gizi yang bagus untuk tubuh kita menjadi kurang baik karena digoreng dengan minyak yang rata-rata telah jenuh dan kotor. Maksimal kami hanya menggunakan minyak goreng setelah dua kali penggorengan," jelas Andeas saat dihubungi Ciputraentrepreneurship.com.

Merintis usahanya sejak Oktober 2009 di Yogyakarta, Andreas sadar betul akan besarnya potensi bisnis pecel lele, jika dikelola secara professional. Dengan berbekal modal sekitar Rp 20-30 juta-an, untuk menyewa tempat dan membeli peralatan, Andreas pun membuka usahanya. Dengan berbekal prinsip “sambil jalan”, Andreas pun pelan-pelan mengembangkan bisnis pecel lelenya hingga mencapai standar resto atau rumah makan yang ia dambakan.

Untuk meningkatkan image dan pemasaran prodaknya, Andreas pun memilih nama Lele Saurus, sekaligus membuat logo yang menarik dan mudah diingat serta dilengkapi dengan warna-warna yang menonjol. Dengan merek Lele Saurus, Andeas ingin menciptakan persepsi “besar” atau “raksasa” atau “purba” dalam produknya. Sama seperti harapan agar produknya bisa menjadi produk yang besar dan kuat serta bisa diterima di seluruh dunia.

Selain konsep produk, Andreas juga mengandalkan kreasi dan inovasi menu dalam mengolah pecel lele, sehingga membuat pecel lele kreasinya lebih variatif. Menu seperti lele lombok ijo, lele balado, mangut lele, lele crispy, lele fillet, lele asam manis, serta masih banyak lagi menu lele olahan Lele Saurus. Dari sembilan menu awal yang ditawarkan, saat ini sudah terdapat sebanyak 60-an menu yang siap dipesan oleh pelanggan.

“Kami juga mengadopsi menu-menu masakan berbagai negara untuk diubah bahan bakunya dengan bahan baku lele. Munculah menu-menu Lele Teriyaki, Steak Lele, Spaghetti Lele, Lele Katsu, Sandwich Lele, Burger Lele, Fried Catfish dan lain-lain,” papar Andreas, mempromosikan menu-menu andalannya.

Tak hanya itu, Andreas juga mencoba mematahkan asumsi bahwa lele berukuran besar tidak bisa diolah menjadi masakan yang lezat, karena terasa hambar. Dengan bumbu yang tepat dan metode masak yang sesuai, Andeas mampu menciptakan menu lele berukuran besar dengan berat mulai 5 ons hingga lebih 2 kg per ekor.

Lele Saurus mengembangkan usahanya dengan pola kemitraan, karena sejak pertama kali diperkenalkan, sudah banyak permintaan dari masyarakat yang menyukai konsep Resto Lele Saurus serta permintaan pelanggan di daerah-daerah yang meminta Lele Saurus membuka cabang di daerahnya.

Pola kemitraan ini dipilih agar masyarakat umum juga dapat terlibat dalam pengembangan usaha Resto Lele Saurus. Kini Lele Saurus sudah hadir di beberapa Kota di  Jogjakarta, Jawa Tengah, Jakarta dan Riau, dan sedang bersiap untuk membuka gerai di Kepulauan Riau, Banten, Bangka Belitung dan Jawa Timur.

Dengan berjalannya konsep restoran lele berkualitas super, membuat Andreas makin semangat dalam meluaskan pasar produknya. Dengan bantuan media massa, ia yakin usahanya akan makin dikenal luas di masyarakat, serta menginspirasi masyarakat untuk merintis usaha dibidang kewirausahaan.

Sebagai seorang pengusaha dibidang kuliner, Andreas mempunyai misi untuk membangun jaringan bisnis masakan lele modern di seluruh Kota di Indonesia dan luar negeri. Selain itu, ia percaya, lewat Lele Saurus, ia akan merubah image pecel lele dari masakan pinggir jalan menjadi menu masakan mewah yang banyak dicari pecinta kuliner: Sebagai masakan yang kaya akan gizi, dan juga berkelas.

“Lele Saurus memberi nilai tambah untuk sebuah masakan lele, pengolahan yang sehat dan penyajian yang unik sehingga melahirkan menu-menu yang kreatif, variatif dan inovatif. Lele Saurus juga mengadopsi masakan-masakan dari berbagai negara, sehingga Lele Saurus disebut sebagai pusatnya masakan lele lerlengkap di dunia !” tegas Andreas menggambarkan misi yang ia emban.

Tertarik dengan Lele Saurus? Anda bisa menhubungi Andreas dengan alamat email info@lelesaurus.com.
Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/kuliner/11121-andreas-andi-bos-lele-saurus.html

TAWARAN KEMITRAAN KULINER ROTI BAKAR

PELUANG USAHA

 
Selasa, 13 September 2011 | 14:23  oleh Dea Chadiza Syafina, Bambang Rakhmanto
TAWARAN KEMITRAAN KULINER ROTI BAKAR
Menggigit legitnya laba roti bakar
 
Makan roti menjadi semakin nikmat kalau dibakar atau dipanggang di atas bara api atau wajan tanpa minyak lebih dulu. Aroma gosong roti menambah semangat untuk mengudapnya. Itulah sebab roti bakar banyak penggemar.

Dengan segmen pasar yang luas, usaha roti bakar terus berkembang, terutama di kota besar. Salah satu pengusaha yang mencoba menggeluti usaha roti bakar adalah Irwan Tanusolihin. Dengan kedai Roti Bakar 88, Irwan memperluas bisnisnya tidak hanya di Tangerang.

Irwan mengklaim roti bakar miliknya sebagai satu-satunya roti bakar dengan roti buatan sendiri. "Kami tidak menggunakan roti tawar biasa," ujar Irwan. Lagi-lagi dia mengklaim roti bakar buatannya akan terasa lebih spesial.

Memulai usaha sejak 2002 lalu, Irwan pertama kali mendirikan kedai Roti Bakar 88 di Jalan Kisamaun 118, Pasar Lama, Tangerang. Setelah delapan tahun berjalan atau pada 2010, Irwan mulai menawarkan usaha kemitraan. "Saya berani menawarkan kemitraan setelah proses pengenalan produk sudah cukup kuat," imbuhnya.

Begitu penawaran perdana, saat ini Roti Bakar 88 sudah memiliki tujuh mitra yang tersebar di Bogor, Tanjung Duren, Pamulang, Bumi Serpong Damai (BSD), Karawaci, Gading Serpong, dan Villa Tomang Baru, Tangerang.

Agar bisa menjadi mitra Roti Bakar 88, investor butuh dana investasi senilai Rp 40 juta. Dana tersebut belum mencakup biaya sewa tempat dan perlengkapan usaha seperti meja dan kursi. Modal sebesar Rp 40 juta dibayarkan untuk mendapatkan perlengkapan memasak, neon box Roti Bakar 88, seragam, dan pelatihan karyawan selama satu bulan.

Mitra juga wajib membayar Rp 5 juta sebagai deposit pembelian bahan baku makanan dan minuman. Selain itu juga membayar royalty fee sebesar 5% dari omzet per bulan. Namun, Irwan hanya mengenakan royalty fee untuk mitra yang mampu mengantongi omzet lebih Rp 15 juta setiap bulan. "Mitra yang omzetnya kurang dari Rp 15 juta per bulan tidak dikenakan royalty fee," katanya.

Irwan memakai batas Rp 15 juta karena merujuk rata-rata omzet per bulan yang bisa didapatkan oleh mitra. Omzet akan meningkat menjadi Rp 20 juta per bulan ketika saat memasuki musim liburan sekolah. Roti Bakar 88 sendiri buka mulai pukul 15.00 WIB sampai 00.00 WIB di hari biasa dan hingga pukul 01.00 dini hari saat akhir pekan

Roti Bakar 88 menjual aneka varian menu bakar, mulai roti bakar keju, cokelat, dan pisang. Roti Bakar 88 juga menyediakan roti bakar asin dengan campuran telur goreng, telur kornet, atau telur kornet keju.

Tak hanya itu, menu tambahan lain seperti pisang bakar, pancake, burger, sosis, kentang goreng, serta menyediakan juga menu mi instan.

Adapun untuk minuman, ada cappucino, frappucino, lemon squash, minuman cokelat serta aneka jus. Aneka menu makanan dijual dengan harga antara Rp 3.500 hingga Rp 15.000 per porsi. Adapun menu minuman harganya antara Rp 1.000 sampai Rp 10.000 per gelas.

Mitra Roti Bakar 88 di Pamulang, Tasauful Al Hamdi mengaku tertarik bermitra setelah mencicipi sendiri menu-menunya. "Sejak bulan kedua sampai sekarang, omzet bisa lebih dari Rp 15 juta per bulan," kata Hamdi yang memulai usaha sejak April lalu.


Roti Bakar 88
Jl. Kisamaun No. 118
Pasar Lama, Tangerang
Telp: 08161180747

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/77299/Menggigit-legitnya-laba-roti-bakar

Selasa, 13 September 2011

Menguak Kemitraan Kedai Kopi Luwak

Inspirasi Usaha
Menguak Kemitraan Kedai Kopi Luwak
Erlangga Djumena | Selasa, 13 September 2011 | 14:46 WIB

tribun lampung

KOMPAS.com — Kopi luwak terkenal sebagai kopi paling mahal di dunia. Kopi yang sejatinya berasal dari kotoran atau feses musang (Paradoxurus hermaphroditus) yang masih berbentuk biji kopi ini disuka lantaran mempunyai tingkat keasaman yang rendah.
Pamor kopi luwak yang sudah mendunia inilah yang membuat Mifta Khur Rokhman berani menawarkan usaha Mr Luwak Coffee kepada khalayak pada Maret 2011. Mifta sendiri baru membuka usaha kopi luwaknya ini pada Desember 2010. Kini Mifta sudah punya tiga gerai milik sendiri di Gresik, Surabaya, dan Malang.
Mifta mengaku, untuk tawaran kemitraan itu, dia sudah mendapat penawaran kerja sama dari beberapa calon di Batam, Bandung, Lumajang, dan Surabaya.
Walau menyuguhkan kopi luwak asli, Mifta tidak menempatkan Luwak Coffee sebagai minuman kelas atas. "Mr Luwak Coffee menyasar semua kalangan," ujarnya.
Bahan baku kopi Mr Luwak Coffe adalah kopi jenis arabika dari kotoran musang yang ditangkarkan di kawasan perkebunan kopi di Lampung Selatan. Menurut ahli kopi, kopi luwak hasil penangkaran tergolong sebagai kopi luwak kelas dua. "Yang kelas satu adalah kopi luwak dari musang yang masih liar," tutur Mifta.
Kopi luwak hutan menjadi kopi paling mahal karena rasanya paling enak. Namun, untuk mendapatkan kopi luwak hutan jelas sangat susah. Itulah sebabnya Mifta memilih memakai kopi luwak penangkaran. "Rasanya hampir mirip dengan kopi luwak asal hutan," klaimnya.
Untuk menjadi mitra Mr Luwak Coffee, Mifta menawarkan paket investasi senilai Rp 10 juta. Investasi itu di luar sewa tempat. Dengan investasi sebesar itu, calon mitra akan mendapatkan tempat berjualan, yaitu booth, paket promosi, perlengkapan dan peralatan, serta bahan baku untuk 210 cangkir kopi.
Karena mengusung konsep kemitraan, Mr Luwak Coffee tidak membebankan royalty fee kepada mitra. Mitra hanya diwajibkan untuk membeli bahan baku kopi luwak yang dikemas dalam bentuk saset. "Jadi, tinggal diseduh. Lebih praktis dan cepat," kata Mifta, berpromosi.
Mifta menjual satu pak kopi luwak isi 25 saset seharga Rp 250.000 plus gula Rp 100 per saset isi 3 gram. Mifta juga mengharuskan mitra membeli creamer seharga Rp 15.000 per botol untuk 50-100 cangkir.
Kepada mitra, Mifta mematok harga jual Rp 15.000 per cangkir. Harga itu memang jauh lebih murah dibandingkan dengan menikmati kopi luwak di restoran atau kafe lain.
Jika konsumen ingin menambah krim, dikenakan tambahan biaya Rp 1.000 per cangkir sehingga harganya menjadi Rp 16.000. Dengan target penjualan 30 cangkir per hari, omzet mitra diperkirakan sebesar Rp 450.000 sampai Rp 500.000 per hari. Jika target tercapai, mitra balik modal setelah empat bulan.
Menurut Ketua Dewan Pengarah Waralaba dan Lisensi Indonesia (Wali) Amir Karamoy, bisnis kopi luwak sangat menarik, bahkan bisa bagus di pasar ekspor. Namun, harga yang sangat murah malah akan menjadi bumerang karena bisa menjadi sumber keraguan keaslian kopi luwak. "Terkadang kopi luwak sudah dicampur dengan kopi lain sehingga nikmatnya berkurang," katanya. (Handoyo/Kontan)
Sumber :
KONTAN

Jumat, 09 September 2011

Cak Eko, Bos Waralaba Bakso Malang


PDF Cetak E-mail
Kamis, 08 September 2011 15:07
Bagi Anda pecinta kuliner, Anda pasti kenal betul dengan menu bakso malang. Kini, Anda pun bisa menjadi seorang pebisnis yang sukses. Seperti yang dialami oleh Henky Eko Sriyantono, seorang entrepreneur yang kini menjadi bos usaha waralaba bakso malang dengan merek Bakso Malang Kota Cak Eko, dan telah memiliki 150 cabang di seluruh wilayah Indonesia.

Henky_Eko_0911Sebelum menggeluti bisnis bakso malang, Eko memang mengaku tertantang untuk menjadi seorang pengusaha. Namun usahanya dalam mengembangkan bisnis tidaklah terbilang mudah. Mengaku tak patah arang, Ekopun kemudian membidik bisnis bakso malang, setelah melihat potensi bisnisnya yang potensial. “Yang menginspirasi saya adalah 10 kali kegagalan sebelumnya dalam usaha yang pernah saya alami. Dan saya mempunyai keyakinan yang kuat bahwa kesuksesan tinggal selangkah lagi. Tahun 2005 saya ketemu ide untuk buka bakso. Ide inipun muncul disaat tidak sengaja saat saya mengantar saudara di bandara Soekarno-Hatta. Saat itu pandangan mata saya tertuju pada gerai bakso malang yang jual dibandara dengan sewa begitu mahalnya namun bisa bertahan,” ujar Eko kepada Ciputraentrepreneurship.com saat menceritakan awal bisnisnya.

Usahanya ini memang awalnya dibuka di pinggir jalan di Jatiwarna, Bekasi pada Maret pada 2005. Seiring usaha yang laris manis, Bakso Malang Kota Cak Eko pun akhirnya sanggup menyewa sebuah outlet di Tamini Square pada 2006. Saking larisnya usaha si bundar ini, banyak konsumen yang tertarik untuk bekerjasama. Akhirnya jadilah usaha ini dikembangkan melalui sistem waralaba. Semenjak memulai usaha, dalam waktu 6 bulan saya bisa membuka cabang kedua dan ketiga. Saat sudah punya 3 cabang itulah saya mempunyai keinginan kuat melebarkan jaringan dengan pola waralaba,” kenang Eko.

Selain menjual rasa yang nikmat, Eko juga menjadikan media massa sebagai senjata yang ampuh untuk mempromosikan prodaknya secara gratis. Usahanyapun tak sia-sia. Bakso malangnya pun makin mendapatkan banyak penggemar. “Saya mencoba berbagai cara bagaimana usaha saya ini bisa diliput media tanpa biaya sehingga masyarakat bisa dengan cepat mengenal secara luas. Akhirnya, pada Oktober 2006 usaha saya diliput di tiga media sekaligus dengan gratis. Dari liputan tersebut akhirnya banyak permintaan masyarakat untuk bergabung menjadi mitra,” ungkapnya.

Peluang yang ditawarkan oleh Bakso Malang Kota Cak Eko pun cukup menggiurkan. Dengan menawrkan 3 paket kerjasama dengan mitranya, yaitu bernilai sebesar Rp 60 sampai 120 juta, dan dengan masa kerja sama 5 tahun, Bakso Malang Kota Cak Eko berani menjanjikan keuntungan bersih per bulannya sebesar Rp 10 juta.

Sebagai seorang entrepreneur, pencapaian Henky Eko Sriyantono melalui produknya juga telah mendapatkan pengakuan di kalangan wirausahawan. Beragam penghargaanpun pernah diraihnya, antara lain Indonesia franchise Start-up” tahun 2009, penghargaan sebagai bisnis franchise berprospek terbaik tahun 2008 dari Asosialsi Franchise Indonesia dan pemenang Wirausaha Muda Mandiri tahun 2008 dari Bank Mandiri.

Salah satu ambisi Eko ke depannya, adalah mampu membawa bakso malangnya go internasional. Ia merasa ambisi itu bukanlah sebatas mimpi di siang bolong, karena prudak bakso sebenarnya sudah sangat dikenal di luar negeri. Baginya, kesempatan untuk bisa go internasional akan selalu terbuka selama ada kemauan untuk terus meluaskan jaringan atau networking, dan terus terbuka terhadap inovasi baru.

Bagi sang bos bakso malang, kunci kesuksesan seorang epreneur adalah semangat untuk terus mencoba. Tidak ada jalan pintas untuk bisa sukses di bisnis entrepreneurship. Semangat untuk meraih sebuah mimpi harus terus dijaga dan diperjuangkan dengan kerja keras, kesbaran, dan sambil terus berinovasi. Terlebih bagi anak muda yang tertarik untuk memulai usaha. “Dunia kewirausahaan saat ini cukup menggairahkan dan menggembirakan karena makin banyak anak muda yang tertarik menjadi seorang entrepreneur, hal ini tentunya mesti didorong semaksimal mungkin oleh pemerintah agar bisa tumbuh dan berkembang,” ungkap Eko. (*/Gentur)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/kuliner/10956-cak-eko-bos-waralaba-bakso-malang.html

Senin, 05 September 2011

Yang Dibutuhkan dalam Bisnis Franchise


PDF Cetak E-mail
Minggu, 04 September 2011 10:20
Salah satu cara mudah memulai bisnis sendiri adalah dengan ikut serta bisnis franchise (waralaba). Peminat waralaba tinggal memilih usaha apa yang ingin dia jalani, tentu dengan menyesuaikan kemampuan modal dan keahlian yang dimilikinya.

FranchisingVarian bisnis franchise sendiri cukup luas. Mulai dari usaha makanan, laundry, pakaian, hingga jasa pindah. Tiap bisnis juga bisa dimulai sesuai kemampuan modal karena pemilik waralaba biasanya membuat level-level yang bisa dipilih calon pembeli lisensi.

Sebelum memutuskan memilih franchise tertentu, pastikan Anda memiliki semua yang dibutuhkan untuk memulai bisnis ini seperti yang dilansir situs konsultanwaralaba.com.
Pengetahuan

Tahap awal semua usaha adalah memiliki pengetahuan tentang usaha yang akan Anda masuki. Lakukanlah riset tentang sistem dan jenis waralaba yang Anda minati. Perkaya juga 'modal' Anda dengan pengetahuan mengenai aspek hukum yang berhubungan dengan bisnis tersebut.

Modal
Perhitungkan modal yang Anda miliki ketika akan menentukan jenis bisnis waralaba yang akan Anda geluti. Jika belum yakin, mulailah dengan level paling rendah yang ditawarkan pemberi waralaba. Pastikan Anda juga mampu memenuhi persyaratan lain seperti ketersediaan ruang dan tempat berjualan.

Mengikuti sistem

Setelah menjatuhkan pilihan pada satu jenis waralaba, fokus dan berkomitmenlah untuk mengikuti sistem yang ditentukan pemberi waralaba. Pastikan Anda tidak menyalahi aturan yang telah disepakati bersama.

SDM berkualitas

Jika akan mempekerjakan orang lain, pastikan mereka memiliki kualitas yang dapat mendukung usaha Anda. Jangan lupa untuk meningkatkan kemampuan pegawai Anda dengan mengikutsertakan mereka pada berbagai pelatihan secara berkala.

Jangan hanya fokus pada sistem pemasaran dan manajemen, tetapi lupa pada pengembangan profesionalitas pegawai. Sebab, merekalah yang menjadi garda terdepan dalam pengembangan usaha waralaba Anda.

Manajemen yang baik

Kepopuleran merek waralaba yang kita usung tidak akan ada artinya jika kita tidak mengelola usaha kita dengan baik. Manajemen di sini tidak melulu mengenai kondisi keuangan, tetapi juga bagaimana mempertahankan dan mengembangkan usaha.

Buatlah perencanaan bisnis dengan matang. Meskipun pemberi waralaba telah memiliki pakem bisnis tersendiri, bukan berarti Anda tidak perlu merencanakan bisnis Anda. Dengan perencanaan yang baik, tidak mustahil usaha Anda akan berkembang pesat, atau bahkan Anda memulai merek waralaba sendiri.

Inovatif dan kreatif

Hal lain yang juga diperlukan untuk mengembangkan bisnis waralaba Anda adalah inovasi dan kreativitas. Berpikirlah di luar kotak untuk mencapai kesuksesan. Misalnya, menggunakan cara-cara unik dalam mempromosikan usaha Anda.

Relasi bisnis
Kesuksesan sebuah bisnis juga ditentukan dengan kemampuan Anda menjaga hubungan dengan relasi bisnis, pelanggan, maupun karyawan di perusahaan Anda.

Konsultasi
Meski saat ini banyak literatur yang memberi penjelasan tentang bisnis waralaba, berkonsultasi dengan konsultan tetap menjadi langkah terbaik untuk mencari solusi atas semua masalah yang Anda hadapi.

Carilah konsultan waralaba yang terpercaya dan berpengalaman. Mereka biasanya akan memberikan bimbingan dari awal hingga Anda mampu menjalankan bisnis Anda sendiri. (*/okezone)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/180-waralaba/10816-yang-dibutuhkan-dalam-bisnis-franchise.html

Rabu, 10 Agustus 2011

Jeli menimbang cita rasa laba dari toko kue


PELUANG USAHA

 
Senin, 08 Agustus 2011 | 12:45  oleh Ragil Nugroho
TAWARAN KEMITRAAN KULINER TOKO KUE
Jeli menimbang cita rasa laba dari toko kue
 
Takadeli Cake Boutique adalah salah satu pemain lama di bisnis kue. Berdiri pada 2003 lalu di Batam, Kepulauan Riau, Takadeli menawarkan produk kue berbagai rasa.

Walau berdiri sejak tahun 2003, Takadeli baru menawarkan konsep waralaba pada awal tahun 2010 silam. Hendarsyah, Business Manager Takadeli, menawarkan berbagai keunggulan bisnis bagi investor yang berminat.

Takadeli mengklaim memiliki resep kue yang oke dan menawarkan banyak varian produk dengan tekstur lembut. Karena itu, walau belum setahun menawarkan waralaba, sekarang sudah ada tiga terwaralaba yang bergabung. Mereka itu tersebar di Pekanbaru, Tanjung Pinang, hingga Ambon.

Selain para terwaralaba tersebut, Takadeli juga memiliki enam cabang, empat cabang di Batam dan dua cabang di Jakarta. "Kantor pusat yang baru di Menteng, Jakarta Pusat," kata Hendarsyah.

Takadeli menjual berbagai produk kue dengan bermacam-macam kategori. Ada kue ulang tahun atau birthday cake dengan 24 rasa, 3D cake, mini cake, dan seasonal cake untuk perayaan Idul Fitri, Natal, Valentine Day, Imlek, dan lain-lain. Selain itu, Takadeli juga membuat wedding cake, cup cake, full moon, dan pastisseries.

Dengan harga Rp 125.000 hingga Rp 5 juta per paket kue, Hendarsyah mengatakan, tokonya juga melayani dekorasi dan permintaan kue sesuai dengan keinginan konsumen.

Jika Anda berminat mencicipi laba bisnis kue yang ditawarkan Takadeli, Anda harus menyediakan investasi awal sebesar Rp 146 juta. Nilai investasi itu belum termasuk biaya sewa tempat dan perlengkapan gerai.

Selain mendapatkan hak penggunaan nama selama lima tahun, terwaralaba nantinya juga akan mendapat pasokan kue dan cake bentuk jadi setiap hari dari pusat. "Itu untuk menjamin kualitas dan standar Takadeli," ujar Hendarsyah.

Selain investasi awal, terwaralaba juga harus menyediakan tempat usaha seluas 20 m²-30 m². Lokasi usaha ini harus berada di pusat keramaian sehingga mampu menarik pembeli.

Setelah beroperasi, nantinya terwaralaba akan mendapatkan pembagian keuntungan 30% dari omzet, sedangkan Takadeli pusat akan mendapat pembagian keuntungan 70% per bulan dari omzet. Dengan target penjualan Rp 4 juta per hari, Hendarsyah memperkirakan waktu balik modal sekitar 24 bulan.

Walau persaingan bisnis kue cukup ketat, namun dia yakin tawaran usahanya berprospek cerah. Apalagi, selain terus mempertahankan kualitas, Takadeli juga terus berinovasi. "Inovasi sangat penting untuk mengatasi kejenuhan konsumen," tegasnya.

Amir Karamoy, Ketua Dewan Pengarah Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia, mengakui bahwa bisnis kue masih sangat menjanjikan.

Takedeli memiliki segmen terbatas karena menawarkan produk kue dan cake dengan harga tinggi. Untuk itu, calon terwaralaba harus benar-benar memilih lokasi yang tepat, sesuai dengan segmen pasar menengah ke atas. "Harus punya relasi yang kuat dengan konsumen," kata Amir.

Tanpa lokasi dan relasi atau hanya mengandalkan penjualan langsung, Amir khawatir target Rp 4 juta per hari susah tercapai. Paket waralaba yang ditawarkan Takadeli juga kurang lama hanya lima tahun, padahal seharusnya minimal 10 tahun.

Takadeli Cake Boutique
Jl. Johar No. 34 Menteng
Jakarta Pusat
Telp: 021-2303366

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/74870/Jeli-menimbang-cita-rasa-laba-dari-toko-kue

Selasa, 09 Agustus 2011

INSPIRASI DONI TIRTANA


PELUANG USAHA 
 
Kamis, 04 Agustus 2011 | 12:30  oleh Handoyo
INSPIRASI DONI TIRTANA
Doni belajar jadi pengusaha sejak masih kuliah (1)
 
Sejak muda, Doni Tirtana terbiasa mencari uang sendiri. Saat menjadi mahasiswa, ia sudah menyambi bekerja. Kini, pria asal Malang ini sukses membangun perusahaan penyedia perlengkapan keselamatan dan kesehatan kerja di Indonesia. Berkat tangan dinginnya, Doni mampu meraup omzet Rp 600 juta per bulan.

Jeli dalam melihat dan menangkap peluang. Itulah kunci sukses Doni Tirtana. Berawal dari bisnis iseng, pemilik Lorco Menara Multimedia ini kini mampu menggaji 50 karyawan.

Bukan bisnis restoran atau waralaba yang sudah jamak dijumpai, usaha yang digeluti Doni ini berkait dengan perlengkapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Tak tanggung-tanggung, dalam sebulan Doni bisa menangguk omzet Rp 600 juta.

Lorco merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa dan produksi media cetak (desain grafis), audio, dan produksi video. Lorco memfokuskan diri pada pengembangan aplikasi yang mendukung kampanye kesehatan dan keselamatan kerja, penghematan energi, peningkatan mutu, dan kualitas karyawan, dengan memanfaatkan teknologi multimedia yang terbaru.

Boleh dibilang, bidang bisnis Lorco ini adalah lini baru. Bahkan, latar belakang pendidikan Doni pun tak mendukung bisnis yang digelutinya saat ini. Pria 31 tahun ini mengambil pendidikan di Jurusan Teknik Fisika di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Meski memilih jurusan teknik fisika, Doni memiliki ketertarikan dengan dunia grafis dan fotografi. Karena alasan itu, ia aktif dalam kegiatan liga film di almamaternya.

Berbekal hobi fotografi dan desain grafis itulah, Doni memutuskan bekerja sembari kuliah. Maklum, ia harus menanggung hidupnya sendiri di Bandung, lantaran orang tuanya jauh berada di Malang. "Kiriman uang dari orang tua sering terlambat, saya harus pintar memutar otak agar bisa bertahan," tutur Doni yang menghabiskan masa kecilnya di kota apel ini.

Lantas, Doni pun sering jadi fotografer pernikahan. "Setiap ada momen pernikahan, saya ikut jadi fotografernya," kenang Doni.

Ia juga tak melewatkan peristiwa-peristiwa penting, seperti acara wisuda. Doni bilang, ketika itu ia hanya berbekal kamera analog untuk menawarkan jasa foto saat prosesi wisuda. "Hasilnya lumayan, karena ITB menyelenggarakan tiga kali wisuda setiap tahun," kata Doni. Walaupun enggan menyebutkan fulus hasil jepretannya, Doni bilang, hasilnya cukup untuk menambah uang saku.

Selain dari dunia fotografi, Doni juga menggantungkan pendapatan lainnya sebagai operator pemutar film. "Waktu itu kalau mau menonton video masih menggunakan film rol yang besar," jelas Doni.

Selain untuk menyalurkan hobi, Doni memilih pekerjaan sampingan di dunia multimedia karena dalam penilaiannya, tren dunia multimedia cepat berkembang. Karena itu, Doni pun memutuskan terjun ke bisnis karena bisa lebih mudah memutarkan uang dari bidang ini. Apalagi kalau dia harus dengan bergantung dari ilmu fisika yang dia tekuni.

Setelah lima tahun menuntut ilmu di ITB, pada tahun 2003, Doni berhasil merampungkan kuliahnya. Namun, ia tak berniat pulang ke kampung halamannya di Malang. "Saya memutuskan tetap tinggal di Bandung," ujarnya.

Setamat kuliah, orang tua Doni pun tak memberikan dukungan finansial lagi. Ia harus mandiri untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. "Saya melakukan pekerjaan apa saja asal bisa hidup," tutur Doni.

Tanpa meninggalkan dunia fotografi, ia juga menjajal usaha pembuatan compact disk (CD) interaktif. Awalnya, CD interaktif itu memuat profil komunitas. Lantas, ia pun mengembangkannya hingga pembuatan video profil perusahaan.

Dari pembuatan video company profile itulah, Dony bertemu banyak relasi. Hingga akhirnya, pada tahun 2007, salah satu relasi Doni memintanya untuk membuat video mengenai safety induction (video pengantar keselamatan) untuk Unilever. "Padahal, saya sendiri tidak paham dengan safety induction," ungkap Doni.

Namun, karena sudah telanjur basah, Doni pun menyanggupi permintaan itu. Tanpa disangka, ia justru mendapat pujian dari pihak Unilever. Semangat Doni kian membara untuk menekuni bisnis baru tersebut. Sejak saat itulah, Doni lebih fokus pada jasa safety campaign design ini yang masih jarang pemainnya di Indonesia.

 
Jumat, 05 Agustus 2011 | 14:58  oleh Handoyo
INSPIRASI DONI TIRTANA
Doni awali bisnis dengan sepeda motor buntut (2)
 
Doni Tirtana mengaku mendapat ide menjadi wirausaha berawal setelah membaca sebuah buku. Namun ia sempat gagal membuka usaha fotografer keliling. Namun begitu ia berhasil membuat buku digital tentang kampus dalam format cakram optik (CD), hasil produksinya itu laris dibeli wisudawan senilai Rp 35.000 per keping.

Buku adalah jendela dunia. Tamsil inilah yang berhasil dibuktikan Doni Tirtana. Pria asal Malang ini sukses membuka usaha bernama Lorco Menara Multimedia di Bandung, Jawa Barat.

Usai membaca buku karya Fadel Muhammad berjudul Saya Pilih Jadi Pengusaha, Doni kemudian bertekad ingin menjadi pengusaha juga. Lewat buku itu pula Doni mengaku belajar menjadi wirausaha.

Hanya selang beberapa bulan setelah lulus kuliah, Doni menyampaikan keinginan menjadi pengusaha kepada kepada orang tuanya yang menetap di Malang.

Sayang, keinginan Doni bertepuk sebelah tangan lantaran sang orang tua menolak mentah-mentah keinginannya itu. Maklum, kedua orang tua Doni adalah pegawai negeri sipil (PNS) yang juga ingin anaknya mengikuti jejaknya. "Orang tua tidak rela saya berwirausaha, dan berharap saya bisa menjadi PNS," kata Doni.

Memang, tidak ada orang tua yang tak sayang anaknya. Meski orang tua Doni keberatan menjadi pengusaha, mereka tetap mau memberi modal berupa sepeda motor untuk Doni. "Karena sayang, mereka tetap memberi modal," jelas Doni.

Keinginan Doni menjadi pengusaha sempat menjadi bahan pikiran kedua orang tuanya. Bahkan, kedua orang tua Doni sempat jatuh sakit, menerima kenyataan Doni menjadi wirausaha.

Namun, tekad Doni sudah bulat. Dia pun kembali ke Bandung untuk mengejar mimpinya sebagai pengusaha itu. Tapi tekad saja tidak cukup, karena ternyata Doni belum memiliki gambaran usaha secara detail. "Saat itu saya bingung mengerjakan apa," kata Doni.

Hingga akhirnya Doni berpikir untuk unjuk kemampuan di bidang fotografi dengan bekerja sebagai fotografer keliling. Namun, siapa sangka, karya amatiran Doni justru mendapat banyak apresiasi. Teman-teman Doni memuji hasil jepretan Doni sebagai karya menarik karena sukses menampilkan peristiwa-peristiwa penting saat pernikahan atau wisuda.

Namun persaingan bisnis di dunia fotografi kian ramai. Ketatnya persaingan ini membuat Doni memilih hengkang dari profesi fotografer pernikahan dan wisuda.

Namun begitu, Doni tidak patah semangat. Ia masih bertekad untuk menjajal keberuntungan lain. "Malu gagal, karena pamit ingin menjadi pengusaha," terang Doni.

Setahun setelah tamat kuliah, Doni memutuskan membuat buku digital tentang kampusnya. Buku digital itu berbentuk informasi tentang kampus dan juga mahasiswa yang disimpan ke dalam cakram optik (CD). "Nama produknya itu CD interaktif," kata Doni.

CD interaktif itu mirip dengan buku katalog kampus yang dijual kepada mahasiswa terutama yang akan diwisuda. Tak sulit bagi Doni membuat CD interaktif itu, apalagi Doni sudah menguasai fotografi dan aplikasi program komputer. "Tampilan CD itu lebih nyaman untuk ditonton ketimbang buku," kata Doni.

Karena produk CD interaktif karya Doni itu terbilang baru, banyak mahasiswa yang akan menjadi wisudawan tertarik dan membeli. Alhasil, pemesan CD interaktif itu datang dari fakultas lainnya di seluruh Institut Teknologi Bandung (ITB).

Untuk setiap keping CD interaktif itu, Doni menjualnya seharga Rp 35.000 per keping. Adapun modal yang dibutuhkan untuk membuat satu keping CD itu hanya Rp 5.000 per keping. Jika setiap fakultas ada 100 orang pembeli, omzetnya bisa mencapai Rp 3,5 juta per hari, saat wisuda terjadi.

Selain menawarkan kepada mahasiswa ITB, Doni juga menjelajah ke berbagai instansi seperti sekolah-sekolah, dan juga berbagai komunitas untuk menawarkan produknya. "Pernah saya menawarkan sampai ke Subang dengan menggunakan sepeda motor pemberian orang tua ini," ujar Doni tertawa.

Hanya dalam setahun, Doni bisa menggandeng 10-12 mitra yang membantunya menjual CD interaktif. Lewat mitra juga Doni mendapatkan pelanggan baru.

Namun, setelah Doni melakukan evaluasi, ternyata proses pembuatan CD itu membutuhkan banyak tenaga kerja dan juga pikiran. "Meskipun bisnisnya mengasyikkan, tapi capek," ungkap Doni. 
 
Senin, 08 Agustus 2011 | 14:12  oleh Handoyo
INSPIRASI DONI TIRTANA
Doni: Bersedekah jadi kunci sukses usaha (3)
 
Setelah mencoba berbagai jenis usaha, Doni Tirtana akhirnya mantap jadi produsen alat keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Untuk mencari pembeli, Doni berjualan di milis Club K3 sekaligus menimba ilmu. Produk Doni pun laris manis dan mencatat omzet Rp 600 juta per bulan. Kini 60% pelanggan Doni adalah perusahaan asing.

Bosan menggeluti bisnis fotografi lantaran mulai banyak pesaing, Doni Tirtana beralih membuat cakram optik (CD) yang berisi informasi atau katalog tentang kampus.

Tangan Doni memang dingin. CD interaktif itu juga laris manis. Dia pun mengembangkan usahanya dengan membuat CD interaktif untuk sekolah dan komunitas tertentu. Semakin dikenalnya produk CD interaktif buatan Doni, membuat pria asal Malang ini makin dikenal piawai menyusun informasi untuk dikemas dalam bentuk CD.

Hingga suatu saat, Doni mendapat tawaran membuat company profile perusahaan milik orang tua seorang temannya. Tidak perlu berpikir dua kali, Doni menyanggupi tawaran itu dan langsung memproduksinya. Kurang lebih selama setahun, Doni mengerjakan CD company profile perdananya itu.

Begitu company profile yang pertama kelar, "Ada empat perusahaan lain yang menjadi klien saya," kata Doni. Dari setiap perusahaan, Doni mendapat imbal jasa sebesar Rp 20 juta.

Tapi, lagi-lagi, saat pesanan CD company profile lagi ramai, Doni justru memutuskan meninggalkan bisnis ini. "Produsen company profile sudah banyak, saya mesti cari usaha lain" kata Doni.

Beruntung bagi Doni, order kembali datang. Dia mendapat pesanan untuk membuat video safety induction yang berkait dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dari sebuah perusahaan swasta. Doni pun mengerjakan pesanan itu dengan baik sehingga si pemesan terkesan dengan produk K3 tersebut.

Dari si pemesan itulah kemudian Doni tahu bahwa ada "kekosongan" di bisnis perlengkapan K3. Si pemesan yang kebetulan senior Doni di kampus ITB itu menyarankan Doni untuk terjun di bisnis K3 ini.

Namun, untuk memulai bisnis perlengkapan K3 ternyata tidak mudah, Doni mesti belajar banyak tentang K3. "Bagi saya itu bukan masalah, karena masih bisa dipelajari," jelas Doni.

Setelah belajar tentang K3, Doni kemudian bergabung dengan milis Club K3, milis yang beranggotakan pekerja bagian K3 atau HSE (health, safety, environment) di perusahaan dan instansi tertentu. "Sejak bergabung di milis itu saya mengerti tentang K3," terang Doni.

Gayung pun bersambut, setelah paham dunia K3, Doni lantas menawarkan produk kepada penghuni milis berupa poster yang memuat informasi tentang keselamatan kerja. "Pertama saya hanya bikin empat sampai lima poster saja," hitung Doni.

Karena banyak peminat, Doni menambah produksi. Doni bilang, untuk membuat poster mesti mengetahui informasi dan prosedur K3. Tak hanya itu, poster K3 juga memiliki persyaratan warna, dan font standar. "Ada standar baku yang mesti dipatuhi," terang Doni.

Cukup lumayan keuntungan yang diraih Doni dalam membuat poster K3 itu. Dengan biaya produksi hanya Rp 25.000 per poster, tahun 2007 Doni bisa menjual seharga Rp 125.000 per poster.

Poster informasi K3 milik Doni terdiri dari poster jenis template dan costume. Untuk poster template dijual Rp 140.000 per poster. "Poster jenis costume dijual lebih mahal Rp 2,5 juta per poster," kata Doni.

Seiring waktu, bisnis Doni kian berkembang. Sekarang ini, Doni memiliki tiga divisi kerja yakni divisi safety sign, divisi desain, dan multimedia. Produknya antara lain safety poster, safety booklet, safety animation, safety sticker serta video safety induction. "Produk ini merupakan media informasi tentang K3," terang Doni.

Kini, pelanggan Doni tidak hanya perusahaan domestik saja. Justru pelanggan Doni, 60% adalah perusahaan asing. "Kebanyakan klien kami dari perusahaan minyak dan gas," ungkap Doni.

Doni menghitung, hingga kini setidaknya sekitar 40 perusahaan yang dia tangani dengan omzet hingga Rp 600 juta per bulan. Doni bilang, untuk mencapai sukses mesti mau bermimpi, kerja keras, disiplin, dan jangan lupa bersedekah. "Antara pekerjaan dan ibadah harus seimbang," kata Doni.

Kini, Doni menyisihkan 10% dari laba perusahaannya untuk kegiatan amal. "Sedekah itu membuat bisnis saya menjadi lebih lancar," terang Doni.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1312435802/74616/Doni-belajar-jadi-pengusaha-sejak-masih-kuliah-1
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1312531097/74723/Doni-awali-bisnis-dengan-sepeda-motor-buntut-2
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/74880/Doni-Bersedekah-jadi-kunci-sukses-usaha-3